<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Sun, 07 Feb 2010 22:32:44 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Transplantasi Jantung: Apakah Akal Berada di Jantung atau di Otak?</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/02/transplantasi-jantung-apakah-akal-berada-di-jantung-atau-di-otak/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/02/transplantasi-jantung-apakah-akal-berada-di-jantung-atau-di-otak/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Feb 2010 22:32:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fiqih Kontemporer]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=850</guid>
		<description><![CDATA[ 
APAKAH AKAL BERADA DI JANTUNG ATAUKAH OTAK? DAN BAGAIMANA PROSES TRANSPLANTASI JANTUNG?
Segala puji milik Alloh semata, sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi yang terakhir. Amma ba&#8217;du.
Sebagian orang telah menganggap apa yang terjadi pada masa belakangan ini sebagai permasalahan yang sulit dipahami. Yaitu permasalahan penggantian sebagian anggota tubuh dan penanaman anggota tubuh yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong><span style="text-decoration: underline;">APAKAH AKAL BERADA DI JANTUNG ATAUKAH OTAK</span>? DAN BAGAIMANA PROSES TRANSPLANTASI JANTUNG?</strong></p>
<p>Segala puji milik Alloh semata, sholawat dan salam semoga tetap tercurah kepada Nabi yang terakhir.<em> Amma ba&#8217;du</em>.</p>
<p>Sebagian orang telah menganggap apa yang terjadi pada masa belakangan ini sebagai permasalahan yang sulit dipahami. Yaitu permasalahan penggantian sebagian anggota tubuh dan penanaman anggota tubuh yang lain. (Transplantasi). Di antaranya, seperti penggantian jantung seseorang dengan jantung orang lain. Dan terkadang, jantung yang ditanamkan itu adalah jantungnya orang kafir, terkadang pula jantung itu diganti dengan jantung buatan. Lalu bagaimana mungkin akal seorang manusia berada pada jantungnya, sedangkan dia tidak terpengaruh oleh penggantian jantung itu dengan jantung yang lain. Padahal Alloh <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> telah berfirman,</p>
<p class="arabic">أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا</p>
<p>“<em>Maka tidak pernahkah mereka berjalan di muka bumi, sehingga <strong>qolbu</strong> (akal) mereka dapat memahami.</em>” (al-Hajj: 46)</p>
<p>Aku pernah menyaksikan suatu program acara pada salah satu stasiun . Pada acara tersebut seorang dokter spesialis jantung yang terkenal yaitu dokter Kholid al-Jubair menggulirkan permasalahan ini. Lalu pembahasan ini pun didiskusikan dengan menghubungi yang mulia <strong>al-&#8217;Allamah Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin</strong> – <em>rohimahulloh &#8211; </em>. Maka beliau pun menjawab mereka dengan menyatakan bahwa akal itu berada di jantung (qolbu). Beliau – <em>rohimahulloh – </em>berdalil dengan ayat yang telah disebutkan di atas. Akan tetapi hal itu tidak menyelesaikan permasalahan yang sulit dipahami ini.</p>
<p>Kemudian, <em>alhamdulillah</em>, setelah memperhatikan dengan seksama, nampaklah bagiku bahwa di sana tidak ada permasalahan yang sulit dipahami, dan juga tidak ada kontradiksi, baik kita mengatakan akal itu berada di jantung ataupun di otak. Karena anggota-anggota tubuh manusia tidak akan bergerak dan berfungsi kecuali jika ada ruh yang menggerakkan anggota-anggota tubuh ini. Maka jantung tidak mungkin memahami sesuatu kecuali dengan adanya ruh. Maka ruh inilah yang menjadi intinya. Dialah yang menjadikan jantung itu bisa memahami atau tidak memahami. Sedangkan jantung itu hanyalah sebatas alat yang digerakkan oleh ruh.</p>
<p>Jika demikian, maka penggantian anggota tubuh seperti jantung tidaklah berpengaruh (yakni terhadap akal seseorang -pent) selama ruh orang itu masih tetap ada. Maka ruh inilah yang sesungguhnya menjadi sandaran bagi suatu perbuatan. Ruh ini menggerakkan setiap anggota tubuh untuk melakukan suatu fungsi tertentu; seperti kaki untuk berjalan, lisan untuk berucap, mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, dan seterusnya. Dan anggota tubuh ini tidak memiliki nilai tanpa adanya ruh. Maka jika jantung seseorang dipindah ke orang lain, jadilah ia jantungnya orang lain tersebut. Dan tidak mungkin dikatakan ini adalah Zaid tapi jantungnya jantung Amr. Tidak mungkin pula dikatakan ini adalah orang yang jantungnya berakal, akan tetapi dikatakan ini adalah orang yang berakal, dan ini adalah orang yang gila. Maka akal itu disandarkan kepada orangnya bukan kepada akalnya. [barangkali yang benar “bukan kepada jantungnya” -pent]</p>
<p>Kemudian setelah itu aku mendapatkan perkataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – <em>rohimahulloh – </em>yang bisa dipahami seperti itu. Maka akan kami bawakan perkataan itu kepada para pembaca yang mulia. Begitu pula apa yang disebutkan oleh para ulama tentang perselisihan masalah keberadaan akal apakah di otak ataukah di jantung.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – <em>rohimahulloh – </em>dalam al-Fatawa berkata, “Adapun perkataannya, dimanakah keberadaan akal? Maka akal ada pada jiwa seorang manusia yang berakal. Sedangkan pada badan, akal itu bergantung pada jantungnya. Sebagaimana firman Alloh ta&#8217;ala,</p>
<p class="arabic">أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا</p>
<p>“<em>maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami</em>.” (al-Hajj: 46)</p>
<p>Ditanyakan kepada Ibnu Abbas: Dengan apa engkau memperoleh ilmu? Dia menjawab, “Dengan lisan yang kritis (banyak bertanya) dan qolbu yang berakal.” Akan tetapi kata “<em>Qolbu</em>” terkadang bermakna segumpal daging yang berbentuk seperti tumubuhan runjung berada di bagian kiri tubuh manusia, dan rongganya adalah gumpalan darah hitam, sebagaimana yang disebutkan dalam <em>ash-Shohihain</em>, dari Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –</em> ,</p>
<p class="arabic">إنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ لَهَا سَائِرُ الْجَسَدِ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh pun akan menjadi baik karenanya, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pp[un akan menjadi rusak karenanya</em>.”</p>
<p>Dan terkadang kata “<em>Qolbu</em>” bermakna batin dari seorang manusia secara mutlak (yakni mencakup semua apa yang berada di bagian dalam tubuh -pent). Maka qolbu-nya sesuatu adalah batinnya. Seperti disebutnya isi dari biji gandum, buah badam, buah pala dan semisalnya dengan <em>qolbu</em>-nya. Oleh karenanya, sumur disebut juga dengan <em>qoliib</em> karena dia mengeluarkan <em>qolbu</em>-nya, yaitu batinnya (isi yang ada di dalamnya).</p>
<p>Berdasarkan hal ini, jika yang dimaksud dengan qolbu adalah makna yang kedua ini (yakni apa saja yang ada di bagian dalam tubuh manusia -pent), maka akal juga bisa terkait dengan otaknya. Oleh karenanya dikatakan bahwa akal berada di otak. Sebagaimana hal itu dikatakan oleh banyak para dokter, dan dinukilkan juga dari Imam Ahmad. Sekelompok dari sahabat-sahabat beliau (Imam Ahmad) berkata, sesungguhnya akal itu berasal dari qolbu (jantung), lalu jika ia telah sempurna berakhirlah di otak.</p>
<p>Dan yang benar, bahwa ruh yang tidak lain adalah jiwa, memiliki keterkaitan dengan itu semua (jantung dan otak -pent). Dan sifat yang berupa akal ini juga memiliki keterkaitan dengan itu semua. Akan tetapi titik awal dari suatu pikiran dan pandangan berada pada otak. Sedangkan titik awal suatu kehendak berada pada qolbu (jantung). Dan akal itu sendiri terkadang bermakna ilmu dan terkadang bermakna amal. Padahal ilmu dan amal<em> ikhtiari</em> (yang berada di bawah kesadaran manusia -pent) asalnya adalah kehendak. Sedangkan kehendak itu berasal dari qolbu (jantung). Akan tetapi orang yang berkehendak tidak akan memiliki kehendak kecuali setelah memiliki gambaran terhadap apa yang dikehendaki. Maka mestinya qolbu itu telah memiliki suatu gambaran, sehingga terjadilah ilmu dan amal itu darinya. Dan hal itu bermula dari otak, sedangkan pengaruh-pengaruhnya akan naik kembali ke otak. Sehingga otak menjadi titik awal dan titik akhir. Dan kedua pendapat itu (apakah akal berada di jantung atau di otak -pent) sama-sama memiliki sisi kebenaran. Inilah yang bisa dicakup oleh lembaran-lembaran ini, dan Alloh-lah yang lebih tahu.” (Selesai nukilan dari al-Fatawa 9/303)</p>
<p>An-Nawawi dalam Syarh beliau terhadap Shohih Muslim juz 11/29 ketika menjelaskan hadits,</p>
<p class="arabic">أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ</p>
<p>“<em>Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak. Ketahuilah, ia adalah qolbu (jantung)</em>.”</p>
<p>Beliau (Imam Nawawi) berkata, “Hadits ini dijadikan sebagai hujah (dalil) bahwa akal itu berada di qolbu (jantung) bukan di kepala. Dan tentang masalah ini ada perselisihan yang masyhur. Pendapat sahabat-sahabat kami (kalangan Syafi&#8217;iyah -pent) dan mayoritas ahli kalam, bahwa akal itu berada di jantung. Sedangkan Abu Hanifah berpendapat bahwa akal itu berada di otak, dan kadang dikatakan berada di kepala. Mereka juga menyebutkan pendapat yang pertama dipegang oleh ahli filsafat sedangkan pendapat kedua dipegang oleh ahli kedokteran.</p>
<p>Al-Maziri berkata, orang-orang yang berpendapat bahwa akal berada di jantung berdalil dengan firman Alloh ta&#8217;ala,</p>
<p class="arabic">أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا</p>
<p>“<em>maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai qolbu yang dengan itu mereka dapat memahami</em>.” (al-Hajj: 46)</p>
<p>dan juga firman-Nya,</p>
<p class="arabic">إِنَّ فِي ذٰلِكَ لَذِكْرَىٰ لِمَن كَانَ لَهُ قَلْبٌ</p>
<p>“<em>Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai qolbu</em>.” (Qoof: 37)</p>
<p>dan juga dengan hadits ini. Karena beliau – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>menjadikan baik buruknya seluruh tubuh mengikuti jantungnya, padahal otak termasuk salah satu anggota tubuh. Maka baik buruknya otak mengikuti baik buruknya jantung. Dengan itu diketahui bahwa otak bukanlah tempatnya akal.</p>
<p>Sedangkan orang-orang yang berpendapat bahwa akal itu berada di otak berargumen bahwa jika otak rusak maka akal juga ikut rusak. Dan di antara bentuk rusaknya otak – menurut mereka – adalah penyakit gila. Namun (sebenarnya) tidak ada hujah bagi mereka dalam hal itu. Karena Alloh – <em>subhanahu wa ta&#8217;ala &#8211; </em>telah menjalankan suatu ketetapan akan rusaknya akal ketika otak mengalami kerusakan, meskipun akal tidak berada padanya. Dan ini bukan hal yang tidak mungkin. Al-Maziri berkata, terlebih lagi menurut prinsip mereka dalam masalah adanya kesamaan yang mereka sebutkan antara otak dan jantung. Dan mereka menjadikan adanya kesamaan antara kepala, lambung dan otak. Wallohu a&#8217;lam.” (Selesai nukilan dari Syarh an-Nawawi &#8216;ala Shohih Muslim juz 11 hlm 29)</p>
<p>Ibnu Utsaimin – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “Sebagian orang berpendapat (bahwa akal) berada di jantung. Sedangkan yang lain mengatakan di otak. Dan masing-masing memiliki dalilnya. Yang berpendapat bahwa akal berada di jantung berkata, karena Alloh ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arabic">أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِن تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ</p>
<p>“<em>Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka mempunyai <strong>qolbu </strong>yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah <strong>qolbu</strong> yang di dalam dada</em>.” (al-Hajj: 46)</p>
<p>Dia berfirman, “<em>qolbu</em> yang dengan itu mereka dapat memahami” kemudian berfirman, “qolbu yang di dalam dada”. Jika demikian, maka akal itu berada dalam <em>qolbu</em> (jantung) sedangkan jantung itu berada di dalam dada. Maka akal itu berada pada jantung.</p>
<p>Sebagian orang berpendapat, bahkan akal itu berada di otak, karena jika seorang manusia telah rusak otaknya, maka rusak pula perilakunya. Dan kita menyaksikan di masa-masa belakangan ini, ada seseorang yang jantungnya diganti dengan jantung yang baru akan tetapi akalnya tidak berbeda. Akal dan pemikirannya masih sama dengan yang dahulu. Kita temui seorang yang ditanamkan padanya jantung orang lain yang gila dan tidak bisa bertindak-tanduk dengan baik, akan tetapi orang yang ditanamkan padanya jantung ini masih saja berakal. Lalu bagaimana mungkin akal itu berada pada jantung? Jika demikian, akal itu berada di otak, karena jika otak itu rusak, maka perilaku pun akan rusak, akalnya juga menjadi rusak.</p>
<p>Akan tetapi sebagian ulama berkata, bahwa akal itu berada di<em> qolbu</em>, dan tidak mungkin kita menghindar dari apa yang Alloh – <em>&#8216;Azza wa Jalla</em> – firmankan. Karena Alloh lah yang mencipta, dan Dialah yang lebih mengetahui tentang makhluknya dari pada yang lain, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arabic">أَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَ وَهُوَ اللَّطِيفُ الْخَبِيرُ</p>
<p>“<em>Apakah Alloh Yang menciptakan itu tidak mengetahui; padahal Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui?</em>” (al-Mulk: 14)</p>
<p>Juga karena Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>bersabda,</p>
<p class="arabic">أَلاَ وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ</p>
<p>“<em>Ketahuilah sesungguhnya dalam tubuh terdapat segumpal daging, jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak.</em>”</p>
<p>Maka akal itu berada di jantung, sedangkan jantung berada di dalam dada. Akan tetapi otak itulah yang menerima dan menggambarkan sesuatu kemudian mengirimkan gambaran ini kepada jantung untuk menunggu perintah-perintahnya. Kemudian perintah-perintah itu kembali dari jantung menuju otak kemudian otak melaksanakannya.</p>
<p>Jika demikian, maka otak bagaikan sekretaris yang menyusun dan mengatur berbagai pekerjaan kemudian mengirimkannya ke jantung, kepada penanggung jawab yang berada di atasnya. Lalu jantung ini menandatangani, menyetujui atau membatalkannya, kemudian menyerahkannya kembali kepada otak, dan otak memerintahkan urat-urat sehingga urat-urat itu pun bergerak. Pendapat inilah yang menentramkan jiwa ini, dan inilah yang sesuai dengan kenyataan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah juga telah mengisyaratkan kepada pendapat ini dalam beberapa kitabnya. Sedangkan Imam Ahmad mengisyaratkan kepadanya secara umum. Beliau berkata, tempat akal ada pada jantung, dan dia memiliki hubungan dengan otak. Akan tetapi perincian yang pertama sangatlah jelas. Yang menerima, mendeskripsikan dan menyaring segala sesuatu adalah otak, kemudian dia mengirimkan hasilnya kepada jantung, kemudian jantung itu memberikan perintah, baik perintah untuk menjalankan atau sebaliknya. Berdasarkan sabda Rosul – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam &#8211; </em>, “jika ia baik, maka seluruh tubuh akan menjadi baik, dan jika ia rusak, seluruh tubuh pun akan menjadi rusak.” (Selesai nukilan)</p>
<p>Apa yang kami sebutkan ini telah cukup. Dan Alloh lah yang lebih mengetahui kebenaran, Dialah yang memberi taufik dan memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. Semoga Alloh memberikan sholawat dan salam kepada Nabi kita Muhammad beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p align="center">Didiktekan oleh,</p>
<p align="center">al-Faqiir ila Robbihil Mannan</p>
<p align="center"><strong>Abdul Muhsin bin Nashir Al-&#8217;Ubaikan</strong></p>
<p>Sumber : http://al-obeikan.com/article/94-هل القلب في العقل أم في الدماغ, وكيفية حل مشكلة عملية زرع القلوب .html</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/02/transplantasi-jantung-apakah-akal-berada-di-jantung-atau-di-otak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Mendalam Terhadap Dakwah Salafiyah</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 21:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam kaset al-Ajwibah al-Albani &#8216;alal As`ilah al-Kuwaitiyah, side-A ketika menjawab pertanyaan sebagai berikut:
Bagaimana pendapat Anda tentang posisi dakwah Salafiyah secara umum, dan secara khusus di Kuwait, Mesir dan Saudi?
Beliau menjawab:
Aku katakan, sesungguhnya dakwah salafiyah saat ini – sangat disayangkan – berada dalam kegoncangan. Dan menurutku sebabnya adalah ketergesa-gesaan banyak pemuda muslim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh al-Albani<em> rahimahullah </em>berkata dalam kaset <em>al-Ajwibah al-Albani &#8216;alal As`ilah al-Kuwaitiyah</em>, side-A ketika menjawab pertanyaan sebagai berikut:</p>
<p><strong>Bagaimana pendapat Anda tentang posisi dakwah Salafiyah secara umum, dan secara khusus di Kuwait, Mesir dan Saudi?</strong></p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Aku katakan, sesungguhnya dakwah salafiyah saat ini – sangat disayangkan – berada dalam kegoncangan. Dan menurutku sebabnya adalah ketergesa-gesaan banyak pemuda muslim yang mengaku berilmu. Sehingga dia pun lancang berani berfatwa, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, sebelum dia dikenal. Sebagian mereka – sebagaimana yang sering kami dengar – tidak bisa membaca ayat al-Qur`an dengan baik, meskipun ayat itu ada dihadapannya dalam <em>mushaf </em>yang mulia.</p>
<p>Lebih dari itu, dia sering salah dalam membaca hadits Rosul – <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> -. Maka dia sebagaimana permumpaan yang ma&#8217;ruf, “<em>Menjadi zabib (kismis, anggur kering) sebelum masa mudanya</em>.” Yakni, buah anggur, pada permulaannya adalah buah yang berwarna hijau, inilah masa mudanya (sebelum matang -pent) yang rasanya masih sangat asam. Buah ini, sebelum sampai pada masa mudanya ini, telah menjadikan dirinya bagaikan zabib; yakni anggur yang telah masak dan menjadi kismis.</p>
<p>Oleh karena itu, maka naiknya kebanyakan orang-orang ini di atas kepala-kepala mereka, dan ketergesa-gesaan mereka dalam pengakuan ilmu dan dalam menulis – padahal mereka belum menempuh sampai pertengahan perjalanan ilmu – inilah yang membuat orang-orang yang berafiliasi kepada dakwah salafiyah sekarang menjadi berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan, sangat disayangkan.</p>
<p>Oleh karena itu, satu-satunya solusi adalah hendaknya kaum muslimin ini bertakwa kepada Robb mereka <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>, dan hendaknya mereka mengetahui bahwa tidak semua orang yang telah memulai menuntut ilmu berhak menonjolkan diri untuk berfatwa dalam masalah haram dan halal, juga dalam masalah pen<em>shohih</em>an dan pelemahan hadits, kecuali setalah melalui umur yang panjang. Yang mana dalam umur yang panjang ini dia melatih diri untuk mengetahui bagaimana cara berfatwa, dan bagaimana cara beristinbath (mengambil kesimpulan hukum -pent) dari al-Kitab dan as-Sunnah.</p>
<p>Di sini, para dai salafi ini harus mengikatkan diri dengan kait yang ketiga, yang telah aku sebutkan sebelumnya ketika berbicara tentang ilmu yang bermanfaat. Telah kita katakan, bahwa ilmu yang bermanfaat itu wajib di atas manhaj as-salaf ash-sholih (generasi awal umat islam yang sholih -pent). Maka ketika banyak di antara dai islam yang menghindar dari pengikatan diri dengan kait yang telah tetap ini, yaitu kait yang telah diisyaratkan oleh al-Imam Ibnul Qoyyim – <em>rohimahulloh – </em>dalam syairnya yang telah lalu, ketika beliau berkata,</p>
<p class="arabic">العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه</p>
<p>Ilmu adalah firman Alloh, sabda Rosulnya (<em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>) dan perkataan para sahabat, bukan kepalsuan.</p>
<p>Maka ketiadaan perhatian terhadap apa yang ditempuh oleh Salaf, akan membawa umat manusia – setelah mereka bersepakat (bersatu) – kepada perpecahan yang akan menjauhkan di antara mereka, sebagaimana hal itu telah menjauhkan antara banyak kaum muslimin, sehingga menjadikan mereka berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan.</p>
<p class="arabic">كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ</p>
<p>“<em>Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)</em>.” (al-Mukminun: 53)</p>
<p>Inilah pandanganku terhadap kenyataan ini. Maka kewajiban mereka – jika mereka adalah orang yang ikhlas, sebagaimana yang kita harapkan – adalah berpegang teguh dengan prinsip-prinsip ilmu yang shohih, dan janganlah berbuat lancang, orang yang belum benar-benar sampai pada tingkatan ilmu hendaknya menjauhi ha itu dan menyerahkan ilmu itu kepada orang-orang yang mengetahuinya.</p>
<p>Di sini, ada sebagian riwayat dalam kitab-kitab hadits yang membuatku takjub. Dan seingatku riwayat itu dari Abdurrohmanbin Abi Laila – <em>rohimahulloh – </em>dan beliau adalah salah seorang ulama besar di kalangan <em>as-Salaf ash-Sholih</em>. Beliau berkata, “Aku telah menemui enam puluh orang sahabat di masjid ini – mungkin beliau mengisyaratkan kepada Masjid di Madinah al-Munawwaroh – dan salah seorang dari mereka jika ditanya tentang suatu masalah atau dimintai fatwa, dia berangan-angan agar hal itu diurusi (dijawab) oleh yang lain di antara ulama Sahabat yang hadir&#8221;.</p>
<p>Yang menyebabkan hal itu adalah karena mereka takut terjerumus dalam kesalahan sehingga menjerumuskan yang lain dalam kesalahan. Sehingga salah seorang dari mereka berangan-angan agar dia tidak menanggung beban tanggung jawab ini, namun ditanggung oleh yang lain.</p>
<p>Adapun sekarang, yang nampak adalah kebalikannya, sangat disayangkan. Dan itu kembali kepada sebab yang sangat jelas dan selalu aku sebutkan. Yaitu bahwa keterbukaan yang saat ini kita rasakan terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dan dakwah salafiyah adalah suatu hal yang baru terjadi. Keterbukaan yang mereka namakan dengan kebangkitan ini belum melewati waktu yang cukup lama sehingga orang-orang bisa memetik buah dari dakwah, kebangkitan dan keterbukaan ini pada diri-diri mereka. Yakni, mereka terdidik di atas pondasi al-Kitab dan as-Sunnah, kemudian mereka menyebar dengan pendidikan yang shohih dan berdiri di atas al-Kitab dan as-Sunnah ini kepada orang lain di sekitar mereka, (dengan memprioritaskan) yang terdekat kemudian yang dekat.</p>
<p>Maka sebabnya adalah, bahwa dakwah ini belum nampak<em> atsar </em>(pengaruh)nya dikarenakan dakwah ini masih baru pada masa hidup kita sekarang ini. Oleh karena itu kita temui fenomena yang terbalik dengan apa yang telah kita sebutkan tadi, dari apa yang diriwayatkan oleh Abdurrohman bin Abi Laila dari para sahabat yang mereka sangat berhati-hati dari pertanyaan, dan mereka menginginkan agar orang lain yang ditanya. Dan tidaklah mereka menjawab suatu pertanyaan kecuali karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak boleh menyembunyikan ilmu. Akan tetapi dalam lubuk hati mereka, mereka menginginkan agar orang lain yang mengurusi hal itu.</p>
<p>Adapun sekarang, engkau bisa temui pada banyak masyarakat salafi – terlebih lagi pada orang selain mereka – jika ditanyakan kepada salah seorang yang dianggap paling berilmu di antara yang hadir, tiba-tiba engkau dapati si fulan mulai berkata padahal dia tidak ditanya, si fulan (yang lain) juga mulai berkata padahal dia tidak ditanya. Apa yang mendorong mereka? Yang mendorong adalah kecintaan terhadap popularitas dan sikap ke-aku-an. Sikapnya mengatakan, &#8220;Aku di sini, aku memiliki ilmu&#8221;.</p>
<p><em>Maa Syaa Alloh &#8216;alaih!</em> Ini menunjukkan apa? Ini menunjukkan bahwa kita belum terdidik dengan pendidikan (tarbiyah) salafiyah. Kita telah tumbuh di atas ilmu salafi (ilmu yang diambil dari generasi terdahulu yang sholih -pent), dan setiap orang sesuai dengan kesungguhan dan usahanya terhadap ilmu ini. Adapun tarbiyah, maka kita belum mendapatkannya sebagai masyarakat islam salafi. Oleh karena itu pada berbagai jamaah, kelompok, dan golongan ini, kita dapati perpecahan semacam ini pada setiap kelompok yang ada. Dan sebabnya tidak lain adalah ketiadaan tarbiyah islamiyah yang shohihah (yang benar).</p>
<p>Aku katakan, solusi untuk umat ini agar bisa kembali kemuliaannya, dan agar terwujud daulah untuknya, tidak ada jalan lain kecuali memulai dengan apa yang aku ringkaskan dengan dua kalimat yaitu <em>tashfiyah</em> dan <em>tarbiyah</em>. Berbeda dengan berbagai jamaah yang banyak yang berusaha menegakkan daulah islam – menurut anggapan mereka – dengan meletakkan tangan-tangan mereka di atas hukum. Baik hal itu dengan jalan damai sebagaimana yang mereka katakan; dengan pemilu, atau dengan jalan berdarah; seperti dengan pemberontakan pasukan, revolusi berdarah dan yang semacamnya.</p>
<p>Kita katakan, ini bukanlah jalan untuk menegakkan daulah islam di atas bumi Islam. Akan tetapi jalannya hanyalah jalan (yang ditempuh) Rosululloh – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>yang telah berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun – sebagaimana yang kalian ketahui – kemudian menyempurnakan dakwahnya di Madinah. Dan di sana (di Madinah) setelah terpilih untuknya orang-orang yang di jalan Alloh tidak terpengaruh oleh celaan orang yang mencela, yakni di antara orang-orang yang mengikuti dan mengimani beliau, maka mulailah beliau meletakkan pondasi untuk daulah Islam.</p>
<p>Dan sejarah – sebagaimana dikatakan – akan berulang. Maka tidak ada jalan lain selamanya. Dan aku sangat yakin terhadap apa yang aku katakan, sedangkan pengalaman nyata semenjak sekitar satu kurun waktu menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk mewujudkan kebangkitan Islam yang benar yang akan menghasilkan penegakkan daulah Islam, kecuali dengan mewujudkan dua tujuan ini. (Pertama) <em>tashfiyah</em>, sebuah ungkapan untuk ilmu yang benar. Dan (kedua) <em>tarbiyah</em>, yaitu dididiknya seorang manusia di atas ilmu yang benar berlandaskan al-Kitab dan as-Sunnah.</p>
<p>Dan kita sekarang, berada pada kebangkitan ilmiyah bukan pada kebangkitan tarbawiyah (pendidikan). Oleh karenanya, kita dapati banyak individu dari kalangan dai yang bisa diambil faidah ilmu darinya, akan tetapi tidak bisa diambil faidah akhlak darinya. Kenapa? Karena dia menumbuhkan dirinya di atas ilmu, akan tetapi dia tidak berada pada lingkungan yang baik yang dia dididik padanya semenjak kecilnya. Oleh karena itu dia hidup dengan membawa akhlak yang telah dia warisi dari masyarakat tempat hidupnya dan tempat kelahirannya. Yaitu masyarakat yang – tidak ragu lagi – bukan masyarakat islami (masyarakat yang tercermin padanya nilai-nilai islam yang shohih -pent). Akan tetapi dengan dirinya atau dengan petunjuk sebagian ahli ilmu, dia mampu mengarah kepada ilmu yang shohih. Akan tetapi ilmu ini tidak nampak pengaruhnya pada akhlak dan tingkah laku serta amalnya.</p>
<p>Maka fenomena yang sedang kita bicarakan ini, sebabnya adalah:</p>
<p><em>Pertama</em>: bahwa kita belum matang secara ilmu, kecuali beberapa individu yang sedikit.</p>
<p><em>Kedua</em>: individu-individu itu, kebanyakan darinya tidaklah terdidik dengan pendidikan islam yang shohih. Oleh karenanya engkau bisa temui banyak di antara orang-orang yang baru mulai menuntut ilmu menjadikan dirinya sebagai ketua suatu jamaah atau kelompok. Di sini ada suatu (kata-kata) hikmah terdahulu yang mengungkapkan pengaruh popularitas ini. Kata-kata hikmah itu adalah, cinta popularitas, meruntuhkan popularitas.</p>
<p>Maka ini sebabnya kembali kepada ketiadaan tarbiyah (pendidikan) yang shohih di atas ilmu yang shohih.</p>
<p>Sumber :  <a href="http://islamancient.com/articles,item,350.html">http://islamancient.com/articles,item,350.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Hatimu Wahai Saudaraku Salafi&#8230;</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 23:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[Perbaiki hatimu wahai saudaraku salafi&#8230; karena baiknya hati adalah modalmu
(Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam – hafizhohulloh – )
Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji hanya milik Alloh, dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak diibadahi melainkan Alloh semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-nya, semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salam kepadanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Perbaiki hatimu wahai saudaraku salafi&#8230; karena baiknya hati adalah modalmu</strong></p>
<p align="center"><strong>(Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam – <em>hafizhohulloh </em>– )</strong></p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim.</em>Segala puji hanya milik Alloh, dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak diibadahi melainkan Alloh semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-nya, semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salam kepadanya beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p>Semoga Alloh mensyukuri (yakni, menerima amal meskipun sedikit dan melipatgandakan balasannya -pent) orang tua kita al-Allamah Syaikh Robi&#8217; al-Madkholi atas berbagai nasihat yang telah beliau sampaikan. Hal itu menunjukkan keinginan beliau yang sangat besar akan kebaikan kaum muslimin secara umum dan saudara-saudaranya, ahlussunnah secara khusus. Dalam nasihat-nasihatnya ini, beliau telah mengingatkan kita akan nasihat-nasihat orang tua dan Syaikh kita al-Allamah al-Wadi&#8217;i – semoga Alloh merahmati beliau.</p>
<p>Sungguh beliau dahulu sangat sering memberi wasiat untuk ikhlas kepada Alloh.</p>
<p>Dahulu beliau berkata, “Sungguh kami lebih mengkhawatirkan dakwah ini mendapatkan bahaya dari diri-diri kami, dari pada kekhawatiran kami akan bahaya yang ditimbulkan orang lain terhadap dakwah ini.”</p>
<p>Maka berbagai wasiat dan nasihat para ulama hendaknya mendapatkan perhatian, penerimaan, semangat dan perealisasian.</p>
<p>Perkataan Syaikh kami al-Wadi&#8217;i – <em>rohimahulloh &#8211; </em>, “Sungguh kami mengkhawatirkan dakwah ini mendapatkan bahaya dari diri-diri kami” adalah perkara yang sangat penting. Yaitu, <strong>hendaknya kita semua mengetahui bahwa kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan kita, seringnya bisa lebih membahayakan dakwah kita dari pada bahaya yang ditimbulkan oleh musuh terhadap dakwah ini. Jika penyimpangan-penyimpangan ini merupakan penyimpangan yang terus dilakukan oleh pelakunya, dan dia terus membantah dan membangkang</strong>.</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku mengajak diri ini dan saudara-saudaraku sekalian – semoga Alloh menjaga mereka – untuk mementingkan dan memberi perhatian kepada perbaikan hati-hati kita. Karena modal kita adalah hati-hati kita. Jika hati-hati itu telah baik, maka bergembiralah.</p>
<p>Marilah kita meneladani manusia-manusia terbaik dan paling utama setelah para Nabi dan Rosul. Mereka adalah para sahabat – <em>semoga Alloh meridhoi mereka. </em>Para sahabat, hati-hati mereka dipenuhi dengan kebaikan. Ketika turun firman Alloh <em>ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arabic">لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ</p>
<p>“Kepunyaan Alloh-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Alloh akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (al-Baqoroh: 284)</p>
<p>Mereka menemui Rosul – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam – </em>dan mereka duduk di atas lutut-lutut mereka dengan mengatakan, “Wahai Rosululloh, sungguh Alloh telah menurunkan ayat ini kepadamu, sedankan kami tidak mampu terhadapnya!”</p>
<p>Dalam ayat ini tidak ada amalan-amalan lahiriah! Dalam ayat ini tidak ada kewajiban-kewajiban baru berkaitan dengan amalan lahiriah. Yang ada dalam ayat ini adalah penyebutan bahwa Alloh <em>ta&#8217;ala </em>akan memperhitungkan hamba atas apa yang ada dalam hati-hati mereka. Alloh akan membuat perhitungan dengan hamba atas apa yang ada dalam hati-hati mereka.</p>
<p>Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rosululloh, kami diperintah untuk berjihad lalu kami berjihad, kami diperintah sedekah maka kami pun bersedekah, kami diperintah berhijrah kami pun berhijrah, akan tetapi kami tidak mampu melaksanakan ayat ini.”</p>
<p>Ini termasuk bukti dalamnya pemahaman mereka, bukti kejujuran dan keikhlasan mereka. Mereka menghendaki agar hati-hati mereka mendapatkan keridhoan di sisi Alloh.</p>
<p>Maka Nabi – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam</em> – berkata kepada mereka,</p>
<p class="arabic">أتريدون أن تقولوا كما قال أهل الكتابين ؟! : ( سمعنا وعصينا ) قولوا : ( سمعنا وأطعنا )</p>
<p>“Apakah kalian ingin berkata seperti ucapan orang-orang ahli kitab, &#8216;kami dengar dan kami bermaksiat&#8217;. Ucapkanlah &#8216;kami dengar dan kami taat&#8217;.”</p>
<p>Maka mereka pun mengatakan, kami dengar dan kami taat. Lalu Alloh menurunkan, ayat</p>
<p class="arabic">آمَنَ الرَّسُولُ &#8230;</p>
<p>“<em>Rosul telah beriman&#8230;</em>” (al-Baqoroh: 285) dan seterusnya ayat sampai akhir.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Yang menjadi dalil adalah bahwa para sahabat dahulu merasa takut terhadap keburukan, kerusakan dan penyakit-penyakit hati. Adakah orang yang selamat hatinya?!</p>
<p>Tatkala turun firman Alloh ta&#8217;ala,</p>
<p class="arabic">وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ</p>
<p>“Dan sesungguhnya Alloh telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali &#8216;Imron: 152)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud berkata, “Demi Alloh, dahulu aku tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang menghendaki dunia, sampai turunnya ayat ini.”</p>
<p>Hal itu karena mereka semua berjihad di jalan Alloh; kaum Muhajirun dan kaum Anshor – <em>rodhiyallohu &#8216;anhum &#8211; .</em></p>
<p>Kaum Muhajirun, mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, orang-orang yang dicintai, anak-anak dan harta benda. Mereka berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam.</em></p>
<p>Kaum Anshor, mereka telah menolong Alloh, menolong Rosul-Nya, mengeluarkan hartamereka, mempersiapkan diri mereka dan mereka maju untuk berjihad, berdakwah, mengajarkan ilmu dan seterusnya.</p>
<p>Maka turunlah ayat ini, “<em>Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat</em>.” (Ali &#8216;Imron: 152)</p>
<p>Yakni, pokok kesalahan yang terjadi itu adalah keinginan terhadap dunia. Dan yang dimaksud dengan keinginan terhadap dunia di sini adalah ghonimah (harta rampasan perang). Yang dimaksud di sini bukanlah keinginan yang terus menerus terhadap dunia, seperti yang terjadi saat ini!</p>
<p>Jika kita periksa apa yang ada dalam hati-hati kita, apa yang akan kita dapatkan?!! Apa yang akan kita dapatkan dalam hati-hati kita?!!</p>
<p>Yang seandainya kami turunkan dalil-dalil atas hal itu, sungguh kita akan tahu bahwa hati-hati kita sangat membutuhkan pertolongan! Sangat membutuhkan perbaikan! Sangat membutuhkan pemeriksaan terhadap apa yang ada padanya!</p>
<p>Al-&#8217;Allamah Ibnul Jauzi – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “<strong>Sesungguhnya yang tergelincir di jalan ini hanyalah orang yang tidak mengikhlaskan amalnya untuk Alloh</strong>.”</p>
<p>Engkau bisa melihat salah seorang dari kita, ada yang menempuh perjalanan dalam kebaikan dengan bergegas, bersegera dan mendekatinya. Dari sana, engkau melihat setelah itu adanya sesuatu yang mengherankan, berupa kemunduran dan ketertinggalan!</p>
<p>Padahal kita mengetahui bahwa setiap kali seseorang melaksanakan suatu ketaatan, maka Alloh akan membalasnya dengan menambah kecintaan dan pengagungan terhadap ketaatan, menambah kekokohan dan kekonsitensian di atasnya. Kita membaca firman-Nya <em>ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arabic">وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Alloh menambah petunjuk kepada mereka</em>.” (Muhammad: 17)</p>
<p>Maka pelaksanaan suatu ibadah dan ketaatan adalah merupakan petunjuk yang Alloh tambahkan kepada petunjuk yang telah ada pada orang yang taat.</p>
<p>Akan tetapi, sebagaimana telah kalian dengar, perhatian terhadap perbaikan hati adalah perkara yang sangat penting sekali. Jangan kau tanyakan tentang hatimu kecuali kepada dirimu. Perhatikan, dimanakah posisimu? Perhatikan, dimanakah posisimu?</p>
<p>Oleh karenanya, telah datang suatu hadits riwayat al-Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh bahwa Rosul – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>bersabda,</p>
<p class="arabic">غَزَا نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ لَا يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا وَلَا أَحَدٌ بَنَى بُيُوتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا وَلَا أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلَادَهَا</p>
<p>“Ada salah seorang Nabi yang hendak berperang, lalu dia berkata kepada kaumnya, tidak boleh mengikutiku orang yang telah menikahi seorang wanita sedangkan dia ingin menggaulinya namun belum menggaulinya. Juga orang yang membangun suatu rumah namun belum menaikkan atapnya. Juga orang yang telah membeli kambing atau onta yang sedang mengandung sedangkan dia menunggu-nunggu kelahirannya&#8230;” (al-hadits)</p>
<p>Nabi ini, beliau tidak menerima orang yang memiliki ketergantungan dengan suatu urusan dunia. Karena dikhawatirkan dengan sebab kesibukan dan ketergantungannya terhadap urusan-urusan ini, dia tidak akan ikhlas kepada Alloh, dia tidak akan sungguh-sungguh, dan dia tidak akan sabar dalam berjihad di jalan Alloh. Dia akan terus menunggu kapan bisa kembali kepada urusan-urusannya ini!</p>
<p>Maka termasuk sebab terbesar dari penyakit hati adalah cinta dunia. Wahai saudaraku, (cinta dunia) adalah kerusakan dan penyakit yang sangat berbahaya.</p>
<p>Setiap kita memiliki naluri yang telah diciptakan sebagai fitroh kita, untuk mencintai dunia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dan lepas dari hal ini, kecuali sesuai dengan kadar perbaikan hatinya, perjuangan melawan jiwanya, dan dia memperhatikan sejauh mana posisi dia dalam memperbaiki hatinya?</p>
<p>Maka hati ini, jika tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan rasa takut kepada Alloh, dengan muroqobah (merasa diawasi) Alloh, dengan ikhlas kepada Alloh dan dengan kejujuran terhadap Alloh, niscaya hati ini akan dikepung oleh berbagai fitnah dan penyakit.</p>
<p>Ibnul Jauzi – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “Kezholiman disebut kezholiman karena ia dari<em> zhulmah</em> (gelapnya) hati. Jika hati itu bercahaya, niscaya kezholiman tidak akan datang. Namun jika hati itu tidak bercahaya, niscaya hati itu menjadi gelap dan datanglah kezholiman darinya.”</p>
<p>Maka hati-hati manusia itu sangat butuh kepada cahaya, butuh kepada makanan, butuh kepada obat. Yaitu makanannya yang telah Alloh pilihkan dan Alloh turunkan sebagai rahmat dari-Nya untuk kita, dan juga sebagai perhatian dalam rangka memberikan hidayah dan taufik kepada kita.</p>
<p>Cahaya hati, makanan, obat dan penyembuhnya, ada pada al-Qur`an al-Karim dan <em>as-Sunnah al-Muthohharoh</em>.</p>
<p>Apakah kita telah menghadapkan diri kita untuk menuntut ilmu?!! Yakni ilmu syar&#8217;i?!!</p>
<p>Ilmu adalah cahaya. Cahayanya lebih hebat dari cahaya matahari dan bulan. Maka hendaknya kita tidak menyia-nyiakan diri, hidup tanpa ada pelajaran, tanpa halaqoh ilmu, tanpa ada hubungan dengan al-Qur`an.</p>
<p>Memberikan pelajaran, belajar mengajar, memberi nasihat kepada manusia serta berdakwah kepada Alloh &#8216;Azza wa Jalla, jika tidak menjadi tugas kita yang dibarengi dengan kesungguhan, tekad yang kuat, kesabaran, usaha dan kerelaan, maka akan sia-sialah diri kita, dakwah kita dan ukhuwah (persaudaraan) kita.</p>
<p>Syaikh kami al-Wadi&#8217;i – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “<strong>Ahlussunnah itu banyak, akan tetapi mereka terpencar-pencar, tidak saling mencari dan tidak saling mengenal</strong>”!</p>
<p><strong>Ini termasuk salah satu kesalahan dan kekurangan yang terjadi pada kita</strong>.</p>
<p>Wahai saudara sekalian, memang pembicaraan terkadang melebar, namun secara ringkas, nasihat orang tua kita asy-Syaikh Robi&#8217; – <em>hafizhohulloh – </em>adalah ikhlas hanya kepada Alloh.</p>
<p>Dan itu adalah sebaik-baik yang beliau ucapkan. Semoga Alloh membalas kebaikan kepada beliau dari kita dan islam. Dan seperti itulah hendaknya orang-orang memberi nasihat.</p>
<p>Berpegang teguh dengan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>adalah landasan agung yang hanya ditegakkan oleh Ahlussunnah, sebagaimana kalian ketahui. Adapun selain Ahlussunnah, maka mereka berusaha menghancurkan landasan ini, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ahmad – <em>rohimahulloh &#8211; </em>“Ahlul bid&#8217;ah berbeda-beda, mereka menyelisihi al-Kitab, namun mereka bersepakat dalam menyelisihi al-Kitab.”</p>
<p>Maka berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah hanya akan direalisasikan oleh orang yang meridhoi Alloh sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>sebagai rosul dan nabinya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam -. </em>Yaitu orang yang menghendaki Alloh dan tidak menghendaki dunia, orang yang menyayangi hamba-hamba Alloh, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – <em>rohimahulloh &#8211; </em>“Ahlussunnah adalah orang yang paling mengetahi kebenaran dan paling sayang terhadap makhluk.”</p>
<p>Maka sifat rahmat (kasih sayang) akan datang ketika kita mempelajari dan membekali diri dengan ilmu serta mencurahkan usaha untuk memberikan nasihat dan bimbingan kepada manusia. Umat ini dan seluruh manusia sangat butuh kepada nasihat dan pengajaran ilmu.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui – semoga Alloh memberkahi kalian – bahwa dakwah Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, dakwah salafiyah, telah Alloh jadikan bermanfaat pada belahan timur dan barat bumi ini. Pada masa ini, dakwah ini mulai muncul di negri ini “Saudi”, dan Alloh telah menjadikannya sangat bermanfaat bagi belahan timur dan barat bumi ini. Maka aku ingin memberikan nasihat kepada para ulama dan para dai – meskipun aku termasuk orang yang paling butuh terhadap nasihat, akan tetapi tidak mengapa kita memberikan peringatan –, aku ingin memberi nasihat kepada para ulama ahlussunnah di negri ini, para dai dan para penuntut ilmu, hendaknya mereka terus menyebarkan dakwah ini. Dakwah yang dengannya Alloh telah menjadikan mereka mulia. Yaitu dakwah yang murni, bersih tidak ada hizbiyah (fanatik golongan), tidak ketimuran, tidak kebaratan, tidak ada kebid&#8217;ahan, yang ada hanya <em>tamassuk </em>(berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah secara benar -pent). Dakwah yang tidak akan koyak, tidak akan berubah, tidak akan berganti, akan tetapi (dakwah yang dilandasi dengan -pent) ittiba&#8217;, peneladanan dan keteguhan dalam berpegang dengan manhaj nubuwah.</p>
<p>Kita memohon kepada Alloh dengan anugrah dan kedermawanan-Nya, agar Dia menambahkan petunjuk dan ketakwaan kepada kita, memperbaiki hati-hati kita, melanggengkan persaudaraan kita dalam agama. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh, Robb alam semesta.</p>
<p>Sambutan Syaikh Muhammad al-Imam – <em>hafizhohulloh ta&#8217;ala – </em>dalam Liqo`usy Syaro`i&#8217; di Mekah malam 8 Dzulhijjah 1430 H (Setelah sambutan dari Syaikh al-Allamah Robi&#8217; – <em>hafizhohullohu ta&#8217;ala</em>)</p>
<p>Selesai.</p>
<p>Ditranskrip dan dibandingkan dengan sumber audio oleh : Abu Ishaq as-Sathoifi – <em>ghofarollohu lahu wa ashlaha qolbahu (semoga Alloh mengampuninya dan memperbaiki hatinya).</em>Diijinkan untuk disebarkan oleh yang mulia Syaikh – <em>hafzhohulloh.</em></p>
<p>Sumber :  <a href="http://www.olamayemen.com/show_art40.html">http://www.olamayemen.com/show_art40.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Potret Kehidupan Keluarga Syaikh Ibnu Baz</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/potret-kehidupan-keluarga-syaikh-ibnu-baz/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/potret-kehidupan-keluarga-syaikh-ibnu-baz/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 Jan 2010 15:13:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=840</guid>
		<description><![CDATA[SYEIKH IBNU BAZ Rahimahulloh Ta&#8217;ala DALAM KELUARGA
Segala puji hanya milik Alloh Rabb semesta alam, Sholawat serta salam selalu tercurah pada Nabi kita Muhammad Sholallohu alaihi wa sallam, keluarga beliau,  seluruh para sahabat  dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.
Semoga Alloh merahmati Imam Ibnu baz dengan keluasan rahmatNya dan menempatkannya pada surgaNya yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>SYEIKH IBNU BAZ <em>Rahimahulloh Ta&#8217;ala</em> DALAM KELUARGA</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Alloh Rabb semesta alam, Sholawat serta salam selalu tercurah pada Nabi kita Muhammad <em>Sholallohu alaihi wa sallam</em>, keluarga beliau,  seluruh para sahabat  dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik hingga hari kiamat.</p>
<p>Semoga Alloh merahmati Imam Ibnu baz dengan keluasan rahmatNya dan menempatkannya pada surgaNya yang luas. Beliau adalah salah satu orang yang memiliki keistimewaan dengan sifat-sifat yang terpuji, perangai yang mulia, akhlak yang indah,  tindak-tanduk yang baik, dan perasaan rendah hati yang besar. Beliau juga adalah salah satu orang yang patut untuk diikuti dalam adab, ilmu, akhlak dan sifatnya. Petunjuk beliau terbangun di atas kitabullah dan sunnah Rasul yang mulia. Terlebih lagi dalam hal kezuhudan, ibadah, amanah, kejujuran, penyandaran dan ketundukkan diri kepada Alloh. Juga dalam hal perasaan takut beliau kepada Alloh, kemurnian hatinya, kedermawanannya, baiknya pergaulan, cara dalam mengikuti sunnah Para salafusholih dan banyaknya ibadah beliau. Maka semoga Alloh merahmati beliau dan menjadikan surga firdaus menjadi tempat kembali beliau.</p>
<p>Dan sebagai <em>ibrah</em> bagi diriku dan saudara sekalian, saya akan berbicara tentang jalan hidup Imam Ibnu Baz rahimahulloh bersama keluarga dan kerabat-kerabat beliau, dengan menukil dari beberapa perkataan beliau yang tercantum dalam kitab “ <em>Imam besar kaum muslimin pada abad ke dua puluh</em>” (1/ 24-26/ cet. Pustaka ArRayyan)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Syeikh Ibnu Baz wafat meninggalkan kedua istrinya:</span></p>
<ul>
<li>Istri pertamanya : Ummu abdillah (Beliau menganjurkan kepada syaikh untuk menikah kembali karena beliau tidak mampu mengabdi kepada syeikh di usianya yang sudah tua)</li>
<li>Istri keduanya : Ummu Ahmad</li>
</ul>
<p><span style="text-decoration: underline;">Beliau <em>Rahimahulloh</em> juga memiliki 4 anak laki-laki dan 6 anak perempuan:</span></p>
<p>Anak laki-laki beliau:</p>
<ul>
<li>Dari istri pertama        : Abdurrahman ( dengan nama ini syaikh memakai kunyah) dan Abdullah</li>
<li>Dari istri kedua           : Ahmad dan Kholid</li>
</ul>
<p>Anak perempuan beliau: Saroh, Hindun, Mudhowy, Jauharoh, Haya’, Nauf.</p>
<p>Seluruh anak perempuan beliau menikah, adapun riwayat yang dinukil darinya bahwa anak perempuan beliau yang paling muda bernama Nada atau huda yang berumur 10 tahun maka itu tidak benar.</p>
<p>Maka, saya di sisni akan memulai menyebutkan sebagian perkataan anggota keluarga dan para kerabat beliau dengan memohon bantuan dari Allah Taala.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Abdullah (Anak laki-laki beliau yang paling besar)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em>: Dengan kesibukan beliau, bagaimana beliau memilih waktu yang tepat untuk anggota keluarga, amak-anak dan cucu beliau <em>rahimahulloh</em>?</p>
<p><em>Jawab</em>: Beliau <em>rahimahullah</em> mengkhususkan dua hari dalam seminggu, salah satu harinya beliau berikan untuk laki-laki dari anak-anak, cucu dan anggota keluarga beliau rahimahulloh, dan hari yang lain untuk wanita dari anak-anak, istri-istri, cucu dan anggota keluarga beliau rahimahulloh. Beliau duduk bersama mereka, berbicara kepada mereka semua dalam segala aspek perkara kehidupan, umum dan perkara dien. Beliau memberikan pengarahan dalam segala hal yang memiliki kebaikan dan kemaslahatan umum bagi anggota keluarga. Apabila ada masalah pada sebagian anggota keluarga, maka beliau menunda penyampaian karena kemurahan beliau dan menentukannya pada waktu yang tepat. Beliau mendidik  Keluarganya yang kecil dengan hati-hati dan kasih sayang, sedang keluarga muslimah yang besar, beliau didik  tanpa membeda-bedakan mereka. Beliau selalu berhati-hati dalam setiap perkara.</p>
<p><strong>Abdurrahman (Anak laki-laki beliau yang kedua)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em>: Apakah beliau dahulu memiliki nasehat-nasehat khusus yang beliau kemukakan kepada anda atau kepada anak-anak beliau?</p>
<p><em>Jawab</em>: Beliau banyak memberikan nasehat keagamaan kepada kami sebagaimana halnya kepada setiap orang yang menemuinya, beliau juga selalu memfokuskan untuk memperhatikan masalah sholat dan menuntut ilmu.</p>
<p><em>Pertanyaan </em>: Bagaimana pandangan beliau tentang pendidikan putri-putrinya?</p>
<p><em>Jawab</em>:<em> Alhamdulillah</em>, setiap anak syaikh dan cucu-cucu beliau mendapatkan pendidikan yang cukup, bahkan sebagian dari mereka dapat menempuh pendidikan universitas. Dan beliau dikenal memiliki semangat dalam mengajari mereka.</p>
<p><em>Pertanyaan</em>: Berapa kali ayah anda (syeikh Ibnu Baz) berhaji ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Beliau berhaji sebanyak  60 kali</p>
<p><strong>Syeikh Ahmad (putra ketiga Syaikh Ibnu Baz)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Bagaimana pendapat Anda terhadap sikap beliau tentang kakak dan saudara kandung beserta anak-anaknya ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Ayahanda <em>–semoga Allah merahmati beliau-</em> dahulu berziarah dan menelpon mereka, tidak berselang satu atau dua hari kecuali ayah berziarah kepada mereka meskipun ayahanda banyak kesibukan. Ayahanda dan paman memiliki hubungan kecintaan dan penghormatan yang kuat.</p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Dahulu sebagian besar waktu beliau banyak bersama orang, apakah beliau sempat makan bersama keluarga ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Beliau makan bersama keluarga hanya makan malam saja itupun kadang-kadang ketika beliau mengumpulkan keluarga dalam acara mingguan.</p>
<p><strong>Ummu Abdillah ( istri beliau )</strong></p>
<p><em>Pertanyan</em> : Beliau memiliki dua istri, bagaimana beliau berbuat adil antara keduanya? Dan apa cara beliau untuk menyatukan hati hati anak-anak beliau ?</p>
<p><em>Jawaban</em> : Beliau sangat bersemangat untuk selalu berbuat adil dalam segala sesuatu, baik dalam pemberian nafkah, jatah menginap dan dalam semua hal. Begitu pula dalam masalah berhaji. Saya pernah berhaji pada suatu tahun bersama beliau, dan pada tahun yang lain beliau berhaji bersama istri yang lain. Adapun kepada anak-anak, beliau selalu memotivasi mereka untuk saling menyambung silaturahmi dan saling berziarah.</p>
<p><strong>Ummu Ahmad ( istri beliau )</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Dalam pertemuan keluarga, apakah beliau mengkhususkan urusan keluarga saja atau urusan keluarga dan agama?</p>
<p><em>Jawab</em> : Dalam pertemuan-pertemuan keluarga beliau biasa meminta beberapa putra beliau untuk membaca al qur’an kemudian beliau mentafsirkan beberapa ayat yang mudah. Setelah itu mereka mengajukan pertanyaan, permasalahan dan penjelasan kepada beliau dan lain sebagainya.</p>
<p><strong>Sarah ( Putri beliau yang tertua )</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Diantara sikap beliau didalam pendidikan yang banyak anda dapatkan, apakah anda ingat cara mendidik  beliau yang berpengaruh pada anda dan anda berusaha untuk menerapkannya pada putra-putri anda ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Tidak mungkin untuk membatasi sisi tertentu dalam sikap beliau dalam pendidikan, yang mana kehidupan beliau –<em>semoga Allah mengampuni beliau- </em>bersama kami semuanya adalah cerminan dari pendidikan dan arahan beliau, akan tetapi diantara hal yang penting untuk disebutkan disini  adalah semangat beliau dalam mengarahkan kami semenjak dini untuk selalu menunaikan sholat tepat pada waktunya. Beliau terus menerus mengawasi keistiqomahan kami dalam hal itu, baik anggota keluarga yang besar atau yang kecil. <em>Alhandulillah</em> saya bersemangat dalam mendidik anak-anak saya seperti cara beliau, dan <em>Alhamdulillah</em> saya bisa melakukan hal itu dengan pertolongan Allah. Putra saya yang paling kecil yaitu Abdul Aziz yang sekarang berumur 9 tahun Alhamdulillah tidak pernah terlewatkan sholat wajibnya sejak kurang lebih dua tahun lalu.</p>
<p><strong>Jauharoh ( putri beliau )</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Apa metode ayahanda yang mulia dalam masalah sholat ketika kalian masih kecil, dan sejak umur berapa beliau mulai membangunkan kalian untuk sholat fajar ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Beliau memulai pada saat kami berumur 7 tahun, beliau selalu memerintahkan untuk sholat dan menyampaikan tentang keutamaannya serta selalu memperingatkan supaya tidak melalaikan dan terlambat mengerjakannya, beliau mengatakan bila saya terlambat mengerjakannya : ‘ Berta’awudlah “.</p>
<p>Sepertinya dahulu aku pernah meninggalkannya, aku ingat, ketika aku kecil aku lupa mengerjakan sholat dhuhur dan ashar. Ketika beliau tahu hal itu beliau sangat marah dan berkata kepadaku :” <em>Kalau kamu mendengar adzan bersegeralah mengerjakan sholat, bila kamu tidak tahu waktu tanyalah kepada kepada wanita agar memberi tahu waktunya</em>”.</p>
<p>Ketika umur kami menginjak sekitar 9 tahun beliau mulai membangunkan kami untuk sholat subuh, beliau membangunkan kami satu persatu dan mengulang-ulang doa bangun tidur dan bertahlil serta mengatakan kepada kami :” <em>Baca ini dan ini</em> “. Maka beliau mengulang doa dipendengaran kami kemudian pergi sebentar dan beliau kembali lagi untuk memastikan bahwa kami benar-benar terbangun. Ketika kami telah memiliki telfon pararel  dalam rumah beliau menghubungi satu persatu di kamar masing-masing untuk membangunkannya guna manunaikan sholat subuh, sampai-sampai saudaraku yang telah menikah yang tinggal disamping rumah kami, beliau pun menelfonnya.</p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Dan bagaimana dalam masalah hijab dan pakaian?</p>
<p><em>Jawab</em> : Ketika sekitar umur 10 tahun kami memakai baju panjang (jubah), beliau sangat perhatian agar jubah itu panjang dan tidak tipis, dan beliau selalu mengingatkan hal itu. Ketika kami telah dewasa beliau memperingatkan kami dari model pakaian yang tidak menutup. Dalam masalah pakaian beliau senang pakaian panjang dan memiliki lengan panjang. Ketika dalam masa sempit, ibuku memberikan kami pakaian dengan lengan pendek, ketika itu kami masih kecil, beliau (ayah) merasa bimbang dengan hal itu dan meminta ibu untuk berhati-hati dan menjadikan lengannya panjang. Suatu ketika sebelum beliau wafat, kami mengucapkan salam kepadanya, maka beliau memegang salah satu dari kami untuk mendekat. Beliaupun menyentuh tangannya untuk mengetahui seberapa panjang lengan bajunya, bila tahu lengan itu pendek maka beliau menasehati untuk menutupinya.</p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Ketika terjadi sesuatu yang tidak beliau ridhoi baik perkataan atau perbuatan dari kalian ketika masa kecil, bagaimana beliau menghukumi perkara itu ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Beliau memiliki kepribadian yang kuat dan kami sangat segan terhadap kepribadian beliau, kami tidak suka berbuat atau berkata yang membuat beliau marah, bila terjadi kesalahan beliau memanggil yang salah dan memberitahu sisi kesalahannya serta mengajari hal yang sepatutnya dilakukan. Dalam kondisi seperti ini akan nampak tanda-tanda kemarahan. Aku tidak ingat sama sekali kalau beliau pernah memukul, beliau tidak memukul tetapi mengajarkan dengan kata-kata.</p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Dari sekian sikap beliau dalam masalah pendidikan yang anda dapatkan darinya, apakah anda ingat sikap yang sangat membekas dan ingin anda terapkan pada putra-putri anda?</p>
<p><em>Jawab</em> :  Dari sekian sikap-sikap beliau yang saya ingat, ketika saya masih kecil saya salah dalam urutan berwudlu. Sayapun berselisih dengan saudara saya dalam hal itu. Maka saudara saya mengabarkan hal itu kepada ayah. Beliau lalu mengumpulkan kami dan memintaku untuk mengampil salah satu kitab fikih dan memintaku untuk membuka kitab masalah wudlu. Beliau memintaku untuk membacanya. Ketika aku telah membacanya, jelaslah bagiku kesalahanku dalam tatacara wudlu, lalu beliau berkata :” apakah kamu tahu sekarang ?”. aku menjawab :” iya”. Lalu beliau berkata :” Alhamdulillah”. Kemudian beliau menjelaskan kepadaku tatacara wudlu agar lebih faham. Ini menunjukkan perhatian beliau <em>–semoga Allah merahmatinya-</em> untuk memperingatkan dan memotivasi kami agar mentelaah permasalahan-permasalahan dalam kitab yang baik.</p>
<p><strong>Nauf ( putri beliau yang paling kecil )</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Dalam pergaulan dengan putra-putri beliau, apakah beliau memberikan perlakuan khusus terhadap putri-putri beliau ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Pergaulan beliau sama kepada semua putra-putrinya tidak membeda-bedakan satu dengan yang lainnya, beliau tidak mengkhususkan perlakuan terhadap putri-putrinya akan tetapi beliau adil kepada kami dalam semua hal.</p>
<p><strong>Wafa (cucu perempuan beliau dari putrinya yang bernama Sarah)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Ketika kalian kecil apakah kalian menonton televisi di rumah kakek kalian ?</p>
<p><em>Jawab </em>:  Di rumah kakek tidak ada sarana-sarana yang sia-sia yang sekarang beredar seperti televisi dan lain sebagainya.</p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Bagaimana hubungan beliau terhadap wanita-wanita sekeluarga <em>?</em></p>
<p><em>Jawab </em>: beliau bersikap lemah lembut dan suka tersenyum kepada semua orang, beliau memiliki jiwa canda yang disukai, beliau menyambut dan menyapa semua wanita yang ada dalam pertemuan rutin keluarga serta menanyakan keadaan mereka.</p>
<p><strong>Fatimah ( istri cucu beliau yang bernama Walid bin Abdillah)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Apakah anda ingat suatu momen bersama ayahanda ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Setelah pernikahanku selang 2 hari aku berziarah ke rumah beliau, ketika aku mengucapkan salam kepadanya beliau memegang tanganku sampai siku dan ketika itu aku memakai baju lengan pendek., maka beliau menasehatiku agar memakai baju dengan panjang karena lebih bisa menutupi, kemudian mendoakanku. Kejadian itu tidak akan pernah aku lupakan.</p>
<p><strong>Maha (cucu beliau dari salah seorang putrinya)</strong></p>
<p><em>Pertanyaan</em> : Maukah anda menceritakan kepada kami salah satu momen pilihan ketika beliau bercanda bersama anak-anak kecil dan cucu-cucu beliau ?</p>
<p><em>Jawab</em> : Dahulu beliau bersifat lemah lembut dalam bercanda bersama anak-anak kecil, cucu-cucu beliau dan secara umum kepada anak kecil lainnya. Kebanyakan beliau menanyai mereka dengan beberapa pertanyaan tertentu, seperti : siapa Robb mu? Siapa Nabimu ? apa agamamu? Apa kamu memiliki hafalan al qur’an ?. kemudian beliau mengajari jawabannya kalau mereka tidak tahu, namun waktu beliau sedikit untuk duduk bersama mereka dikarenakan banyaknya kesibukan beliau.</p>
<p>Semoga Allah merahmati dengan rahmat yang luas kepada Ibnu Baz; imam, sang pendidik, yang jadi panutan. Dan mengumpulkan  beliau bersama golongan para Nabi, para siddiqin, <em>Syuhada’</em> dan orang-orang sholih, dan merekalah sebaik-baik teman.</p>
<p>Sumber :  <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=328">http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=328</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/potret-kehidupan-keluarga-syaikh-ibnu-baz/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam!</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Tematis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam 
لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا
(Syaikh Salim Ath Thawil hafidzahullah)

Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba&#8217;du,
&#8230; وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam </strong></p>
<p align="center"><strong>لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Syaikh Salim Ath Thawil <em>hafidzahullah)</em><br />
</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba&#8217;du,</p>
<p class="arabic">&#8230; وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر</p>
<p>Sesungguhnya Alloh telah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia telah meridhoi Islam sebagai agama bagi mereka. Tatkala Rosululloh –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – meninggal dunia, beliau telah meninggalkan warisan dan ahli waris. Adapun warisan beliau adalah ilmu, sedangkan ahli warisnya adalah para ulama. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Abu Darda – <em>rodhiyallohu &#8216;anhu</em> – dari Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bahwa beliau bersabda,</p>
<p>“&#8230; dan sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para Nabi. Sedangkan para Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanyalah meninggalkan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang melimpah.” [Riwayat Abu Daud (<strong>3641</strong>), at-Tirmidzi (<strong>2682</strong>), dan Ibnu Majah (<strong>223</strong>). Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami' (<strong>2697</strong>)]</p>
<p>Dan sungguh para ulama telah mengeluarkan usaha yang sangat besar. Mereka senantiasa menuliskan ilmu dan menyusunnya dengan teratur. Ada yang menafsirkan al-Qur`an, ada yang menuliskan hadits, ada yang mensyarah (memberikan penjelasan) ada juga yang membuatkan judul-judul bab pembahasan. Di antara mereka ada yang menyusun ilmu dalam bentuk syair, ada yang meringkas, ada yang memberi komentar, ada yang men<em>tahqiq</em>, ada yang memilah antara<em> shohih</em> dan <em>dhoif,</em> ada yang membuat daftar isi, dan sebagainya, dan sebagainya. Dan semuanya adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh pada usahanya masing-masing. Semoga Alloh membalas mereka dengan sebaik-baik pembalasan.</p>
<p>Kemudian ketahuilah wahai pembaca, bahwa ulama yang paling besar perjuangan dan keutamaannya adalah para ulama yang membantah ahli bid&#8217;ah, pengikut hawa nafsu dan orang-orang yang sesat lagi menyimpang. Yaitu ulama yang mempertahankan islam, membela sunnah, menolong akidah dan menolak kesesatan. Maka engkau melihat mereka di segala medan selalu mengawasi setiap orang yang sesat dan suka mempermainkan.</p>
<p>Demikianlah mereka menolong kebenaran dan petunjuk. Dan inilah sebagian contoh yang akan menampakkan bagimu dengan gamblang bagaimana mereka menghadapi setiap orang yang digoda oleh hawa nafsunya untuk mempermainkan agama.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh pertama:</strong></span></p>
<p>Orang-orang pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud</em> dan <em>hululiyah</em> – yang mana mereka adalah orang-orang yang paling sesat – menyangka bahwa Alloh ta&#8217;ala berada di setiap tempat. Adapun pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud </em>mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada itu hakikatnya adalah Alloh <em>&#8216;azza wa jalla</em>, apa yang kita lihat di antara berbagai makhluk tidak lain adalah bentuk yang bermacam-macam terhadap hakikat yang satu, yaitu Dzat Alloh<em> ta&#8217;ala</em>. Sampai-sampai mereka berkata, “Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah tuhan.”</p>
<p>Dan sebagian thoghut-thoghut itu berkata, “Maha suci engkau maha suci aku, alangkah agungnya perkaraku.” Dan sebagian mereka berkata, “Aku adalah Tuhan, aku adalah Tuhan.” Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zholim itu. Dan mereka berkata tentang Alloh dengan perkataan batil yang sangat banyak.</p>
<p>Adapun orang-orang <em>hululiyah</em>, tidak jauh berbeda dari pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud</em>. Mereka menyangka bahwa Alloh <em>ta&#8217;ala</em> dengan dzat-Nya menitis (menempati) pada dzat-dzat sebagian makhluk, dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Mereka menyangka bahwa beribadah kepada wali adalah beribadah kepada Alloh ta&#8217;ala, karena Alloh telah menitis (menempati) wali tersebut. Ini adalah keyakinan <em>hulul khosh</em> (yaitu, keyakinan bahwa Alloh menitis hanya pada sebagian makhluk tertentu -pent). Dan di antara mereka ada yang menyangka bahwa Alloh menitis pada dzat seluruh makhluk, sampai pun pada hewan-hewan. Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang mereka katakan.</p>
<p>Saya katakan, maka para ulama pun menghadapi orang-orang zindiq lagi menyimpang itu. Para ulama berkata, bahkan Alloh ta&#8217;ala tinggi berada di atas &#8216;arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Lalu para ahli bid&#8217;ah memprotes dan berkata, dari mana kalian mengatakan, “Terpisah dari makhluk-Nya” padahal Alloh ta&#8217;ala hanya berfirman,</p>
<p class="arabic">عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</p>
<p>“Dia berada tinggi di atas &#8216;Arsy.” [Thoha: 5] dan Dia tidak berfirman, “Terpisah dari makhluk-Nya”?</p>
<p>Maka tatkala ahli bid&#8217;ah berkata, bahwa Alloh ta&#8217;ala menitis pada makhluk-Nya dan bercampur pada mereka, para ulama sunnah pun berkata, bahkan Alloh “terpisah dari makhluk-Nya.” Maka para ulama menghadapi kebatilan mereka dengan kebenaran.</p>
<p>Dan demikianlah; karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh kedua:</strong></span></p>
<p>Alloh ta&#8217;ala memiliki wajah yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arabic">(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27</p>
<p>“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [ar-Rohman: 26-27]</p>
<p>Dan Alloh juga memiliki dua tangan yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arabic">بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ</p>
<p>“(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.” [al-Maidah: 64]</p>
<p>Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah. Lalu ahli bid&#8217;ah berkata, kenapa kalian berkata, “wajah yang hakiki” dan “dua tangan yang hakiki” padahal Alloh tidak mengatakan seperti itu, tidak pula Rosul-Nya dan bahkan tidak pula para sahabat?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, tatkala muncul orang yang beranggapan bahwa Alloh tidak memiliki wajah dan dua tangan, dan menganggap bahwa hal itu hanya sebagai majaz bukan sesuatu yang hakiki, maka ahlussunnah pun perlu untuk membantah mereka. Sehingga mereka (ahlussunnah) berkata, bahkan Alloh memiliki wajah yang hakiki bukan sebagai majaz, Dia juga memiliki dua tangan yang hakiki, bukan sebagai majaz. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh ketiga:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, sesungguhnya Alloh ta&#8217;ala turun ke langit dunia “dengan dzat-Nya.” Lalu ahli bid&#8217;ah berkata kepada ahlussunnah, dari mana kalian mendapatkan bahwa Alloh ta&#8217;ala turun “dengan dzat-Nya” bukankah dalam hadits tidak ada keterangan turun dengan dzat-Nya, akan tetapi yang ada dalam hadits hanyalah “Alloh turun” dan “Robb kita turun” tidak ada penyebutan dengan dzat-Nya?</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, tatkala ahli bid&#8217;ah memalingkan perkataan Rosul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – sehingga mereka berkata, “Alloh turun” maksudnya adalah perintah-Nya yang turun, atau salah satu malaikat-Nya yang turun, atau rohmat-Nya yang turun; maka ahlussunnah berkata, bahkan yang turun adalah Alloh ta&#8217;ala “dengan dzat-Nya”. Mereka (ahlussunnah) menambah penjelasan “dengan dzat-Nya” untuk membantah orang-orang yang berkata, yang turun itu selain Alloh. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh keempat:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, Alloh ta&#8217;ala memiliki sifat-sifat yang Dia bersifat dengan sifat-sifat tersebut “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya.” Ahli bid&#8217;ah berkata, dari mana kalian mendapatkan kalimat “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya”, padahal tidak ada kalimat ini dalam al-Kitab maupun as-sunnah?</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, tatkala muncul orang-orang yang menolak sifat-sifat Alloh ta&#8217;ala dengan dalih bahwa penetapan sifat itu akan berkonsekuensi pada <em>tamtsil</em> (penyerupaan sifat Alloh dengan makhluk-Nya), maka ahlussunnah membantah mereka dengan berkata, bahkan Alloh ta&#8217;ala bersifat dengan sifat-sifat yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau disifatkan oleh Rosul-Nya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– untuk-Nya “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya” tanpa ada penyerupaan. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Contoh kelima:</span></strong></p>
<p>Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah berkata, sesungguhnya Alloh<em> ta&#8217;ala</em> datang pada hari kiamat dengan kedatangan yang hakiki dengan dzat-Nya. Mereka mengatakan demikian sebagai bantahan atas orang yang berkata, Dia datang secara majaz yakni yang datang adalah perintah-Nya. Demikianlah, karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh keenam:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, al-Qur`an adalah perkataan Alloh ta&#8217;ala bukan makhluk, sebagaimana Alloh ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<p class="arabic">وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ</p>
<p>“<em>Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman (perkataan) Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.</em>” [at-Taubah: 6]</p>
<p>Ahli bid&#8217;ah berkata, Alloh ta&#8217;ala tidak berfirman tentang perkataan-Nya “bukan makhluk” lalu dari mana kalian mendapatkan hal itu?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, dahulu kami tidak mengatakan “al-Qur`an adalah perkataan Alloh bukan makhluk” dan inilah yang dahulu dipegangi kaum salaf pada masa-masa pertama Islam. Dan tatkala muncul orang yang mengatakan bahwa al-Qur`an perkataan Alloh itu adalah makhluk, ahlussunnah pun tidak tinggal diam dengan tangan terbelenggu, bahkan mereka (ahlussunnah) berkata “al-Qur`an adalah kalam (perkataan) Alloh bukan makhluk.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh ketujuh:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah mengatakan, bahwa kekafiran ada dua macam; yang besar dan yang kecil. Maka tidak semua yang disebut oleh Pembuat syariat sebagai kekafiran akan mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Bahkan di sana ada kekafiran yang tidak akan mengeluarkan pelakunya dari Islam, meskipun hal itu terjadi atau muncul darinya. Inilah yang dimaksud kufur ashghor (kekafiran yang kecil). Dan mereka juga menyebutnya dengan istilah “Kufrun duna kufrin”, dan yang semisalnya juga adalah istilah “<em>Fisqun duna fisqin</em>” atau “<em>Zhulmun duna zhulmin</em>.” Maka ahli bid&#8217;ah pun berkata, dalam <em>nash-nash</em> al-Kitab dan as-Sunnah tidak ada apa yang kalian sangka ini, lalu dari mana kalian mendapatkan ini?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, bahkan hal itu ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah, akan tetapi kalian tidak memperhatikannya. Pembuat syariat telah menyebutkan sebagian amalan dan perkataan dengan sebutan kafir, namun Dia tidak menghendaki dengannya kekafiran yang mengeluarkan dari Islam. Oleh karena itu Ibnu Abbas – <em>rodhiyallohu &#8216;anhuma</em> – berkata, “Ini bukanlah kekafiran yang kalian pahami, akan tetapi ini adalah <em>kufrun duna kufrin</em>.” Inilah yang dipegangi oleh para ahli tafsir dari kalangan salaf dan para ahli tahqiq dari kalangan ulama. Seandainya bukan karena pemahaman ahli bid&#8217;ah terhadap nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah yang tidak sesuai dengan kehendak Alloh dan Rosul-Nya –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – tentu kami tidak perlu mengatakan “kufrun duna kufrin.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh kedelapan:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah berkata, terkadan Pembuat syariat meniadakan keimanan namun yang Dia kehendaki bukanlah peniadaan hakikat keimanan, atau pokok keimanan, atau peniadaan keimanan secara mutlak (keseluruhannya -pent). Bahkan terkadang Pembuat syariat meniadakan keimanan dan yang Dia maksudkan adalah peniadaan kesempurnaan iman, sebagaimana dalam hadits,</p>
<p class="arabic">لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ</p>
<p>“<em>Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan beriman.</em>” [Riwayat Muslim (104) dari Abu Huroirah – rodhiyallohu 'anhu]</p>
<p>Sesungguhnya dengan sabdanya ini beliau menghendaki peniadaan kesempurnaan iman yang wajib. Yakni, ketika dia berzina orang itu tidak memiliki keimanan yang mutlak lagi sempurna yang bisa mencegahnya dari perbuatan zina.</p>
<p>Ahli bid&#8217;ah pun berkata, kenapa kalian menambah “peniadaan kesempurnaan” kepada hadits itu.</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, ini adalah salah satu uslub gaya bahasa arab yang mereka gunakan untuk berkata-kata. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p>Wahai saudaraku pembaca, tidak diragukan lagi di sana banyak contoh lain selain yang saya sebutkan kepadamu. Dan maksud saya hanyalah menjelaskan bantahan kepada orang-orang yang membantah ahlussunnah dengan anggapan bahwa mereka (ahlussunnah) memberikan tambahan kepada al-Kitab dan as-Sunnah sesuatu yang tidak ada padanya. Maka saya katakan, mereka (ahlussunnah) hanyalah menambahkan untuk menjelaskan kebenaran ketika para pengusung kebatilan memiliki berbagai persangkaan-persangkaan (batil). Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p>Dan segala puji hanya milik Alloh, semenjak awal sampai akhir, secara lahir dan batin. Semoga Alloh mencurahkan sholawat, salam dan berkah kepada Nabi-Nya Muhammad, dan juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.</p>
<p>[Makalah Syaikh yang mulia Salim ath-Thowil;Dinukil dari surat kabar al-Wathon Kuwait hari senin tanggal 28 Dzulqo'dah 1430 H yang bertepatan dengan 16 November 2009 M]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Syaikh Albani &amp; Majalah Albayan (4)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-4/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 31 Dec 2009 06:55:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=827</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Tidakkah Anda memandang untuk menghidupkan halaqoh-halaqoh ilmu untuk melengkapi pembelajaran di Universitas?
 Jawab:
Iya, akan tetapi kita kembali kepada permasalahannya, siapa yang akan mengajar?
Pertanyaan:
Kita kembali kepada sebagian permasalahan ilmiah. Saya mendengar kritikan dari sebagian para doktor yang ada di Universitas Islam dan juga para penuntut ilmu, terhadap metode Anda dalam membagi kitab-kitab Sunan menjadi Shohih dan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Tidakkah Anda memandang untuk menghidupkan halaqoh-halaqoh ilmu untuk melengkapi pembelajaran di Universitas?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong> Jawab:</strong></span></p>
<p>Iya, akan tetapi kita kembali kepada permasalahannya, siapa yang akan mengajar?</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertanyaan:</span></strong></p>
<p>Kita kembali kepada sebagian permasalahan ilmiah. Saya mendengar kritikan dari sebagian para doktor yang ada di Universitas Islam dan juga para penuntut ilmu, terhadap metode Anda dalam membagi kitab-kitab Sunan menjadi Shohih dan Dhoif. Mereka mengatakan: Mungkin saja suatu waktu akan nampak bagi Anda bahwa hadits ini lemah atau sebaliknya. Lalu bagaimana jawaban Anda?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Mungkin saja, dan memang terjadi, lalu apa yang mereka inginkan?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Seandainya Sunan Abu Daud tetap seperti adanya dan Anda memberi komentar kepadanya pada catatan kaki, sehingga kitab itu lengkap sebagaimana yang ditulis oleh Abu Daud?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Ini sebuah permasalah. Akan tetapi kita tinggalkan dulu Shohih Abu Daud dan Dhoifnya.</p>
<p>Sekarang aku memiliki dua Silsilah; <em>ash-Shohihah</em> dan <em>adh-Dhoifah</em>, sebagaimana yang engkau ketahui.</p>
<p>Sangat sering terjadi, aku memindah satu hadits dari <em>ash-Shohihah</em> menuju <em>adh-Dhoifah</em>, dan sebaliknya. Dan hal ini diingkari oleh orang-orang yang tidak berilmu akan tetapi diterima dan sangat disyukuri oleh para ulama. Apa bedanya antara gambaran masalah yang pertama dengan yang kedua?</p>
<p>Bisa jadi setelah beberapa tahun kita akan mencetak ulang Sunan Abu Daud. Sedangkan aku – karena karunia Alloh kepadaku – jarang sekali aku mengulangi cetakan suatu kitab kecuali aku melihat kembali kepadanya. Karena aku merasa puas (yakin) bahwa ilmu yang shohih tidak menerima kejumudan (kekakuan, tidak berkembang -pent). Dan aku sangat heran dengan seorang penulis yang menulis suatu kitab semenjak dua puluh tahun yang lalu, kemudian dia mencetak ulang persis seperti sediakala tanpa perubahan sama sekali. Ilmu apa ini, apakah ini wahyu dari langit? Ataukah ini usaha manusia yang bisa salah dan bisa benar? Anggaplah kita memenuhi permintaan mereka, dan mencetak ulang kitab ini, dan hadits-hadits yang dhoif berpindah kepada yang shohih, dan sebaliknya, maka kita kembali kepada permasalahan yang sama. Dan mungkin saja kita alihkan usulan ini kepada Mukhtashor (ringkasan)-ku terhadap Shohih al-Bukhori, akan tetapi mereka tidak mengatakan: Biarkan Shohih al-Bukhori sebagaimana adanya. Akan tetapi mereka malah menetapkannya dan tidak mengingkarinya.</p>
<p>Aku katakan, sesungguhnya ketika aku memulai memilah Sunan Abu Daud menjadi <em>Shohih</em> dan <em>Dhoif</em> semenjak empat puluh tahun, aku telah menampakkan berbagai sisi pandang di hadapanku secara sempurna. Aku katakan: aku akan melakukan ini atau ini. Kemudian hal ini menjadi lebih kuat bagiku, dan dikuatkan juga oleh sebagian ahli sastra yang sangat semangat terhadap ilmu seperti saudara Hamdi Abid. Dia telah menguatkanku untuk menjadikan Sunnah menjadi dua bagian. Hal ini menjadi lebih kuat bagiku, dan masuk ke dalam rencanaku untuk mendekatkan sunnah ke tengah-tengah umat pada satu sisi, dan di sisi lain, mendekatkan sunnah yang shohih bukan yang dhoif. Dan setelah itu, (aku lakukan -pent) tanpa rasa takut. Karena kebanyakan manusia tidak perlu mengetahui yang dhoif, akan tetapi yang membutuhkan itu hanyalah orang-orang yang khusus. Maka jika ada seseorang dari kalangan umumnya manusia, aku berikan kepadanya Shohih Abu Daud dan aku katakan ini cukup baginya. Adapun kepada orang yang khusus, maka dia wajib mengetahui yang lemah. Maka yang seharusnya, merekalah yang memberi pengarahan kepada manusia.</p>
<p>Maka hal ini (pembagian kitab sunan kepada shohih dan dhoif -pent) telah menjadi kuat bagiku, dan panutanku dalam hal ini adalah para ulama, yaitu para ulama yang memiliki kitab Shohih, semisal al-Bukhori.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Wahai ustadz kami, apakah di sana ada sebagian fatwa berkaitan dengan masalah fikih yang dahulu Anda memeganginya semenjak beberapa waktu, kemudian Anda rujuk darinya karena telah mengetahui dalil-dalil yang lebih kuat?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Mungkin telah sampai kepadamu isu tentang aku bahwa aku rujuk dari pendapat haramnya emas melingkar bagi kaum wanita. Ini adalah dusta. Dan mungkin di sana ada isu-isu lain yang semuanya tidak ada dasarnya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Kita kembali kepada poin yang anda sebutkan di awal pembicaraan. Yaitu bahwa manhaj ahlussunnah membutuhkan perincian, sehingga bisa membantu kaum muslimin untuk menyelesaikan permasalahan mereka. Bisakah kita katakan bahwa garis besar manhaj ini – maksudku jalan pemikiran dan pendalilan ahlussunnah – adalah apa yang telah ditulis oleh asy-Syafi&#8217;i dalam ar-Risalah atau asy-Syathibi dalam al-Muwafaqot atau Ibnu Taimiyah dalam banyak kitab beliau dan secara khusus kitab Dar`u Ta&#8217;arudhil &#8216;Aqli wan Naqli?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Iya, mereka para ulama yang kamu sebutkan ini adalah termasuk ulama yang jarang ada di antara kaum muslimin. Para ulama yang mencerminkan manhaj (metode) ilmiah orang-orang salaf, dalam kitab-kitab mereka.<span style="text-decoration: underline;"><strong><br />
</strong></span></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Wahai ustadz kami, apakah Anda memiliki tambahan terhadap tulisan al-akh asy-Syaibani berkenaan dengan kehidupan pribadi Anda?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Aku tidak memiliki tambahan. Dan apa yang dia tuliskan telah mencukupi.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Pertanyaan terakhir. Apa nasihat Anda kepada para pemuda muslim di zaman ini?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Nasihatku dari dua segi. Mungkin yang pertama bisa dipahami dari perkataanku yang telah lalu. Yaitu agar mereka memperdalam pemahaman agama dengan bersandar kepada sabda Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> -,</p>
<p>“<em>Barangsiapa dikehendaki kebaikan oleh Alloh, niscaya Alloh pahamkan dia dalam masalah agama</em>.”</p>
<p>Dan hendaknya mereka tidak mencukupkan diri dengan ilmu tanpa mengamalkannya. Karena kenyataan yang bisa dirasakan bahwa kebanyakan para pemuda yang bangkit pada hari ini, perhatian mereka ada pada sisi pemikiran bukan sisi ilmiah dan amaliah.</p>
<p>Oleh karena itu, aku nasihatkan kepada mereka, pertama, agar mereka memperluas diri semampu mereka untuk mengetahui ilmu yang shohih yang diambil dari al-Kitab dan as-Sunnah, baik melalui diri mereka sendiri jika mampu atau dengan bantuan para ulama. Dan hendaknya mereka tidak menghadapi sesuatu yang muncul dari mereka karena kebodohan, dengan bersandar kepada pengetahuan mereka yang sangat dangkal dan sedikit. Ini dari satu sisi.</p>
<p>Dari sisi lain, hendaknya mereka memperhatikan amal lebih dari perhatian mereka terhadap ilmu. Karena sangat disayangkan kita melihat orang-orang yang memberikan perhatian terhadap ilmu, kebanyakan mereka tidak beramal. Maka tentu saja, orang-orang yang tidak memberikan perhatian terhadap ilmu tentunya juga tidak mengamalkan. Maka hendaknya mereka membalik perkaranya. Mereka hendaknya memperhatikan amalan lebih besar dari perhatian mereka terhadap ilmu. Jika saja para ulama meninggalkan amal, maka selain mereka di antara orang yang tidak berilmu, lebih mungkin untuk meninggalkan amal. Maka kewajiban para ulama dan para penuntut ilmu agar mengarahkan kesungguhan mereka untuk beramal, dan membalik keadaan sekarang kepada ilmu dan amal yang banyak agar menjadi seimbang daun timbangan yang kurang di masyarakat.</p>
<p>Maka sebagaimana ilmu tidak akan bermanfaat tanpa amalan, begitu pula amalan tidak akan bermanfaat tanpa ilmu. Ini adalah kenyataan yang disepakati oleh ulama kaum muslimin – <em>walillahil hamd</em> –. Inilah nasihatku kepada para pemuda muslim yang tumbuh di masa ini.</p>
<p>Pertemuan dilakukan oleh pemimpin redaksi majalah pada majalah edisi 33</p>
<p>Robi&#8217;ul Akhir 1411 H</p>
<p><em>Wallohul Muwaffiq.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Syaikh Albani &amp; Majalah Albayan (3)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-3/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 27 Dec 2009 12:38:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=820</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
Sebagian orang mengkritisi metode Universitas Islam (Madinah) dalam cara pengajaran. Dan bahwa mereka tidak keluar sebagai para penuntut ilmu yang ahli untuk menjadi ulama. Lalu apa metode yang paling baik untuk belajar menurut Anda?
Jawab:
Universitas-universitas (yang ada), bukanlah termasuk kemampuannya untuk melahirkan para ulama. Akan tetapi universitas-universitas itu menyiapkan para penuntut ilmu yang nantinya akan menjadi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Sebagian orang mengkritisi metode Universitas Islam (Madinah) dalam cara pengajaran. Dan bahwa mereka tidak keluar sebagai para penuntut ilmu yang ahli untuk menjadi ulama. Lalu apa metode yang paling baik untuk belajar menurut Anda?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Universitas-universitas (yang ada), bukanlah termasuk kemampuannya untuk melahirkan para ulama. Akan tetapi universitas-universitas itu menyiapkan para penuntut ilmu yang nantinya akan menjadi ulama. Dan yang nyata, bahwa para lulusan itu tidak melaksanakan kewajiban mereka. Mereka tidak meneruskan untuk mengambil faidah dari kaidah-kaidah ilmiah dan berbagai arahan yang mereka dapatkan dari ustadz-ustadz mereka agar mereka tetap menekuni ilmu, kemudian ketika ilmunya matang (dia membuat) tulisan, ceramah dan menyebarkan. Akan tetapi kebanyakan lulusan ini, keinginan mereka adalah menjadi ustadz, pengajar, atau menjadi pegawai besar di sebagian negri-negri.</p>
<p>Sesungguhnya musibah yang menimpa dunia Islam pada hari ini adalah hilangnya ketakwaan, hilangnya <em>tarbiyah</em> (pendidikan yang benar). Dan aku yakin, manusia sepakat bahwa ilmu saja tidak cukup bahakan terkadang bisa membahayakan pemiliknya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Aku yakin disana ada kelemahan dalam cara-cara pengajaran, juga dalam metode yang ditetapkan. Bagaimana menurut Anda?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Aku tidak memiliki pembelajaran terhadap metode sehingga bisa memberi faidah kepadamu. Akan tetapi hendaknya engkau memperhatikan jumlah tahun yang mereka tetapkan dan waktu-waktu yang mereka batasi pada Universitas-universitas yang ada, yang hal itu tidak akan membantu dalam mempelajari ilmu sebagaimana dahulu mereka mempelajari.</p>
<p>Pada sebagian universitas di India atau pada sebagian halaqoh-halaqoh yang mengikuti cara (pengajaran) terdahulu, aku mendengar bahwa mereka mempelajari <em>Kutubus Sittah</em>, maka aku pun mengetahui setelah itu bahwa mereka mempelajarinya karena barokah. Waktu-waktu yang diatur di berbagai universitas, tidak membantu untuk memperluas dalam metode (pengajaran).</p>
<p>Aku berikan contoh untukmu dengan diriku. Dahulu ketika aku masih di sana, di Universitas, kurikulumnya adalah juz pertama dari kitab Subulus Salam. Maka aku tidak bisa menyelesaikan darinya kecuali kurang dari seperempatnya. Karena dahulu aku mengajarkan satu hadits dalam dua jam pelajaran. Maka para murid pun merasa sempit lalu mengadukan aku kepada Syaikh Abdulaziz bin Baz Rektor Universitas ketika itu. Kami pun bertemu dengan rektor dan para ustadz, lalu beliau berkata: Sesungguhnya para murid mengeluhkan cara pengajaranmu yang lama. Maka aku berkata kepadanya: Benar, akan tetapi di sana ada banyak perkataan dan hukum yang diperselisihkan di antara berbagai madzhab, aku harus menyebutkan dalil masing-masing dan aku harus mentashfiyah (menyaringnya). Lalu beliau berkata kepadaku: Hendaknya Anda mencukupkan dengan yang ada dan tidak menyebutkan perkataan para ulama secara terperinci.</p>
<p>Para penuntut ilmu yang lulus, jika mereka tidak terus memperhatikan kesalahan dalam pembelajaran dan mereka tidak memperluas pembelajaran, niscaya kita tidak akan mendapati ulama di antara mereka. Sebabnya adalah, ketika seorang penuntut ilmu telah mengambil ijazah Doktor, maka dia telah menjadi seorang ustadz di satu Universitas atau menjadi pegawai pada salah satu bagian. Maka dia tidak memetik hasil dari pemahaman-pemahaman dan kaidah-kaidah yang dia dapatkan. Sebagaimana dia tidak lagi mengkhususkan diri untuk ilmu, untuk ilmu saja.</p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Syaikh Albani &amp; Majalah Albayan (2)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-2/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 01:30:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=817</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan:
(Maksud Anda) fenomena banyaknya buku-buku sekarang ini adalah fenomena yang tidak sehat?
Jawab:
Tentu saja ini menunjukkan dan memberitahukan adanya kebangkitan, pada satu waktu. Dan di antara akibat dari fenomena ini adalah banyaknya penerbit dan percetakan buku, padahal sebelumnya sangat sedikit. Jumlah yang sedikit di masa lalu, meskipun mereka menjadikan percetakan dan penerbitan ini sebagai pekerjaan untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>(Maksud Anda) fenomena banyaknya buku-buku sekarang ini adalah fenomena yang tidak sehat?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Jawab:</strong></span></p>
<p>Tentu saja ini menunjukkan dan memberitahukan adanya kebangkitan, pada satu waktu. Dan di antara akibat dari fenomena ini adalah banyaknya penerbit dan percetakan buku, padahal sebelumnya sangat sedikit. Jumlah yang sedikit di masa lalu, meskipun mereka menjadikan percetakan dan penerbitan ini sebagai pekerjaan untuk mencari penghidupan – dan ini secara syar&#8217;i tidak mengapa – akan tetapi pada umumnya mereka membentuk semacam komite ilmiah. Tidaklah satu kitab dicetak kecuali setelah melalui komite ini.</p>
<p>Adapun sekarang, sangat disayangkan, kita dapati perkaranya bahwa penerbitan ini untuk perdagangan saja bukan untuk melayani ilmu. Engkau mendapati kitab yang tebal dikatakan bahwa ia ditahqiq atau dikomentari oleh sekumpulan orang yang khusus. Namun ketika engkau baca, engkau merasa sedih karena banyaknya kesalahan cetak, disertai dengan perasaan bahwa kitab ini belum ditahqiq.</p>
<p>Para penulis baru telah bekerjasama dengan para penerbit untuk menyerbu perpustakaan-perpustakaan dengan berbagai tulisan. Engkau dapati risalah yang bermacam-macam dalam satu pembahasan. Yang ini mengambil dari yang sini dan yang ini mengambil dari sana. Namun tidak ada ilmu yang baru.</p>
<p>Dua hari lalu, ada seorang dari al-Jazair yang menghubungiku. Dan aku dibuat takjub dengan bahasanya. Padahal bahasa orang-orang al-Jazair itu susah dan logat mereka itu tidak sama dengan logat kita. Akan tetapi saudara ini logatnya adalah logat Arab yang fasih, tidak salah dalam berucap. Apa yang dia tanyakan. Dia berkata: &#8220;Aku sedang mengumpulkan <em>wahm</em> (persangkaan yang tidak kuat -pent) al-Hafizh adz-Dzahabi dalam <em>Talkhish</em>-nya terhadap kitab <em>al-Mustadrok</em> yang telah Anda isyaratkan dalam kitab-kitab Anda, ketika Anda berkata misalnya: dikeluarkan oleh al-Hakim dan dia berkata Shohih berdasarkan syarat Muslim, dan adz-Dzahabi menyepakatinya.Bagaimana pendapat Anda?&#8221;</p>
<p>Aku katakan: &#8220;Jangan kamu lakukan. Dan jika kamu lakukan maka kumpulkan untuk dirimu saja (yakni tidak disebarkan -pent). Karena aku ingin agar engkau tidak menjadi seorang oportunis dan orang yang taklid, baik kepada Bakr atau Zaid atau Nashir. Kami ingin agar engkau menyebarkan usaha dan kesungguhanmu sendiri. Setiap orang bisa mengumpulkan perkataan fulan dan fulan lalu menulis risalah. Lalu apa faidah yang bisa diambil oleh manusia dari usaha seperti ini&#8221;.</p>
<p>Demikian yang aku katakan kepada para penuntut ilmu, jangan kalian terburu-buru menulis dan menyebarkan. <strong>Dan aku berikan contoh kepada mereka, aku memiliki satu kitab yang itu adalah kitab pertama dan bisa dikatakan itu adalah tulisanku. Satu kitab yang terdiri dari dua jilid dengan judul “<em>ar-Rodhun Nadhir fii Tartiib wa Takhrij Mu&#8217;jam ath-Thobroni ash-Shoghir</em>” yang aku tulis ketika umurku 25 tahun. Jika orang melihatnya dia akan terkagum terhadap usaha kesungguhan (yang dikeluarkan) dan perhatian terhadap bentuk tulisannya. Adapun sekarang, setelah aku mencapai umur tua, aku bisa banyak mengambil faidah darinya. Akan tetapi aku tidak memandangnya pantas untuk disebarluaskan</strong>, kenapa? Karena aku meralat diriku dengan diriku sendiri. Di sana ada contoh yang sangat jelas.</p>
<p>Dahulu aku mengikuti jumhur ulama yang jika melihat suatu hadits dengan sanad yang semua perawinya adalah orang-orang yang terpercaya (tsiqoh) kecuali satu orang saja yang dia ditsiqohkan oleh Ibnu Hibban, dahulu aku mengatakan ini hadits yang <em>shohih</em>. Berdasarkan kaidah ini aku menulis kitab ini. Akan tetapi setelah itu, aku melihat bahwa <em>tautsiq </em>(penilaian <em>tsiqoh</em>) oleh Ibnu Hibban tidak bisa dipercaya.</p>
<p>Dan sekarang, dengan karunia Alloh kepadaku dan kepada manusia, sekian banyak orang yang memberikan perhatian kepada ilmu hadits, telah berpendapat sebagaimana yang aku katakan, tidak sebagaimana yang dulu aku katakan. Kemudian ada hal baru yang aku temui semenjak beberapa tahun belakangan, bahwa yang benar dalam masalah yang aku sebarkan dan yang tersebar berkaitan dengan Ibnu Hibban, yang benar adalah bahwa hal itu tidak secara mutlak, yakni seseorang tidak boleh mengatakan bahwa tautsiq (penilaian tsiqohnya perawi) oleh Ibnu Hibban tidak bisa dipercaya.</p>
<p>Hal ini telah jelas bagiku dengan membiasakan praktek secara amaliyah. Ini adalah poin yang tidak disebut dalam ilmu mushtholah hadits. Sehingga aku berpendapat: Tautsiq oleh Ibnu Hibban tidak dipercaya kecuali jika orang yang dinilai tsiqoh ini memilik banyak perawi yang meriwayatkan darinya jika mereka semua orang-orang yang tsiqoh, maka ketika itu jiwa ini merasa tenteram untuk menganggap (benarnya) tautsiq Ibnu Hibban. Kemudian terjadi sesuatu yang aneh, orang-orang yang dahulu mengambil penjelasanku yang pertama, mereka membantahku, Anda, kenapa menshohihkan hadits ini padahal dalam sanadnya ada fulan yang dinilai tsiqoh hanya oleh Ibnu Hibban?</p>
<p>Tentu saja aku menjelaskan kepada mereka bahwa telah tersingkap bagiku demikian dan demikian&#8230; dan ini bukan sesuatu yang dilakukan olehku saja. Semacam ini tidak disebutkan dalam ilmu mushtholah hadits, akan tetapi seseorang akan memahaminya dengan seringnya praktek.</p>
<p>Ringkasnya, kami ingin agar orang yang tumbuh (dengan ilmu) tidak terburu-buru.</p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Dialog Syaikh Albani &amp; Majalah Albayan (1)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-1/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-1/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Dec 2009 22:11:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[dialog]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=812</guid>
		<description><![CDATA[PERTEMUAN ANTARA AHLI HADITS AL-ALBANI DENGAN MAJALAH AL-BAYAN
Pertanyaan:
Wahai Syaikh yang mulia, ketika Anda masih mengajar pelajaran hadits di Jami&#8217;ah Islamiyah (Universitas Islam) di Madinah Nabawiyah, Anda memiliki peran yang menonjol terhadap munculnya gelombang para pemuda penuntut ilmu yang mencari dalil syar&#8217;i, memperhatikan hadits dan berusaha mencari takhrijnya serta memilah antara yang shohih dan yang dhoif. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>PERTEMUAN ANTARA AHLI HADITS AL-ALBANI DENGAN MAJALAH AL-BAYAN</strong></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pertanyaan:</strong></span></p>
<p>Wahai Syaikh yang mulia, ketika Anda masih mengajar pelajaran hadits di Jami&#8217;ah Islamiyah (Universitas Islam) di Madinah Nabawiyah, Anda memiliki peran yang menonjol terhadap munculnya gelombang para pemuda penuntut ilmu yang mencari dalil syar&#8217;i, memperhatikan hadits dan berusaha mencari <em>takhrij</em>nya serta memilah antara yang shohih dan yang dhoif. Apakah Anda ridho dengan gelombang kebangkitan ini, dan apakah masih bertambah dan semakin menyebar?</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Jawab</span>:</strong></p>
<p>Aku sudah tidak memiliki hubungan dengan Universitas. Dan tatkala aku meninggalkan Universitas atau Universitas itu meninggalkanku, aku masih sering bolak-balik untuk mengulang sebagian <em>muhadhoroh</em> (ceramah) di sana. Namun keadaan tidak lagi membantuku untuk kembali ke sana. Oleh karena itu, aku sekarang tidak mengetahui keadaan Universitas.</p>
<p>Akan tetapi gambaran secara umum, Universitas itu masih melaksanakan kewajibannya untuk menyebarkan pengetahuan Islam Salafi (dari warisan ulama terdahulu -pent). Dan tentu saja sebagian saudara-saudara kita dari kalangan penuntut ilmu yang dahulu ada ketika kami mengajar pelajaran hadits di sana, mereka sekarang telah menjadi para ustadz ataupun doktor. Dan aku tidak tahu apakah pengaruhnya masih berlanjut sebagaimana pada masa-masa awal dahulu ataukah telah bertambah. Ini sesuatu yang tidak mungkin kita ketahui kecuali dengan kembali ke Universitas dan melihat perjalanannya.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertanyaan</span>:</strong></p>
<p>Akan tetapi di sana ada catatan untuk sebagian murid-murid itu atau murid-murid mereka. Mereka memiliki sikap yang keras dalam menyampaikan manhaj. Tidakkah Anda melihat ini sesuatu yang harus dibenarkan?</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Jawab</span>:</strong></p>
<p>Iya, kita katakan sebagaimana firman Robbul alamin,</p>
<p class="arabic">ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ</p>
<p>“<em>Serulah ke jalan Robbmu dengan hikmah, dan pelajaran yang baik</em>.” (an-Nahl: 125)</p>
<p>Dan ini wajib kita arahkan ke seluruh para dai.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pertanyaan</span>:</strong></p>
<p>Apakah Anda memiliki catatan untuk kebangkitan salafi di negri-negri Arab dan dunia Islam? Apa itu?</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Jawab</span>:</strong></p>
<p>Menurut keyakinanku, kebangkitan salafi – <em>segala puji bagi Alloh</em> – telah membawa seluruh iklim dunia Islam. Bukti terbesar akan hal itu adalah, orang yang pada waktu kemarin memusuhinya telah menjadi orang yang mendekatinya dan mengadopsi namanya. Ini adalah kabar gembira. Akan tetapi kenyataannya, aku melihat bahwa dakwah salafiyah dimana keutamaan yang ada pada kebangkitan Islam kembali kepadanya, meskipun banyak dari para dai Islam yang pura-pura tidak mengetahui hakikat ini dan tidak mengaitkan kebangkitan ini dengan dakwah salafiyah yang sebenarnya. Akan tetapi yang sebenarnya, bahwa kebangkitan yang ada sekarang ini, yang diungkapkan dengan kembali kepada pokok pegangan yaitu al-Kitab dan as-Sunnah, sedangkan kami mengungkapkan usaha untuk kembali ini dengan ungkapan yang lebih detil lagi sebagaimana telah diketahui dari ceramah-ceramah kami, bahwa dakwah menyeru kepada al-Kitab dan as-Sunnah harus disertai dengan dakwah menyeru kepada manhaj (metode) <em>salafus sholih</em> dalam memahami dua sumber ini. Meskipun orang lain tidak mendengungkan manhaj ini padahal ini sangat penting sekali. Karena ketiadaan perhatian terhadapnya adalah sebab perpecahan yang telah lalu yang bisa diketahui melalui sejarah. Dan kelompok-kelompok yang baru yang ada pada hari ini, sebab (kemunculan)nya tidak lain adalah karena tidak kembali kepada pemahaman al-Kitab dan as-Sunnah dengan manhaj <em>salafus sholih</em>.</p>
<p>Aku katakan: Sesungguhnya dakwah salafiyah – meskipun telah tersebar dan menghasilkan kebangkitan yang ada pada masa ini – adalah sesuatu yang masih mujmal, perlu kepada para ulama yang menjelaskan perincian perkataan tentangnya, pertama-tama, dan melebarkan daerah dakwah salafiyah. Karena dakwah ini adalah Islam itu sendiri dengan seluruh perinciannya yang mencakup semua sisi kehidupan. Penjelasan secara menyeluruh terhadap dakwah salafiyah ini membutuhkan para ulama yang menjalani hidup mereka dengan mengajarkan al-Kitab dan as-Sunnah serta menyeru manusia secara lisan, tulisan dan amalan. Karena para pemuda yang mengadopsi dakwah ini, mereka terburu-buru mendakwahkannya sebelum memahami perinciannya. Dan akibatnya banyaknya risalah dan karya tulis yang dicetak pada masa ini dari para penulis yang sangat banyak. Dan hampir saja tidak akan kamu dapati dari para penulis yang sangat banyak ini, yang dianggap sebagai Syaikh. Dan yang aku maksud dengan kata Syaikh adalah secara makna bahasa yaitu orang yang telah berumur, yang telah berusia tua. Juga yang aku maksudkan adalah secara makna urfi, yaitu orang yang mantap dalam ilmunya. Pemuda yang sangat bersemangat ini tidak mempelajari Islam dengan pembelajaran yang minimal membolehkan dia untuk menulis dan menyeru manusia, baik dengan tulisan ataupun ceramah.</p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/12/dialog-syaikh-albani-majalah-albayan-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Korespondensi antara Syaikh Albani &amp; Syaikh Bin Baz (5)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/12/korespondensi-antara-syaikh-albani-syaikh-bin-baz-5/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/12/korespondensi-antara-syaikh-albani-syaikh-bin-baz-5/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Dec 2009 21:53:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Hasan Ayat Aljat alJazairi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[surat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=802</guid>
		<description><![CDATA[Surat kelima:
Surat dari Syaikh Ibnu Baz kepada Syaikh al-Albani sebagai balasan atas surat yang sebelum ini.
Bismillahirrohmanirrohim
Dari Abdulaziz bin Abdillah bin Baz ke hadapan Saudara terhormat yang mulia Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Alloh memberinya taufiq kepada setiap kebaikan, dan menolong agama dengannya, aamiiin.
Salaamun &#8216;alaikum warohmatullohi wabarokatuh.
Amma ba&#8217;du.
Telah sampai kepadaku surat Anda yang mulia tertanggal 20 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Surat kelima:</strong></span><br />
Surat dari Syaikh Ibnu Baz kepada Syaikh al-Albani sebagai balasan atas surat yang sebelum ini.</p>
<p><em>Bismillahirrohmanirrohim</em></p>
<p>Dari Abdulaziz bin Abdillah bin Baz ke hadapan Saudara terhormat yang mulia Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, semoga Alloh memberinya taufiq kepada setiap kebaikan, dan menolong agama dengannya,<em> aamiiin</em>.</p>
<p><em>Salaamun &#8216;alaikum warohmatullohi wabarokatuh.</em></p>
<p><em>Amma ba&#8217;du.</em></p>
<p>Telah sampai kepadaku surat Anda yang mulia tertanggal 20 Syawwal 1418 H – semoga Alloh menyampaikan kepada Anda tali hidayah dan taufik -. Semua yang telah Anda sebutkan adalah suatu hal yang maklum. Dan saya gembira dengan mengetahui kesehatan Anda. Maka segala puji hanyalah milik Alloh atas segala keadaan. Dan saya memohon kepada-Nya subhanahu agar mencurahkan kepada Anda pakaian keselamatan dalam agama dan badan, dan agar Dia memberikan akhir yang baik kepada saya dan Anda.</p>
<p>Saya sangat berterima kasih kepada Anda atas doa-doa yang sangat baik. Dan saya memohon kepada Alloh <em>&#8216;azza wa jalla</em> agar Dia menerimanya, melipatgandakan pahala Anda atasnya. Saya berharap disampaikan salamku kepada segenap anak-anak, dan kepada khususnya para masyayikh dan saudara-saudara, sebagaimana demikian pula untuk Anda dari anak-anak dan penulis huruf-huruf ini.</p>
<p><em>Wassalamu&#8217;alaikum warohmatullohi wabarokatuh</em></p>
<p>Mufti umum Kerajaan Saudi Arabia dan ketua umum perkumpulan ulama-ulama besar dan majelis untuk pembahasan ilmiah dan fatwa</p>
<p>17 Dzulqo&#8217;dah 1418 H</p>
<p><strong>Penutup:</strong></p>
<p>Dengan ini selesailah (penyampaian) korespondensi ini. Dan hanya kepada Alloh ta&#8217;ala kami memohon agar Dia menjadikannya bermanfaat, memberi pahala kepada kedua pemilik korespondensi itu, pengumpulnya, dan pembacanya. Sesungguhnya Dia maha dermawan dan maha pemurah.</p>
<p>Akhir perkataan kami alhamdulillahi Robbil &#8216;alamin</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/12/korespondensi-antara-syaikh-albani-syaikh-bin-baz-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
