Syaikh Masyhur Hasan Salman
Mengenai mengambil berkah dari Nabi sholallahu’alayhi wa sallam ada dalilnya di beberapa kejadian. Dahulu para sahabat ridhwanullahi ‘alayhim mengambil berkah dari segala sesuatu yang berasal nabi sholallahu’alayhi wa sallam. Dalam kitab shahihayn disebutkan bahwa mereka mengambil berkah dari sisa wudhu beliau shoallahu’alayhi wa sallam, begitu juga dengan ludah beliau. Begitu juga terdapat hadits shohih yang menceritakan dari Zubair radhiallahu ‘anhu bahwa beliau meminum darah bekas bekam Nabi sholallahu’alayhi wa sallam. Begitu juga dengan bekas rambut beliau. Ummu sulaym misalnya, ada hadits shohih yang menceritakan bahwa ia menyimpan keringat beliau dan meletakkannya di sebuah wadah, di dalamnya ada wewangian dan beberapa helai dari rambut beliau sholallahu’alayhi wa sallam. Ketika seorang pencukur rambut mencukur rambut beliau sholallahu’alayhi wa sallam, Ummu sulaym mengambil beberapa helai dari rambut yang tercukur, begitu juga Anas bin malik. Bahkan Anas bin Malik membagikan sebagian rambut tersebut kepada para tabi’in yang belajar kepada beliau. Ibnu Siriin mengambil sehelai rambut rasulullah dan mewasiatkan agar rambut tersebut turut dikubur bersamanya.
Dengan demikian, mengambil berkah dari bagian tubuh atau benda-benda yang bekas beliau pakai ketika beliau hidup memang disyariatkan dan ada tuntunannya dari para sahabat seperti pada banyak kejadian.
Akan tetapi praktek mengambil berkah ini dikhususkan hanya untuk Rasulullah sholallahu ‘alayhi wa sallam. Tidak pernah ada berita autentik yang menceritakan bahwa seorang sahabat junior mengambil berkah dari Abu Bakar, atau dari Umar, ‘Utsman, atau ‘Aliy. Begitu juga tabi’in, tidak pernah ada berita yang menceritakan bahwa mereka mengambil berkah dari para sahabat. Memang pada diri seorang muslim ada berkahnya, dan berkah ini tergantung kualitas amalan-amalan sholeh yang ia kerjakan. Walaupun demikian tidak boleh mengambil berkah dari tubuh atau bagian tubuh, selain dari Nabi sholallahu’alayhi wa sallam. Permasalahan ini telah dijelaskan secara panjang lebar oleh Imam Asy Syathibiy di dalam kitab beliau yang bermanfaat yang berjudul Al I’tisham.
Sekarang jika beralih kemasalah teoritis, karena nabi sholallahu’alayhi wa sallam tidak ada bersama-sama kita dengan jasad beliau, dan kita juga tidak mengetahui secara meyakinkan 100 persen benda-benda mana saja yang bekas beliau gunakan. Jika demikian kita tidak bisa mengatakan bahwa sehelai rambut ini misalkan, adalah rambut beliau. Dan kita juga tidak bisa mengqiyaskan beliau sholallahu’alayhi wa sallam dengan person selain beliau, karena qiyas yang seperti ini adalah pengqiyasan dengan pembeda yang sangat besar. Jika demikian, maka perbuatan mengambil berkah yang dilakukan para murid-murid tasawwuf terhadap syaikh mereka dengan jalan mengambil bekas wudhu, dan mengusap-ngusapkan ke kulit mereka, semuanya adalah praktek bid’ah, Allah tidak pernah memberikan alasan untuk melakukan hal tersebut.
Suatu hari Salman Radhiallahu’anh pernah menulis surat kepada Abu Darda’ Radhiallahu’anh berisi “Mari kita berkunjung ke kota Quds”, Abu Darda’ membalas, “Sesungguhnya Bumi tidak akan bisa mensucikan seseorang, yang bisa mensucikan adalah amal perbuatan”. Jika demikian, hanya amalan sholihlah yang benar-benar akan mensucikan dan memberi keberkahan kepada manusia, sedangkan jasad person yang suci dan berkah, kemudian mengambil berkah darinya, hanyalah dikhususkan bagi rasulullah sholallahu’alayhi wa sallam saja. Selain beliau tidak boleh diambil berkah
Sumber :http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&iw_a=view&fatwa_id=31120




Artikel Terkait
Diskusi
Belum ada komentar untuk “Berkah dari Nabi”