Manhaj

Dialog Syaikh Albani & Majalah Albayan (2)

Pertanyaan:

(Maksud Anda) fenomena banyaknya buku-buku sekarang ini adalah fenomena yang tidak sehat?

Jawab:

Tentu saja ini menunjukkan dan memberitahukan adanya kebangkitan, pada satu waktu. Dan di antara akibat dari fenomena ini adalah banyaknya penerbit dan percetakan buku, padahal sebelumnya sangat sedikit. Jumlah yang sedikit di masa lalu, meskipun mereka menjadikan percetakan dan penerbitan ini sebagai pekerjaan untuk mencari penghidupan – dan ini secara syar’i tidak mengapa – akan tetapi pada umumnya mereka membentuk semacam komite ilmiah. Tidaklah satu kitab dicetak kecuali setelah melalui komite ini.

Adapun sekarang, sangat disayangkan, kita dapati perkaranya bahwa penerbitan ini untuk perdagangan saja bukan untuk melayani ilmu. Engkau mendapati kitab yang tebal dikatakan bahwa ia ditahqiq atau dikomentari oleh sekumpulan orang yang khusus. Namun ketika engkau baca, engkau merasa sedih karena banyaknya kesalahan cetak, disertai dengan perasaan bahwa kitab ini belum ditahqiq.

Para penulis baru telah bekerjasama dengan para penerbit untuk menyerbu perpustakaan-perpustakaan dengan berbagai tulisan. Engkau dapati risalah yang bermacam-macam dalam satu pembahasan. Yang ini mengambil dari yang sini dan yang ini mengambil dari sana. Namun tidak ada ilmu yang baru.

Dua hari lalu, ada seorang dari al-Jazair yang menghubungiku. Dan aku dibuat takjub dengan bahasanya. Padahal bahasa orang-orang al-Jazair itu susah dan logat mereka itu tidak sama dengan logat kita. Akan tetapi saudara ini logatnya adalah logat Arab yang fasih, tidak salah dalam berucap. Apa yang dia tanyakan. Dia berkata: “Aku sedang mengumpulkan wahm (persangkaan yang tidak kuat -pent) al-Hafizh adz-Dzahabi dalam Talkhish-nya terhadap kitab al-Mustadrok yang telah Anda isyaratkan dalam kitab-kitab Anda, ketika Anda berkata misalnya: dikeluarkan oleh al-Hakim dan dia berkata Shohih berdasarkan syarat Muslim, dan adz-Dzahabi menyepakatinya.Bagaimana pendapat Anda?”

Aku katakan: “Jangan kamu lakukan. Dan jika kamu lakukan maka kumpulkan untuk dirimu saja (yakni tidak disebarkan -pent). Karena aku ingin agar engkau tidak menjadi seorang oportunis dan orang yang taklid, baik kepada Bakr atau Zaid atau Nashir. Kami ingin agar engkau menyebarkan usaha dan kesungguhanmu sendiri. Setiap orang bisa mengumpulkan perkataan fulan dan fulan lalu menulis risalah. Lalu apa faidah yang bisa diambil oleh manusia dari usaha seperti ini”.

Demikian yang aku katakan kepada para penuntut ilmu, jangan kalian terburu-buru menulis dan menyebarkan. Dan aku berikan contoh kepada mereka, aku memiliki satu kitab yang itu adalah kitab pertama dan bisa dikatakan itu adalah tulisanku. Satu kitab yang terdiri dari dua jilid dengan judul “ar-Rodhun Nadhir fii Tartiib wa Takhrij Mu’jam ath-Thobroni ash-Shoghir” yang aku tulis ketika umurku 25 tahun. Jika orang melihatnya dia akan terkagum terhadap usaha kesungguhan (yang dikeluarkan) dan perhatian terhadap bentuk tulisannya. Adapun sekarang, setelah aku mencapai umur tua, aku bisa banyak mengambil faidah darinya. Akan tetapi aku tidak memandangnya pantas untuk disebarluaskan, kenapa? Karena aku meralat diriku dengan diriku sendiri. Di sana ada contoh yang sangat jelas.

Dahulu aku mengikuti jumhur ulama yang jika melihat suatu hadits dengan sanad yang semua perawinya adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqoh) kecuali satu orang saja yang dia ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban, dahulu aku mengatakan ini hadits yang shohih. Berdasarkan kaidah ini aku menulis kitab ini. Akan tetapi setelah itu, aku melihat bahwa tautsiq (penilaian tsiqoh) oleh Ibnu Hibban tidak bisa dipercaya.

Dan sekarang, dengan karunia Alloh kepadaku dan kepada manusia, sekian banyak orang yang memberikan perhatian kepada ilmu hadits, telah berpendapat sebagaimana yang aku katakan, tidak sebagaimana yang dulu aku katakan. Kemudian ada hal baru yang aku temui semenjak beberapa tahun belakangan, bahwa yang benar dalam masalah yang aku sebarkan dan yang tersebar berkaitan dengan Ibnu Hibban, yang benar adalah bahwa hal itu tidak secara mutlak, yakni seseorang tidak boleh mengatakan bahwa tautsiq (penilaian tsiqohnya perawi) oleh Ibnu Hibban tidak bisa dipercaya.

Hal ini telah jelas bagiku dengan membiasakan praktek secara amaliyah. Ini adalah poin yang tidak disebut dalam ilmu mushtholah hadits. Sehingga aku berpendapat: Tautsiq oleh Ibnu Hibban tidak dipercaya kecuali jika orang yang dinilai tsiqoh ini memilik banyak perawi yang meriwayatkan darinya jika mereka semua orang-orang yang tsiqoh, maka ketika itu jiwa ini merasa tenteram untuk menganggap (benarnya) tautsiq Ibnu Hibban. Kemudian terjadi sesuatu yang aneh, orang-orang yang dahulu mengambil penjelasanku yang pertama, mereka membantahku, Anda, kenapa menshohihkan hadits ini padahal dalam sanadnya ada fulan yang dinilai tsiqoh hanya oleh Ibnu Hibban?

Tentu saja aku menjelaskan kepada mereka bahwa telah tersingkap bagiku demikian dan demikian… dan ini bukan sesuatu yang dilakukan olehku saja. Semacam ini tidak disebutkan dalam ilmu mushtholah hadits, akan tetapi seseorang akan memahaminya dengan seringnya praktek.

Ringkasnya, kami ingin agar orang yang tumbuh (dengan ilmu) tidak terburu-buru.

Bersambung…

Artikel Terkait

Diskusi

1 komentar untuk “Dialog Syaikh Albani & Majalah Albayan (2)”

  1. Fenomena sekarang adalah berkurangnya keikhlasan dari sebagian penuntut ilmu. Yang dicari adalah popularitas dan senang dipuji manusia agar ia dikenal sebagai seorang yang ‘alim. Apalagi dengan semakin banyaknya sofware seperti syamilah, wagfeya dll, mencari satu pembahasan hanya dengan sekian detik, namun yang kadang dilupakan adalah “barokah bersama kitab”, makanya jika kita berdiskusi langsung dengan orang yang terbiasa bergantung dengan syamilah maka ia akan kelabakan karena ilmunya selama ini hanya ilmu tulisan via copy paste, dan bukan hasil muroja’ah dan istiqro’.
    Selain itu munculnya fenomena tidak sabar dalam menuntut ilmu dan cepat mengharap hasilnya -seperti yang dikemukakan Syaikh diatas-. Pernah ana membaca di salah satu forum di luar negeri, ada seseorang thalibul ilmi yang kuliah di Mesir begitu membangga-banggakan gurunya karena berhasil mengarang buku yang “menyempurnakan” buku syaikh albani, lalu ia menggelari gurunya tersebut dengan “muhhadith”. Padahal karangan gurunya belum mencapai jumlah jari dalam telapak tangan dibandingkan karangan syaikh albani yang 200-an baik yang dicetak maupun belum.
    Ternyata Ikhlas dan tawadhu sangat sulit walau bagi orang yang telah mengetahui ilmu. Allohu musta’an

    Posted by abu yasmin | December 29, 2009, 10:26

Post a comment