Kajian Tematis

Kaidah Penting Mengenal Kerancuan tentang Ahli Bait dan Para Sahabat

Kita dapat meringkas berbagai tuduhan dan syubuhat (kerancuan) yang diarahkan kepada sejarah ahlul bait dan para sahabat menjadi empat macam :

Pertama : Riwayat-riwayat dan berita yang lemah; yang batil dari segi sanad dan mungkar dari segi matan. Hal ini banyak dijumpai di dalam buku-buku yang harus diwaspadai oleh orang yang akan membacanya, karena di dalamnya terkandung riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepada ahlul bait dan sahabat-sahabat nabi radiyallahu ‘anhum ajma’in yang hakikatnya tidak sesuai dengan kedudukan dan derajat mereka yang tinggi.

Sesungguhnya buku-buku tersebut di antara dua sampulnya banyak mengandung khabar-khabar dan atsar-atsar yang dhaif (lemah), batil serta maudhu’ (palsu) tentang ahlul bait dan para sahabat nabi rodhiyallahu ‘anhum ajma’in. Dan kaidah (yang harus diterapkan) terhadap syubhat jenis ini adalah “Menolak dan membuangnya ke balik dinding”, karena kedustaan-kedustaan ini tidak sah dijadikan oleh seorang muslim sebagai sandaran bagi aqidah dan agamanya. Karena (permasalahan) ahlul bait dan para sahabat nabi termasuk bagian dari aqidah seorang muslim.

Lalu bagaimana mungkin seorang muslim memperkenankan dirinya menjadikan sandaran dalam pengajaran agamanya berupa hadits-hadits yang dibuat secara dusta yang tidak ada asal-usulnya, dan meninggalkan nash-nash yang shohih lagi sharih (jelas ) dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya yang tsabit dan shahih.

Dan inilah al-qur’an, sungguh telah mensucikan ahlul bait dan mentazkiyah (merekomendasikan) para sahabat serta memuji mereka lebih dari satu ayat yang berbarakah.

Allah Ta’ala berfirman tentang ahlul bait :

“…sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.(QS. Al-Ahzab [33] : 33).

Ayat ini adalah sumber mata air bagi keutamaan ahlul bait nabi, yang mana dengan ayat tersebut Allah Ta’ala telah memuliakan dan mensucikan mereka serta menghilangkan kotoran dari mereka berupa perbuatan buruk dan akhlak tercela.

Dia juga memuji dan menyanjung para sahabat di dalam ayat berbarakah yang banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman mensifati mereka :

“…kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya”. (QS. Al-Fath [48]:28).

Allah Ta’ala menjelaskan di dalam ayat ini, ayat yang menghimpun kondisi para sahabat, bahwa mereka termasuk orang-orang yang ahli ruku’, ahli sujud, ahli shalat dan khusu’. Kemudian menerangkan keikhlasan dan kejujuran yang ada di dalam lubuk hati mereka dalam firman-Nya (artinya: mencari karunia dan keridhaan-Nya). Ini termasuk amalan hati yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah ‘Azza wa jalla Dzat yang Maha mengetahui yang ghaib maupun yang nampak, dan itulah makna keikhlasan dan kejujuran dalam mencari keridhaan Allah dan karunia-Nya.

Demikian pula Allah Ta’ala menjelaskan keadaan para sahabat terhadap peristiwa yang ada di antara mereka. Dia berfirman berbicara kepada rasul-Nya shallahu ‘alaihi wa alihi wassalam :

“…Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin (62) …Allah telah mempersatukan hati mereka (63). (QS. Al-Anfal [8]:62-63).

Maka hati ahlul bait dan hati para sahabat nabi semuanya terkumpul di atas kalimat yang sama, yakni (kalimat) tauhid, islam dan cinta. Maka ayat ini dan yang selainnya adalah asas yang selayaknya merujuk ke sana, dan meninggalkan apa saja yang dinukil dan ditulis berupa hadits-hadits dan khabar-khabar yang batil tentang haknya ahlul bait dan para sahabat rodhiyaallahu ‘anhum ajma’in.

Mencintai para sahabat dan kerabat (nabi) itu sunnah

Rabbku telah menyemaikan cinta (kepada mereka) bila Dia menghidupkanku

Dua golongan telah diikat oleh syariat Ahmad

Bapak dan ibuku sebagai tebusan, kedua golongan itu,

Dua golongan yang meniti jalan petunjuk, keduanya menegakkan agama Allah

Seolah ahlul bait dan para sahabat itu satu ruh yang menyatu dalam dua badan

Dan kita wajib mengetahui dengan baik bahwa ahlul bait dan para sahabat nabi ridwanullahi ‘alaihim tidak butuh hadits-hadits palsu dan dusta untuk menjelaskan keutamaan mereka, karena keutamaan mereka tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang sombong atau orang-orang yang tidak tahu berterimakasih.

Perumpamaan orang yang sering jatuh dalam kesalahan seperti kaca

Anda menyangkanya benar, padahal setiap yang memecahkanya akan hancur

Kedua : Hadits-hadits dan khabar-khabar tentang keutamaan dan kebaikan mereka telah diubah dan diputarbalikkan menjadi aib dan cela oleh tangan-tangan pendusta dan pemalsu.

Dan yang sangat mengherankan, pemilik syubuhat ini lupa kalau disana ada orang-orang yang menentang kebatilan mereka dengan membawakan riwayat-riwayat dan khabar-khabar yang shahih, yang membongkar kebatilan yang mereka serukan. Orang-orang ini beronda dan menyergap kebatilan tadi. Contoh syubuhat dan khabar yang menjadikan mereka di atas angin (mendapatkan kemenangan) :

  • Peperangan Abu Bakar Ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu melawan ahlur riddah (orang-orang murtad) setelah wafatnya nabi Shallahu ‘alaihi wa alihi wasallam sebagai bentuk ketaatan kepada Rasulullah yang memerintahkan untuk membunuh orang-orang yang mengganti agamanya dari kalangan orang-orang murtad serta untuk mempertahankan pagar islam dan kaum muslimin.

Lalu datanglah “Sebagian Orang” , menjadikan keutamaan dan kebajikan ini sebagai aibnya Abu Bakar Ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu –hanya kepada Allah kita berlindung- dengan cara menyebarkan syubuhat seputar perbuatan yang berbarakah ini yang telah dilakukan oleh khalifahnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam. Mereka berdalih -dengan dusta- bahwa beliau telah memerangi orang-orang islam atau memerangi orang-orang yang enggan membaiat beliau.

Mereka melupakan kibaru shahabah (sahabat-sahabat senior) yang mendukung tindakan (beliau) yang diberkahi ini, bahkan umat telah ijma’ (bersepakat) menganggapnya sebagai amal kebaikan. Demikian pula mereka lupa terhadap dukungan dan barakahnya imam ahlul bait Ali bin Abu Thalib rodhiyallahu ‘anhu kepada Abu Bakar Ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu di dalam peperangan melawan ahli riddah (orang-orang murtad). Abu Bakar berkata kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhuma : “Apa pendapatmu wahai Abul Hasan ? Ali menjawab : “Sesungguhnya aku berpendapat jika Engkau meninggalkan sesuatu yang dulu pernah diambil (zakatnya) oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dari mereka maka engkau telah menyelisihi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam”. Maka Abu Bakar berkata : “Sungguh jika kamu berkata (demikian) maka aku katakan, sesungguhnya pasti aku akan memerangi mereka jika mereka menolak menyerahkan tali pelana unta”.[1]

Dan termasuk dalil yang sangat gamblang yang menunjukkan keikhlasan Ali kepada Abu Bakar, nasehat tulusnya untuk kepentingan islam dan kaum muslimin serta semangatnya dalam mempertahankan khilafah dan persatuan kaum muslimin adalah sikapnya kepada Abu Bakar yang bertekad menuju dzil qishah, untuk memimpin langsung pasukan melawan orang-orang murtad.

Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Ketika Abu Bakar keluar menuju Dzil Qishah dan sudah siap di atas untanya, Ali bin Abu Thalib mencegahnya seraya mengatakan : “Aku akan mengatakan seperti yang telah dikatakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam di perang uhud, “Sarungkan pedangmu, janganlah kamu membuat kami sedih karena kehilangan dirimu, sesungguhnya jika kami sedih atas kematianmu maka islam tidak akan eksis selama-lamanya”.[2]

Maka akhirnya Abu Bakar pun pulang mengikuti nasehat orang yang jujur lagi ikhlas, Ali radhiyallahu ‘anhu.

Dan setelah ini semua, kita akan mendatangi orang yang selalu mengulang-ulang ungkapan-ungkapan kedhaliman dan kelaliman “Sesungguhnya mereka menamakan kelompok yang menolak kekhilafahan Abu Bakar dengan sebutan Murtad secara dhalim dan penuh permusuhan”. (‘Kamil An-Najjar wa jarimah al-Irtidad” karya Nabil al-Kurkhi).

Maka diantara mereka ada orang-orang yang memutlakkan sebutan tersebut. Berikanlah kepada kami sifat-sifat mereka ! Kenapa kalian tidak menamai (juga) dengan sebutan tersebut serta dalil apa yang mereka jadikan pegangan, atau mereka tidak memiliki (dali-dalil) kecuali kebohongan, kedhaliman dan kelaliman dalam memutlakkan keputusan sejarah dengan cara yang lemah yang pembahasan ilmiyah tidak bisa menjadi sempurna dengan cara tsb.

  • Demikian pula (Syubuhat) tentang Peperangan Amiril Mukminin Ali radhiyallahu ‘anhu melawan khawarij, sebagai bentuk perwujudan nubuwah nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang mereka dan sebagai bentuk kepatuhan kepada beliau yang memerintahkan untuk membunuh mereka. Lalu kebajikan yang agung ini yang dilakukan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu dan kepiwaian beliau dalam masalah hukum dan administrasi pemerintahan diubah oleh mereka menjadi keburukan. Dan kisah Abdullah bin Abbas yang telah diutus oleh Imam Ali radiyallahu ‘anhuma untuk membantah kaum khawarij termasuk dalil yang paling jelas bagi apa yang telah kami kemukakan.[3]
  • Juga (syubhat) tentang lengsernya Imam Hasan radhiyallahu ‘anhu dari kursi khilafah dan memberikannya kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, untuk merealisasikan nubuwah nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berupa ishlah (perdamaian) dan untuk menjaga darah kaum muslimin serta untuk menghimpun persatuan mereka. Lalu kemuliaan dan keutamaan tersebut dibalik menjadi kejahatan, sampai-sampai “Sebagian mereka” mencela penghulu pemuda surga Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu dengan menyematkan gelar “Si Penghina Orang-orang mukmin”,[4]dengan menghina dan mengejek beliau sebagai penghianat. Orang yang merugi ini pura-pura tidak tahu pujian nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam terhadap perbuatan Al-Hasan dengan sabdanya :

“Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid, mudah-mudahan Allah mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai) melalui dirinya”.[5] Dan sungguh itu telah terjadi.

  • Demikian pula kodifikasi mushaf Al-Qur’an yang dilakukan oleh Khalifah ketiga Utsman orang yang syahid dan penyabar semoga Allah meridhainya. Kebajikan yang agung ini pun diubah dan diganti dengan celaan dan fitnah, padahal umat islam sampai hari ini telah menyebut dan menyepakati (perbuatan beliau) sebagai keutamaan besar terhadap islam dan kaum muslimin yang tidak ada yang mengetahui kadar keagungannya kecuali Allah Ta’ala dan orang-orang yang alim.

Oleh karena itu Ali bin Abu Thalib melarang orang yang menghina Ustman rodhiyallahu ‘anhu, sambil mengatakan :

“Wahai manusia, janganlah kalian melampaui batas terhadap diri Ustman dan janganlah mengatakan tentangnya kecuali kebaikan. Demi Allah apa yang telah dilakukannya –mengumpulkan mushaf Al-Qur’an- melaluiu permusyawaratan dengan kami -para sahabat-, Demi Allah seandainya aku berkuasa niscaya aku juga akan melakukan seperti yang telah dia lakukan”.[6]

Dan (syubhat) yang selain tersebut berupa tuduhan dusta serta pemalsuan hakikat yang sebenarnya tentang haknya ahlul bait dan para sahabat masih banyak, yang akan panjang bila disebutkan. Dan contoh-contoh yang kami berikan hanya sekedar untuk menjelaskan (kebenaran), juga agar para pembaca sejarah (yang ditulis) melalui metode mereka menjadi berhati-hati dan waspada. Semoga Allah menunjuki mereka ke jalan kebenaran.

Ketiga : Asal kisah dan haditsnya shahih, tetapi “sebagian orang” telah menambahinya dengan sesuatu yang banyak, hingga yang tadinya hanya berupa kalimat yang tidak sampai satu halaman kini berubah menjadi kitab yang lengkap yang di dalamnya penuh dengan kebatilan dan kedustaan, misalnya :

  1. Peristiwa Saqifah, ia hanya sebuah hadits yang tidak sampai satu halaman. “Sebagian mereka” meriwayatkanya dan menambahinya dengan karangan-karangan palsu yang menyelisihi riwayat yang shahih, kemudian sebagian yang lain menerimanya dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang lengkap dengan tujuan untuk mencela para sahabat radhiyaallahu ‘anhum, seperti yang dilakukan Al-Jauhari di dalam kitabnya “As-Saqifah” dan kitab-kitab lainnya yang telah dikarang oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan memasukkan kebohongan-kebohongan di kitab tersebut.
  1. Demikian pula hadits “rizyatul khamis. Penjelasan makna hadits ini dan kumpulan thuruq (jalan riwayatnya) serta bantahan syubhatnya dapat dilihat di kitab “Al-‘Aqd an-Nafis bi Dirasat Hadits al-Khamis” serta kitab lainnya yang banyak.

Maka para pembaca harus waspada dengan kisah ini dan hendaknya bisa membedakan antara kisah asli dengan kisah yang telah disusupi tambahan.

Dan biasanya Anda akan menjumpai kisah yang asalnya terdapat di dalam sumber-sumber yang terpercaya dan dengan sanad-sanad yang shahih, sedangkan tambahan-tambahannya diambil dari sumber-sumber dan sanad-sanad yang meragukan.

Tidak ragu lagi bahwa tambahan-tambahan yang meragukan dan batil ini telah bermain dan terus akan bermain dalam peran yang penting untuk mengacaukan hakikat yang sebenarnya dan membuat bingung orang banyak, hingga menjadikan sebagian orang menggambar sejarah ini dengan gambaran yang buruk dan mengeluarkan hukum-hukum yang dhalim kepada simbol umat islam ini disebabkan tuduhan dusta tersebut.

Keempat : Khabar dan hadits sanadnya shahih dan tidak ada tambahan dan pengurangan, sedangkan di dalamnya terdapat sesuatu berupa kesalahan yang menimpa sahabat yang tidak ma’shum sebagaimana layaknya manusia lainnya disetiap waktu dan tempat. Maka kita katakan : Siapakah orang yang tidak memiliki kesalahan? Dan sipakah orang yang hanya memiliki kebaikan saja?

Sesungguhnya keyakinan yang benar terhadap para sahabat radhiyaallahu ‘anhum adalah meyakini bahwa mereka manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah, ditimpa lupa dan kelalaian seperti halnya manusia yang lainnya.

Kita tidak meyakini kalau mereka memiliki ‘ishmah’ (terjaga dari kesalahan).[7] Maka wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka serta memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Karena demi Allah, seandainya kita bandingkan kesalahan mereka dengan kebaikan dan amal-amal shalih mereka berupa pengorbanan, berjihad fi sabilillah dan membela agama mereka, niscaya bagaikan sebutir pasir di dalam gunung pasir atau setetes air di dalam lautan.

Maka jika riwayat telah shahih sesuai dengan standar ilmu jarh wat ta’dil sedangkan secara dhahir riwayat tersebut terdapat kekeliruan dan ketergelinciran, maka seorang muslim hendaknya mencari solusi yang paling baik terhadap riwayat tersebut dan memberikan udzur.

Ibnu Abi Zaid berkata : “Dan menahan diri dari perkara yang diperselisihkan di antara mereka (para sahabat), dan sesungguhnya mereka orang yang paling berhak diberikan solusi yang paling baik dan berbaik sangka dengan pendapat mereka”.[8]

Ibnu Daqiq al-Ied berkata : “Dan apa saja yang dinukil dari mereka berupa perselisihan yang terjadi di antara mereka, maka jika batil dan dusta, tidak usah diperhatikan. Dan bila benar, kita takwil dengan takwil yang baik. Karena pujian Allah kepada mereka lebih duluan dan ucapan yang disebutkan belakangan dibawa kepada takwil, karena sesuatu yang meragukan tidak bisa membatalkan sesuatu yang lebih dulu lagi diketahui”. [9]

Dan sangat disayangkan, “Sebagian mereka” membesar-besarkan kesalahan-kesalahan ini, hingga orang yang sibuk, kesibukannya untuk mencari dan menyelidiki masalah ini dengan segala cara untuk meraih tujuan bagi dirinya. Seolah-olah ini adalah masalah yang membedakan antara yang haq dengan batil, sipa saja yang mengetahuinya berarti mukmin dan siapa yang mengingkarinya berarti kafir atau fasiq !!! La Haula wala quwwata illa billah. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.

Sesungguhnya tidak adanya informasi yang detail dan terpercaya tentang peristiwa yang berlangsung di antara para sahabat, mengharuskan kita berinteraksi dengan sejarah mereka dengan interaksi yang telah ditazkiyah (direkomendasikan) oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Dan ini termasuk asas yang paling dasar. Karena kelemahan para pembahas dan pembaca di dalam menemukan sanad yang shahih terhadap riwayat apa saja, maka dia punya prinsip umum yang harus diikuti, yakni pujian Allah ta’ala kepada generasi yang telah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan berjihad bersama beliau untuk menegakkan agama ini. Dan Allah tidak akan memuji suatu kaum yang Dia mengetahui bahwa kaum tersebut kelak tidak pantas mendapatkannya. Bagaimana mungkin sedangkan Dia Maha Mengetahui ?!

Bersama keyakinan kami bahwa mereka manusia yang bisa dimasuki kesalahan, dan kelalaian dalam perkara mereka pada waktu itu perkara manusiawi.

Akan tetapi menuduh mereka dengan tuduhan jelek, bebuat lalim kepada mereka serta mengcap mereka sebagai orang munafik dan gila kekuasaan dan yang lainnya berarti tidak mengabaikan dan menentang salah satu sifat Allah tabaraka wa ta’ala, karena memastikan tuduhan ini tergantung kepada ilmu ghaib yang dirahasiakan oleh Allah Dzat Yang Maha Mengetahui, serta tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui perkara ghaib.

Maka kita wajib mewaspadai permainan di balik riwayat-riwayat yang telah disebar luaskan oleh sebagian orientalis,[10]dan para pengekor hawa nafsu yang telah menggambarkan perselisihan yang terjadi antara para sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in –dengan bersandar riwayat-riwayat yang lemah di satu waktu dan disertai niat yang buruk diwaktu yang lain- dengan gambar yang disebarkan yang menggambarkan sebagian mereka (para sahabat) saling bertengkar, tidak berselisih untuk menuntut kursi jabatan dan mabuk kepemimpinan.

Maka dengan semangat dan kecemburuan pantas untuk melakukan cek dan ricek terhadap khabar-khabar tersebut. Karena demi Allah kita sudah cukup dengan sejarah yang sanadnya shahih, tidak ada kontradiktif meskipun itu sedikit. Karena itu lebih baik daripada sejarah yang penuh dengan catatan-catatan kebohongan.

Sebagai peringatkan bagi setiap orang yang ingin menyebarkan fitnah dibarisan kaum mukminin, serta ingin mendapatkan kedudukan generasi yang tiada taranya ini, yang telah menyaksikan cahaya kenabian dan bersambungnya bumi dengan langit, serta berjuang dengan seluruh potensi yang dimiliknya untuk meninggikan dan menyebarkan agama ini ke seluruh pelosok negeri.

Maka kita wajib tidak meenerima peninggalan ini kecuali yang shahih penisbatannya kepada para sahabat baik ucapan maupun perbuatan yang jauh dari pengkultusan dan semangat membesarkan serta berlebihan di dalam nilai atau menguranginya.

Selamat datang hakikat yang murni meskipun sedikit dan jauh dari kedustaan , khurafat dan hikayat serta kamus-kamus celaan dan hinaan[11]bagaimanapun banyaknya sumber rujukannya karena itu tidak akan kuat di atas timbangan yang bersih (adil) yang sangat tajam, dan jalan-jalan kebenaran yang mengalahkan.[12]

Dan yang sangat mengherankan lagi mencengangkan, orang-orang yang mengedepankan metode pembahasan ilmiyah pada perkara yang sesuai dengan jiwa mereka dan merobohkannya pada perkara lainnya, sebagaimana yang telah dilakukan Murtadha Al-Askari di dalam kitabnya ‘Abdullah bin Saba”. Dia mengingkari hakikat Abdullah bin Saba’dan lari dengan membawa hakikat sejarah dan sanad-sanad yang dhaif. Padahal kisahnya telah tsabit, tapi bila datang hadits tentang (masalah) para sahabat, semuanya diterima karena akan mengantarkan ke tujuan yang dia senangi. Maka qiyaskanlah ini, dimanakah ketelitian yang dia serukan dan dimanakah manhaj ilmiyah yang dia kibarkan syiarnya ?! Kenapa dia tidak mencabut saja seluruh khabar-khabar sejarah dan hadits-hadits penting yang ada di awal islam!!


[1] “Ar-Riyadh An-Nadhrah” karya Muhib At-Thabari hal. 670, “Asma Al-Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib” karya Dr. Ali Ash-Shalabi hafidzahullah hal. 144.

[2] Lihat “Al-Bidayah wa An-Nihayah” karya Ibnu Katsir 6/314-315

[3] Lihat “Tarikh Ibnu Khaldun” 2/176

[4] Rujuklah ke As-Siyar 3/147 dan An-Nash fi Tuhaf Al-‘Uqul ‘An Ali Ar-Rasul hal. 308 karya Ibnu Syu’bah Al-Harani

[5] Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam shahihnya no. 2704

[6] “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar 9/18 dan beliau berkata : Isnadnya Shahih, “Asna al-Mathalib fi Sirah Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib’.

[7] Hal ini tidak bertentangan dengan sifat ‘adalah para sahabat. Maka wajib dibedakan antara ‘ishmah dan ‘adalah. Karena ‘adalah maksudnya bukan berarti para sahabat tidak pernah tergelincir dalam dosa dan kesalahan. Yang seperti ini tidak pernah diucapkan oleh seorang ulama pun selamanya karena ini hanya terjadi pada orang yang ma’shum. Jadi ‘adalah merupakan sesuatu dan ‘ishmah sesuatu yang lain (tidak sama). ‘Adalah artinya menerima riwayat-riwayat dari para sahabat radhiyaallahu ‘anhum tanpa menuntut tazkiyah (rekomendasi) serta tidak membebani diri dalam mencari sebab-sebab ‘adalah mereka. Karena sesungguhnya Al-Qur’an telah mentazkiyah (memberikan rekomendasi) kepada mereka. Lihat “’Itiqad Ahlis Sunnah fis Shahabat” karya Al-Wahyi hal. 93, dan “Al-Manhaj fit Ta’amul ma’a Riwayat ma Syajara bainas Shahabat” karya DR. Muhammad Abu Al-Khail hal. 49

[8] “Muqaddimah Risalah Abi zaid Al-Qirwani”

[9] “Ashabu Rasulillah wa Madzahib An-Nas fi him” karya Abdul Azizi Al-‘Ajlan, hal. 360

[10] sebagian orientalis yang telah membidikkan panah beracunnya kepada peninggalan kaum muslimin berupa sejarah dan aqidah adalah : A.J Arbri, DR. Margoliouts, J. Wensink, Mac Donald, Zwimer, Goldizher,Von Gurenebaum, dan yang lainnya. Dan para ulama dan penulis telah mengungkap dengan baik (syubhat) mereka, semisal Ustadz Yusuf Adzham di dalam kitabnya yang bermanfaat “Tarikhuna baina Tazwiril A’da’ wa Ghaflatil Abna “ Darul Qalam, demikian pula Musthafa As-Siba’I di dalam kitabnya “Al-Istisyraq wal mustasyriqun” Darul Bayan, dan yang terakhir DR. Hamid Al-Khalifah dalam kitabnya “Al-Mauqif minat Tarikh Al-islami” Darul Qalam.

[11] Nasionalisme muncul jauh dari masa penaklukan, seperti menolak perbuatan yang mengandung unsur dendam melawan bangsa arab pembawa islam, maka para ahlul bida’ wal ahwa’ berlomba –lomba menyusun buku yang berisi celaan (bangsa arab) dan telah dibantah dengan karangan (Al-Faras wal ‘Ajm), maka tidak layak bersandar dan memperhatikan peninggalan yang penuh dengki tersebut karena tidak ada pokok bahasan serta semangat pembahasan ilmiyah dan hakikatnya. Lihat kitab “Asy-Syu’ubiyah ‘aduwwul Arab Al-awwal”, karya Khairullah Thalfah, cet. Al-Ma’arif Bagdad.

[12] Ahdats wa ahadits fitnatil haraj, karya DR. Abdul Aziz Dakhan

Download file pdf : Kaidah Ahlu Bait

Artikel Terkait

Diskusi

Belum ada komentar untuk “Kaidah Penting Mengenal Kerancuan tentang Ahli Bait dan Para Sahabat”

Post a comment