<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; Ringkasan Ceramah</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/category/ringkasan-ceramah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Sebuah Kisah Ujian Kesabaran</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sebuah-kisa-ujian-dan-kesabarannya/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sebuah-kisa-ujian-dan-kesabarannya/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:58:38 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ishaq Al Huwainy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringkasan Ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[sabar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=394</guid>
		<description><![CDATA[Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “Ats Tsiqot” kisah ini. Dia adalah imam besar ,Abu Qolabah Al Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Inilah kisahnya:
Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam kitab “<em>Ats Tsiqot</em>” kisah ini. Dia adalah imam besar ,Abu Qolabah Al Jurmy Abdullah bin Yazid dan termasuk dari perawi-perawi yang meriwayatkan dari Anas bin malik. Dan yang meriwayatkan kisah ini adalah Abdullah bin Muhammad. Inilah kisahnya:</p>
<p>Saya keluar untuk menjaga perbatasan di Uraisy Mesir. Ketika aku berjalan, aku melewati sebuah perkemahan dan aku mendengar seseorang berdo’a :</p>
<p><em>Ya Allah, anugerahkan aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmatMu yang telah engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orangtuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridloi. Dan masukkanlah aku dalam rahmatMu ke dalam golongan hamba-hambaMu yang shalih.</em> ( An Naml :19)</p>
<p>Aku melihat orang yang berdo’a tersebut, ternyata ia sedang tertimpa musibah. Dia telah kehilangan kedua tangan dan kedua kakinya, matanya buta dan kurang pendengarannya.</p>
<p>Lalu aku mendatanginya dan berkata kepadanya : “Wahai hamba Allah, sungguh aku telah mendengar doamu tadi,ada apa gerangan?”</p>
<p>Kemudian orang tersebut berkata : “Wahai hamba Allah. Demi Allah seandainya Allah mengirim gunung-gunung dan membinasakanku dan laut-laut menenggelamkanku, tidak ada yang melebihi nikmat Tuhanku daripada lisan yang berdzikir ini” . Kemudian dia berkata: “Sungguh sudah tiga hari ini aku kehilangan anakku. Apakah engkau bersedia mencarinya untukku? (Anaknya inilah yang biasa  membantunya berwudhu dan memberi makan)</p>
<p>Maka aku berkata kepadanya : “Demi Allah tidaklah ada yang lebih utama bagi seseorang yang berusaha memenuhi kebutuhan orang lain, kecuali memenuhi kebutuhanmu”. Kemudian aku meninggalkannya untuk  mencari anaknya. Tidak jauh setelah berjalan, aku melihat tulang-tulang berserakan di antara bukit pasir. Dan ternyata anaknya telah dimangsa binatang buas. Lalu aku berhenti dan berkata dalam hati: “Bagaimana caraku kembali kepada temanku, dan apa yang akan aku katakan padanya dengan kejadian ini?  Aku mulai berfikir. Maka aku teringat kisah Nabi Ayyub <em>‘alaihissalam</em>.</p>
<p>Setelah aku kembali, aku memberi salam kepadanya.</p>
<p>Dia berkata: Bukankah engkau temanku?</p>
<p>Aku katakan : “Benar”.</p>
<p>Dia bertanya lagi: Apa yang selama ini dikerjakan anakku?</p>
<p>Aku berkata: “Apakah engkau ingat kisah Nabi Ayyub?”</p>
<p>Dia menjawab: “Ya”.</p>
<p>Aku berkata : “Apa yang Allah perbuat dengannya?”</p>
<p>Dia berkata: “Allah menguji dirinya dan hartanya”</p>
<p>Aku katakan :”Bagaimana dia  menyikapinya?”</p>
<p>Dia berkata: “Ayyub bersabar”.</p>
<p>Aku katakan :”Apakah Allah mengujinya cukup dengan itu?</p>
<p>Dia menjawab :”Bahkan kerabat yang dekat dan yang jauh menolak dan meninggalkannya”</p>
<p>Lalu aku berkata : “Bagaimana dia menyikapinya?.</p>
<p>Dia berkata : Dia tetap sabar. Wahai hamba Allah, sebenarnya apa yang engkau inginkan?.</p>
<p>Lalu aku berkata : “Anakmu telah meninggal, aku mendapatkannya telah dimangsa binatang buas di antara bukit  pasir”</p>
<p>Dia berkata : “Segala puji bagi Allah yang tidak menciptakan dariku keturunan yang dapat menjerumuskan ke neraka”</p>
<p>Lalu dia menarik nafas sekali dan ruhnya keluar.</p>
<p>Aku duduk dalam keadaan bingung apa yang aku kulakukan, jika aku tinggalkan, dia akan dimangsa binatang buas. Jika aku tetap berada disampingnya, aku tidak dapat berbuat apa-apa. Ketika dalam keadaan tersebut, tiba-tiba ada segerombolan perampok menyerangku.</p>
<p>Para perampok itu berkata: Apa yang terjadi? Maka aku ceritakanlah apa yang telah terjadi. Mereka berkata: Bukakan wajahnya kepada kami! Maka aku membuka wajahnya lalu mereka memiringkannya dan mendekatinya seraya berkata :  Demi Allah, Ayahku sebagai tebusannya, aku menahan mataku dari yang diharamkan Allah dan Demi Allah, ayahku sebagai tebusannya, tubuh orang ini menunjukkah bahwa dia adalah orang yang sabar dalam menghadapi musibah.</p>
<p>Lalu kami memandikannya, mengkafaninya dan menguburnya. Kemudian aku kembali ke perbatasan. Lalu aku tidur dan aku melihatnya di mimpi dalam keadaan sehat. Aku berkata kepadanya : Bukankah engkau sahabatku?. Dia berkata : Benar. Aku berkata: Apa yang Allah lakukan terhadapmu?. Dia berkata : Allah telah memasukkanku ke dalam surga dan berkata kepadaku “<em>keselamatan atasmu berkat kesabaranmu</em>” (QS. Ar-Ra’d : 24). <em>Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.</em> (QS. Ar-Ra’d : 28)</p>
<p>Dari ceramah Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy yang berjudul <a href="http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=695">Jannatu Ridho fit Taslim Lima Qodarollah wa Qodho</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sebuah-kisa-ujian-dan-kesabarannya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>6 Tips Meraih Ilmu</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 23:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ishaq Al Huwainy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringkasan Ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم
“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “
Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم</span></span></span></p>
<p><em>“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “</em></p>
<p>Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya <em>Ta’ala</em></p>
<p>Imam Bukhari ketika menyebut kitab Ilmu di <em>shahih</em>nya, memulai dengan menyebut Keutamaan ilmu. Beliau berkata: Bab “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan.” Kemudian menyebutkan firman Allah, “<em>Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (Tuhan)  yang berhak disembah selain Allah</em>.“</p>
<p>Maka amal perbuatan itu tidak diterima kecuali apabila berlandaskan atas ilmu.</p>
<p>Seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya kecuali melalui jalan para Rasul, untuk itu Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menganjurkan untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">من سلك طريقاً يلتمس فيه علما سهل الله له طريقاً إلى الجنة</span></span></span></p>
<p><em>“Barang siapa menití jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkannya jalan menuju syurga.”</em></p>
<p>Orang yang menuntut ilmu syar’i yang dapat mendekatkannya kepada Allah adalah orang yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak peduli dengan hal yang remeh. Akan tetapi, menuntut ilmu tidak akan diperoleh seseorang melainkan apabila telah terkumpul padanya beberapa sifat yang telah disebutkan para ulama :</p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Arial;"><span style="color: #000;">أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ &#8230;&#8230;&#8230;.. سأنييك عن تفاصيلها ببيان</span></span></span></p>
<p>ذكاء وحرص وافتقار وغربة &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. وتلقين أستاذٍ وطول زمان</p>
<p><em>Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu, melainkan dengan enam perkara</em></p>
<p><em>Kuberitahukan kepadamu rinciannya secara jelas</em></p>
<p><em>Kecerdasan, bersungguh-sungguh, merasa butuh, mengasingkan diri,</em></p>
<p><em>bimbingan ustadz dan waktu yang lama</em></p>
<p>Sifat-sifat ini jika dimiliki seorang penuntut ilmu, niscaya akan tercapai tujuannya.</p>
<p>Sifat-sifat  itu diantaranya ialah:</p>
<p><strong>1. Kecerdasan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ilmu tidak diberikan kepada orang bodoh.Dan diantara tanda-tanda kecerdasan penuntut ilmu yaitu memulai hal yang kecil sebelum yang besar. Sebagaimana disebutkan Bukhari pada firman Allah :</p>
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #000;">ولكن كونوا ربا نيين</span></span></strong></p>
<p><em>&#8220;akan tetapi (dia berkata): &#8220;Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani.”(Al imran : 79)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yang dimaksud <em>rabbani</em> adalah orang yang mengajarkan dari hal yang kecil sebelum hal yang besar. Dia mulai dari apa yang bersifat fardlu ‘ain baginya, maka ia mulai dengan tauhid. Wajib bagi penuntut ilmu mempunyai kecerdasan, karena kecerdasan ini akan memberinya manfaat dalam mendapatkan ilmu.</p>
<p><strong>2. Bersungguh-sungguh</strong></p>
<p>Suatu hal yang paling besar yang banyak diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah waktu. Waktu merupakan umur. Maka ulama kita –<em>semoga Allah merahmati mereka</em>- adalah orang yang paling perhatian dalam masalah waktu.</p>
<p>Seorang imam terpercaya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Rozi berkata : ”Kami memasuki Mesir dan menetap selama tujuh bulan. Kami tidak pernah merasakan kuah. Pada siang hari kami belajar kepada Syeikh, dan pada malam harinya kami menyalin materi”. Kemudian dia berkata, ”Lalu kami pergi untuk mengikuti pelajaran salah satu syeikh., ketika sampai di sana kami mendapati syeikh sedang sakit. Lalu kami hendak makan dan membeli ikan. Setelah itu kami membawanya ke rumah tersebut dan ternyata sudah jadwalnya syeikh yang lain untuk mengajar. Lalu kami tinggalkan ikan tersebut dan kami berangkat.” Setelah selesai pelajaran, dia berkata : ”Kami tidak sempat memanaskannya sehingga kami memakannya dalam keadaan mentah.” Hal ini menunjukkan perhatian mereka yang besar terhadap waktu.</p>
<p><strong>3. Merasa membutuhkan</strong></p>
<p>Meskipun engkau telah memperoleh ilmu, jangan mengira bahwa dirimu berada di atas segalanya. Merasa membutuhkan adalah hal yang penting bagi penuntut ilmu dengan selalu merasa bahwa dia belum mencapai sesuatu. Imam Bukhori, seorang ulama besar menceritakan tentang muridnya Imam Tirmidzi.</p>
<p>Betapa indahnya perkataan Sufyan Ats Tsauri : <em>Seseorang  tidak akan mulia sampai mengambil ilmu dari orang yang lebih pandai darinya dan dari orang yang semisalnya dan yang berada di bawahnya</em>.”</p>
<p>Merasa membutuhkan bagi seorang penuntut ilmu itu sangat penting. Dasarnya adalah tawadlu dan menjaga jiwa.</p>
<p><strong>4. Ghurbah (mengasingkan diri )</strong></p>
<p><em>Ghurbah</em> di sini mempunyai dua makna:</p>
<ul>
<li>Melakukan      perjalanan jauh untuk menuntut ilmu.Yaitu kamu bepergian dan meningggalkan keluarga dan tempat tinggalmu untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini merupakan sesuatu kebanggaan para ulama terdahulu terutama ulama hadits. Apakah di antara kita saat ini ada yang memiliki keinginan yang kuat meski berada di kejauhan ketika mendengar hadits, ”Barangsiapa yang mengatakan <em>Lailaha illallah</em> Muhammad Rasulullah, dibukakan baginya kedelapan pintu surga.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Tidak      berkumpul dengan manusia.Yaitu sesungguhnya teman-temanmu yang bersamamu dalam menghabiskan waktu adalah para penuntut ilmu. Sehingga engkau merasa asing jika berada di suatu tempat yang penduduknya bukan penuntut ilmu.</li>
</ul>
<p><strong>5. Bimbingan Guru</strong></p>
<p>Mengambil ilmu dari para guru (Syeikh) memberimu 3 faedah :</p>
<ul>
<li>Mempersingkat      waktu.Kitab yang biasa engkau baca dalam waktu satu bulan,maka dengan bimbingan guru dapat diringkas hanya dalam waktu satu pekan saja dengan ringkasan yang baik.</li>
<li>Meluruskan      pemahaman yang keliru</li>
<li>Mengajarkan      adab.</li>
</ul>
<p>Maka merendahlah kamu di hadapan guru meskipun engkau memiliki ilmu yang tidak dimilikinya. Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bin Jabr <em>rahimahullah</em>, ”Tidak akan memperoleh ilmu dua golongan, orang yang malu dan orang yang <em>takabbur</em>.”</p>
<p><strong>6. Waktu yang lama</strong></p>
<p>Menuntut ilmu itu dalam waktu yang lama merupakan hal yang sangat penting bagi penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu tidak boleh terburu-buru dan merasa cukup dengan sedikit dari apa yang sudah dipelajarinya. Dan tidak boleh merasa cukup dengan membaca buku saja. Maka wajib baginya untuk menuntut ilmu sepanjang umur dan waktu.</p>
<p>Sumber : Ringkasan ceramah <em>Kaifa Athlubul Ilma</em>,oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy di <a href="http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696">http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
