Manhaj

Dialog Syaikh Albani & Majalah Albayan (1)

PERTEMUAN ANTARA AHLI HADITS AL-ALBANI DENGAN MAJALAH AL-BAYAN

Pertanyaan:

Wahai Syaikh yang mulia, ketika Anda masih mengajar pelajaran hadits di Jami’ah Islamiyah (Universitas Islam) di Madinah Nabawiyah, Anda memiliki peran yang menonjol terhadap munculnya gelombang para pemuda penuntut ilmu yang mencari dalil syar’i, memperhatikan hadits dan berusaha mencari takhrijnya serta memilah antara yang shohih dan yang dhoif. Apakah Anda ridho dengan gelombang kebangkitan ini, dan apakah masih bertambah dan semakin menyebar?

Jawab:

Aku sudah tidak memiliki hubungan dengan Universitas. Dan tatkala aku meninggalkan Universitas atau Universitas itu meninggalkanku, aku masih sering bolak-balik untuk mengulang sebagian muhadhoroh (ceramah) di sana. Namun keadaan tidak lagi membantuku untuk kembali ke sana. Oleh karena itu, aku sekarang tidak mengetahui keadaan Universitas.

Akan tetapi gambaran secara umum, Universitas itu masih melaksanakan kewajibannya untuk menyebarkan pengetahuan Islam Salafi (dari warisan ulama terdahulu -pent). Dan tentu saja sebagian saudara-saudara kita dari kalangan penuntut ilmu yang dahulu ada ketika kami mengajar pelajaran hadits di sana, mereka sekarang telah menjadi para ustadz ataupun doktor. Dan aku tidak tahu apakah pengaruhnya masih berlanjut sebagaimana pada masa-masa awal dahulu ataukah telah bertambah. Ini sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui kecuali dengan kembali ke Universitas dan melihat perjalanannya.

Pertanyaan:

Akan tetapi di sana ada catatan untuk sebagian murid-murid itu atau murid-murid mereka. Mereka memiliki sikap yang keras dalam menyampaikan manhaj. Tidakkah Anda melihat ini sesuatu yang harus dibenarkan?

Jawab:

Iya, kita katakan sebagaimana firman Robbul alamin,

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ

Serulah ke jalan Robbmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik.” (an-Nahl: 125)

Dan ini wajib kita arahkan ke seluruh para dai.

Pertanyaan:

Apakah Anda memiliki catatan untuk kebangkitan salafi di negri-negri Arab dan dunia Islam? Apa itu?

Jawab:

Menurut keyakinanku, kebangkitan salafi – segala puji bagi Alloh – telah membawa seluruh iklim dunia Islam. Bukti terbesar akan hal itu adalah, orang yang pada waktu kemarin memusuhinya telah menjadi orang yang mendekatinya dan mengadopsi namanya. Ini adalah kabar gembira. Akan tetapi kenyataannya, aku melihat bahwa dakwah salafiyah dimana keutamaan yang ada pada kebangkitan Islam kembali kepadanya, meskipun banyak dari para dai Islam yang pura-pura tidak mengetahui hakikat ini dan tidak mengaitkan kebangkitan ini dengan dakwah salafiyah yang sebenarnya. Akan tetapi yang sebenarnya, bahwa kebangkitan yang ada sekarang ini, yang diungkapkan dengan kembali kepada pokok pegangan yaitu al-Kitab dan as-Sunnah, sedangkan kami mengungkapkan usaha untuk kembali ini dengan ungkapan yang lebih detil lagi sebagaimana telah diketahui dari ceramah-ceramah kami, bahwa dakwah menyeru kepada al-Kitab dan as-Sunnah harus disertai dengan dakwah menyeru kepada manhaj (metode) salafus sholih dalam memahami dua sumber ini. Meskipun orang lain tidak mendengungkan manhaj ini padahal ini sangat penting sekali. Karena ketiadaan perhatian terhadapnya adalah sebab perpecahan yang telah lalu yang bisa diketahui melalui sejarah. Dan kelompok-kelompok yang baru yang ada pada hari ini, sebab (kemunculan)nya tidak lain adalah karena tidak kembali kepada pemahaman al-Kitab dan as-Sunnah dengan manhaj salafus sholih.

Aku katakan: Sesungguhnya dakwah salafiyah – meskipun telah tersebar dan menghasilkan kebangkitan yang ada pada masa ini – adalah sesuatu yang masih mujmal, perlu kepada para ulama yang menjelaskan perincian perkataan tentangnya, pertama-tama, dan melebarkan daerah dakwah salafiyah. Karena dakwah ini adalah Islam itu sendiri dengan seluruh perinciannya yang mencakup semua sisi kehidupan. Penjelasan secara menyeluruh terhadap dakwah salafiyah ini membutuhkan para ulama yang menjalani hidup mereka dengan mengajarkan al-Kitab dan as-Sunnah serta menyeru manusia secara lisan, tulisan dan amalan. Karena para pemuda yang mengadopsi dakwah ini, mereka terburu-buru mendakwahkannya sebelum memahami perinciannya. Dan akibatnya banyaknya risalah dan karya tulis yang dicetak pada masa ini dari para penulis yang sangat banyak. Dan hampir saja tidak akan kamu dapati dari para penulis yang sangat banyak ini, yang dianggap sebagai Syaikh. Dan yang aku maksud dengan kata Syaikh adalah secara makna bahasa yaitu orang yang telah berumur, yang telah berusia tua. Juga yang aku maksudkan adalah secara makna urfi, yaitu orang yang mantap dalam ilmunya. Pemuda yang sangat bersemangat ini tidak mempelajari Islam dengan pembelajaran yang minimal membolehkan dia untuk menulis dan menyeru manusia, baik dengan tulisan ataupun ceramah.

Bersambung…

Artikel Terkait

Diskusi

Belum ada komentar untuk “Dialog Syaikh Albani & Majalah Albayan (1)”

Post a comment