<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; DR.Abdul Karim Al Khudhair</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/author/dr-abdul-karim-al-khudhair/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hukum Mencela Ulama Jika Sebagian Fatwanya Menyelisihi Ijma’</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/hukum-mencela-ulama-jika-sebagian-fatwanya-menyelisihi-ijma%e2%80%99/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/hukum-mencela-ulama-jika-sebagian-fatwanya-menyelisihi-ijma%e2%80%99/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Aug 2009 15:06:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DR.Abdul Karim Al Khudhair</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[khudair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=515</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Apakah hukum mencela ulama jika sebagian fatwanya menyelisihi ijma’ para ulama ?
Jawaban : Ibnu Daqiqil ’Id berkata mengenai mencela kehormatan seseorang :
أَعْرَاضُ  المُسْلِمِينْ حُفْرَة مِنْ حُفَر النَّارْ، وَقَفَ عَلَى شَفِيرِهَا العُلَمَاءُ والحُكَّامْ
“Kehormatan kaum muslimin  adalah jurang di antara jurang-jurang neraka, yang berdiri di tepinya adalah para ulama dan hakim.”
Maka anda wajib menjaga [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pertanyaan : Apakah hukum mencela ulama jika sebagian fatwanya menyelisihi <em>ijma’</em> para ulama ?</p>
<p>Jawaban : Ibnu Daqiqil ’Id berkata mengenai mencela kehormatan seseorang :</p>
<p><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic; color: black;" lang="AR-AE">أَعْرَاضُ  المُسْلِمِينْ حُفْرَة مِنْ حُفَر النَّارْ</span><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic; color: black;" lang="AR-YE">،</span><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic; color: black;" lang="AR-AE"> وَقَفَ عَلَى شَفِيرِهَا العُلَمَاءُ والحُكَّامْ</span></p>
<p><em>“Kehormatan kaum muslimin  adalah jurang di antara jurang-jurang neraka, yang berdiri di tepinya adalah para ulama dan hakim.”</em></p>
<p>Maka anda wajib menjaga lisan anda dan menjaga kebaikan-kebaikan yang telah anda peroleh. Jangan anda bagikan pahala dari kebaikan-kebaikanmu kepada fulan dan fulan. Dan bersungguh-sungguhlah menjaga apa yang telah anda kumpulkan itu.</p>
<p>Seandainya anda telah banting tulang dalam sebuah pekerjaan sampai dapat mengumpulkan sejumlah dirham baik ratusan, ribuan atau puluhan ribu.Kemudian anda letakkan uang tersebut di sebuah kotak di dekat pintu (Tanpa ada niat ibadah kepada Allah ‘<em>azza wa jalla </em>karena mudah diambil orang). Tentu ini merupakan perbuatan bodoh. Apabila kemudian datang anak-anak kecil kemudian mengambilnya, melemparnya dan merobek-robeknya, apa yang dikatakannya kepada anda? Anda akan dikatakan gila. Tidaklah ada orang yang melakukan hal ini melainkan orang gila.</p>
<p>Bagaimanapula jika yang  anda dapatkan dengan penuh kelelahan tersebut adalah pahala kebaikan sebagai bekal menuju akhirat? Maka wajib bagimu untuk senantiasa menjaganya.</p>
<p>Nabi <em>sholallahu ‘alaihi wasallam</em> berkata kepada para sahabatnya yang mulia :</p>
<p><span style="color: #000000;"><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic;" lang="AR-AE">أَتَدْرُونَ  مَنِ المُفْلِسْ؟</span><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic;" lang="AR-AE"> قَالُوا: المُفْلِسُ مَنْ لا دِرْهَمَ لَهُ ولا مَتَاعْ، قَال: </span><span style="font-size: 14pt; font-family: Simplified Arabic;" lang="AR-YE">إِنَّ الْمُفْلِسَ مِنْ أُمَّتِي يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِصَلَاةٍ  وَصِيَامٍ وَزَكَاةٍ وَيَأْتِي قَدْ شَتَمَ هَذَا وَقَذَفَ هَذَا وَأَكَلَ مَالَ  هَذَا وَسَفَكَ دَمَ هَذَا وَضَرَبَ هَذَا فَيُعْطَى هَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ،  وَهَذَا مِنْ حَسَنَاتِهِ، فَإِنْ فَنِيَتْ حَسَنَاتُهُ قَبْلَ أَنْ يُقْضَى مَا  عَلَيْهِ أُخِذَ مِنْ خَطَايَاهُمْ، فَطُرِحَتْ عَلَيْهِ ثُمَّ طُرِحَ فِي  النَّارِ</span></span></p>
<p>“Apakah kalian mengetahui siapa yang bangkrut ?”. Para sahabat menjawab : “Orang yang bangkrut adalah orang yang tidak memiliki dirham dan harta benda.” Beliau <em>shalallah &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda: “Sesungguhnya orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala sholat, puasa, zakat namun dia juga mencaci, menuduh, memakan harta orang lain, menumpahkan darah orang lain, serta memukulnya. Lantas diambillah pahala kebaikan-kebaikannya sebagai bayaran  kepada orang yang telah dianiayanya. Apabila telah habis kebaikan-kebaikannya sedangkan kesalahan-kesalahannya belum terbayar, maka diambil dosa-dosa orang yang dianiaya tadi untuk dibebankan kepadanya untuk akhirnya dilemparkan ke dalam neraka.”(HR. Muslim).</p>
<p>Maka wajib bagi kalian untuk menjaga lisan. Bukan karena mereka ulama atau bukan ulama. Apalagi para ulama lebih utama untuk dijaga kehormatannya,karena membicarakan keburukan mereka berarti meremehkan kedudukan ulama. Meremehkan mereka bukan karena fulan atau siapapun,namun meremehkan ulama memiliki efek merugikan yang lebih besar dari  selain mereka,karena ulama pada hakikatnya adalah tauladan bagi manusia.</p>
<p><strong>Meskipun mereka berfatwa yang menyelisihi ijma’ ulama?</strong></p>
<p>Jika anda mendapatkan fatwa yang menyelisihi ijma&#8217; ini, maka anda harus benar-benar  mengklarifikasi apakah ulama ini memang mengatakannnya? Karena sebagian  orang kadang terburu-buru dalam menukil dan terkadang salah dalam menukil.</p>
<p>Sebaiknya Anda klarifikasi kebenaran penyandaran fatwa tersebut, kebenaran maknanya, kebenaran hakikatnya, kebenaran penyandaran pada sumbernya dan kebenaran perkataan itu  sendiri. Kemudian setelah itu anda harus mendiskusikannnya dengan metode yang baik dan terpuji. Dan anda katakan kepadanya : &#8220;Kami telah mendengar demikian dan demikian. Apakah itu benar? Jika benar apa dasarnya? Sedangkan para ulama <em>salaf</em> dan <em>khalaf </em> berpendapat demikian&#8221;.</p>
<p>Dengan seperti ini anda dapat mendapat kejelasan apa yang anda inginkan tanpa merugikan diri anda sendiri.</p>
<p>Sumber : Mutiara Faidah Syaikh DR.Abdul KArim Al Khudair <em>hafidzahullah </em>di <a href="http://www.khudheir.com/ref/132">http://www.khudheir.com/ref/132</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/hukum-mencela-ulama-jika-sebagian-fatwanya-menyelisihi-ijma%e2%80%99/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semangat Mengambil Manfaat dari Orang Lain</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/semangat-mengambil-manfaat-dari-orang-lain/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/semangat-mengambil-manfaat-dari-orang-lain/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 14:19:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DR.Abdul Karim Al Khudhair</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[khudair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=497</guid>
		<description><![CDATA[Jika Anda  bisa menjadi pendengar saja dalam suatu majlis, maka lakukanlah.Ini adalah termasuk bentuk  saling mendorong dan memotivasi yang dilakukan generasi terdahulu ( salaf) disaat manusia pada umumnya saling berlomba untuk berbicara.
Ibnu Mas’ud berkata :
إنْ استطعْتَ أنْ تكُون أنْتَ المُحدَّثْ فافعل
“Jika Anda dapat menjadi pendengar ,maka lakukanlah”.
Dengan memilih menjadi pendengar, maka Anda menjadi seorang yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Jika Anda  bisa menjadi pendengar saja dalam suatu majlis, maka lakukanlah.Ini adalah termasuk bentuk  saling mendorong dan memotivasi yang dilakukan generasi terdahulu (<em> salaf</em>) disaat manusia pada umumnya saling berlomba untuk berbicara.</p>
<p>Ibnu Mas’ud berkata :</p>
<p><strong>إنْ استطعْتَ أنْ تكُون أنْتَ المُحدَّثْ فافعل</strong></p>
<p>“<em>Jika Anda dapat menjadi pendengar ,maka lakukanlah</em>”.</p>
<p>Dengan memilih menjadi pendengar, maka Anda menjadi seorang yang mengambil faedah dari orang lain.</p>
<p>Akan tetapi, apakah ini berlaku secara umum? Dan apakah seseorang sepanjang hidupnya terus-menerus menjadi pendengar saja dan tidak mengerjakan sesuatu? Jawabnya :Tidak.<strong>Jika kondisinya terdapat orang-orang yang sepadan,dimana mereka dapat saling memberi faidah satu sama lain, maka bersemangatlah untuk memposisikan diri menjadi orang yang mengambil faidah. Adapun apabila dimajlis tersebut terdiri dari  orang  yang berilmu dan orang bodoh, maka hendaklah orang yang  berilmu memberikan faidah sedangkan yang bodoh yang mengambil manfaat</strong>.</p>
<p>Kami tidak mengatakan kepada yang berilmu : “Tunggu, biarkan dia (yang bodoh) saja yang berbicara” atau kepada orang yang lebih tua berkata: ”Tunggu, biarkan dia (yang lebih muda) yang berbicara”.Tidak demikian.Apabila dalam majlis tersebut terdiri dari orang yang selevel ilmunya yang setiap mereka sebenarnya dapat saling memberi manfaat, kemudian salah seorangnya hendak memberikan wasiat kepada para sahabatnya ,maka bersemangatlah untuk  mengambil manfaat darinya.Karena yang paling penting bagi seorang manusia adalah memperbaiki dirinya sendiri.</p>
<p>Dengan mengambil sikap seperti ini,juga berarti dia berusaha mengekang hawa nafsu,dimana  pada sebagian besar manusia pada umumnya berambisi  menjadi dikenal dan menguasai pembicaraan tanpa memberi kesempatan pada orang lain.Walaupun sebagian manusia yang menguasai pembicaraan tersebut ada yang memang memberi manfaat.</p>
<p>Kami katakan: “Tidak, wahai saudaraku. Tetaplah bersemangat untuk menjadi pendengar yang mengambil manfaat dari orang selainmu sebisa mungkin&#8221;. Terutama jika anda bersama orang yang lebih utama dan lebih layak dalam berbicara. Biarkanlah dia berbicara, Anda dan yang lainya dapat mengambil manfaat darinya.  Atau jika ada yang lebih tua dari sisi usia, berikanlah kesempatan berbicara kepadanya.Tentunya yang dimaksud adalah selain lebih tua usia tapi juga lebih luas kemampuannya.</p>
<p>Kemudian setelah itu jika terdapat kesempatan bagimu untuk berbicara,maka berbicaralah. Jika anda memiliki ilmu yang anda merasa memahaminya dan tidak (ada) yang menguasainya kecuali anda, maka wajib bagi anda untuk menyampaikannya.</p>
<p>Sumber : Mutiara Faidah Syaikh Abdul Karim Al Khudhair <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.khudheir.com/ref/114">http://www.khudheir.com/ref/114</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/semangat-mengambil-manfaat-dari-orang-lain/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umur adalah Nafas</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/umur-adalah-nafas/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/umur-adalah-nafas/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 17 Aug 2009 15:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DR.Abdul Karim Al Khudhair</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[khudair]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=499</guid>
		<description><![CDATA[Ada beberapa amalan -amalan khusus bagi penuntut ilmu yang harus dikerjakan secara konsisten agar dapat membantunya dalam perjalanan menuntut ilmu.
Tilawah Al Qur&#8217;an
Memohon pertolongan Allah dengan aktivitas  membaca Al-Qur’an secara tadabbur dan tartil sesuai yang diperintahkan.Memperbanyak membaca Al-Qur’an adalah jalan memperoleh pahala yang besar. Tiap hurufnya sebanding dengan sepuluh kebaikan. Seseorang yang dalam seperempat jam membaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada beberapa amalan -amalan khusus bagi penuntut ilmu yang harus dikerjakan secara konsisten agar dapat membantunya dalam perjalanan menuntut ilmu.</p>
<p><em>Tilawah Al Qur&#8217;an</em></p>
<p>Memohon pertolongan Allah dengan aktivitas  membaca Al-Qur’an secara <em>tadabbur</em> dan<em> tartil</em> sesuai yang diperintahkan.Memperbanyak membaca Al-Qur’an adalah jalan memperoleh pahala yang besar. Tiap hurufnya sebanding dengan sepuluh kebaikan. Seseorang yang dalam seperempat jam membaca satu juz Al Qur&#8217;an akan mendapatkan seratus ribu kebaikan.Oleh karenanya perbanyaklah membaca Al Qur&#8217;an dan buatlah waktu khusus untuk men<em>tadabbur</em>i dan  menggali pelajaran dari nya</p>
<p>Allah berfirman:</p>
<p><strong>وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْآنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِن مُّدَّكِرٍ</strong></p>
<p>“<em>Dan sungguh, telah kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah yang mau mengambil pelajaran?”</em>(QS.Al Qomar:17).</p>
<p>Kita harus senantiasa menggali pelajaran dari Al Qur&#8217;an, mengingatkan diri kita dan orang lain dengan Al-Qur’an sebagaimana dalam firman Allah disebutkan ”<em>Maka berilah peringatan dengan Al-Qur’an kepada siapapun yang takut terhadap ancamanKu”</em> (Qaaf: 45).</p>
<p>Akan tetapi siapakah yang dapat mengambil pelajaran? Dia adalah orang yang takut terhadap peringatan Allah. Adapun orang yang lalai, lupa serta bermain-main, akan sedikit sekali mendapatkan pelajaran ini.</p>
<p>Sungguh disayangkan ada sebagian orang yang menyandarkan dirinya sebagai &#8220;penuntut ilmu&#8221;,namun hati mereka hambar terhadap Al-Qur’an.<strong>Jika mereka kebetulan tiba di masjid sebelum Iqomah,setelah sholat sunnah,jika masih ada waktu Mereka </strong><strong>mengambil mushaf dan membaca Al Qur&#8217;an satu atau dua lembar</strong><strong> menunggu dimulai shalat.Al-Qur’an dibaca pada waktu luang seperti obrolan. Jika ada waktu  dia membaca, dan jika tidak ada waktu maka tidak membaca. Hal seperti ini banyak terjadi pada kebanyakan penuntut ilmu bahkan para <em>huffadz</em> (penghafal Al-Qur’an).</strong></p>
<p>Beberapa penuntut ilmu jika tamat menghafal Al-Qur’annya,(merasa) tugasnya telah berakhir. Kita katakan : <strong>Tidak wahai saudaraku, justru kini saatnya tugas anda dimulai. Sekarang waktunya membaca Al-Qur’an yang berpahala tiap hurufnya dengan tartil, men<em>tadabburi</em>, mengambil hukum, pelajaran dan peringatan dengan Al-Qur’an. Sekaranglah saatnya!</strong></p>
<p>Maka Ahlul Qur’an memiliki kekhususan dalam hal  ini. Mereka adalah <em>Ahlullah</em> (orang-orang yang mendapat kekhususan dari Allah) dan orang-orang pilihan Allah. Dan sudah sepatutnya mereka diketahui  dengan ciri yang tidak dimiliki oleh selain mereka, sebagaimana perkataan Ibnu Mas’ud (bahwasanya mereka Ahlu qur’an) diketahui dengan puasanya, shalatnya, <em>qiyamullail</em>nya, <em>tilawah</em>nya, serta dengan manfaat yang bersumber dari mereka baik khusus dan umum.Merekapun diketahui dengan penghadapannya kepada Allah ketika manusia (yang lain) lalai.Maka Ahlul Qur’an memiliki kedudukan yang besar.</p>
<p><em>Dzikir</em></p>
<p>Begitu juga dinasehatkan kepada seorang muslim secara umum agar lisannya senantiasa basah dengan dzikir kepada Allah <em>‘azza wa jalla</em>. Dzikir tidaklah berat dilakukan.Dengan membaca  <strong>سُبحان الله وبحمدِهِ</strong> (<em>subhanallah wabihamdihi</em>) seratus kali akan dihapuskan darinya dosa-dosanya meskipun seperti buih lautan. Membaca <strong>سُبحان الله وبحمدِهِ</strong> (<em>subhanallah wabihamdihi</em>) hanya membutuhkan waktu sekitar 1,5 menit.</p>
<p>Untuk mendapatkan ampunan dosa dari Allah,tidak memerlukan  belenggu (cemeti) sebagaimana terhadi dizaman sebelum kita dimana seseorang mengambil pedang untuk membunuh dirinya sendiri dalam menebus dosa . Tidak sepatutnya hal seperti ini dilakukan. Dengan satu setengah menit membaca <strong>سُبحان الله وبحمدِهِ</strong> (<em>subhanallah wabihamdihi</em>) akan dihapuskan darinya dosa-dosanya walaupun seperti buih di lautan. Bagi yang senantiasa ber <em>istighfar</em>, maka<em> istighfar</em> memiliki manfaat yang tidak terlintas dalam benak yaitu menentramkan jiwa, memperoleh hidup yang tenang, mendapatkan harta dan anak yang banyak, serta barokah dalam rezeki</p>
<p>Mengucapkan <strong>لا إله إلا الله وحدهُ لا شريك لهُ، لهُ الملك ولهُ الحمد، وهو على كلِّ شيء قدير </strong>(<em>Laa Ilaha Illallah wahdah lahul mulku walahul hamdu ,wa huwa &#8216;ala kulli syai&#8217;in qodir</em>) sepuluh kali, maka dia mendapat pahala seperti membebaskan empat budak dari keturunan Isma’il. Sepuluh kali diucapkan hanya memerlukan waktu satu menit. Jika diulanginya seratus kali tidaklah seseorang mendapatkan semisalnya kecuali jika datang membawa semisalnya atau lebih, dijaga dari gangguan syetan, memperoleh seratus derajat, dan dihapuskan darinya seratus kesalahan, maka seperti telah membebaskan sepuluh dari keturunan Isma’il. Pahala yang banyak.</p>
<p>Akan tetapi wahai saudaraku yang mulia, penghalangnya akan selalu ada.Anda dapati kebanyakan manusia jika harus menunggu seseorang misalnya seperempat jam dalam sebuah urusan,maka  lima belas menit tersebut akan membuatnya merasa menunggu lima belas tahun. Engkau dapati dia akan  marah, mengaduh dan terbakar hatinya karena harus menunggu tersebut. Mengapa? Karena ia tidak membiasakan dirinya untuk berdzikir. Seandainya dia mengisinya dengan membaca satu bagian dari Al-Qur’an dalam waktu lima belas menit tersebut. Apakah ia tidak ingin temannya terlambat datang sampai  dia menyelesaikan membaca sebagian Al Qur’an tadi?Apabila dia terbiasa wirid harian dari Al Qur’an apakah dia tidak berharap agar iqomah diundur sedikit supaya bisa menyelesaikan membaca nya? Demi Allah, inilah yang terjadi wahai saudaraku.</p>
<p><em>Umur adalah Nafas</em></p>
<p>Akan tetapi bagi orang yang menjadikan  Al-Qur’an dan dzikir hanya untuk mengisi waktu luang maka dia  tidak akan beruntung . Ketika hendak sholat dan agak lama menunggu, dia berdiri di dekat  pintu masjid sembari mengeluh &#8220;kapan Imam datang&#8221;, Mengapa? Karena dia tidak membiasakan dirinya dan  tidak mengenal Allah dalam keadaan lapang agar Allah mengingatnya disaat keadaaan resah seperti ini.</p>
<p>Apabila seorang pegawai yang ditunggunya terlambat datang sepuluh menit atau seperempat jam, karena dia telah terbiasa,dia menunggu sembari  menghapal Al-Qur’an di sakunya atau membacanya.Maka cukup baginya dengan ini seratus ribu kebaikan bahkan lebih utama dari pekerjaan yang akan dibawa oleh orang yang ditunggu tadi.</p>
<p>Akan tetapi dari segi bahwasanya kita tidak biasa seperti ini banyak dari  kita akan merasa sempit dan banyak berbuat sia-sia. Orang-orang dijalanan dalam perjalanan dimana sekarang ini banyak manusia yang menghabiskan waktunya di mobil. Kebanyakan mereka tidak dapat memanfaatkan waktu mereka dengan baik. <strong>Isilah dengan membaca Al-Qur’an! Berdzikirlah dengan dzikir-dzikir yang sesuai syari’at! Dengarkan kaset-kaset ilmiyah sehingga anda mendapatkan manfaat.</strong></p>
<p>Intinya adalah bahwa kita harus benar-benar menjaga waktu , karena umur itu ibarat nafas. Menit ini sebelumnya (adalah) beberapa detik dan setelahnya berjam-jam. Inilah umur manusia. Bahkan ini merupakan hakikat manusia. Apabila manusia menyia-nyiakan dirinya,  apa yang akan  dia jaga?Apabila manusia menyia-nyiakan dirinya habislah dirinya secara keseluruhan tanpa terkecuali. Berapa banyak orang yang dipanjangkan umurnya sampai seratus tahun,tetapi jika ditanya keluarga dan kerabatnya, apa yang telah dia lakukan selama seratus tahun ini?Jawab mereka  &#8220;Demi Allah, kami tidak mengetahui apapun&#8221;.</p>
<p>Beberapa manusia diberkahi umurnya. Umar bin Abdul ‘Aziz meninggal sebelum 40 tahun,namun namanya tetap disebut  sampai sekarang dengan sebutan yang baik. Juga Sa’id bin Jubair tidak sampai berumur 50 tahun. An Nawawi usianya 46 tahun namun karyanya memenuhi dunia, memenuhi masjid-masjid di seluruh dunia. Diriwayatkan bahwa beliau berkata : Kita harus sungguh-sungguh  terhadap ini (umur).</p>
<p>Kadang ada yang berkata : Apakah sebab dari keberkahan ini? Kita banyak melihat orang yang panjang umurnya, akan tetapi tidak disebut dengan sebutan yang baik seperti mereka ini.Tatkala disebut nama mereka,maka setiap lisan mengatakannya  <em>‘rahimahullah’</em> (semoga Allah merahmatinya).Seseorang datang kepada Hisyam bin Abdul Malik dan berkata kepadanya : &#8220;Sesungguhnya ayahmu memberikan sebidang tanah, kemudian Umar bin Abdul ‘Aziz <em>rahimahullah </em>datang dan mengambilnya dariku&#8221;.Hisyam berkata : &#8220;Subhanallah,ayahku yang telah memberikan tanah tidak kau ucapkan <em>&#8220;rahimahullah</em>&#8221; tapi pada orang  yang telah yang mengambil nya (yakni Umar bin Abdul Aziz), kamu sebut namanya dengan &#8220;<em>rahimahullah&#8221;</em>? Orang tersebut kemudian berkata, &#8220;Setiap orang memang mengatakan seperti ini.  Tidaklah nama Umar bin Abdul Aziz disebut melainkan mereka mengatakan <em>rahimahullah (</em>Semoga Allah merahmatinya).</p>
<p>Maka tiap manusia harus bersungguh-sungguh untuk merealisasikan perkara-perkara ini. Berapa banyak orang yang amal-amalnya tetap mengalir meskipun telah meninggal dunia ratusan tahun lalu. Mengapa? Karena dia telah menunjukkan manusia kepada hidayah, mengajarkan kebaikan kepada manusia, menyusun karya yang bermanfaat bagi manusia dan pahala-pahala mereka mengalir  sebagai ilmu yang bermanfaat.Namun,ada juga beberapa manusia malah melakukan sebaliknya. Selama ratusan tahun, amalannya hanya menanggung dosa karena mereka mengajarkan kebid’ahan dan mengarang buku-buku bid’ah, dan manusia terpengaruh dengannya. Maka mereka juga mendapat dosa atas sebab itu. Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>bersabda :</p>
<p dir="rtl"><strong>ومن سَنَّ في الإسلام سُنَّة حسنة فلهُ أجرُها وأجرُ من عمل بها إلى يوم القيامة&#8230; ومن سنَّ في الإسلام سُنَّة سيِّئة فعليه وزرها ووزرُ من عمل بها إلى يوم القيامة</strong></p>
<p><em>“ Barang siapa yang yang mengamalkan contoh yang baik , maka baginya pahalanya dan pahala yang mengamalkannya sampai hari kiamat. Dan barangsiapa yang mengamalkan contoh yang jelek,maka baginya dosanya dan dosa yang mengikutinya sampai hari kiamat”</em></p>
<p>Oleh karenanya, kita harus memperhatikan diri kita dan menjaganya.</p>
<p>Sumber :     Durar Faidah Syaikh DR.Abdul Karim Al Khudair di  <a href="http://www.khudheir.com/ref/147">http://www.khudheir.com/ref/147</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/umur-adalah-nafas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Apakah Pelaku Pengeboman itu Khawarij?</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/07/apakah-pelaku-pengeboman-itu-khawarij/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/07/apakah-pelaku-pengeboman-itu-khawarij/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 03:35:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DR.Abdul Karim Al Khudhair</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[jihad]]></category>
		<category><![CDATA[khawarij]]></category>
		<category><![CDATA[khudair]]></category>
		<category><![CDATA[pengeboman]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=296</guid>
		<description><![CDATA[Mufti : Syaikh Abdul Kariim bin &#8216;Abdillah Al Khudhayr
 
Bagaimana pandangan syari&#8217;at dalam menyikapi peristiwa pemboman akhir-akhir ini ? Apakah kita akan memberikan cap khawarij bagi orang-orang yang melakukan pemboman atau pemberontak? Perbuatan apa yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin terhadap mereka.?
Jawab :
Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada baginda Rasulillah amma [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mufti : <strong>Syaikh Abdul Kariim bin &#8216;Abdillah Al Khudhayr</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Bagaimana pandangan syari&#8217;at dalam menyikapi peristiwa pemboman akhir-akhir ini ? Apakah kita akan memberikan cap khawarij bagi orang-orang yang melakukan pemboman atau pemberontak? Perbuatan apa yang wajib dilakukan oleh kaum muslimin terhadap mereka.?</p>
<p>Jawab :</p>
<p>Segala puji bagi Allah, Shalawat dan salam semoga tercurah pada baginda Rasulillah amma ba&#8217;du.</p>
<p>Pengeboman dan penghancuran itu termasuk perbuatan yang diharamkan, bahkan termasuk dosa-dosa besar yang membinasakan. Kita memohon keselamatan dan afiat kepada Allah. Ada beberapa dalil yang amat jelas dari Al Qur&#8217;an dan Sunnah mengenai pembunuhan orang muslim yang membuat merinding, membuat takut jiwa-jiwa yang lurus fitrahnya. Syari&#8217;at Islam hadir untuk menjaga lima hal yang esensial,yakni menjaga jiwa, agama, akal, kehormatan, dan harta. Seandainya saja yang dalil yang mengharamkan hanya ayat</p>
<p><span style="font-family: Simplified Arabic; color: #ff0000; font-size: medium;"><strong>وَمَنْ  يَقْتُلْ مُؤْمِناً مُتَعَمِّداً فَجَزَاؤُهُ جَهَنَّمُ خَالِداً فِيهَا وَغَضِبَ  اللَّهُ عَلَيْهِ وَلَعَنَهُ وَأَعَدَّ لَهُ عَذَاباً عَظِيماً</strong></span></p>
<p>&#8220;<em>Barang siapa yang membunuh seorang mukmin secara sengaja, maka balasannya adalah Neraka Jahannam, ia kekal selamanya di sana dan Allah akan murka kepadanya, Allah akan melaknatnya, dan Allah akan menyiapkan untuknya adzab yang amat besar</em>: An Nisaa 93</p>
<p>dan Firman Allah,</p>
<p><span style="font-family: Simplified Arabic; color: #ff0000; font-size: medium;"><strong>وَالَّذِينَ  لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهاً آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي  حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ  أَثَاماً يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَاناً</strong></span></p>
<p>&#8220;<em>Dan Orang-orang yang tidak pernah berdoa kepada Tuhan yang lain bersama Allah, dan tidak pernah membunuh jiwa yang Allah haramkan kecuali dengan jalan yang benar, dan tidak berzina. Barang siapa yang melakukan dosa-dosa tersebut maka jatuhlah ia dalam keadaan berdosa. Adzab akan dilipatgandakan baginya pada hari kiamat dan ia akan kekal di dalam keadaan hina dina</em>&#8221; Al Furqan 68,69</p>
<p>Kemudian sabda Rasulullah <em>sholallahu&#8217;alayhi wa sallam</em>,</p>
<p><span style="font-family: Simplified Arabic; font-size: medium;"><span style="color: #0000ff;">لا يزال المسلم في فسحة من دينه مالم يصب دماً حراماً</span></span></p>
<p>&#8220;Seorang muslim senantiasa berada dalam kelapangan dalam agamanya selama ia tidak menumpahkan darah yang diharamkan&#8221;(HR Abu Dawud, dari Abi Darda&#8217;, dan Ubadah bin Shomit <em>Radhiallahu&#8217;anhuma</em>, shahih).</p>
<p>Tiga dalil ini sudah cukup untuk membuat jera setiap orang yang melakukan praktek-praktek seperti ini. Kita mohon keselamatan dan afiah.</p>
<p>Para ulama memiliki perincian tersendiri mengenai para pelaku kejahatan seperti orang-orang ini. <strong>Jika mereka menganut aliran khawarij dan mengkafirkan kaum muslimin maka mereka itu khawarij. Akan tetapi jika mereka tidak mengkafirkan kaum muslimin, akan tetapi mereka memiliki persenjataan dan kekuatan militer maka mereka ini adalah para pemberontak. Jika mereka tidak memiliki persenjataan dan kekuatan militer maka mereka ini hanyalah para perampok, pembegal</strong>. Sehingga perbuatan yang wajib dilaksanakan kaum muslimin adalah mencegah mereka untuk melakukan perbuatan kriminal tersebut, dan sebisa mungkin menghalangi keinginan mereka.</p>
<p>Aku berdoa  kepada Allah, &#8216;Azza wa jalla semoga Ia menjaga kaum muslimin dari setiap musuh dan para pendengki, semoga Allah menjaga agama kita, rasa aman dan kehormatan kita. Agar Allah memberi hidayah kepada kaum muslim yang tersesat, menunjukkan jalan yang baik bagi Ummat ini, sehingga mulialah orang-orang yang taat, dan hinalah orang-orang yang berbuat maksiat, sehingga mereka saling berpesan untuk berbuat baik, dan saling melarang untuk berbuat yang munkar. Aku berdoa semoga Allah membersihkan masyarakat muslim dari segala hal yang membuat Allah <em>&#8216;Azza wa jalla</em> murka, dan agar Allah memberikan keamanan bagi kaum muslimin di negeri-negeri mereka. Aku berdoa semoga Allah menjadikan para pemimpin mereka orang-orang yang baik, dan menyatukan pendapat mereka dalam kebenaran dan hidayah, sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar dan Menjawab doa.</p>
<p>Shalawat dan salam semoga tercurah bagi baginda rasulillah, keluarga dan seluruh sahabatnya.</p>
<p>Sumber :<a href="http://http://www.khudheir.com/ref/220/">Fadhilatusy Syaikh DR.Abdul Karim bin Abdillah Al Khudhair</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/07/apakah-pelaku-pengeboman-itu-khawarij/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
