<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; Syaikh Albani</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/author/syaikh-albani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (3)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[APA PENDAPAT ANDA TENTANG NASHIR AL-UMAR DAN BANTAHANNYA TERHADAP AS-SAQQAF KEMUDIAN DIA MEMBICARAKAN AS-SAQQAF
Penanya kedua: Saya mengetahui bahwa Syaikh Nashir al-Umar mengunjungi anda baru-baru ini.
Syaikh: Iya.
Penanya kedua: Bagaimana kunjungannya, dan apa kesan Anda terhadap Syaikh Umar?
Syaikh: Terhadap siapa?
Penanya kedua: Terhadap Syaikh Nashir al-Umar.
Syaikh: MasyaaAllah, sebaik-baik lelaki, penuntut ilmu yang kuat, dan yang nampak bagi kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA PENDAPAT ANDA TENTANG NASHIR AL-UMAR DAN BANTAHANNYA TERHADAP AS-SAQQAF KEMUDIAN DIA MEMBICARAKAN AS-SAQQAF</strong></p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Saya mengetahui bahwa Syaikh Nashir al-Umar mengunjungi anda baru-baru ini.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Bagaimana kunjungannya, dan apa kesan Anda terhadap Syaikh Umar?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Terhadap siapa?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Terhadap Syaikh Nashir al-Umar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>MasyaaAllah</em>, sebaik-baik lelaki, penuntut ilmu yang kuat, dan yang nampak bagi kami – dan kami tidak mentazkiyah seorang pun atas nama Allah – dia orang yang berlepas dari hawa nafsu.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Alhamdulillah</em>, dan padanya ada banyak kebaikan. Dan kita memohon kepada Allah semoga seluruh penuntut ilmu memiliki akhlak islam yang tinggi seperti ini.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Apa pendapat Anda tentang kaset Nashir al-Umar yang di dalamnya dia membantah seseorang yang disebut as-Saqqaf?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dia telah melakukan kewajiban yang baik. Dan kami sekarang berusaha untuk menyebarkan kaset ini di negri ini. Karena as-Saqqaf ini adalah seorang yang melakukan kesalahan besar. Dan dalam keyakinanku ada banyak orang berada di belakangnya. Di lapangan dia tidak sendirian. Dia adalah seorang<em> jahmi</em> (pengikut pemahaman jahmiyah) yang getol. Dia suka mempermainkan as-Sunnah, men<em>shahih</em>kan sunnah sekehendaknya padahal dhoif. Dan mendhoifkan sunnah sekehendaknya padahal shahih menurut para ulama. Cukup bagimu bukti kami atas hal tersebut hadits al-Jariyah (budak wanita), “Di manakah Allah?” Dia (as-Saqqaf) berkata, aku memastikan bahwa Nabi – <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> – tidak mengucapkan hadits ini. Padahal dia tahu bahkan menyandarkannya kepada Shahih Muslim. Namun tetap saja dia memastikan bahwa hadits ini dusta atas nama Rasulullah – <em>shollalohu ‘alaihi wa sallam</em> –. Padahal hadits ini dishahihkan oleh banyak para ulama yang dijadikan sandaran olehnya dalam mentakwil sifat atau dalam mentakwil sebagian sifat. Para ulama itu seperti al-Imam al-Baihaqi. Al-Imam al-Baihaqi – segala puji hanya milik Allah – termasuk salah satu pembesar ulama hadits, meskipun pada diri beliau ada keyakinan asy’ariyah, tapi beliau termasuk ulama yang menshahihkan hadits tersebut. Maka (as-Saqqaf) ini sama sekali tidak memperhatikan hal ini. Terlebih lagi al-Hafizh Ibnu Hajar, beliau juga menshahihkan hadits ini, tapi (as-Saqqaf) tidak memperhatikan!! Dia (as-Saqqaf) berkata bahwa hadits ini dipastikan bahwa Nabi – <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> – tidak mengucapkannya. Dia mendatangkan beberapa hadits yang sebagiannya shahih namun tidak ada kalimat, “Di manakah Allah?” lalu dia mempertentangkan antara kalimat ini dengan riwayat-riwayat yang tidak menyebutkan kalimat ini. Padahal hal itu tidak saling kontradiksi. Dan kebanyakan riwayat yang dijadikan sandaran olehnya tidak lepas dari cacat dari segi ilmu hadits. Tapi tetap saja dia tidak mau memperhatikan. Dalam bantahannya terhadap ahlussunnah, dia bertolak dari kaidahnya orang-orang yahudi zionis yang menyatakan, “Tujuan membenarkan segala cara.” Demikianlah.</p>
<p>Aku tidak tahu, apakah telah sampai kepada kalian kitab “<em>Daf’u Syubahit Tasybih</em>” karya Ibnul Jauzi dengan <em>ta’liq </em>(komentar) dari laki-laki pendusta ini ataukah tidak? Sudahkah sampai kepada kalian?</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Saya belum pernah melihatnya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Ini adalah musibah yang sangat besar. Ambil (kitab) ini, dia ada di bawah&#8230; Pada kitab ini, dia membuat pendahuluan panjang yang semuanya adalah bantahan kepada Ahlussunnah. Dia menamai orang-orang yang menetapkan sifat (Allah) – terutama adalah aku – sebagai Mujassim, hanya karena kita menetapkan sifat-sifat Allah. Dan aku kira engkau telah mengetahui kitabku “<em>Mukhtashor al-‘Uluw</em> karya adz-Dzahabi.” Engkau telah mengetahuinya?</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Iya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dan pendahuluan (yakni kitab <em>Mukhtashor al-‘Uluw</em> – pent) yang mencapai sekitar lima puluh halaman, tujuh puluh halaman, semuanya adalah pendahuluan yang memadukan antara penetapan sifat dan penyucian sifat. Meskipun demikian setiap kali menyebut tentangku disebut di dalam kurung “<em>Mujassim, mujassim, mujassim</em>.” Dan dia ketika menafsirkan firman Allah,</p>
<p class="arabic">أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ</p>
<p><em>“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.”</em> (al-Mulk: 16)</p>
<p>Dia berkata, “Sesungguhnya keyakinan Allah berada di langit adalah keyakinan jahiliyah, orang-orang musyrik pada zaman jahiliyah.” Dari sinilah dia bertolak dan mempertentangkan hadits Jariyah dengan menyatakan hadits ini palsu, karena hadits ini mengandung keyakinan orang-orang musyrik (yakni menurut anggapannya). Al-Jariyah ini mengatakan Allah berada di langit sedangkan dia mengatakan ini adalah perkataan orang-orang musyrik.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Beberapa waktu lalu as-Saqqaf mengunjungi Syaikh Nasib ar-Rifa’i. Dan setelah kami selesai sholat Jum’at di masjid kami, saya dan Syaikh Ahmad Salik singgah di tempat Syaikh Nasib. Karena ketika itu beliau sedang sakit. Tiba-tiba as-Saqqaf datang, yakni kami mendahuluinya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Datang kemana?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Ke Syaikh Nasib.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di rumahnya?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Iya benar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di Bil’adah?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Tidak, pada kedua kalinya dia datang. Lalu Syaikh Nasib berkata kepadanya, “Engkau mentakwil sifat dan menolaknya. Apa dalilmu atas takwil ini?” Dia berkata, “Dalilku bahwa al-Bukhari juga mentakwil.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Laa haula wa laa quwwata illa billaah.</em></p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Lalu Syaikh Ahmad Salik berkata kepadanya, “Wahai Hasan, apakah engkau menetapkan Allah memiliki Dzat?” Dia berkata, “Iya.” Syaikh berkata, “Lalu bagaimana dengan sifat menurutmu? Sebagaimana Dia memiliki Dzat yang tidak seperti dzat-dzat (makhluk), begitu pula tangan-Nya tidak seperti tangan-tangan (makhluk).” Dia berkata, “Aku tidak datang untuk berdebat.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Inilah kebiasaannya.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Kemudian dia berkata kepada Syaikh Nasib bahwa “Syaikh Nashir berkata tentang Anda, musyrik.” Lalu Syaikh Nasib berkata kepadanya, “Meski demikian, aku bersamanya dalam melawanmu.” Lalu dia duduk sebentar kemudian pergi dan tidak kembali setelahnya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dia dusta, tidak ragu lagi, A’udzu billah.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Iya, Wahai Syaikh kami, saya mengikuti seluruh risalah as-Saqqaf kecuali yang ini, bukan untuk mendiskusikan perkataan-perkataannya, saya hanya kembali kepada referensi yang dijadikan sumber nukilannya dan perkataan-perkataannya. Seluruh risalah yang dicetak, dan saya mendapati sesuatu yang sangat mengherankan.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Ahsanta</em>.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Dan ini telah dikumpulkan dalam satu majmu’ah. Saya telah memberikannya kepada Syaikh Ali agar beliau melihatnya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Iya. Dan saya mendapati bahwa masalah bahasa juga&#8230; “Sampaikan tidak mengapa” (perkataan Syaikh al-Albani –pent). Saya heran, pada sebagian risalahnya dia menukil kesepakatan ahlul hadits bahwa tidak boleh menshahihkan dan mendha’ifkan hadits kecuali dari sisi orang yang telah mencapai derajat al-Hafizh. Dan dia berkata, di antara mereka adalah, al-Hafizh Ibnu Hajar dan as-Suyuthi.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Allahu Akbar, Allahu Akbar</em>.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Dan pernyataan ini belum ada seorang pun yang menyatakannya sebelumnya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Dia adalah <em>dajjal</em> (pendusta). Semoga Allah membalasnya. Semoga Allah membalasnya.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Pada sebagian risalahnya dia mengklaim dan menyatakan bahwa Siyar A’lamin Nubala telah dicetak kecuali jilid terakhir saja yang di dalamnya ada biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, – dia mengatakan – wallahu a’alam, untuk apa mereka menyembunyikan kitab ini, yakni untuk apa.</p>
<p>Padahal biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dinukil oleh Ibnul Wazir dalam al-‘Awashim dan saya memiliki foto dari manuskripnya. Yang mentahqiq adalah Syu’aib al-Arnauth.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Iya, afwan, (Ibnul Wazir) menukilnya dari kitab Siyar?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Ibnul Wazir, iya (menukil dari kitab Siyar –pent). Dia berkata, “Dalam juz ini aku telah memperbanyak nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka inilah biografi beliau dari <em>Siyar A’lamin Nubala</em>.” Dan beliau menyampaikannya. Yakni, aku memiliki foto manuskripnya, subhanalloh, di sana ada pujian yang panjang.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Dan insya Alloh engkau berniat untuk menyebarkan hakikat orang ini (as-Saqqaf)?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Kami belum menasihatinya, yakni karena orang ini tidak terkenal, yakni tidak membantahnya itu lebih utama, tidak mengikuti mereka lebih utama. Akan tetapi insyaAlloh hati ini cenderung untuk melakukan hal itu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Engkau harus menjelaskan kebatilannya, ini wajib diberitahukan.</p>
<p><strong>Penanya ketiga</strong>: Bedanya kitab-kitab as-Saqqaf dari yang lainnya di antara kitab-kitab yang menyerang Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, bahwa sampai orang awam pun bisa terpengaruh dengan kitab ini, yakni yang membaca kitab-kitab, baik dari kalangan cedekiawan, insinyur, sampai pun ahli kimia. Berbeda dengan bantahan-bantahan lainnya, seperti bantahan Mamduh Sa’id atau yang lain, tidak ada yang mampu mengetahuinya atau bereaksi bersamanya sampai pun kebanyakan dari para penuntut ilmu. Dari sini, nampak bahayanya kitab ini. Dan nampak juga pentingnya membantah kitab ini dengan bantahan yang ringkas, dengan risalah kecil yang bisa disebarluaskan. Risalah kecil saja untuk memberikan beberapa contoh penyimpangannya, dan kepalsuannya. Ditambahkan juga kejanggalan-kejanggalan yang ada padanya, berupa pengkafiran kepada Syaikhul Islam dan yang lain.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Iya, aku yakin amal yang engkau isyaratkan ini sangat penting.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Wahai Syaikh, saya belum berdiskusi dengannya, yakni, dia (mungkin) jahil.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Ini dia, wahai saudaraku, berdiskusi dengannya percuma, jangan berdiskusi dengannya, jangan. Semoga Allah membalasnya. Yang mengherankan, dia menukil dari “Tafsir al-Bahrul Muhith” karya Abu Hayyan tentang tafsir ayat yang telah lalu,</p>
<p class="arabic">أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ</p>
<p>“<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit</em>.” (al-Mulk: 16)</p>
<p>Sebuah tafsir yang sangat aneh!! Dia berkata, “Sesungguhnya Rabb kita berkata kepada orang-orang musyrik, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang kamu sangka berada di langit!!!” <em>A&#8217;udzubillah, Allahu Akbar,</em> suatu hal yang sangat buruk, sangat buruk. Pembalikan kenyataan yang tidak ada bandingannya dalam membalik kenyataan. Engkau akan mendapati di sini, dalam kitabnya Ibnul Jauzi – engkau tahu bahwa Ibnul Jauzi sangat disayangkan menyimpang dari madzhab salaf dalam masalah sifat – dia menukil dari sebagian hanabilah yang sebenarnya pada mereka ada sedikit sikap ghuluw dalam menetapkan sifat. Maka as-Saqqaf ini ketika Ibnul Jauzi menyebutkan seorang dari hanabilah ini, dia meletakkan di antara tanda dua kurung, “Mujassim Fulan,” “Mujassim Fulan.” Bagaimana dia membolehkan bagi dirinya untuk memberikan sisipan dalam kitab orang lain. Seandainya saja dia menyebutkan di pendahuluan bahwa dialah yang membuat istilah ini, tapi dia meninggalkannya agar orang-orang tersesat.</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Wahai Syaikh kami, saya melihat dia memiliki kitab, “asy-Syihabul Hariq fir Rodd &#8216;alal Albani al-Mariq.” Pada awal kitab itu dia menyebutkan pendahuluan yang dia sebut Muqaddimah Za&#8217;faraniyah – <em>masya Allah</em> – ilmunya telah sampai padanya untuk menulis suatu <em>muqaddimah</em>. Lalu dia memunculkan sebagian pertanyaan kepada Anda, dengan bahasa yang kuat. Dalam fikiranku, bahwa semacam ini tentu kita akan mengatakan di akhirnya dia akan menyusun kalimat dengan baik karena dia telah memulai, tapi setelah selesai dia mengatakan, “<em>wa nahnu &#8216;ala tsiqotan”</em> yakni dengan tanwin di atasnya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Mengherankan.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Lalu terlintas dalam benakku agar saya kembali merujuk ke kitab-kitab <em>Maqamat</em>. Maka aku pun kembali merujuk kepada kitab <em>Maqamat al-Hariri</em>. Ternyata sama dengan Maqamat yang ditulis oleh al-Hariri. Dia menyebutkan bahwa dia pergi menuju Haram dan di sana ada seorang Syaikh yang menampakkan diri untuk berfatwa, dan datanglah kepadanya seseorang yang selalu di gelari dengan Abu Yazid as-Sabuki. Berdirilah kepadanya seorang pemuda yang fasih lisannya lalu bertanya kepadanya beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan fikih yang ada kesamaran. Maka as-Saqqaf menyebutkannya, dan dia merendahkan Anda sedangkan dia adalah pemuda yang bertanya yang fasih lisannya. Dia telah merubah al-Maqamah sehingga orang-orang berfikiran dia memiliki <em>Maqamat</em>.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahul Musta&#8217;an</em></p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Setelah itu wahai Syaikh kami, dia berkata – ketika aku duduk bersamanya di sisi Syaikh Nasib – saya katakan padanya, engkau berkata dalam satu kitab, Syaddad bin Rifa&#8217;ah al-Qitbani. Dia berkata, yang benar adalah al-Fitbani dan ini adalah bukti kebodohan al-Albani karena dia berkata al-Qitbani.</p>
<p>Saya katakan kepadanya, pertama, Syaikh Nashir menukil dari Sunan Ibnu Majah. Dan dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan al-Qitbani. Yang kedua, al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib (menyebutkan): Syaddad bin Rifa&#8217;ah atau Rifa&#8217;ah bin Syaddad al-Qitbani, dengan mengkasrohkan huruf Qoof. Di sini, apakah Syaikh Nashir dituntut untuk mengikuti semua kitab untuk mengatakan al-Qitbani bukan al-Fitbani? Apalagi di sana ada dua nisbat menurut ahlul hadits, ada yang benar-benar al-Qitbani dan ada juga yang al-Fitbani. Maka dia tidaklah dituntut dengan perkataan Ibnu Hajar. Dia berkata, Aku tahu Ibnu Hajar berkata demikian. Saya katakan kepadanya, baiklah kenapa engkau menyamarkannya kepada manusia. Dia berkata, untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa al-Albani tidaklah makshum. Saya katakan kepadanya, untuk apa, siapa yang mengklaim kemakshumannya!!!</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Masya Allah, masya Allah. Orang ini mencari-cari kesalahan orang lain.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Tatkala datang Syaikh Ahmad Salik, dia berkata kepadanya, “Ini tulisan-tulisanku, lihatlah kepadanya.” Maka Syaikh Ahmad Salik mengambil kitab dan memperhatikannya. Dia berkata, “Tulisan-tulisan ini ingin kamu sebarkan kepada manusia?” Dia berkata, “Iya.” Syaikh Ahmad berkata, “Ini kesalahan penulisan, ini kesalahan dalam nahwu, ini salah?” Maka merahlah wajahnya dan dia pun malu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin: </strong>Dia malu, semoga Allah menunjukinya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em></p>
<p><em>SELESAI<br />
</em></p>
<p>Sumber :  Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (2)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 22:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[PERMINTAAN KEPADA SYAIKH AGAR MENASIHATI MEREKA UNTUK MENETAPI SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH ILALLAH
Penanya: Wahai Syaikh, banyak di antara kalangan Salafiyun yang menggunakan sikap keras dan tidak menggunakan sikap lembut. Mereka menggunakan sikap keras tidak pada tempatnya. Dan mereka tidak menggunakan sikap lembut pada tempatnya. Jumlah mereka tidaklah sedikit. Kami katakan semua kelompok melakukan seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERMINTAAN KEPADA SYAIKH AGAR MENASIHATI MEREKA UNTUK MENETAPI SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH ILALLAH</strong></p>
<p><strong>Penanya:</strong> Wahai Syaikh, banyak di antara kalangan Salafiyun yang menggunakan sikap keras dan tidak menggunakan sikap lembut. Mereka menggunakan sikap keras tidak pada tempatnya. Dan mereka tidak menggunakan sikap lembut pada tempatnya. Jumlah mereka tidaklah sedikit. Kami katakan semua kelompok melakukan seperti ini, akan tetapi mereka tidaklah sedikit. Dalam pertanyaanku ini aku tidak ingin menyamakan Salafiyun dengan kelompok-kelompok lain. Tidak penting bagiku urusan kelompok yang lain. Yang penting bagiku adalah urusannya Salafiyun.</p>
<p>Banyak dari kalangan Salafiyun – dan mereka tidak sedikit – yang menghalangi manusia dari manhaj salaf disebabkan karena cara dakwah mereka kepada manusia. Dan mereka tidaklah sedikit. Maksudku dari pertanyaan yang direkam oleh saudara Muhammad adalah agar Anda memberikan nasihat kepada mereka yang diuji dengan sikap keras dan dada yang sempit. Inilah maksud dari pertanyaan itu.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Semoga Allah memberkahimu, pengarahan nasihat tidak diperlukan dari orang seperti saya. Salafiyun dan yang lain mengetahui ayat yang telah kami sebutkan tadi,</p>
<p class="arabic">ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
<p><em>“Serulah menuju jalan Rabbmu dengan cara hikmah, nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” </em>(an-Nahl: 16)</p>
<p>Dan mereka lebih banyak membaca dari yang lain, hadits Aisyah – <em>rodhiyallohu &#8216;anha</em> – ketika datang seorang Yahudi dengan mengucapkan salam kepada Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – dengan membelokkan lisannya mengatakan, “<em>Assaamu &#8216;alaikum</em>” (kematian atasmu). Maka Aisyah mendengar ucapan salam yang dibelokkan ini sehingga dia pun mengibaskan hijab sampai-sampai hampir terbelah menjadi dua – sebagaimana disebutkan dalam hadits – karena marah, maka dia pun menjawab, “<em>Wa&#8217;alaikumussaam wal la&#8217;nah wal ghodhob ikhwatal qirodah wal khonaziir</em>.” (Dan atas kalian kematian, laknat dan kemurkaan wahai saudara-saudara kera dan babi). Adapun Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – tidak lebih dari mengucapakan, “Dan atasmu juga.” Tatkala orang yahudi itu telah pergi dari sisi Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – beliau mengingkari Aisyah dan berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, tidaklah sikap lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah sikap kasar ada pada suatu perkara kecuali akan menjelekkannya.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mendengar ucapannya?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau mendengar jawabanku?”</p>
<p>Jika demikian, Aisyah yang dididik sejak kecilnya di rumah kenabian dan risalah saja masih menggunakan sikap keras pada tempat kelembutan, lalu apa yang akan kita katakan pada selainnya, yaitu dari kalangan Salafiyun – sebagaimana engkau katakan – sedangkan mereka tidak dididik di dalam rumah kenabian dan risalah.</p>
<p>Bahkan sekarang aku katakan suatu kalimat yang mungkin pernah masuk pendengaranmu suatu hari dari sebagian kaset rekaman dari lisanku ini, bahwa rusaknya dunia islam pada hari ini sebagai reaksi dari kebangkitan islam, bahwa kebangkitan ini tidak disertai dengan tarbiyah islamiyah. Tidak ada tarbiyah islamiyah pada hari ini.</p>
<p>Oleh karena itu aku meyakini pengaruh dari kebangkitan ilmiyah ini akan melewati masa yang panjang sampai nampak pengaruh tarbiyah dari kebangkitan ini terhadap generasi yang tumbuh saat ini pada batasan kebangkitan islam. Ini adalah perilaku dari individu-individu.</p>
<p>Akan tetapi individu-individu ini hidup di bawah naungan rahmat Allah – <em>&#8216;azza wa jalla</em> –. Di antara mereka ada yang dekat dan di antara mereka ada yang jauh. Oleh karenanya, dari sisi ilmu dan pemikiran, kita tidak akan mendapati orang yang membantah dan menyelisihimu dalam prinsip bahwa hukum asal dalam dakwah adalah dengan sikap lembut dan nasihat yang baik.</p>
<p>Namun yang penting adalah penerapannya. Dan penerapan ini membutuhkan seorang pembimbing, membutuhkan pendidik yang mendidik puluhan penuntut ilmu. Sedangkan para penuntut ilmu ini akan keluar dari tangan pendidik ini sebagai pendidik bagi yang lain. Dan begitu seterusnya sampai tersebarnya tarbiyah islamiyah ini sedikit demi sedikit dengan dilakukannya tarbiyah oleh para pembimbing terhadap para murid yang ada di sekitarnya. Tidak diragukan lagi, perkaranya sebagaimana yang Allah firmankan,</p>
<p dir="rtl">وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ</p>
<p>“<em>Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.</em>” (Fushshilat: 35)</p>
<p>Kita memohon kepada Allah &#8216;azza wa jalla agar Dia menjadikan kita sebagai umat pertengahan yang tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda wahai Syaikh.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin:</strong> Wahai Syaikh, terkadang, ketika seorang sunni menjumpai orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid&#8217;ah, mereka menentang dan sombong. Yakni sebagaimana Allah telah perintahkan kepada Musa untuk bersikap lembut terhadap Fir&#8217;aun, namun bersamaan dengan itu Musa berkata :</p>
<p><em>Aku benar-benar menduga engkau akan binasa</em> (Al Isra 102)</p>
<p>Maksudnya wahai Syaikh, kami di perkuliahan demi Allah ada para Doktor yang mengolok-olok kami ketika kami katakan kepada mereka “Rasul bersabda&#8230;” Yakni jika seseorang keluar dari jalurnya dan menggunakan sikap keras terhadap mereka, maka sikap keras di sini tidak bisa dikatakan keras. Saya tertarik dengan permisalan yang saya dengar dari Anda wahai Syaikh kami, “<strong>Tembok berkata kepada paku kenapa kamu melubangiku, paku mengatakan tanyalah orang yang memukulku.</strong>”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Benar.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Demikian juga wahai Syaikh kami, suatu kali kami pernah berdiskusi dengan sebagian anggota Hizbut Tahrir. Dan tidak samar bagi Anda bahwa tujuan mereka adalah permasalahan khilafah. Sedangkan kami, tujuan kami yang pertama adalah aqidah dan tauhid. Maka tatkala kami memulai (diskusi) dengan mereka dari landasan dasar dalam pembahasan ilmiyah – sebagaiamana yang kami pelajari dari Anda – kami mulai dengan permasalahan Asma wa Shifat (Nama-nama dan Sifat-sifat Allah), salah seorang pembesar mereka berkata, “Apakah sepanjang malam kita terus terikat dengan jari dan kaki-Nya?!!”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Allahu Akbar.</em></p>
<p><strong>Salah seorang hadirin:</strong> Apa yang kita katakan terhadapnya?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Allahu Akbar</em>.</p>
<p>Salah seorang hadirin: Yakni, dia mengolok-olok sifat Allah ‘azza wa jalla. Apa yang kita katakan terhadapnya?</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Bagaimanapun juga, kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan hikmah kepada kita, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Ya Syaikh, di dalam <em>Ahkamul Janaiz</em> disebutkan perkataan Ibnu Mas’ud tatkala ada seseorang yang mengatakan, “Mintakanlah ampun untuk saudaramu.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Semoga Allah tidak mengampuninya.”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Bersama dengan ini contoh yang sangat banyak. Saudara Abdullah mengingatkan kita dengan suatu atsar (riwayat dari salaf -pent) bahwa ada seorang sahabat, barangkali dia adalah Abdullah bin Mas’ud atau Abdullah bin Umar.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Umar sendiri.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Umar sendiri?</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Umar sendiri. Ketika ada seseorang yang berkata, “Mintakanlah ampunan untuk saudaramu.” Umar berkata, “Semoga Allah tidak mengampuninya.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Bagaimana pendapatmu tentang ini?</p>
<p>Tidak diragukan engkau adalah yang pertama kali, jika engkau melihatku mengucapkan kalimat ini, engkau akan mengatakan Syaikh bersikap keras. Akan tetapi di sini, pada diri orang yang mengingkari ini ada kecemburuan terhadap syariat yang membuatnya bersikap keras dalam ucapan. Sedangkan orang lain yang bersikap longgar, dia tidak berada pada kecemburuan yang ada pada orang tadi sehingga memunculkan perkataan tersebut. Di sini, mereka berkata di antara kita di Suria, “Pelan-pelan wahai Rasulullah ini sikap keras.” Ini adalah logat Suria yang salah. Akan tetapi maksud mereka menyeru Rasul yakni seolah-olah sikap keras ini muncul dari Rasul, padahal yang mereka maksud adalah orang ini.</p>
<p><em>Subhanallah</em>, permasalahan ini hendaknya diperhatikan dari segala sisinya sehingga seseorang bisa menghukumi dengan adil. Kemudian juga, yang nampak bagiku saat ini, di antara sebab tersebarnya tuduhan ini, jika benar bahwa ini adalah tuduhan kepada Salafiyun, engkau tahu bahwa orang yang banyak ucapannya tentu banyak kesalahannya. Dan orang-orang yang berbicara dalam permasalahan syar’i adalah Salafiyun.</p>
<p>Oleh sebab itu, pasti mereka akan melakukan kesalahan karena banyaknya ucapan mereka sehingga nampaklah kesalahan mereka. Dan di antara kesalahan ini adalah sikap keras menurut orang-orang lain yang mereka tidak membicarakan permasalahan ini. Padahal jika sikap keras ini dilihat dalam keumuman sikap yang muncul dari mereka, yang berupa ketulusan untuk bersikap adil, berimbang dan bersikap lembut, tentu akan kita dapati sikap keras dari semisal contoh yang telah kita sebutkan dari sebagian salaf dan di hadapan Rasul –<em> ‘alaihissalam </em>-. Akan tetapi kita tidak boleh menisbatkan kepada mereka para sahabat yang terjatuh ke dalam sikap keras pada sebagian perkara tertentu, bahwa mereka adalah orang-orang yang keras. Hanya saja – sebagaimana kita katakan – aku, engkau dan selainmu kadang terjatuh ke dalam salah satu bentuk sikap keras.</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Yang dijadikan patokan adalah sifat yang menonjol.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Yang dijadikan patokan adalah sifat yang menonjol. Sifat yang menonjol pada diri Nabi –<em> shollallohu ‘alaih wa sallam</em> – adalah lemah lembut, meskipun beliau bersabda, “Fulan telah dusta,” atau “apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah,” atau yang semisalnya.</p>
<p>Sumber :  Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (1)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[APA HUKUM BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH?
Penanya: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –
Syaikh: Begitulah.
Penanya : Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)?
Syaikh: Hal itu hukumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA HUKUM BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH?</strong></p>
<p><strong>Penanya</strong>: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –</em></p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Begitulah.</p>
<p><strong>Penanya : </strong>Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Hal itu hukumnya wajib.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Baiklah, pertanyaan tadi ada maksudnya, ada tujuannya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di balik bukit pasti ada sesuatu, baiklah.</p>
<p><strong>BENARKAH BAHWA SALAFIYUN TERKENAL DENGAN SIKAP KERASNYA DALAM DAKWAH?</strong></p>
<p><strong>Penanya: </strong>Salafiyun dengan beragamnya mereka terkenal dengan sikap keras dan kurang lembut dalam berdakwah, ini mungkin benar. Jika Anda memandang hal ini benar – dan inilah pandangan saya – apa komentar Anda atas hal yang semacam ini?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Pertama, dalam ucapanmu itu ada yang perlu diperhatikan. Yaitu perkataanmu, “ini mungkin benar,” demikian?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> (Saya katakan) Jika Anda memandang hal ini benar.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Pertama engkau katakan “ini mungkin benar” maksudnya adalah apa yang dikatakan tentang mereka berupa sikap keras mungkin benar. Apakah engkau termasuk mereka?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya, maaf, saya telah mengatakannya, iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di sini perlu diperhatikan. Kami ingin menarik perhatian saudara-saudara kami, ketika mereka berbicara dengan ucapan seperti ini, kami katakan ini adalah perkataan diplomatis. Seringnya mereka tidak memaksudkan perkataan itu. Akan tetapi perkataan itu hanyalah yang ada dalam hati, hanya saja lisan dijadikan sebagai petunjuk atas apa yang ada dalam hati. Maka tatkala seseorang berkata dalam satu perkara, “mungkin seperti ini” maka perkataan ini berhadapan dengan lawannya yaitu, “mungkin tidak seperti itu.” Apakah demikian?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Benar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Sekarang, di sini ada dua hal yang muncul berkaitan dengan pertanyaanmu, dan setelah itu kita akan meneruskan jawaban. Apakah engkau yakin terhadap pernyataan bahwa <strong>Salafiyun tidak memiliki kelemahlembutan</strong>, yang ada hanya sikap keras pada mereka dan sikap keras ini adalah manhaj mereka, apakah engkau yakin akan hal ini? Engkau telah membuka untukku pintu pertanyaan ini, karena engkau telah berkata, “ini mungkin benar.”</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Saya telah mengucapkannya, maafkan perkataan saya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Jika demikian, (sekarang) kami ingin mendengar perkataan yang benar. Apa itu?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Apakah aku ulangi perkataan tadi?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Tidak, jangan kamu ulangi, karena itu perkataan yang salah. Jika tidak demikian, kenapa kamu minta maaf? (Yang kami inginkan -pent) engkau mengulangi pendapatmu dengan cara yang benar, tanpa pernyataan “mungkin”. Jelas?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya. Syaikh: Baiklah, silahkan.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> [Di sini penanya mengulangi ucapannya dan jawaban Syaikh yang lalu]&#8230; Salafiyun, – menurut pendapat saya – mereka terkenal dengan sikap yang keras dan kurang lembut dalam dakwah. Ini adalah pendapat saya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Engkau termasuk mereka?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Saya berharap demikian.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Engkau berharap demikian. Engkau termasuk mereka, maksudnya engkau salafi?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Baiklah, engkau termasuk Salafiyun yang keras?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Saya tidak <em>mentazkiah</em> diri saya&#8230; maksudku adalah sifat yang nampak.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Perkaranya sekarang bukanlah perkara <em>tazkiyah</em>. Akan tetapi tentang penjelasan kenyataan. Sebagaimana kami katakan, perkaranya, engkau sekarang yang memulai pertanyaan, ini dalam rangka saling menasehati. Tidak tepat di sini pernyataan, “Saya tidak mentazkiyah diri saya.” Karena engkau hendak menjelaskan kenyataan. Seandainya engkau bertanya kepadaku dengan pertanyaan ini, aku akan menjawab, “menurut persangkaanku, aku bukan orang yang bersikap keras.” Akan tetapi hal ini tidak berarti aku mentazkiyah diriku, karena aku memberitakan tentang kenyataanku. Maka pikirkanlah pertanyaannya.</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, jawabku sebagaimana jawaban Anda, wahai Syaikh.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jika demikian, tidak benar kita memutlakkan pernyataan bahwa Salafiyun bersikap keras. Yang benar kita katakan, sebagian mereka bersikap keras. Apakah jelas sampai di sini?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Baiklah, jika demikian, kita katakan bahwa sebagian Salafiyun memiliki metode dakwah yang keras. Akan tetapi, apakah engkau melihat sifat ini merupakan kekhususan Salafiyun?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tidak. Syaikh: Kalau begitu, apa faidahnya dan apa maksud dari pertanyaan ini?! Ini yang pertama. Dan yang kedua, sikap lembut yang kita katakan hukumnya wajib, apakah dia berhukum wajib selamanya?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tidak selamanya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Jika demikian kita telah mengeluarkan kesimpulan berikut. Pertama, tidak boleh bagimu dan juga selainmu untuk menyifati satu kelompok manusia dengan satu sifat lalu engkau menggeneralisir sifat itu kepada keseluruhan mereka. Kedua, tidak boleh bagimu untuk memberikan sifat ini kepada salah seorang individu kaum muslimin baik <em>salafi</em> atau <em>kholafi</em> – dalam batasan istilah kita – kecuali dalam sebagian perkara tertentu, selama kita sepakat bahwa sikap lembut tidak disyariatkan untuk berlaku selalu dan selamanya. Kita mendapati Rasul –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– telah menggunakan sikap keras yang jika sikap itu dilakukan oleh seorang salafi pada hari ini niscaya orang-orang akan mengingkarinya dengan keras. Contohnya, barangkali engkau mengetahui kisah Abu Sanabil, apakah engkau ingat kisah ini?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Tidak, tidak. Syaikh: Ada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya sedangkan dia dalam keadaan hamil. Lalu dia pun melahirkan. Dan telah sampai kepadanya dari Rasulullah – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bahwa seorang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya akan berakhir masa &#8216;iddahnya jika dia melahirkan anaknya. Hadits itu menyebutkan – dan hadits ini ada dalam Shahih al-Bukhari – bahwa setelah wanita itu melahirkan dia pun berhias, bercelak dan mempercantik diri untuk bersiap menerima pinangan. Maka Abu Sanabil melihatnya, sedangkan dulu dia pernah meminangnya namun wanita itu enggan. Berkatalah Abu Sanabil kepadanya, (bahwa) tidak halal bagimu (berhias diri) kecuali setelah berakhirnya masa iddah wanita yang ditinggal mati suaminya –  yaitu empat bulan sepuluh hari –. Dan nampaknya wanita itu adalah orang yang perhatian terhadap agamanya, sehingga tidak lain yang dia lakukan adalah berjilbab dan bersegera menuju Nabi –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – lalu menyampaikan kepada beliau apa yang dikatakan Abu Sanabil kepadanya. Maka Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bersabda, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, itu sikap keras.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Siapa yang melakukan? Yang melakukan adalah bapak kelemahlembutan. (Allah berfirman :</p>
<p class="arabic">وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ</p>
<p><em>Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu</em>.” (Ali Imran: 159)</p>
<p>Jika demikian, prinsip lemah lembut bukanlah kaidah yang berlaku menyeluruh sebagaimana telah kita sepakati baru saja. Hanya saja hendaknya seorang muslim mampu menempatkan kelemahlembutan pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Demikian pula contohnya, sebagaimana dalam Musnad Imam Ahmad, ketika beliau –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – berkhutbah berdirilah seorang sahabat dan berkata kepada beliau, “Apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?! Katakanlah, apa yang Allah kehendaki saja.” Apakah ini sikap keras atau lembut?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Gaya bicara Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>-.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jawaban semacam ini, aku sebut usaha untuk mengelak. Karena engkau tidak menjawabku sebagaimana jawabanmu sebelumnya ketika aku katakan kepadamu tentang Abu Sanabil bahwa Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – berkata, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut? (Engkau jawab) ini sikap keras.</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Ini sikap keras, iya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Dan ini yang kedua.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tapi beliau hanya menjelaskan kepadanya dengan perkataan, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Ini juga usaha untuk mengelak – semoga Allah memberkahimu –. Aku tidak bertanya kepadamu apakah beliau menjelaskan atau tidak. Aku bertanya kepadamu, sikap keras atau sikap lembut? Kenapa sekarang metodemu berubah dalam menjawab? Tadi engkau tidak mengatakan, beliau menjelaskan kepadanya, “Abu Sanabil telah berdusta.” Beliau memang menjelaskan. Akan tetapi apakah penjelasan ini dengan gaya yang lemah lembut – sebagaimana telah kita sepakati bahwa kelemahlembutan adalah kaidah (dalam dakwah) – ataukah pada penjelasan itu ada sikap keras? Engkau menjawab dengan tegas, padanya ada sikap keras. Dan sekarang, apa yang terlewat dari apa yang nampak dalam pertanyaan kedua?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: (Tentang) pertanyaan kedua, beliau tidak menyatakan dia orang yang berdusta, beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Allahu Akbar, ini pengingkaran yang lebih jelas – semoga Allah memberkahimu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin berkata</strong>: Wahai Syaikh kami, (Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>) bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Dalam riwayat Muslim.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya, dalam kisah yang lain. Engkau ingat hadits ini? Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia telah lurus. Dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya maka dia telah tersesat. Beliau bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Ini sikap keras atau lembut?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, keras.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Yang penting – semoga Allah memberkahimu – di sana ada metode lemah lembut dan ada metode keras. Sekarang, setelah kita sepakat bahwa di sana tidak ada satu kaidah yang berlaku untuk semuanya, berlaku selamanya; bersikap lembut, lembut, dan lembut selamanya, atau bersikap keras, dan keras selamanya.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jadi, terkadang bersikap lembut dan terkadang bersikap keras. Sekarang, ketika Salafiyun semuanya dituduh bersikap keras, apakah engkau tidak melihat bahwa Salafiyun – dibandingkan dengan kelompok, jamaah dan golongan lain – memberikan perhatian untuk mengetahui hukum-hukum syar&#8217;i dan mengajak manusia kepadanya dengan perhatian yang lebih besar dari yang lain?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Tidak diragukan.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Tidak diragukan – semoga Allah memberkahimu. Jika demikian, dengan sebab perhatian yang melebihi perhatian (kelompok) lain dari sisi ini, kelompok lain menganggap amar makruf dan <em>nahi munkar</em> (yang dilakukan) meskipun disertai dengan kelemahlembutan, sebagai sikap keras. Bahkan sebagian mereka mengatakan, sekarang bukanlah zamannya. Bahkan sebagian mereka bersikap melampaui batas dan mengatakan, pembahasan masalah tauhid pada hari ini akan memecah belah barisan. Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – maka hal yang ingin aku capai bersamamu adalah bahwa permasalahan ini merupakan permasalahan yang nisbi (relatif). Yakni, seseorang yang tidak memiliki semangat dalam berdakwah, dan secara khusus dalam masalah furu&#8217; yang mereka namakan sebagai kulit atau perkara sekunder, niscaya akan menganggap suatu pembahasan meskipun disertai dengan metode yang baik, akan dianggapnya sebagai pembahasan yang keras dan tidak pada tempatnya. Tidak pantas bagimu – sedangkan engkau adalah seorang salafi seperti kami – untuk menyebarkan di tengah-tengah manusia – meski mereka berjumlah sedikit pada saat ini – dan menyebutkan bahwa Salafiyun adalah orang-orang yang keras. Karena kita telah sepakat hanya sebagian mereka saja yang bersikap keras. Dan hal ini juga terjadi walaupun di kalangan para sahabat; di antara mereka ada yang bersikap lembut dan di antara mereka ada yang bersikap keras. Barangkali engkau mengetahui kisah seorang Arab badui yang ingin kencing di masjid. Lalu apa yang diinginkan oleh para sahabat? Mereka ingin memukul orang tersebut. Apakah ini sikap lembut atau keras?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Ini sikap keras.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Sikap keras. Akan tetapi, apa yang Rasulullah katakan kepada mereka? (Beliau mengatakan), “Biarkan dia.” Jika demikian, terkadang tidak ada yang selamat dari sikap keras kecuali hanya sedikit manusia. Akan tetapi yang benar, bahwa kaidah dalam berdakwah adalah hendaknya dakwah didasari atas hikmah dan nasihat yang baik. Sedangkan termasuk hikmah adalah meletakkan sikap lembut pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Maka jika kita menyifati sebaik-baik kelompok islam dengan sikap keras secara mutlak, yang mana kelompok itu memiliki keistimewaan dari kelompok lain berupa semangatnya untuk mengikuti al-Kitab, as-Sunnah dan jalan yang ditempuh <em>as-Salaf ash-Shalih</em>, maka aku menganggap ini bukanlah sikap yang adil sama sekali. Bahkan ini sama sekali tidak termasuk syariat Islam. Adapun jika dikatakan, di antara mereka ada yang bersikap keras, maka siapa yang bisa mengingkari. Selama di kalangan para sahabat masih ada yang bersikap keras tidak pada tempatnya, maka sangat lebih dimungkinkan lagi adanya orang yang bersikap keras di kalangan orang belakangan seperti kita ini. Kemudian, sekarang kita membicarakan seorang individu tertentu. Anggaplah dia adalah orang yang sangat lembut dan halus. Apakah dia akan selalu selamat dari menggunakan sikap keras yang tidak pada tempatnya?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Tidak selalu.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – perkara ini telah selesai. Dan kewajiban kita tidak lain adalah agar saling menasihati. Jika kita melihat seseorang yang memberi nasihat, wejangan dan peringatan dengan sikap keras yang tidak pada tempatnya, maka kita ingatkan dia, mungkin dia memiliki sisi pandang (sehingga dia bersikap keras). Jika dia ingat maka semoga Allah membalas kebaikan untuknya. Namun jika dia memiliki sisi pandang tertentu, maka kita dengarkan hal itu darinya dan selesailah urusannya.</p>
<p>Sumber : Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
