Pertanyaan : Manakah yang lebih utama, menyibukkan diri dengan urusan penyucian jiwa ataukah menyibukkan diri dengan ilmu dan belajar ?
Jawab : Barangsiapa yang mempelajari agama Allah dan mengetahui maksud serta hukum-hukumnya maka dia akan tetap tegar diatas ilmu hingga kematian.Ilmu akan melapangkan dadanya untuk menerima agama Allah dan menenangkan hatinya. Tak seorangpun yang lebih tenang hatinya dibandingkan para ulama sebagai buah dari agamanya.Hal ini karena mereka memberikan setiap sesuatu sesuai dengan yang semestinya
Pembahasan tentang penghalusan hati (raqaiq) dan kezuhudan memang dapat mendatangkan ketenangan dalam hati. Akan tetapi, sedikit sekali pembahasannya yang terlepas dari berbagai kekurangan seperti berbaurnya riwayat-riwayat dhoif dengan shahih dan sikap berlebih-lebihan. Terkadang Syaikhnya benar dalam penyampaiannya, akan tetapi para pendengarnya yang kurang tepat dalam penerapannya dikerenakan rancunya mereka dalam memahami beberapa perkara. Maka segala sesuatunyapun tidak berdasar atas ilmu.
Saat ini, kewajiban yang utama adalah ilmu. Penyimpangan dan kebodohan adalah penyebab dari musibah yang menimpa umat ini. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin bertakwa kepada Allah dengan melakukan perbaikan hendaklah memulainya dengan memerangi berbagai penyimpangan dan kebodohan.
Apabila ilmu telah menyebar dikalangan manusia dan keyakinan yang benar telah masuk kedalam hati mereka, maka keadaan kita akan membaik dan akhirnya kebahagiaan akan berhasil kita raih. Yaitu keyakinan bahwa agama Allah itu haq dan kemashlahatan dunia sebelum akherat mereka hanya dapat diraih dengan mengikuti Al Qur’an dan Sunnah nabawiyah yang shohih. Itulah kewajiban kita saat ini. Wajib bagi setiap insan untuk menyibukkan diri dan orang sekitarnya dengan menuntut ilmu.
Semoga Allah memberikan kunci-kunci kebaikan kepada kita dan menutup pintu-pintu keburukan dari kita serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk. Semoga Allah menjadikan kita para penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas dan tidak hanya mencari keuntungan pribadinya saja serta mengetahui kewajiban yang harus dikerjakan pada waktunya.
Sumber:Fatawa Syaikh Masyhur Hasan Salman di http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=309




Jazakumullah khairan atas penerjemahan makalah2 ini. Kalau ada yang bertanya; bukankah tazkiyatun nafs dan raqa’iq itu juga ilmu, bagaimana menjawabnya? Bukankah salah satu tugas diutusnya rasul adalah ‘wa yuzakkihim’. Di sisi lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menceritakan bahwa sebab kehinaan umat ini adalah karena hubbun dunya, sementara kita tidak bisa membuat mereka belajar ilmu2 jika hati mereka masih gandrung dengan dunia, bukankah tauhid itu juga tazkiyatu nafs? Mohon faedahnya dari ikhwah sekalian. Afwan jika kata2 ana kurang berkenan.