Hikmah

Korespondensi antara Syaikh Albani & Syaikh Bin Baz (1)

KORESPONDESNI ANTARA SYAIKH ALBANI dan SYAIKH IBNU BAZ

Buah karya: Syaikh Hasan Ayat ‘Aljat al-Jazairi – semoga Alloh menjaga dan melindungi beliau.

Pendahuluan

Sesungguhnya segala pujian hanyalah milik Alloh. Kami memuji-Nya, memohon pertolongan kepada-Nya, meminta ampun kepada-Nya, dan kami meminta perlindungan kepada Alloh dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan keburukan perbuatan-perbuatan kami. Barangsiap yang diberi petunjuk oleh Alloh maka tidak ada seorang pun yang mampu menyesatkannya. Dan barangsiapa disesatkan oleh-Nya maka tidak ada yang mampu memberi petunjuk kepadanya. Aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang berhak diibadahi selain Alloh semata, tiada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Wa ba’du;

Sesungguhnya pengetahuan tentang berita-berita para ulama dan perjalanan hidup mereka, adalah bagaikan salah satu di antara prajurit-prajurit Alloh. Imam Abu Hanifah berkata, “Kisah-kisah tentang para ulama dan kebaikan-kebaikan mereka, lebih aku cintai dari pada kebanyakan ilmu fikih. Karena kisah-kisah itu adalah adab-adab para ulama.”

Sebagian masyayikh berkata, “Kisah-kisah tentang para ulama bagaikan salah satu prajurit Alloh. Dengan kisah-kisah itu Alloh mengokohkan hati-hati wali-Nya. Dalilnya adalah firman Alloh ta’ala,

وَكُلًّا نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهِ فُؤَادَكَ

Dan semua kisah dari rosul-rosul Kami ceritakan kepadamu, ialah kisah-kisah yang dengannya Kami teguhkan hatimu.” [Hud: 120]” (1)

Dan di antara berita-berita yang berkaitan dengan para ulama adalah tentang korespondensi yang terjadi di antara para ulama.

Dan Alloh telah memberi taufik kepadaku dalam permasalahan ini, untuk mengetahui beberapa surat yang saling bergantian antara dua orang tokoh sunnah dan hadits pada zaman ini. Mereka adalah dua orang syaikh yang mulia; Abdulaziz bin Abdillah bin Baz dan ahli hadits Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Alloh merahmati keduanya dan menempatkan mereka di surga firdaus yang paling tinggi. Dan hal ini aku dapati di sela-sela ketika aku membaca kitab “ar-Rosail al-Mutabadilah baina asy-Syaikh Ibni Baz wal Ulama” karya Syaikh Muhammad bin Ibrahim al-Hamd.

Lembaran-lembaran ini mengandung begitu banyak nasihat, pelajaran dan pembenahan jiwa. Jika engkau ingin mendapati ijtihad, ketinggian cita-cita dan semangat, engkau akan mendapatkannya. Jika engkau ingin mendapati kehalusan akhlak dan adab yang agung, engkau pun akan mendapatkannya… juga faidah-faidah lain yang sangat mulia, dan mutiara-mutiara yang melimpah nan mahal, akan didapati oleh orang yang membaca lembaran-lembaran korespondensi ini.

Tidaklah heran jika pada diri kedua tokoh ini terkumpul berbagai perangai yang mulia. Maka sesuatu yang berasal dari sumbernya, tidaklah dianggap aneh. Bagaimana tidak; padahal mereka berdua adalah orang yang sangat teliti dalam dakwah dan pengajaran. Sampai-sampai keduanya hampir saja tidak meninggalkan satu pun lapangan kebaikan. Keduanya telah mendahului (yang lain dalam hal kebaikan -pent) sehingga orang yang datang belakangan hanya menjadi pengikut mereka.

Wahai pembaca, inilah dia korespondensi yang dirindukan, yang terhitung sebagai contoh teladan dalam berkorespondensi antara para ulama dan penuntut ilmu.

Hanya Alloh yang mengetahui segala niat, dan Dia lah yang mampu memberikan petunjuk kepada jalan kebenaran.

Surat pertama:

Surat dari Syaikh al-Albani kepada Syaikh Ibnu Baz berkaitan dengan pencalonan Syaikh al-Albani untuk melakukan tash-hih (koreksi, pemeriksaan) terhadap naskah Fathul Bari yang siap dicetak.

Bismillahirrahmanirrahiim

Dari Muhammad Nashiruddin al-Albani kepada Yang mulia Syaikh Abdulaziz bin Baz

Wa’alaikumussalam warohmatullohi wabarokatuh.

Sesungguhnya saya berterima kasih kepada Anda dengan memuji Alloh yang tiada sesembahan yang hak melainkan Dia, dan saya memohon agar Dia melanggengkan kenikmatan-Nya yang lahir maupun batin kepada kami dan Anda.

Amma Ba’du

Semenjak beberapa waktu, saya telah menerima surat yang mulia dari Anda tertanggal 20 Syawal 1378 H. Dan sungguh melalui surat itu saya mengetahui tekad kuat Anda untuk mencetak “Fathul Bari” dengan cetakan yang bagus. Saya berterima kasih kepada Anda atas persangkaan baik Anda terhadap saudara Anda; dimana Anda mencalonkan saya untuk melaksanakan tash-hih terhadap naskah yang siap untuk dicetak serta pembandingannya dengan naskah lain yang telah dicetak atau yang masih dalam bentuk manuskrip.

Akan tetapi saya memandang agar Anda membebaskan saya dari kegiatan tersebut dan membebankannya kepada orang selain saya. Bukan karena suatu alasan apapun, hanya saja saya melihat waktu yang dibutuhkan oleh kegiatan yang penting ini, jika saya gunakan untuk kegiatan yang lebih sesuai dengan spesialisku; yaitu untuk melayani sunnah, memilah antara yang shohih dari yang dhoif dan mengambil hukum serta memperdalam pemahaman terhadapnya, adalah lebih utama darinya.

Oleh karena itu, saya menyarankan agar Anda melihat usulan-usulan kami berikut ini:

Hendaknya Anda memerintahkan agar dikirimkan malzamah setelah selesai ditash-hih dan siap dicetak, agar saya bisa melihatnya secara singkat; barangkali saya mendapati sedikit kesalahan sehingga bisa saya koreksi, kemudian saya akan memberikan komentar atas sebagian tempat yang nampak bagi saya perlu dikomentari. Dan mungkin hal itu bisa dilakukan dalam batasan poin-poin berikut:

  1. Peringatan atas hadits shohih yang dilemahkan oleh penulis atau didiamkan olehnya.
  2. Peringatan atas hadits lemah yang dikuatkan oleh penulis atau didiamkan olehnya.
  3. Penegasan terhadap kebenaran yang sesuai dengan al-Kitab dan as-Sunnah di dalam berbagai permasalahan yang dijelaskan secara rinci oleh pensyarah, namun tanpa ada tarjih (penguatan) terhadap salah satu pendapat.
  4. Menjelaskan beberapa tempat yang memang butuh kepada penjelasan. Terlebih lagi dalam perkara yang ada hubungannya dengan akidah salafiyah. Namun hal itu tidak dengan metode yang menyeluruh, karena metode semacam ini membutuhkan waktu dan kesungguhan yang besar. Akan tetapi hanya sebatas yang mudah kami lakukan.

Secara ringkas: kami memandang dikeluarkannya kitab syarah ini dengan tahqiq semacam ini akan lebih bermanfaat bagi manusia. Apalagi telah sampai berita kepada saya dari sumber terpercaya bahwa salah seorang ahli hadits dari Maroko dari kalangan sufi juga telah mempersiapkan berbagai hal untuk mencetak kitab ini. Dan tidak ragu bahwa dia akan memberikan komentar atasnya dengan komentar yang bisa mengarahkan para pembaca kepada kesesatan dan kebid’ahannya. Di antara kesesatan itu, dia akan membawa hadits berikut,

اللَّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي شَامِنَا

“Ya Alloh, berkatilah kami di negri Syam kami…” para sahabat berkata, dan di negri Nejd kami, wahai Rosululloh? Beliau bersabda,

هُنَاكَ الزَّلَازِلُ وَالْفِتَنُ

“Di sana banyak keguncangan dan berbagai fitnah.” al-hadits…

Dia akan membawa makna hadits ini kepada saudara-saudara kita ahli tauhid dari kalangan penduduk Nejd, dan menamai bahkan menggelari mereka dengan gelaran Qorniyyun.

Hadits ini ada dalam shohih al-Bukhori – sebagaimana Anda ketahui -. Tidakkah Anda melihat pentingnya memberikan komentar atasnya dan yang semisalnya, di antara hadits-hadits yang dipalingkan maknanya oleh ahli bid’ah dari hakikat sebenarnya, dan mereka menjadikannya sebagai kesempatan untuk membantah ahli tauhid dan mengokohkan kesyirikan orang-orang yang sesat dari kalangan kaum muslimin?

Kemudian pada kesempatan ini, kami ingin menyampaikan beberapa usulan kepada Anda berkaitan dengan pencetakan kitab ini, agar kitab itu bisa keluar dengan mengagumkan dan menyenangkan.

  1. Menyebutkan bab pada pertengahan baris.
  2. Memberikan penomoran kitab-kitab dan bab-bab dengan nomor yang bersambung, dimana penomoran itu terbatas sejumlah bab-bab yang ada dalam setiap kitab. Karena yang demikian itu akan membantu pemanfaatan kitab Faharis (yang berisi tentang daftar isi) yang dibuat untuk shohih al-Bukhori, seperti kitab Miftah Kunuzis Sunnah.
  3. Pemberian nomor hadits secara berkesinambungan sampai akhir kitab – sehingga menjadi jelas jumlah hadits dalam shohih al-Bukhori – yang diletakkan di awal baris.
  4. Penyebutan bab sebagai judul pada pertengahan syarah.
  5. Menyebutkan bab di atas setiap halaman.
  6. Pemberian harokat untuk kata-kata yang sulit dari syarah.
  7. Mengeluarkan setiap jilid dalam beberapa juz, sebagaimana yang mereka lakukan belakangan ini terhadap Lisanul Arob dan ath-Thobaqotul Kubro; untuk mempermudah bagi orang yang ingin membeli kitab ini, agar mereka membelinya.
  8. Memberikan cover yang berwarna dan berukir untuk setiap juznya, seperti pada kitab Lisanul Arob dan ath-Thobaqotul Kubro.

Inilah di antara yang bisa kami sampaikan. Kami memohon kepada Alloh ta’ala agar Dia memberi taufiq kepada Anda untuk mencetak kitab ini dalam bentuk yang paling baik dan sempurna. Dan Alloh – tabaroka wa ta’ala – lah yang mengurusi balasan untuk Anda.

Semoga keselamatan, rohmat Alloh dan berkah-Nya tercurah atas Anda, juga kepada para masyayikh, ustadz dan para ikhwah yang ada di dekat Anda.

Saudara Anda, Muhammad Nashiruddin al-Albani

Damaskus 28 Dzulqo’dah 1378 H

bersambung……

(1) Lihat:  Jami’ Bayanil Ilmi wa Fadhlihi, karya al-Imam Ibnu Abdilbarr (1/251) dan Tartib al-Madarik wa Taqrib al-Masalik, karya al-Qodhi Iyadh (1/6).

Artikel Terkait

Diskusi

Belum ada komentar untuk “Korespondensi antara Syaikh Albani & Syaikh Bin Baz (1)”

Post a comment