Pertanyaan:
Tidakkah Anda memandang untuk menghidupkan halaqoh-halaqoh ilmu untuk melengkapi pembelajaran di Universitas?
Jawab:
Iya, akan tetapi kita kembali kepada permasalahannya, siapa yang akan mengajar?
Pertanyaan:
Kita kembali kepada sebagian permasalahan ilmiah. Saya mendengar kritikan dari sebagian para doktor yang ada di Universitas Islam dan juga para penuntut ilmu, terhadap metode Anda dalam membagi kitab-kitab Sunan menjadi Shohih dan Dhoif. Mereka mengatakan: Mungkin saja suatu waktu akan nampak bagi Anda bahwa hadits ini lemah atau sebaliknya. Lalu bagaimana jawaban Anda?
Jawab:
Mungkin saja, dan memang terjadi, lalu apa yang mereka inginkan?
Pertanyaan:
Seandainya Sunan Abu Daud tetap seperti adanya dan Anda memberi komentar kepadanya pada catatan kaki, sehingga kitab itu lengkap sebagaimana yang ditulis oleh Abu Daud?
Jawab:
Ini sebuah permasalah. Akan tetapi kita tinggalkan dulu Shohih Abu Daud dan Dhoifnya.
Sekarang aku memiliki dua Silsilah; ash-Shohihah dan adh-Dhoifah, sebagaimana yang engkau ketahui.
Sangat sering terjadi, aku memindah satu hadits dari ash-Shohihah menuju adh-Dhoifah, dan sebaliknya. Dan hal ini diingkari oleh orang-orang yang tidak berilmu akan tetapi diterima dan sangat disyukuri oleh para ulama. Apa bedanya antara gambaran masalah yang pertama dengan yang kedua?
Bisa jadi setelah beberapa tahun kita akan mencetak ulang Sunan Abu Daud. Sedangkan aku – karena karunia Alloh kepadaku – jarang sekali aku mengulangi cetakan suatu kitab kecuali aku melihat kembali kepadanya. Karena aku merasa puas (yakin) bahwa ilmu yang shohih tidak menerima kejumudan (kekakuan, tidak berkembang -pent). Dan aku sangat heran dengan seorang penulis yang menulis suatu kitab semenjak dua puluh tahun yang lalu, kemudian dia mencetak ulang persis seperti sediakala tanpa perubahan sama sekali. Ilmu apa ini, apakah ini wahyu dari langit? Ataukah ini usaha manusia yang bisa salah dan bisa benar? Anggaplah kita memenuhi permintaan mereka, dan mencetak ulang kitab ini, dan hadits-hadits yang dhoif berpindah kepada yang shohih, dan sebaliknya, maka kita kembali kepada permasalahan yang sama. Dan mungkin saja kita alihkan usulan ini kepada Mukhtashor (ringkasan)-ku terhadap Shohih al-Bukhori, akan tetapi mereka tidak mengatakan: Biarkan Shohih al-Bukhori sebagaimana adanya. Akan tetapi mereka malah menetapkannya dan tidak mengingkarinya.
Aku katakan, sesungguhnya ketika aku memulai memilah Sunan Abu Daud menjadi Shohih dan Dhoif semenjak empat puluh tahun, aku telah menampakkan berbagai sisi pandang di hadapanku secara sempurna. Aku katakan: aku akan melakukan ini atau ini. Kemudian hal ini menjadi lebih kuat bagiku, dan dikuatkan juga oleh sebagian ahli sastra yang sangat semangat terhadap ilmu seperti saudara Hamdi Abid. Dia telah menguatkanku untuk menjadikan Sunnah menjadi dua bagian. Hal ini menjadi lebih kuat bagiku, dan masuk ke dalam rencanaku untuk mendekatkan sunnah ke tengah-tengah umat pada satu sisi, dan di sisi lain, mendekatkan sunnah yang shohih bukan yang dhoif. Dan setelah itu, (aku lakukan -pent) tanpa rasa takut. Karena kebanyakan manusia tidak perlu mengetahui yang dhoif, akan tetapi yang membutuhkan itu hanyalah orang-orang yang khusus. Maka jika ada seseorang dari kalangan umumnya manusia, aku berikan kepadanya Shohih Abu Daud dan aku katakan ini cukup baginya. Adapun kepada orang yang khusus, maka dia wajib mengetahui yang lemah. Maka yang seharusnya, merekalah yang memberi pengarahan kepada manusia.
Maka hal ini (pembagian kitab sunan kepada shohih dan dhoif -pent) telah menjadi kuat bagiku, dan panutanku dalam hal ini adalah para ulama, yaitu para ulama yang memiliki kitab Shohih, semisal al-Bukhori.
Pertanyaan:
Wahai ustadz kami, apakah di sana ada sebagian fatwa berkaitan dengan masalah fikih yang dahulu Anda memeganginya semenjak beberapa waktu, kemudian Anda rujuk darinya karena telah mengetahui dalil-dalil yang lebih kuat?
Jawab:
Mungkin telah sampai kepadamu isu tentang aku bahwa aku rujuk dari pendapat haramnya emas melingkar bagi kaum wanita. Ini adalah dusta. Dan mungkin di sana ada isu-isu lain yang semuanya tidak ada dasarnya.
Pertanyaan:
Kita kembali kepada poin yang anda sebutkan di awal pembicaraan. Yaitu bahwa manhaj ahlussunnah membutuhkan perincian, sehingga bisa membantu kaum muslimin untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Bisakah kita katakan bahwa garis besar manhaj ini – maksudku jalan pemikiran dan pendalilan ahlussunnah – adalah apa yang telah ditulis oleh asy-Syafi’i dalam ar-Risalah atau asy-Syathibi dalam al-Muwafaqot atau Ibnu Taimiyah dalam banyak kitab beliau dan secara khusus kitab Dar`u Ta’arudhil ‘Aqli wan Naqli?
Jawab:
Iya, mereka para ulama yang kamu sebutkan ini adalah termasuk ulama yang jarang ada di antara kaum muslimin. Para ulama yang mencerminkan manhaj (metode) ilmiah orang-orang salaf, dalam kitab-kitab mereka.
Pertanyaan:
Wahai ustadz kami, apakah Anda memiliki tambahan terhadap tulisan al-akh asy-Syaibani berkenaan dengan kehidupan pribadi Anda?
Jawab:
Aku tidak memiliki tambahan. Dan apa yang dia tuliskan telah mencukupi.
Pertanyaan:
Pertanyaan terakhir. Apa nasihat Anda kepada para pemuda muslim di zaman ini?
Jawab:
Nasihatku dari dua segi. Mungkin yang pertama bisa dipahami dari perkataanku yang telah lalu. Yaitu agar mereka memperdalam pemahaman agama dengan bersandar kepada sabda Nabi – shollallohu ‘alaihi wa sallam -,
“Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Alloh, niscaya Alloh pahamkan dia dalam masalah agama.”
Dan hendaknya mereka tidak mencukupkan diri dengan ilmu tanpa mengamalkannya. Karena kenyataan yang bisa dirasakan bahwa kebanyakan para pemuda yang bangkit pada hari ini, perhatian mereka ada pada sisi pemikiran bukan sisi ilmiah dan amaliah.
Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada mereka, pertama, agar mereka memperluas diri semampu mereka untuk mengetahui ilmu yang shohih yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah, baik melalui diri mereka sendiri jika mampu atau dengan bantuan para ulama. Dan hendaknya mereka tidak menghadapi sesuatu yang muncul dari mereka karena kebodohan, dengan bersandar kepada pengetahuan mereka yang sangat dangkal dan sedikit. Ini dari satu sisi.
Dari sisi lain, hendaknya mereka memperhatikan amal lebih dari perhatian mereka terhadap ilmu. Karena sangat disayangkan kita melihat orang-orang yang memberikan perhatian terhadap ilmu, kebanyakan mereka tidak beramal. Maka tentu saja, orang-orang yang tidak memberikan perhatian terhadap ilmu tentunya juga tidak mengamalkan. Maka hendaknya mereka membalik perkaranya. Mereka hendaknya memperhatikan amalan lebih besar dari perhatian mereka terhadap ilmu. Jika saja para ulama meninggalkan amal, maka selain mereka di antara orang yang tidak berilmu, lebih mungkin untuk meninggalkan amal. Maka kewajiban para ulama dan para penuntut ilmu agar mengarahkan kesungguhan mereka untuk beramal, dan membalik keadaan sekarang kepada ilmu dan amal yang banyak agar menjadi seimbang daun timbangan yang kurang di masyarakat.
Maka sebagaimana ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amalan, begitu pula amalan tidak akan bermanfaat tanpa ilmu. Ini adalah kenyataan yang disepakati oleh ulama kaum muslimin – walillahil hamd –. Inilah nasihatku kepada para pemuda muslim yang tumbuh di masa ini.
Pertemuan dilakukan oleh pemimpin redaksi majalah pada majalah edisi 33
Robi’ul Akhir 1411 H
Wallohul Muwaffiq.




Artikel Terkait
Diskusi
Belum ada komentar untuk “Dialog Syaikh Albani & Majalah Albayan (4)”