<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; albani</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/albani/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (3)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Nov 2009 14:13:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=760</guid>
		<description><![CDATA[APA PENDAPAT ANDA TENTANG NASHIR AL-UMAR DAN BANTAHANNYA TERHADAP AS-SAQQAF KEMUDIAN DIA MEMBICARAKAN AS-SAQQAF
Penanya kedua: Saya mengetahui bahwa Syaikh Nashir al-Umar mengunjungi anda baru-baru ini.
Syaikh: Iya.
Penanya kedua: Bagaimana kunjungannya, dan apa kesan Anda terhadap Syaikh Umar?
Syaikh: Terhadap siapa?
Penanya kedua: Terhadap Syaikh Nashir al-Umar.
Syaikh: MasyaaAllah, sebaik-baik lelaki, penuntut ilmu yang kuat, dan yang nampak bagi kami [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA PENDAPAT ANDA TENTANG NASHIR AL-UMAR DAN BANTAHANNYA TERHADAP AS-SAQQAF KEMUDIAN DIA MEMBICARAKAN AS-SAQQAF</strong></p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Saya mengetahui bahwa Syaikh Nashir al-Umar mengunjungi anda baru-baru ini.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Bagaimana kunjungannya, dan apa kesan Anda terhadap Syaikh Umar?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Terhadap siapa?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Terhadap Syaikh Nashir al-Umar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>MasyaaAllah</em>, sebaik-baik lelaki, penuntut ilmu yang kuat, dan yang nampak bagi kami – dan kami tidak mentazkiyah seorang pun atas nama Allah – dia orang yang berlepas dari hawa nafsu.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> <em>Alhamdulillah</em>.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Alhamdulillah</em>, dan padanya ada banyak kebaikan. Dan kita memohon kepada Allah semoga seluruh penuntut ilmu memiliki akhlak islam yang tinggi seperti ini.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Apa pendapat Anda tentang kaset Nashir al-Umar yang di dalamnya dia membantah seseorang yang disebut as-Saqqaf?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dia telah melakukan kewajiban yang baik. Dan kami sekarang berusaha untuk menyebarkan kaset ini di negri ini. Karena as-Saqqaf ini adalah seorang yang melakukan kesalahan besar. Dan dalam keyakinanku ada banyak orang berada di belakangnya. Di lapangan dia tidak sendirian. Dia adalah seorang<em> jahmi</em> (pengikut pemahaman jahmiyah) yang getol. Dia suka mempermainkan as-Sunnah, men<em>shahih</em>kan sunnah sekehendaknya padahal dhoif. Dan mendhoifkan sunnah sekehendaknya padahal shahih menurut para ulama. Cukup bagimu bukti kami atas hal tersebut hadits al-Jariyah (budak wanita), “Di manakah Allah?” Dia (as-Saqqaf) berkata, aku memastikan bahwa Nabi – <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> – tidak mengucapkan hadits ini. Padahal dia tahu bahkan menyandarkannya kepada Shahih Muslim. Namun tetap saja dia memastikan bahwa hadits ini dusta atas nama Rasulullah – <em>shollalohu ‘alaihi wa sallam</em> –. Padahal hadits ini dishahihkan oleh banyak para ulama yang dijadikan sandaran olehnya dalam mentakwil sifat atau dalam mentakwil sebagian sifat. Para ulama itu seperti al-Imam al-Baihaqi. Al-Imam al-Baihaqi – segala puji hanya milik Allah – termasuk salah satu pembesar ulama hadits, meskipun pada diri beliau ada keyakinan asy’ariyah, tapi beliau termasuk ulama yang menshahihkan hadits tersebut. Maka (as-Saqqaf) ini sama sekali tidak memperhatikan hal ini. Terlebih lagi al-Hafizh Ibnu Hajar, beliau juga menshahihkan hadits ini, tapi (as-Saqqaf) tidak memperhatikan!! Dia (as-Saqqaf) berkata bahwa hadits ini dipastikan bahwa Nabi – <em>shollallohu ‘alaihi wa sallam</em> – tidak mengucapkannya. Dia mendatangkan beberapa hadits yang sebagiannya shahih namun tidak ada kalimat, “Di manakah Allah?” lalu dia mempertentangkan antara kalimat ini dengan riwayat-riwayat yang tidak menyebutkan kalimat ini. Padahal hal itu tidak saling kontradiksi. Dan kebanyakan riwayat yang dijadikan sandaran olehnya tidak lepas dari cacat dari segi ilmu hadits. Tapi tetap saja dia tidak mau memperhatikan. Dalam bantahannya terhadap ahlussunnah, dia bertolak dari kaidahnya orang-orang yahudi zionis yang menyatakan, “Tujuan membenarkan segala cara.” Demikianlah.</p>
<p>Aku tidak tahu, apakah telah sampai kepada kalian kitab “<em>Daf’u Syubahit Tasybih</em>” karya Ibnul Jauzi dengan <em>ta’liq </em>(komentar) dari laki-laki pendusta ini ataukah tidak? Sudahkah sampai kepada kalian?</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Saya belum pernah melihatnya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Ini adalah musibah yang sangat besar. Ambil (kitab) ini, dia ada di bawah&#8230; Pada kitab ini, dia membuat pendahuluan panjang yang semuanya adalah bantahan kepada Ahlussunnah. Dia menamai orang-orang yang menetapkan sifat (Allah) – terutama adalah aku – sebagai Mujassim, hanya karena kita menetapkan sifat-sifat Allah. Dan aku kira engkau telah mengetahui kitabku “<em>Mukhtashor al-‘Uluw</em> karya adz-Dzahabi.” Engkau telah mengetahuinya?</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Iya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dan pendahuluan (yakni kitab <em>Mukhtashor al-‘Uluw</em> – pent) yang mencapai sekitar lima puluh halaman, tujuh puluh halaman, semuanya adalah pendahuluan yang memadukan antara penetapan sifat dan penyucian sifat. Meskipun demikian setiap kali menyebut tentangku disebut di dalam kurung “<em>Mujassim, mujassim, mujassim</em>.” Dan dia ketika menafsirkan firman Allah,</p>
<p class="arabic">أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ</p>
<p><em>“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit.”</em> (al-Mulk: 16)</p>
<p>Dia berkata, “Sesungguhnya keyakinan Allah berada di langit adalah keyakinan jahiliyah, orang-orang musyrik pada zaman jahiliyah.” Dari sinilah dia bertolak dan mempertentangkan hadits Jariyah dengan menyatakan hadits ini palsu, karena hadits ini mengandung keyakinan orang-orang musyrik (yakni menurut anggapannya). Al-Jariyah ini mengatakan Allah berada di langit sedangkan dia mengatakan ini adalah perkataan orang-orang musyrik.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Beberapa waktu lalu as-Saqqaf mengunjungi Syaikh Nasib ar-Rifa’i. Dan setelah kami selesai sholat Jum’at di masjid kami, saya dan Syaikh Ahmad Salik singgah di tempat Syaikh Nasib. Karena ketika itu beliau sedang sakit. Tiba-tiba as-Saqqaf datang, yakni kami mendahuluinya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Datang kemana?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Ke Syaikh Nasib.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di rumahnya?</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Iya benar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di Bil’adah?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Tidak, pada kedua kalinya dia datang. Lalu Syaikh Nasib berkata kepadanya, “Engkau mentakwil sifat dan menolaknya. Apa dalilmu atas takwil ini?” Dia berkata, “Dalilku bahwa al-Bukhari juga mentakwil.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Laa haula wa laa quwwata illa billaah.</em></p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Lalu Syaikh Ahmad Salik berkata kepadanya, “Wahai Hasan, apakah engkau menetapkan Allah memiliki Dzat?” Dia berkata, “Iya.” Syaikh berkata, “Lalu bagaimana dengan sifat menurutmu? Sebagaimana Dia memiliki Dzat yang tidak seperti dzat-dzat (makhluk), begitu pula tangan-Nya tidak seperti tangan-tangan (makhluk).” Dia berkata, “Aku tidak datang untuk berdebat.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Inilah kebiasaannya.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Kemudian dia berkata kepada Syaikh Nasib bahwa “Syaikh Nashir berkata tentang Anda, musyrik.” Lalu Syaikh Nasib berkata kepadanya, “Meski demikian, aku bersamanya dalam melawanmu.” Lalu dia duduk sebentar kemudian pergi dan tidak kembali setelahnya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Dia dusta, tidak ragu lagi, A’udzu billah.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Iya, Wahai Syaikh kami, saya mengikuti seluruh risalah as-Saqqaf kecuali yang ini, bukan untuk mendiskusikan perkataan-perkataannya, saya hanya kembali kepada referensi yang dijadikan sumber nukilannya dan perkataan-perkataannya. Seluruh risalah yang dicetak, dan saya mendapati sesuatu yang sangat mengherankan.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Ahsanta</em>.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Dan ini telah dikumpulkan dalam satu majmu’ah. Saya telah memberikannya kepada Syaikh Ali agar beliau melihatnya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Semoga Allah membalas kebaikan kepadamu.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Iya. Dan saya mendapati bahwa masalah bahasa juga&#8230; “Sampaikan tidak mengapa” (perkataan Syaikh al-Albani –pent). Saya heran, pada sebagian risalahnya dia menukil kesepakatan ahlul hadits bahwa tidak boleh menshahihkan dan mendha’ifkan hadits kecuali dari sisi orang yang telah mencapai derajat al-Hafizh. Dan dia berkata, di antara mereka adalah, al-Hafizh Ibnu Hajar dan as-Suyuthi.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Allahu Akbar, Allahu Akbar</em>.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Dan pernyataan ini belum ada seorang pun yang menyatakannya sebelumnya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Dia adalah <em>dajjal</em> (pendusta). Semoga Allah membalasnya. Semoga Allah membalasnya.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Pada sebagian risalahnya dia mengklaim dan menyatakan bahwa Siyar A’lamin Nubala telah dicetak kecuali jilid terakhir saja yang di dalamnya ada biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, – dia mengatakan – wallahu a’alam, untuk apa mereka menyembunyikan kitab ini, yakni untuk apa.</p>
<p>Padahal biografi Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dinukil oleh Ibnul Wazir dalam al-‘Awashim dan saya memiliki foto dari manuskripnya. Yang mentahqiq adalah Syu’aib al-Arnauth.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Iya, afwan, (Ibnul Wazir) menukilnya dari kitab Siyar?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Ibnul Wazir, iya (menukil dari kitab Siyar –pent). Dia berkata, “Dalam juz ini aku telah memperbanyak nukilan dari Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Maka inilah biografi beliau dari <em>Siyar A’lamin Nubala</em>.” Dan beliau menyampaikannya. Yakni, aku memiliki foto manuskripnya, subhanalloh, di sana ada pujian yang panjang.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Dan insya Alloh engkau berniat untuk menyebarkan hakikat orang ini (as-Saqqaf)?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Kami belum menasihatinya, yakni karena orang ini tidak terkenal, yakni tidak membantahnya itu lebih utama, tidak mengikuti mereka lebih utama. Akan tetapi insyaAlloh hati ini cenderung untuk melakukan hal itu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Engkau harus menjelaskan kebatilannya, ini wajib diberitahukan.</p>
<p><strong>Penanya ketiga</strong>: Bedanya kitab-kitab as-Saqqaf dari yang lainnya di antara kitab-kitab yang menyerang Syaikh Muhammad Nashiruddin al-Albani, bahwa sampai orang awam pun bisa terpengaruh dengan kitab ini, yakni yang membaca kitab-kitab, baik dari kalangan cedekiawan, insinyur, sampai pun ahli kimia. Berbeda dengan bantahan-bantahan lainnya, seperti bantahan Mamduh Sa’id atau yang lain, tidak ada yang mampu mengetahuinya atau bereaksi bersamanya sampai pun kebanyakan dari para penuntut ilmu. Dari sini, nampak bahayanya kitab ini. Dan nampak juga pentingnya membantah kitab ini dengan bantahan yang ringkas, dengan risalah kecil yang bisa disebarluaskan. Risalah kecil saja untuk memberikan beberapa contoh penyimpangannya, dan kepalsuannya. Ditambahkan juga kejanggalan-kejanggalan yang ada padanya, berupa pengkafiran kepada Syaikhul Islam dan yang lain.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Iya, aku yakin amal yang engkau isyaratkan ini sangat penting.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Wahai Syaikh, saya belum berdiskusi dengannya, yakni, dia (mungkin) jahil.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Ini dia, wahai saudaraku, berdiskusi dengannya percuma, jangan berdiskusi dengannya, jangan. Semoga Allah membalasnya. Yang mengherankan, dia menukil dari “Tafsir al-Bahrul Muhith” karya Abu Hayyan tentang tafsir ayat yang telah lalu,</p>
<p class="arabic">أَأَمِنْتُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ</p>
<p>“<em>Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit</em>.” (al-Mulk: 16)</p>
<p>Sebuah tafsir yang sangat aneh!! Dia berkata, “Sesungguhnya Rabb kita berkata kepada orang-orang musyrik, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang kamu sangka berada di langit!!!” <em>A&#8217;udzubillah, Allahu Akbar,</em> suatu hal yang sangat buruk, sangat buruk. Pembalikan kenyataan yang tidak ada bandingannya dalam membalik kenyataan. Engkau akan mendapati di sini, dalam kitabnya Ibnul Jauzi – engkau tahu bahwa Ibnul Jauzi sangat disayangkan menyimpang dari madzhab salaf dalam masalah sifat – dia menukil dari sebagian hanabilah yang sebenarnya pada mereka ada sedikit sikap ghuluw dalam menetapkan sifat. Maka as-Saqqaf ini ketika Ibnul Jauzi menyebutkan seorang dari hanabilah ini, dia meletakkan di antara tanda dua kurung, “Mujassim Fulan,” “Mujassim Fulan.” Bagaimana dia membolehkan bagi dirinya untuk memberikan sisipan dalam kitab orang lain. Seandainya saja dia menyebutkan di pendahuluan bahwa dialah yang membuat istilah ini, tapi dia meninggalkannya agar orang-orang tersesat.</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Wahai Syaikh kami, saya melihat dia memiliki kitab, “asy-Syihabul Hariq fir Rodd &#8216;alal Albani al-Mariq.” Pada awal kitab itu dia menyebutkan pendahuluan yang dia sebut Muqaddimah Za&#8217;faraniyah – <em>masya Allah</em> – ilmunya telah sampai padanya untuk menulis suatu <em>muqaddimah</em>. Lalu dia memunculkan sebagian pertanyaan kepada Anda, dengan bahasa yang kuat. Dalam fikiranku, bahwa semacam ini tentu kita akan mengatakan di akhirnya dia akan menyusun kalimat dengan baik karena dia telah memulai, tapi setelah selesai dia mengatakan, “<em>wa nahnu &#8216;ala tsiqotan”</em> yakni dengan tanwin di atasnya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Mengherankan.</p>
<p><strong>Penanya kedua:</strong> Lalu terlintas dalam benakku agar saya kembali merujuk ke kitab-kitab <em>Maqamat</em>. Maka aku pun kembali merujuk kepada kitab <em>Maqamat al-Hariri</em>. Ternyata sama dengan Maqamat yang ditulis oleh al-Hariri. Dia menyebutkan bahwa dia pergi menuju Haram dan di sana ada seorang Syaikh yang menampakkan diri untuk berfatwa, dan datanglah kepadanya seseorang yang selalu di gelari dengan Abu Yazid as-Sabuki. Berdirilah kepadanya seorang pemuda yang fasih lisannya lalu bertanya kepadanya beberapa pertanyaan yang berkaitan dengan fikih yang ada kesamaran. Maka as-Saqqaf menyebutkannya, dan dia merendahkan Anda sedangkan dia adalah pemuda yang bertanya yang fasih lisannya. Dia telah merubah al-Maqamah sehingga orang-orang berfikiran dia memiliki <em>Maqamat</em>.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: <em>Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahul Musta&#8217;an</em></p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Setelah itu wahai Syaikh kami, dia berkata – ketika aku duduk bersamanya di sisi Syaikh Nasib – saya katakan padanya, engkau berkata dalam satu kitab, Syaddad bin Rifa&#8217;ah al-Qitbani. Dia berkata, yang benar adalah al-Fitbani dan ini adalah bukti kebodohan al-Albani karena dia berkata al-Qitbani.</p>
<p>Saya katakan kepadanya, pertama, Syaikh Nashir menukil dari Sunan Ibnu Majah. Dan dalam Sunan Ibnu Majah disebutkan al-Qitbani. Yang kedua, al-Hafizh Ibnu Hajar dalam at-Taqrib (menyebutkan): Syaddad bin Rifa&#8217;ah atau Rifa&#8217;ah bin Syaddad al-Qitbani, dengan mengkasrohkan huruf Qoof. Di sini, apakah Syaikh Nashir dituntut untuk mengikuti semua kitab untuk mengatakan al-Qitbani bukan al-Fitbani? Apalagi di sana ada dua nisbat menurut ahlul hadits, ada yang benar-benar al-Qitbani dan ada juga yang al-Fitbani. Maka dia tidaklah dituntut dengan perkataan Ibnu Hajar. Dia berkata, Aku tahu Ibnu Hajar berkata demikian. Saya katakan kepadanya, baiklah kenapa engkau menyamarkannya kepada manusia. Dia berkata, untuk memperlihatkan kepada manusia bahwa al-Albani tidaklah makshum. Saya katakan kepadanya, untuk apa, siapa yang mengklaim kemakshumannya!!!</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Masya Allah, masya Allah. Orang ini mencari-cari kesalahan orang lain.</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Tatkala datang Syaikh Ahmad Salik, dia berkata kepadanya, “Ini tulisan-tulisanku, lihatlah kepadanya.” Maka Syaikh Ahmad Salik mengambil kitab dan memperhatikannya. Dia berkata, “Tulisan-tulisan ini ingin kamu sebarkan kepada manusia?” Dia berkata, “Iya.” Syaikh Ahmad berkata, “Ini kesalahan penulisan, ini kesalahan dalam nahwu, ini salah?” Maka merahlah wajahnya dan dia pun malu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin: </strong>Dia malu, semoga Allah menunjukinya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Laa haula wa laa quwwata illa billah</em></p>
<p><em>SELESAI<br />
</em></p>
<p>Sumber :  Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (2)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Nov 2009 22:06:10 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=754</guid>
		<description><![CDATA[PERMINTAAN KEPADA SYAIKH AGAR MENASIHATI MEREKA UNTUK MENETAPI SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH ILALLAH
Penanya: Wahai Syaikh, banyak di antara kalangan Salafiyun yang menggunakan sikap keras dan tidak menggunakan sikap lembut. Mereka menggunakan sikap keras tidak pada tempatnya. Dan mereka tidak menggunakan sikap lembut pada tempatnya. Jumlah mereka tidaklah sedikit. Kami katakan semua kelompok melakukan seperti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>PERMINTAAN KEPADA SYAIKH AGAR MENASIHATI MEREKA UNTUK MENETAPI SIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH ILALLAH</strong></p>
<p><strong>Penanya:</strong> Wahai Syaikh, banyak di antara kalangan Salafiyun yang menggunakan sikap keras dan tidak menggunakan sikap lembut. Mereka menggunakan sikap keras tidak pada tempatnya. Dan mereka tidak menggunakan sikap lembut pada tempatnya. Jumlah mereka tidaklah sedikit. Kami katakan semua kelompok melakukan seperti ini, akan tetapi mereka tidaklah sedikit. Dalam pertanyaanku ini aku tidak ingin menyamakan Salafiyun dengan kelompok-kelompok lain. Tidak penting bagiku urusan kelompok yang lain. Yang penting bagiku adalah urusannya Salafiyun.</p>
<p>Banyak dari kalangan Salafiyun – dan mereka tidak sedikit – yang menghalangi manusia dari manhaj salaf disebabkan karena cara dakwah mereka kepada manusia. Dan mereka tidaklah sedikit. Maksudku dari pertanyaan yang direkam oleh saudara Muhammad adalah agar Anda memberikan nasihat kepada mereka yang diuji dengan sikap keras dan dada yang sempit. Inilah maksud dari pertanyaan itu.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Semoga Allah memberkahimu, pengarahan nasihat tidak diperlukan dari orang seperti saya. Salafiyun dan yang lain mengetahui ayat yang telah kami sebutkan tadi,</p>
<p class="arabic">ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ</p>
<p><em>“Serulah menuju jalan Rabbmu dengan cara hikmah, nasihat yang baik, dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.” </em>(an-Nahl: 16)</p>
<p>Dan mereka lebih banyak membaca dari yang lain, hadits Aisyah – <em>rodhiyallohu &#8216;anha</em> – ketika datang seorang Yahudi dengan mengucapkan salam kepada Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – dengan membelokkan lisannya mengatakan, “<em>Assaamu &#8216;alaikum</em>” (kematian atasmu). Maka Aisyah mendengar ucapan salam yang dibelokkan ini sehingga dia pun mengibaskan hijab sampai-sampai hampir terbelah menjadi dua – sebagaimana disebutkan dalam hadits – karena marah, maka dia pun menjawab, “<em>Wa&#8217;alaikumussaam wal la&#8217;nah wal ghodhob ikhwatal qirodah wal khonaziir</em>.” (Dan atas kalian kematian, laknat dan kemurkaan wahai saudara-saudara kera dan babi). Adapun Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – tidak lebih dari mengucapakan, “Dan atasmu juga.” Tatkala orang yahudi itu telah pergi dari sisi Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – beliau mengingkari Aisyah dan berkata kepadanya, “Wahai Aisyah, tidaklah sikap lembut ada pada suatu perkara kecuali akan menghiasinya. Dan tidaklah sikap kasar ada pada suatu perkara kecuali akan menjelekkannya.” Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, tidakkah Anda mendengar ucapannya?” Beliau bersabda, “Tidakkah engkau mendengar jawabanku?”</p>
<p>Jika demikian, Aisyah yang dididik sejak kecilnya di rumah kenabian dan risalah saja masih menggunakan sikap keras pada tempat kelembutan, lalu apa yang akan kita katakan pada selainnya, yaitu dari kalangan Salafiyun – sebagaimana engkau katakan – sedangkan mereka tidak dididik di dalam rumah kenabian dan risalah.</p>
<p>Bahkan sekarang aku katakan suatu kalimat yang mungkin pernah masuk pendengaranmu suatu hari dari sebagian kaset rekaman dari lisanku ini, bahwa rusaknya dunia islam pada hari ini sebagai reaksi dari kebangkitan islam, bahwa kebangkitan ini tidak disertai dengan tarbiyah islamiyah. Tidak ada tarbiyah islamiyah pada hari ini.</p>
<p>Oleh karena itu aku meyakini pengaruh dari kebangkitan ilmiyah ini akan melewati masa yang panjang sampai nampak pengaruh tarbiyah dari kebangkitan ini terhadap generasi yang tumbuh saat ini pada batasan kebangkitan islam. Ini adalah perilaku dari individu-individu.</p>
<p>Akan tetapi individu-individu ini hidup di bawah naungan rahmat Allah – <em>&#8216;azza wa jalla</em> –. Di antara mereka ada yang dekat dan di antara mereka ada yang jauh. Oleh karenanya, dari sisi ilmu dan pemikiran, kita tidak akan mendapati orang yang membantah dan menyelisihimu dalam prinsip bahwa hukum asal dalam dakwah adalah dengan sikap lembut dan nasihat yang baik.</p>
<p>Namun yang penting adalah penerapannya. Dan penerapan ini membutuhkan seorang pembimbing, membutuhkan pendidik yang mendidik puluhan penuntut ilmu. Sedangkan para penuntut ilmu ini akan keluar dari tangan pendidik ini sebagai pendidik bagi yang lain. Dan begitu seterusnya sampai tersebarnya tarbiyah islamiyah ini sedikit demi sedikit dengan dilakukannya tarbiyah oleh para pembimbing terhadap para murid yang ada di sekitarnya. Tidak diragukan lagi, perkaranya sebagaimana yang Allah firmankan,</p>
<p dir="rtl">وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا الَّذِينَ صَبَرُوا وَمَا يُلَقَّاهَا إِلَّا ذُو حَظٍّ عَظِيمٍ</p>
<p>“<em>Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.</em>” (Fushshilat: 35)</p>
<p>Kita memohon kepada Allah &#8216;azza wa jalla agar Dia menjadikan kita sebagai umat pertengahan yang tidak berlebih-lebihan dan tidak pula meremehkan.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Semoga Allah membalas kebaikan kepada Anda wahai Syaikh.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin:</strong> Wahai Syaikh, terkadang, ketika seorang sunni menjumpai orang yang menyelisihinya dari kalangan ahlul bid&#8217;ah, mereka menentang dan sombong. Yakni sebagaimana Allah telah perintahkan kepada Musa untuk bersikap lembut terhadap Fir&#8217;aun, namun bersamaan dengan itu Musa berkata :</p>
<p><em>Aku benar-benar menduga engkau akan binasa</em> (Al Isra 102)</p>
<p>Maksudnya wahai Syaikh, kami di perkuliahan demi Allah ada para Doktor yang mengolok-olok kami ketika kami katakan kepada mereka “Rasul bersabda&#8230;” Yakni jika seseorang keluar dari jalurnya dan menggunakan sikap keras terhadap mereka, maka sikap keras di sini tidak bisa dikatakan keras. Saya tertarik dengan permisalan yang saya dengar dari Anda wahai Syaikh kami, “<strong>Tembok berkata kepada paku kenapa kamu melubangiku, paku mengatakan tanyalah orang yang memukulku.</strong>”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Benar.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Demikian juga wahai Syaikh kami, suatu kali kami pernah berdiskusi dengan sebagian anggota Hizbut Tahrir. Dan tidak samar bagi Anda bahwa tujuan mereka adalah permasalahan khilafah. Sedangkan kami, tujuan kami yang pertama adalah aqidah dan tauhid. Maka tatkala kami memulai (diskusi) dengan mereka dari landasan dasar dalam pembahasan ilmiyah – sebagaiamana yang kami pelajari dari Anda – kami mulai dengan permasalahan Asma wa Shifat (Nama-nama dan Sifat-sifat Allah), salah seorang pembesar mereka berkata, “Apakah sepanjang malam kita terus terikat dengan jari dan kaki-Nya?!!”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Allahu Akbar.</em></p>
<p><strong>Salah seorang hadirin:</strong> Apa yang kita katakan terhadapnya?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> <em>Allahu Akbar</em>.</p>
<p>Salah seorang hadirin: Yakni, dia mengolok-olok sifat Allah ‘azza wa jalla. Apa yang kita katakan terhadapnya?</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Bagaimanapun juga, kita memohon kepada Allah agar Dia memberikan hikmah kepada kita, yaitu meletakkan segala sesuatu pada tempatnya.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Ya Syaikh, di dalam <em>Ahkamul Janaiz</em> disebutkan perkataan Ibnu Mas’ud tatkala ada seseorang yang mengatakan, “Mintakanlah ampun untuk saudaramu.” Dia (Ibnu Mas’ud) berkata, “Semoga Allah tidak mengampuninya.”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Bersama dengan ini contoh yang sangat banyak. Saudara Abdullah mengingatkan kita dengan suatu atsar (riwayat dari salaf -pent) bahwa ada seorang sahabat, barangkali dia adalah Abdullah bin Mas’ud atau Abdullah bin Umar.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Umar sendiri.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Umar sendiri?</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin</strong>: Umar sendiri. Ketika ada seseorang yang berkata, “Mintakanlah ampunan untuk saudaramu.” Umar berkata, “Semoga Allah tidak mengampuninya.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Bagaimana pendapatmu tentang ini?</p>
<p>Tidak diragukan engkau adalah yang pertama kali, jika engkau melihatku mengucapkan kalimat ini, engkau akan mengatakan Syaikh bersikap keras. Akan tetapi di sini, pada diri orang yang mengingkari ini ada kecemburuan terhadap syariat yang membuatnya bersikap keras dalam ucapan. Sedangkan orang lain yang bersikap longgar, dia tidak berada pada kecemburuan yang ada pada orang tadi sehingga memunculkan perkataan tersebut. Di sini, mereka berkata di antara kita di Suria, “Pelan-pelan wahai Rasulullah ini sikap keras.” Ini adalah logat Suria yang salah. Akan tetapi maksud mereka menyeru Rasul yakni seolah-olah sikap keras ini muncul dari Rasul, padahal yang mereka maksud adalah orang ini.</p>
<p><em>Subhanallah</em>, permasalahan ini hendaknya diperhatikan dari segala sisinya sehingga seseorang bisa menghukumi dengan adil. Kemudian juga, yang nampak bagiku saat ini, di antara sebab tersebarnya tuduhan ini, jika benar bahwa ini adalah tuduhan kepada Salafiyun, engkau tahu bahwa orang yang banyak ucapannya tentu banyak kesalahannya. Dan orang-orang yang berbicara dalam permasalahan syar’i adalah Salafiyun.</p>
<p>Oleh sebab itu, pasti mereka akan melakukan kesalahan karena banyaknya ucapan mereka sehingga nampaklah kesalahan mereka. Dan di antara kesalahan ini adalah sikap keras menurut orang-orang lain yang mereka tidak membicarakan permasalahan ini. Padahal jika sikap keras ini dilihat dalam keumuman sikap yang muncul dari mereka, yang berupa ketulusan untuk bersikap adil, berimbang dan bersikap lembut, tentu akan kita dapati sikap keras dari semisal contoh yang telah kita sebutkan dari sebagian salaf dan di hadapan Rasul –<em> ‘alaihissalam </em>-. Akan tetapi kita tidak boleh menisbatkan kepada mereka para sahabat yang terjatuh ke dalam sikap keras pada sebagian perkara tertentu, bahwa mereka adalah orang-orang yang keras. Hanya saja – sebagaimana kita katakan – aku, engkau dan selainmu kadang terjatuh ke dalam salah satu bentuk sikap keras.</p>
<p><strong>Penanya kedua: </strong>Yang dijadikan patokan adalah sifat yang menonjol.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya?</p>
<p><strong>Penanya kedua</strong>: Yang dijadikan patokan adalah sifat yang menonjol. Sifat yang menonjol pada diri Nabi –<em> shollallohu ‘alaih wa sallam</em> – adalah lemah lembut, meskipun beliau bersabda, “Fulan telah dusta,” atau “apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah,” atau yang semisalnya.</p>
<p>Sumber :  Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Transkrip Tanya Jawab Syaikh Albani : Lemah Lembut (1)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Nov 2009 13:13:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Syaikh Albani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=753</guid>
		<description><![CDATA[APA HUKUM BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH?
Penanya: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –
Syaikh: Begitulah.
Penanya : Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)?
Syaikh: Hal itu hukumnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>APA HUKUM BERSIKAP LEMAH LEMBUT DALAM DAKWAH?</strong></p>
<p><strong>Penanya</strong>: Wahai Syaikh, ini ada pertanyaan tentang dakwah. Sikap lemah lembut, ramah dan halus adalah termasuk sunah yang benar dari Nabi –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –</em></p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Begitulah.</p>
<p><strong>Penanya : </strong>Apakah dalam dakwah wajib ada sikap lemah lembut dan harus dilaksanakan, ataukah hal itu mustahab (hukumnya -pent)?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Hal itu hukumnya wajib.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Baiklah, pertanyaan tadi ada maksudnya, ada tujuannya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di balik bukit pasti ada sesuatu, baiklah.</p>
<p><strong>BENARKAH BAHWA SALAFIYUN TERKENAL DENGAN SIKAP KERASNYA DALAM DAKWAH?</strong></p>
<p><strong>Penanya: </strong>Salafiyun dengan beragamnya mereka terkenal dengan sikap keras dan kurang lembut dalam berdakwah, ini mungkin benar. Jika Anda memandang hal ini benar – dan inilah pandangan saya – apa komentar Anda atas hal yang semacam ini?</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Pertama, dalam ucapanmu itu ada yang perlu diperhatikan. Yaitu perkataanmu, “ini mungkin benar,” demikian?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> (Saya katakan) Jika Anda memandang hal ini benar.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Pertama engkau katakan “ini mungkin benar” maksudnya adalah apa yang dikatakan tentang mereka berupa sikap keras mungkin benar. Apakah engkau termasuk mereka?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya, maaf, saya telah mengatakannya, iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Di sini perlu diperhatikan. Kami ingin menarik perhatian saudara-saudara kami, ketika mereka berbicara dengan ucapan seperti ini, kami katakan ini adalah perkataan diplomatis. Seringnya mereka tidak memaksudkan perkataan itu. Akan tetapi perkataan itu hanyalah yang ada dalam hati, hanya saja lisan dijadikan sebagai petunjuk atas apa yang ada dalam hati. Maka tatkala seseorang berkata dalam satu perkara, “mungkin seperti ini” maka perkataan ini berhadapan dengan lawannya yaitu, “mungkin tidak seperti itu.” Apakah demikian?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Benar.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Sekarang, di sini ada dua hal yang muncul berkaitan dengan pertanyaanmu, dan setelah itu kita akan meneruskan jawaban. Apakah engkau yakin terhadap pernyataan bahwa <strong>Salafiyun tidak memiliki kelemahlembutan</strong>, yang ada hanya sikap keras pada mereka dan sikap keras ini adalah manhaj mereka, apakah engkau yakin akan hal ini? Engkau telah membuka untukku pintu pertanyaan ini, karena engkau telah berkata, “ini mungkin benar.”</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Saya telah mengucapkannya, maafkan perkataan saya.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Jika demikian, (sekarang) kami ingin mendengar perkataan yang benar. Apa itu?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Apakah aku ulangi perkataan tadi?</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Tidak, jangan kamu ulangi, karena itu perkataan yang salah. Jika tidak demikian, kenapa kamu minta maaf? (Yang kami inginkan -pent) engkau mengulangi pendapatmu dengan cara yang benar, tanpa pernyataan “mungkin”. Jelas?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya. Syaikh: Baiklah, silahkan.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> [Di sini penanya mengulangi ucapannya dan jawaban Syaikh yang lalu]&#8230; Salafiyun, – menurut pendapat saya – mereka terkenal dengan sikap yang keras dan kurang lembut dalam dakwah. Ini adalah pendapat saya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Engkau termasuk mereka?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Saya berharap demikian.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Engkau berharap demikian. Engkau termasuk mereka, maksudnya engkau salafi?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Baiklah, engkau termasuk Salafiyun yang keras?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Saya tidak <em>mentazkiah</em> diri saya&#8230; maksudku adalah sifat yang nampak.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Perkaranya sekarang bukanlah perkara <em>tazkiyah</em>. Akan tetapi tentang penjelasan kenyataan. Sebagaimana kami katakan, perkaranya, engkau sekarang yang memulai pertanyaan, ini dalam rangka saling menasehati. Tidak tepat di sini pernyataan, “Saya tidak mentazkiyah diri saya.” Karena engkau hendak menjelaskan kenyataan. Seandainya engkau bertanya kepadaku dengan pertanyaan ini, aku akan menjawab, “menurut persangkaanku, aku bukan orang yang bersikap keras.” Akan tetapi hal ini tidak berarti aku mentazkiyah diriku, karena aku memberitakan tentang kenyataanku. Maka pikirkanlah pertanyaannya.</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, jawabku sebagaimana jawaban Anda, wahai Syaikh.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jika demikian, tidak benar kita memutlakkan pernyataan bahwa Salafiyun bersikap keras. Yang benar kita katakan, sebagian mereka bersikap keras. Apakah jelas sampai di sini?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Baiklah, jika demikian, kita katakan bahwa sebagian Salafiyun memiliki metode dakwah yang keras. Akan tetapi, apakah engkau melihat sifat ini merupakan kekhususan Salafiyun?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tidak. Syaikh: Kalau begitu, apa faidahnya dan apa maksud dari pertanyaan ini?! Ini yang pertama. Dan yang kedua, sikap lembut yang kita katakan hukumnya wajib, apakah dia berhukum wajib selamanya?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tidak selamanya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Jika demikian kita telah mengeluarkan kesimpulan berikut. Pertama, tidak boleh bagimu dan juga selainmu untuk menyifati satu kelompok manusia dengan satu sifat lalu engkau menggeneralisir sifat itu kepada keseluruhan mereka. Kedua, tidak boleh bagimu untuk memberikan sifat ini kepada salah seorang individu kaum muslimin baik <em>salafi</em> atau <em>kholafi</em> – dalam batasan istilah kita – kecuali dalam sebagian perkara tertentu, selama kita sepakat bahwa sikap lembut tidak disyariatkan untuk berlaku selalu dan selamanya. Kita mendapati Rasul –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– telah menggunakan sikap keras yang jika sikap itu dilakukan oleh seorang salafi pada hari ini niscaya orang-orang akan mengingkarinya dengan keras. Contohnya, barangkali engkau mengetahui kisah Abu Sanabil, apakah engkau ingat kisah ini?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Tidak, tidak. Syaikh: Ada seorang wanita yang ditinggal mati oleh suaminya sedangkan dia dalam keadaan hamil. Lalu dia pun melahirkan. Dan telah sampai kepadanya dari Rasulullah – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bahwa seorang wanita hamil yang ditinggal mati suaminya akan berakhir masa &#8216;iddahnya jika dia melahirkan anaknya. Hadits itu menyebutkan – dan hadits ini ada dalam Shahih al-Bukhari – bahwa setelah wanita itu melahirkan dia pun berhias, bercelak dan mempercantik diri untuk bersiap menerima pinangan. Maka Abu Sanabil melihatnya, sedangkan dulu dia pernah meminangnya namun wanita itu enggan. Berkatalah Abu Sanabil kepadanya, (bahwa) tidak halal bagimu (berhias diri) kecuali setelah berakhirnya masa iddah wanita yang ditinggal mati suaminya –  yaitu empat bulan sepuluh hari –. Dan nampaknya wanita itu adalah orang yang perhatian terhadap agamanya, sehingga tidak lain yang dia lakukan adalah berjilbab dan bersegera menuju Nabi –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – lalu menyampaikan kepada beliau apa yang dikatakan Abu Sanabil kepadanya. Maka Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bersabda, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, itu sikap keras.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Siapa yang melakukan? Yang melakukan adalah bapak kelemahlembutan. (Allah berfirman :</p>
<p class="arabic">وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ</p>
<p><em>Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu</em>.” (Ali Imran: 159)</p>
<p>Jika demikian, prinsip lemah lembut bukanlah kaidah yang berlaku menyeluruh sebagaimana telah kita sepakati baru saja. Hanya saja hendaknya seorang muslim mampu menempatkan kelemahlembutan pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Demikian pula contohnya, sebagaimana dalam Musnad Imam Ahmad, ketika beliau –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – berkhutbah berdirilah seorang sahabat dan berkata kepada beliau, “Apa yang Allah kehendaki dan yang engkau kehendaki wahai Rasulullah.” Maka beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?! Katakanlah, apa yang Allah kehendaki saja.” Apakah ini sikap keras atau lembut?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Gaya bicara Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>-.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jawaban semacam ini, aku sebut usaha untuk mengelak. Karena engkau tidak menjawabku sebagaimana jawabanmu sebelumnya ketika aku katakan kepadamu tentang Abu Sanabil bahwa Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – berkata, “Abu Sanabil telah berdusta.” Apakah ini sikap keras ataukah sikap lembut? (Engkau jawab) ini sikap keras.</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Ini sikap keras, iya.</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Dan ini yang kedua.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Tapi beliau hanya menjelaskan kepadanya dengan perkataan, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah?”</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Ini juga usaha untuk mengelak – semoga Allah memberkahimu –. Aku tidak bertanya kepadamu apakah beliau menjelaskan atau tidak. Aku bertanya kepadamu, sikap keras atau sikap lembut? Kenapa sekarang metodemu berubah dalam menjawab? Tadi engkau tidak mengatakan, beliau menjelaskan kepadanya, “Abu Sanabil telah berdusta.” Beliau memang menjelaskan. Akan tetapi apakah penjelasan ini dengan gaya yang lemah lembut – sebagaimana telah kita sepakati bahwa kelemahlembutan adalah kaidah (dalam dakwah) – ataukah pada penjelasan itu ada sikap keras? Engkau menjawab dengan tegas, padanya ada sikap keras. Dan sekarang, apa yang terlewat dari apa yang nampak dalam pertanyaan kedua?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: (Tentang) pertanyaan kedua, beliau tidak menyatakan dia orang yang berdusta, beliau bersabda, “Apakah engkau menjadikanku sebagai tandingan bagi Allah.”</p>
<p><strong>Syaikh</strong>: Allahu Akbar, ini pengingkaran yang lebih jelas – semoga Allah memberkahimu.</p>
<p><strong>Salah seorang hadirin berkata</strong>: Wahai Syaikh kami, (Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>) bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Dalam riwayat Muslim.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Iya, dalam kisah yang lain. Engkau ingat hadits ini? Barangsiapa taat kepada Allah dan Rasul-Nya maka dia telah lurus. Dan barangsiapa bermaksiat kepada keduanya maka dia telah tersesat. Beliau bersabda, “Seburuk-buruk penceramah adalah engkau.” Ini sikap keras atau lembut?</p>
<p><strong>Penanya</strong>: Iya, keras.</p>
<p><strong>Syaikh: </strong>Yang penting – semoga Allah memberkahimu – di sana ada metode lemah lembut dan ada metode keras. Sekarang, setelah kita sepakat bahwa di sana tidak ada satu kaidah yang berlaku untuk semuanya, berlaku selamanya; bersikap lembut, lembut, dan lembut selamanya, atau bersikap keras, dan keras selamanya.</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Iya.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jadi, terkadang bersikap lembut dan terkadang bersikap keras. Sekarang, ketika Salafiyun semuanya dituduh bersikap keras, apakah engkau tidak melihat bahwa Salafiyun – dibandingkan dengan kelompok, jamaah dan golongan lain – memberikan perhatian untuk mengetahui hukum-hukum syar&#8217;i dan mengajak manusia kepadanya dengan perhatian yang lebih besar dari yang lain?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Tidak diragukan.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Tidak diragukan – semoga Allah memberkahimu. Jika demikian, dengan sebab perhatian yang melebihi perhatian (kelompok) lain dari sisi ini, kelompok lain menganggap amar makruf dan <em>nahi munkar</em> (yang dilakukan) meskipun disertai dengan kelemahlembutan, sebagai sikap keras. Bahkan sebagian mereka mengatakan, sekarang bukanlah zamannya. Bahkan sebagian mereka bersikap melampaui batas dan mengatakan, pembahasan masalah tauhid pada hari ini akan memecah belah barisan. Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – maka hal yang ingin aku capai bersamamu adalah bahwa permasalahan ini merupakan permasalahan yang nisbi (relatif). Yakni, seseorang yang tidak memiliki semangat dalam berdakwah, dan secara khusus dalam masalah furu&#8217; yang mereka namakan sebagai kulit atau perkara sekunder, niscaya akan menganggap suatu pembahasan meskipun disertai dengan metode yang baik, akan dianggapnya sebagai pembahasan yang keras dan tidak pada tempatnya. Tidak pantas bagimu – sedangkan engkau adalah seorang salafi seperti kami – untuk menyebarkan di tengah-tengah manusia – meski mereka berjumlah sedikit pada saat ini – dan menyebutkan bahwa Salafiyun adalah orang-orang yang keras. Karena kita telah sepakat hanya sebagian mereka saja yang bersikap keras. Dan hal ini juga terjadi walaupun di kalangan para sahabat; di antara mereka ada yang bersikap lembut dan di antara mereka ada yang bersikap keras. Barangkali engkau mengetahui kisah seorang Arab badui yang ingin kencing di masjid. Lalu apa yang diinginkan oleh para sahabat? Mereka ingin memukul orang tersebut. Apakah ini sikap lembut atau keras?</p>
<p><strong>Penanya:</strong> Ini sikap keras.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Sikap keras. Akan tetapi, apa yang Rasulullah katakan kepada mereka? (Beliau mengatakan), “Biarkan dia.” Jika demikian, terkadang tidak ada yang selamat dari sikap keras kecuali hanya sedikit manusia. Akan tetapi yang benar, bahwa kaidah dalam berdakwah adalah hendaknya dakwah didasari atas hikmah dan nasihat yang baik. Sedangkan termasuk hikmah adalah meletakkan sikap lembut pada tempatnya dan sikap keras pada tempatnya. Maka jika kita menyifati sebaik-baik kelompok islam dengan sikap keras secara mutlak, yang mana kelompok itu memiliki keistimewaan dari kelompok lain berupa semangatnya untuk mengikuti al-Kitab, as-Sunnah dan jalan yang ditempuh <em>as-Salaf ash-Shalih</em>, maka aku menganggap ini bukanlah sikap yang adil sama sekali. Bahkan ini sama sekali tidak termasuk syariat Islam. Adapun jika dikatakan, di antara mereka ada yang bersikap keras, maka siapa yang bisa mengingkari. Selama di kalangan para sahabat masih ada yang bersikap keras tidak pada tempatnya, maka sangat lebih dimungkinkan lagi adanya orang yang bersikap keras di kalangan orang belakangan seperti kita ini. Kemudian, sekarang kita membicarakan seorang individu tertentu. Anggaplah dia adalah orang yang sangat lembut dan halus. Apakah dia akan selalu selamat dari menggunakan sikap keras yang tidak pada tempatnya?</p>
<p><strong>Penanya: </strong>Tidak selalu.</p>
<p><strong>Syaikh:</strong> Jika demikian – semoga Allah memberkahimu – perkara ini telah selesai. Dan kewajiban kita tidak lain adalah agar saling menasihati. Jika kita melihat seseorang yang memberi nasihat, wejangan dan peringatan dengan sikap keras yang tidak pada tempatnya, maka kita ingatkan dia, mungkin dia memiliki sisi pandang (sehingga dia bersikap keras). Jika dia ingat maka semoga Allah membalas kebaikan untuknya. Namun jika dia memiliki sisi pandang tertentu, maka kita dengarkan hal itu darinya dan selesailah urusannya.</p>
<p>Sumber : Silsilah Huda wan Nuur No.Kaset 595 , transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com">http://www.kulalsalafiyeen.com</a></p>
<p><em><strong>Bersambung&#8230;.</strong></em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/11/transkrip-tanya-jawab-syaikh-albani-lemah-lembut-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Albani di Usia 84 tahun</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/syaikh-albani-di-usia-84-tahun/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/syaikh-albani-di-usia-84-tahun/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 13 Aug 2009 23:07:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=485</guid>
		<description><![CDATA[Dalam Kitab Shahih Mawarid Adz Dzam&#8217;an ila Zawaid Ibn HIbban (2087) dalam pembahasan hadist Abu Hurairah radhiallahu &#8216;anhu dimana disebutkan bahwa Rasulullah shalallahu &#8216;alaihi wasalam berkata:
أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبيعين ، وأقلهم من يجوز ذلك
Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun,kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu
Ibn Arafah mengomentar hadist ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam Kitab <em>Shahih Mawarid Adz Dzam&#8217;an</em> <em>ila Zawaid Ibn HIbban </em>(2087) dalam pembahasan hadist Abu Hurairah <em>radhiallahu &#8216;anhu</em> dimana disebutkan bahwa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>berkata:</p>
<p><strong>أعمار أمتي ما بين الستين إلى السبيعين ، وأقلهم من يجوز ذلك</strong></p>
<p><em>Umur umatku antara 60 sampai 70 tahun,kecuali sedikit dari mereka yang usianya lebih dari itu</em></p>
<p>Ibn Arafah mengomentar hadist ini dengan berkata :&#8221;Saya termasuk yang sedikit tersebut&#8221;. Syaikh Albani turut berkomentar atas ucapan ini dengan menuliskan <em>dalam tahqiq</em>nya ,sebagai berikut:</p>
<p>Dan saya pun termasuk yang sedikit tersebut.Saat ini usiaku sudah mencapai 84 tahun.Mudah-mudahan Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> menjadikanku termasuk golongan orang yang panjang umurnya dan baik amalannya.Bersamaan dengan itu pula,<strong>sesungguhnya aku pun terkadang mengharapkan kematian,terlebih jika melihat kaum muslimin banyak menyimpang dari agamanya dan tertimpa kehinaan sehingga menjadi umat yang direndahkan</strong>.Akan tetapi terlarang berharap demikian,dan hadist Anas masih aku ingat sejak aku masih muda.Maka tidaklah bagiku kecuali mengatakan apa yang diperintahkan Nabi padaku <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> :</p>
<p><strong> اللهم أحيني ما كانت الحياة خيرا لي وتوفني إذا كانت الوفاة خيرا لي</strong></p>
<p><em>Ya Allah hidupkan aku selama kehidupanku lebih baik bagiku,dan Wafatkanlah aku jikalau kematian itu baik bagiku</em></p>
<p>Serta berdo&#8217;a dengan apa yang diajarkan kepadaku oleh Nabi <em>&#8216;alaihi sholatu wasalam</em>:<br />
<strong><br />
اللهم متعنا بأسماعنا وأبصارنا وقوتنا ما أحييتنا ، واجعلها الوارث منا</strong></p>
<p><em>Ya Allah Jadikan pendengaran dan penglihatanku senantiasa sehat dan kuatkanlah seluruh anggota badanku , kemudian jadikanlah itu semua tetap seperti itu hingga tibanya kematian</em></p>
<p>Dan Allah<em> subhanah</em> telah mengabulkan doa ini padaku dan sungguh aku dapat menikmati itu semua (isi do&#8217;a diatas,penj).Inilah saya yang sampai usia sekarang ini masih giat membahas dan meneliti <em> </em>serta menulis dengan giat, saya pun sholat sunnah dengan berdiri,saya juga menyetir mobil sendiri dalam perjalanan yang jauh,juga menyetir dengan &#8220;ngebut&#8221; sampai-sampai sebagian kolega  sering menyarankanku untuk tidak berbuat demikian.Menurut saya dalam masalah mengendarai mobil dengan kencang ini perlu dirinci hukumnya sebagaimana juga telah diketahui oleh mereka.</p>
<p>Saya ceritakan demikian ini sebagai wujud dari  firman Allah  &#8220;<em>Dan terhadap nikmat Rabb mu hendaklah kamu menyebut-nyebutnya</em>&#8221; (QS.Adh Dhuha ayat 11) ,dengan senantiasa berharap agar Allah <em>subhanahu wata&#8217;ala</em> menambahkan karunianya kepadaku,dan menjadikan nikmat ini tidak dicabut hingga kematian tiba,serta mewafatkanku sebagai muslim diatas sunnah yang aku telah bernadzar untuk itu kehidupanku adalah dakwah dan menulis.Juga semoga Allah mengumpulkanku kelak dengan para <em>syuhada</em> dan orang-orang shalih sebagai sebaik-baik teman .Sesungguhnya Allah maha mendengar lagi menjawab do&#8217;a.</p>
<p>Sumber :<a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5231">http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=5231</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/syaikh-albani-di-usia-84-tahun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Foto Dokumenter Syaikh Albani</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/foto-dokumenter-syaikh-albani/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/foto-dokumenter-syaikh-albani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 11 Aug 2009 01:50:07 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>
		<category><![CDATA[foto]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=420</guid>
		<description><![CDATA[<a href=http://www.direktori-islam.com/2009/08/foto-dokumenter-syaikh-albani/><img src=http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/rumah.jpg class=imgtfe hspace=5 align=left width=100  border=0></a>Syaikh Muhammad Nashiruddun Al Albani rahimahullah seorang pakar hadist yang sangat terkenal diabad ini,seorang da&#8217;i yang sabar dalam menyebarkan ilmu dan berdakwah mengajak manusia kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman salafush shalih.
Belum lama ini beredar di negeri arab film dokumenter  jejak kehidupan Syaikh Albani.Sejumlah  gambar cuplikan dari film tersebut dipotong dan diedarkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh Muhammad Nashiruddun Al Albani<em> rahimahullah</em> seorang pakar hadist yang sangat terkenal diabad ini,seorang da&#8217;i yang sabar dalam menyebarkan ilmu dan berdakwah mengajak manusia kembali kepada Al Qur&#8217;an dan As Sunnah dengan pemahaman <em>salafush shalih</em>.</p>
<p>Belum lama ini beredar di negeri arab film dokumenter  jejak kehidupan Syaikh Albani.Sejumlah  gambar cuplikan dari film tersebut dipotong dan diedarkan di beberapa forum internet.Inilah gambar-gambar tersebut,mudah-mudahan  ada pelajaran yang bisa diambil bagi para <em>tholabul ilmi </em>dari kehidupan beliau yang tercermin dari gambar-gambar dibawah ini.</p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; </span>1.Dirumah inilah,Albani kecil tumbuh besar bersama kedua orangtua beliau&#8230;..</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/rumah.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-435" title="rumah" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/rumah.jpg" alt="rumah" width="576" height="432" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;..<span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;.</span></span><span style="color: #ffffff;">&#8230;. </span>2.Di rumah inilah,Syaikh Albani tinggal bersama keluarganya setelah hijrah dari Albania&#8230;</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/hijrah_albania.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-436" title="hijrah_albania" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/hijrah_albania.jpg" alt="hijrah_albania" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;h </span>3.Madrasah Nidzamiyah,di madrasah ini  Syaikh Albani dimasukkan oleh Ayahnya untuk belajar&#8230;</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/awal-madrasah.jpg"><img class="alignnone size-full wp-image-437" title="awal madrasah" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/awal-madrasah.jpg" alt="awal madrasah" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;. </span>4.Tidak lama,Ayahnya mengeluarkan lagi Syaikh Albani dari Madrasah ini untuk membimbing Syaikh  Albani menghapal Qur&#8217;an secara khusus dibawah bimbingan Ayahnya sendiri</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/madrasah2.jpg"><img class="size-full wp-image-438 alignnone" title="madrasah2" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/madrasah2.jpg" alt="madrasah2" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. </span>5.Toko Jam dimana Syaikh Albani  bekerja bersama Ayahnya&#8230;..(Gambar orang yang terlihat adalah Adik Syaikh Albani paling kecil)</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/toko2.jpg"><img class="size-full wp-image-439 alignnone" title="toko2" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/toko2.jpg" alt="toko2" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- </span>6.Syaikh Albani mulai membuka toko sendiri terpisah dari Ayahnya&#8230;.Dijalan inilah terletak toko beliau&#8230;</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/jalantoko2.jpg"><img class="size-full wp-image-440 alignnone" title="jalantoko" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/jalantoko2.jpg" alt="jalantoko" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; </span>7.Inilah toko usaha servis jam Syaikh Albani </strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/toko3.jpg"><img class="size-full wp-image-441 alignnone" title="toko3" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/toko3.jpg" alt="toko3" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211; </span>8.Perpustakaan Adz Dzahiriyah dimana Syaikh Albani banyak menghabiskan waktunya untuk menelaah buku&#8230;terkadang di meja khususnya diantara pengunjung dan terkadang membaca buku di tangga-tangga perpustakaan.Dan menurut putra beliau,Abdul Lathif, beliau sering lupa makan dihari itu..<br />
</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah2.jpg"><img class="size-full wp-image-443 alignnone" title="maktabah2" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah2.jpg" alt="maktabah2" width="576" height="432" /></a></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah3.jpg"><img class="size-full wp-image-444 alignnone" title="maktabah3" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah3.jpg" alt="maktabah3" width="576" height="432" /></a></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah4.jpg"><img class="size-full wp-image-445 alignnone" title="maktabah4" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah4.jpg" alt="maktabah4" width="576" height="432" /></a></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah5.jpg"><img class="size-full wp-image-442 alignnone" title="maktabah5" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/maktabah5.jpg" alt="maktabah5" width="576" height="432" /></a><br />
<strong> </strong></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212; </span>9.Majalah pertama</strong><strong> dimana Syaikh Albani menulis pertama kalinya<strong>.Majalah ini</strong></strong><strong> yang terbit di Dimasyq</strong></p>
<p><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/majalahpertama2.jpg"><img class="size-full wp-image-448 alignnone" title="majalahpertama" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/majalahpertama2.jpg" alt="majalahpertama" width="576" height="432" /></a></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;- </span>10.Ini adalah buku <em>Ats Tsamar Mustathob Fi Fiqhis Sunnah wal Kitab</em>,adalah kitab pertama Syaikh dalam memulai dirasah hadist-hadist</strong></p>
<p><strong><br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/tsamar.jpg"><img class="size-full wp-image-419 alignnone" title="tsamar" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/tsamar.jpg" alt="tsamar" width="627" height="707" /></a></strong></p>
<p><span style="color: #ffffff;"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</strong></span><strong> 11.Silsilah Adh Dhaifah ,salah satu kitab karya Syaikh Albani yang terkenal</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/silsilahdoifah.jpg"><img class="size-full wp-image-414 alignnone" title="silsilahdoifah" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/silsilahdoifah.jpg" alt="silsilahdoifah" width="524" height="598" /></a></strong></p>
<p><span style="color: #ffffff;"><strong>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</strong></span> <strong>12.Manuskrip Shahih Abu Daud karya Syaikh Albani</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/shahihabudaud.jpg"><img class="size-full wp-image-413 alignnone" title="shahihabudaud" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/shahihabudaud.jpg" alt="shahihabudaud" width="552" height="622" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/shahihabudaud2.jpg"><img class="size-full wp-image-413 alignnone" title="shahihabudaud2" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/shahihabudaud2.jpg" alt="shahihabudaud2" width="552" height="622" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong><span style="color: #ffffff;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<em>- </em></span>13.<em>Shahih &#8220;As Sirah An Nabawiyah&#8221;</em> karya Syaikh Albani</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/sirah2.jpg"><img class="size-full wp-image-421 alignnone" title="sirah2" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/sirah2.jpg" alt="sirah2" width="522" height="605" /></a><br />
</strong></p>
<p><strong><a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/sirah1.jpg"><img class="size-full wp-image-421 alignnone" title="sirah1" src="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/08/sirah1.jpg" alt="sirah1" width="522" height="605" /></a><br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/foto-dokumenter-syaikh-albani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sekelumit Kisah Pencekalan Syaikh Albani</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sekelumit-kisah-pencekalan-syaikh-albani/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sekelumit-kisah-pencekalan-syaikh-albani/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 06 Aug 2009 15:13:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ishaq Al Huwainy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=380</guid>
		<description><![CDATA[Dalam  sebuah kaset ceramah milik Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy yang berjudul &#8220;Ainal Ulama Ar Rabbaniyun?&#8221;, beliau menceritakan tentang ujian yang pernah menimpa guru beliau Syaikh Albani rahimahullah.Inilah cerita beliau :
Para ulama Rabbani dalam mengubah masyarakat itu sungguh berat,karena mereka memiliki dua tanggung jawab besar,yakni  :

(1) Membersihkan khurafat yang tertanam di jiwa-jiwa manusia dan
(2)Menancapkan Islam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Dalam  sebuah kaset ceramah milik Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy yang berjudul &#8220;<em>Ainal Ulama Ar Rabbaniyun</em>?&#8221;, beliau menceritakan tentang ujian yang pernah menimpa guru beliau Syaikh Albani <em>rahimahullah.</em>Inilah cerita beliau :</p>
<p>Para ulama Rabbani dalam mengubah masyarakat itu sungguh berat,karena mereka memiliki dua tanggung jawab besar,yakni  :</p>
<ul>
<li>(1) Membersihkan <em>khurafat</em> yang tertanam di jiwa-jiwa manusia dan</li>
<li>(2)Menancapkan Islam yag shahih pada jiwa mereka.</li>
</ul>
<p>Dan tatkala para Alim Rabbani memikul tanggung jawab yang berat sekali itu, merekapun juga diuji oleh berbagai tuduhan yang disebabkan dari pemelintiran ucapan mereka serta penyebaran berbagai berita dusta. Hampir-hampir tidak selamat seorangpun dari Alim Rabbani  dari hal seperti ini sebagaimana dicatat dalam sejarah.</p>
<p>Cukup sebagai contoh adalah Syaikh Nashiruddin Al Albani,seorang ahli hadist abad ini <em>rahimahullah ta&#8217;ala</em>.</p>
<p>Syaikh Albani adalah orang yang sangat banyak sekali dinisbatkan kedustaan padanya, padahal tidak pernah beliau katakan.Karena sebab kedustaan-kedustaan itulah beliau pernah dicekal di sejumlah negara. Maka tidaklah engkau lihat beliau memiliki suatu negeri ataupun tempat tinggal.Hidup beliau diakhir masa hidupnya sengsara sekali.Seorang alim semisal beliau terpaksa mengungsi.Karena beliau berpendapat haramnya <em>safar</em> ke negeri kafir,maka beliau tidak pergi ke Amerika atau Perancis atau yang  lainnya.Dan kalau tidak berpendapat demikian,mungkin beliau akan mendapatkan kebebasan besar dinegara-negara tersebut.</p>
<p>Selama 6 bulan terkatung-katung nasibnya di perbatasan UEA! Beliau dilarang masuk kesana!Juga dilarang  memasuki Kuwait! Dan juga memasuki Saudi! Dilarang memasuki Suriyah&#8230;..Lantas bagaimana beliau akan tinggal?</p>
<p>Dan tidaklah beliau bisa tinggal di Yordania saat itu kecuali dengan <em>tazkiyah</em> (rekomendasi) khusus dari salah seorang murid beliau,yakni Syaikh Muhammad bin Ibrahim Syaqrah ,wakil kementrian waqaf  sekaligus Imam Masjid <em>Dar Ash Shofwah</em>.</p>
<p>Syaikh Ibrahim Syaqrah ini kemudian menemui Raja Husain secara pribadi memintanya membolehkan Syaikh Nashiruddin Al Albani tinggal di negeri Yordan.Itupun dengan kesepakatan agar beliau tidak ditemui seorangpun saat itu.Dan juga mereka kemudian memaksa menulis di pintu rumah (vila) Syaikh Albani dengan tulisan &#8220;<strong> </strong>Dilarang didatangi lebih dari  dua orang!&#8221;.Jika ingin berjumpa harus melalui perjanjian melalui telepon.</p>
<p>Dan dihari-hari pertama mereka sangat mempersempit sekali kepada Syaikh Albani,akan tetapi dihari-hari belakangan mereka melupakannya hingga tidak ketat lagi dengan aturan-aturan ini.</p>
<p>Tatkala aku menemui Syaikh Albani di kota Amman , beliau mengundang sejumlah relasi untuk makan dan kebetulan aku disana.Kami saat itu berjumlah 25 orang ,dan kukatakan pada Syaikh :&#8221;Wahai Syaikh,bukankah ada semacam banner peringatan bahwa dilarang masuk lebih dari dua orang?&#8221; .Syaikh Albani berkata dengan cepat:Mereka masuk dua orang dua orang saja!</p>
<p>Beliau yang Alim ini tidak mendapatkan baginya tempat yang nyaman.Sebelumnya mereka pun melarang  <em>durus </em>beliau di Masjib Umar di Zurqa,hingga beliau tidak memiliki tempat untuk memberi pelajaran kepada <em>thalabul ilmi </em>kecuali dirumah salah seorang  mereka setelah sholat isya.</p>
<p>Saat diselenggarakan Mu&#8217;tamar Assunnah dan Sirah Nabawiyah di Mesir, mereka tidak mengundang Syaikh Nashiruddin Albani ,padahal beliau lah orang paling besar saat itu jasa nya kepada kaum muslimin di abad ini bagi sunnah dan sirah nabawiyah.Dan mereka tidak mengundang  Syaikh Albani misalnya dengan mengaakan:&#8221;Kemarilah akan kami muliakan engkau&#8221; ,tidak ada salahsatu anggota pertemuan itu yang berbicara demikian.</p>
<p>Adalah semisal mereka para ulama Rabbani ini, lihatlah muamalah kepada mereka! Bagaimana mungkin kaum muslimin bisa mendapatkan manfaat dengan ilmu mereka sedang mereka diusir diberbagai negeri.!?. Bahkan yang lebih aneh lagi,sejumlah kitab-kitab ulama diberbagai perpustakaan di larang,buku <em>Tahdzir As Sajid,</em> buku <em>Hurmatut Tashwir</em> ,karya Syaikh Albani dan Syaikh Bin Baz dan sejumlah ulama ,<em>Tahqiq Syarh Ath Thahawiyah</em>,mengapa wahai saudara-saudara kami? Mereka mengatakan bahwa ini kitab terlarang, Al Azhar telah memutuskan bahwa kitab-kitab tersebut terlarang! Bagaimana bisa terlarang?Apakah karena karya dan peneliian dari Albani? Beginikah bermuamalah dengan ulama-ulama Rabbani ?</p>
<p>Sumber  Kaset :<em><a href="http://live.islamweb.net/lecturs/AboEshaq/113/113.mp3">Aina Al Ulama Ar Rabbaniyun</a></em> menit ke 01:06:00 sampai 01:11:10 (Transkrip didapat dari <a href="http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9266">http://www.kulalsalafiyeen.com/vb/showthread.php?t=9266</a> )</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/sekelumit-kisah-pencekalan-syaikh-albani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>13</slash:comments>
<enclosure url="http://live.islamweb.net/lecturs/AboEshaq/113/113.mp3" length="5455885" type="audio/mpeg" />
		</item>
		<item>
		<title>Tarbiyah Menurut Syaikh Albani</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/07/tarbiyah-menurut-syaikh-albani/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/07/tarbiyah-menurut-syaikh-albani/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 24 Jul 2009 03:36:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masyhur Hasan Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>
		<category><![CDATA[albani]]></category>
		<category><![CDATA[tarbiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=289</guid>
		<description><![CDATA[Sebuah makalah oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman hafidzahullah.
 
إن الحمد لله نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله
Segala puji semata-mata hanya untuk [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Sebuah makalah oleh Syaikh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman <em>hafidzahullah.</em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;">إن الحمد لله نحمده، ونستعينه، ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا، وسيئات أعمالنا، من يهد الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له، وأشهد أن لا إله إلا الله، وحده لا شريك له، وأشهد أن محمداً عبده ورسوله</span></p>
<p>Segala puji semata-mata hanya untuk Allah <em>azza wa jalla</em>, kami memuji, meminta ampun, dan meminta perlindungan dari kejahatan jiwa-jiwa kami dan dari keburukan amal perbuatan kami semata-mata hanya kepada Allah <em>azza wa jalla</em>. Siapa yang di beri hidayah oleh Allah maka tidak akan ada yang dapat menyesatkannya, dan siapa yang disesatkan Allah maka tidak akan ada yang dapat memberinya hidayah. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah semata, yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad <em>shallallahu ‘alaihi wa sallam</em> adalah hamba dan utusan-Nya.</p>
<p>Kesungguhan Syaikh Albani <em>rahimahullah</em> di dalam bidang <em>tashfiyah</em> (pemurnian agama) dalam berbagai bidang ilmu telah nampak jelas diketahui.Adapun yang belum banyak digali adalah kaidah-kaidah dan pemikiran-pemikiran beliau di bidang yang kedua, yakni <em>tarbiyah</em> (pendidikan).<em> Tashfiyah </em>dan<em> tarbiyah </em>adalah dua syiar yang senantiasa didengungkan serta ditekuni beliau.</p>
<p>Tidak diragukan lagi bahwa perkataan Syaikh Albani <em>rahimahullah</em> dan pemikiran-pemikirannya dalam masalah tarbiyah ini bermacam-macam, terbagi-bagi  dan tersebar (dibeberapa tempat).Maka untuk menjawab orang yang memusuhinya diperlukan usaha untuk mengumpulkan, menghimpun dan menseleksi untuk kemudian dikompilasi berdasarkan metode yang khusus, sehingga menjadi satu kitab tersendiri dan tiada ternilai harganya yang bisa mendatangkan manfaat bagi orang-orang yang mencintainya, anak-anaknya, murid-muridnya yang telah dikumpulkan dalam madrasah <em>atsar</em> dan yang menisbahkan kepada <em>salafus sholeh. </em></p>
<p>Kebutuhan terhadap pengumpulan (pemikiran Syaikh) mengenai permasalahan tarbiyah ini semakin besar bersamaan dengan berjalannya waktu dan banyaknya fitnah disebabkan oleh beberapa hal diantaranya:</p>
<p><strong>Pertama,</strong></p>
<p>Pentingnya  penjelasan pada sisi kedua (<em>tarbiyah</em>) dari dua syiar <em>ishlah </em>(perbaikan) yang senantiasa didengungkan Syaikh Albani  di sela-sela perkataan , ketetapan, dan pemikiran-pemikirannya.</p>
<p><strong>Kedua,</strong></p>
<p>Keselamatan di dunia dan akhirat dalam beramal berdasarkan pada pondasi ilmu yang benar. Bukanlah sebuah ilmu melainkan sebagai perantara dalam beramal. Ilmu merupakan sebab sedangkan amal adalah buah dari ilmu. Syaikh Albani  telah menjelaskan hal tersebut dalam banyak majelis-majelisnya.</p>
<p><strong>Ketiga,</strong></p>
<p>Ilmu dapat mewujudkan kebahagiaan jiwa.Ini berbeda dengan amal,karena amal sulit diwujudkan kecuali bagi siapa yang diberi <em>taufiq</em>. Telah kami dengar dan saksikan (<em>bahkan kami hidup bersama mereka</em>) beberapa gelintir penuntut ilmu yang terkadang di antara mereka pun turut serta dalam <em>tashfiyah</em> dan <em>tarbiyah </em>dengan penulisan kitab dan pemeriksaannya,akan tetapi amal perbuatan dan sikap mereka buruk<a href="#_ftn1">[1]</a>, menghalang-halangi dakwah yang penuh barokah ini serta menghalangi manusia untuk menerima dakwah ini. Orang-orang yang hatinya sakit dan tamak terhadap dunia ini menyebarkan dan mendengungkannya kepada para <em>masyayikh</em> dan orang-orang yang ikhlas dalam membela dakwah ini.</p>
<p>Orang-orang yang memiliki manhaj yang menyimpang (terutama kelompok takfiri) menjadikan permasalahan Syaikh Albani dalam bidang tarbiyah ini sebagai dalil atas rusaknya <em>al manhaj as salafi</em> dan menyebut bahwa pengikutnya adalah kaum <em>murji’ah</em> yang tidak peduli terhadap maksiat. Kelompok <em>Murji’ah</em> ialah kelompok yang mengatakan bahwa dosa itu tidak merusak keimanan.</p>
<p>Kebohongan dan kedustaan ini telah tersebar dan telah aku jelaskan kebatilannnya dalam muqodimah buku saya <em>Juhudul Imam Al-Bany fi Masailil Iman billahi Ta’ala (Kesungguhan Imam Al Bani dalam Masalah Iman kepada Allah Ta’ala) </em>yang dicetak oleh Pustaka Atsariyah.</p>
<p><strong>Keempat,</strong></p>
<p>Besarnya kebutuhan para penuntut ilmu pada umumnya dan <em>salafiyyun</em> pada khususnya terhadap pelajaran tarbiyah yang mengajarkan tata cara dan metode dalam bermuamalah dengan orang lain terutama apabila pelajaran ini tegak di atas perkataan Syaikh Albani  <em>rahimahullah, </em>maka hal tersebut – tidak diragukan lagi- lebih mudah diterima masyarakat.</p>
<p><strong>Kelima,</strong></p>
<p>Perlunya penjelasan betapa dalamnya pemikiran Syaikh Albani dalam tarbiyah dan bahwasanya selain beliau seorang yang alim, beliau juga seorang pembaharu dan <em>murobbi </em>(pendidik). Hal ini untuk membantah tuduhan dusta yang dilontarkan oleh musuh-musuh dakwah salafiyah pada umumnya dan orang-orang yang dengki kepada Syaikh Albani pada khususnya bahwa beliau hanya <strong>mengajarkan</strong> akan tetapi tidak mempunyai andil untuk <strong>mendidik</strong> murid-muridnya, meskipun tuduhan ini bisa saja benar pada sebagian orang.</p>
<p>Oleh karena itu perlu diperhatikan hal-hal penting sebagai berikut ini, yaitu :</p>
<p><strong>1. </strong>Beberapa kalangan membuat keragu-raguan bahwa Syaikh Albani tidak mempunyai murid di Yordania.</p>
<p>Faktor pendorongnya adalah <em>hasad</em> (dengki) yang membakar hatinya.Namun sudah merupakan <em>sunnatullah</em> adalah terbongkarnya kebathilan dan jelasnya kerancuan kebathilan tersebut.</p>
<p>(Satu contoh) ada seseorang melalui sebagian program televisi menyebarkan khabar bahwasanya tidak ada satupun murid Syaikh Albani di Yordania. Padahal orang ini sendiri pernah melalui wawancara telepon dengan majalah “<em>Al Furqon</em>” dari Kuwait menjelaskan kunjungan beberapa murid Syaikh Albani seraya mengatakan bahwa disisinya telah hadir murid Albani yang paling utama dan mulia ….dan dia pun menyebut nama-nama mereka. Pertemuan ini merupakan pertemuan terakhir mereka (murid-murid Syaikh Albani) dengannya ,dikarenakan manhajnya berubah. Saya tidak mengetahui apakah orang ini memiliki dua ucapan atau hanya mempermainkan dua orang ulama. Sebagaimana yang mereka katakan! Dan tidaklah aku katakan seperti ini melainkan untuk memberitahukan kedustaan ini.</p>
<p>Banyak hal di benakku untuk kutulis kedustaan-kedustaan yang mengherankan.Semoga aku dapat membuat tulisan ini sehingga pelaku kebathilan tidak terus-menerus berada diatas kebathilan mereka.</p>
<p>Ada contoh lain kedustaan dengan model yang berbeda dari seseorang seperti yang pertama diatas. Dia memiliki cinta di antara lembah-lembah kebahagiaan. Dan bergerak dibelakang ambisi kekuasaan dan kemashlahatan yang fana atas nama dakwah yang rendah. Aku tidak bisa membayangkan ada seorang yang menisbahkan dirinya kepada dakwah yang penuh barokah ini yang tegak di atas wahyu, lalu berdusta dan membolak-balikkan fakta, menuduh orang lain dengan tuduhan palsu dan kebohongan, bukan karena lalai atau lupa, akan tetapi dengan kesengajaan dan mempunyai maksud tertentu serta menyebarkan tuduhan dan <em>syubhat</em> yang merusak kehormatan manusia, mengeluarkan siapa saja dan kapan saja yang dikehendaki dari dakwah ini.</p>
<p>Beberapa hari yang lalu ada seorang da’i salafy dari Maroko. Celakalah, orang yang menuduh da’i ini. Ketika orang yang menuduh ini diungkap kesalahannya, dia lantas membid’ahkan da’i asal Maroko tersebut. Lalu dia – <em>dengan tujuan agar tetap ada padanya setelah strategi dalam dakwahnya (yaitu siyasah, bukan dakwah) diungkap di negara tempat dia tinggal</em>- membid’ahkan dengan tanpa rasa malu dan sombong serta akhlak dan tarbiyah yang buruk ,juga tanpa kaidah ilmiyah dan cara yang syar’i, kecuali demi kekuasaan, keuntungan dan kedudukan. “ <em>Dan orang-orang yang dzalim kelak akan tahu kemana mereka akan kembali</em>”(QS. Asy Syu’ara:126).</p>
<p>Seandainya aku mau untuk merinci bathilnya dua (contoh) perkara dan metode yang mengatasnamakan ilmu, tashfiyah dan tarbiyah ini ,pasti dibutuhkan kertas dan pena yang banyak,dimana saya tidak mampu menuliskannya. Dan saya kasihan kepada pembaca, pendengarannya menjadi tuli karenanya.</p>
<p>Dan tidaklah saya membuat tulisan ini melainkan karena kebutuhan yang mendesak, meskipun seharusnya membutuhkan perincian. Saya kerjakan ini sebatas kebutuhan saja. Dan kepada Allah lah tempat mengadu dari hilangnya kesungguhan dan waktu di dalam perkara ini.</p>
<p>Ringkasnya dari apa yang disampaikan diatas, adalah peringatan terhadap apa yang telah diperingatkkan oleh Salaf. Ibnu Qayyim <em>rahimahullah</em> berkata di dalam kitab <em>“Ighotsatul Lahfan</em>” (2/160) setelah kalimat “ <em>dan untuk itu, dahulu para salaf mengatakan: berhati-hatilah dari dua golongan manusia, pengikut hawa nafsu yang terfitnah oleh hawa nafsunya dan pengikut dunia yang dibutakan oleh dunianya</em><strong><em>.”</em></strong></p>
<p><strong>Disinilah terdapat tipu daya yg halus dari setan dan para pengikutnya yaitu menampakkan keburukan dengan sesuatu yang baik dan mengajak manusia kepada hal itu.Hanya orang yang pandai yang dapat terlepas dari tipudaya ini.Apabila ia telah mendekat, ia jatuhkan kepadanya syubhat. </strong></p>
<p>Dinukil pula dari Ibnul Qoyyim dalam “<em>Iddatush Shobirin</em>” hal. 50 “<strong>Maka berhati-hatilah saudaraku tercinta, semangatlah! Semoga Allah menyelamatkan agama dan manhajmu dari pemikiran yang beraneka ragam dan berpindah-pindah manhaj, karena itu merupakan manhajnya ahlul bid’ah.”</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ibnul Qoyyim <em>rahimahullah</em> berkata dalam “<em>Thoriqul Hijrotain</em>” hal.602  “<strong>Dan diantara sifat-sifat mereka, banyaknya pemikiran yang beraneka ragam, cepatnya berubah, tidak istiqomah. Ketika engkau melihatnya dalam keadaan yang membuatmu kagum dalam agama, ibadah, petunjuk, dan kejujuran, lalu tiba-tiba berubah kepada keadaan sebaliknya seakan-akan dia tidak mengenal selainnya dan dia orang yang paling besar perubahannya.”</strong></p>
<p><strong>2. </strong>Sesungguhnya orang yang merusak dan mencampuradukkan antara yang haq dan yang bathil adalah orang yang menanggung dosa amal perbuatannya di dunia dan akhirat. Syaikh Albani tidak akan diadzab karena kesalahan orang lain baik dari murid-muridnya yang mempunyai hubungan lama atau sesaat ataupun yang  mengaku muridnya namun tidak ada bukti yang menjelaskan dia berguru pada beliau, melainkan hanya pengakuan omong kosong.</p>
<p><strong>3.</strong>Bahwasanya kebanyakan murid-murid Syaikh Albani dikenal dengan kebaikan akhlaknya dan semangat dalam kebaikan kepada sesama manusia dan <em>tawadlu, istiqomah</em> , hatinya selamat, aqidahnya benar dan bersemangat dalam (menghidupkan) sunnah.</p>
<p><strong>4.</strong>Sesungguhnya Syaikh Albani diketahui tarbiyahnya dari orang-orang yang pandai terkemuka. Bukan dari segelintir orang, untuk menjadi ukuran. Dan tidak dibenarkan menjadikan dalil atas perkataan yang tidak adil itu. Betapa seringnya kita dengarkan Syaikh kita Albani <em>rahimahullah</em> mengulang-ulang syair<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong> </strong></p>
<p align="center">غيري جنى وأنا المعذَّب فيكم        فكأنني سُبَّابة المتندّمِ</p>
<p align="center"><em>Orang lain telah berbuat dosa, dan aku diadzab karenanya</em></p>
<p align="center"><em>Seakan-akan aku ini orang yang suka mencaci</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Sebagai pelajaran yang besar, Allah menceritakan kepada kita kisah iblis. Bahwasanya dia pada mulanya bersama para malaikat, kemudian dijauhkan dari rahmat Allah Ta’ala, maka dia tidak bisa sombong lagi di surga Allah <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>. Barang siapa <em>takabbur</em><a href="#_ftn3">[3]</a> tidak ada baginya kedudukan dalam dakwah ini kecuali pada barisan belakang. Dan dijauhkannya dari tanggung jawab sesuai dengan sunnatullah <em>kauniyah</em> dan <em>syar’iyyah</em>,bukan dengan perkara-perkara hizbiyyah dan aturan-aturan yang penuh tipu daya</p>
<p><strong>5.</strong>Seyogyanya menutup celah kesempatan dari maksud orang-orang yang selalu mengatakan bahwa “<strong>Syaikh Albani </strong><strong>mengajar </strong><strong>tetapi tidak mendidik”,</strong> karena tidak ada tujuan dari orang-orang yang mendustakan dan mengatakan demikian melainkan menghalang-halangi manusia dari dakwah Syaikh Albani dan keterangan-keteranganya serta menimbulkan keragu-raguan pada dakwah yang penuh <em>barokah</em> ini. Maka janganlah menjadi orang yang lalai dan menjadi jembatan bagi orang-orang yang dzolim.</p>
<p><strong>6.</strong>Wajib bagi murid-murid Syaikh <em>rahimahullah</em> meskipun mereka berbeda derajat dan ilmu mereka agar menyatukan tujuan mereka dalam menyebarkan dakwah beliau dan hendaklah sadar bahwa tingkah laku mereka dihitung sebagai bagian dari dakwah yang penuh barokah ini. Perbedaan yang besar biarlah tetap ada di antara mereka  dan  mereka bersatu di atas perselisihan orang-orang yang membuat makar (tipu daya) kepada mereka yang menjadikan dakwah sebagai tujuan untuk kepentingan dunia kecuali jika menampakkan taubat dan diketahui keistiqomahannya.</p>
<p><strong>7.</strong><strong> </strong>Orang-orang yang menisbahkan diri mereka sebagai murid Syaikh Albani memiliki kadar ketaqwaan, tarbiyah, ilmu, <em>mulazamah</em>, umur, manhaj dan hidayah yang tidak sama atau bertingkat-tingkat . Mereka pun berbeda tujuan dan berbeda dalam pencapaian hasil. Sedikit dari mereka yang menjaga waktunya untuk benar-benar menuntut ilmu, belajar dan mengajarkan, mengkhususkan waktunya untuk itu serta mencurahkan segala tenaganya dalam bidang ini,sebagaimana yang telah dilakukan Syaikh Albani <em>rahimahullah. </em>Dan juga ada tingkatan, sebagian<em> </em>besar dari mereka<em> </em>dari kalangan pemuda-pemuda dakwah<em> </em>pada masa sekarang, mereka belum pernah bertemu dengan Syaikh, belum mengetahui petunjuk dan kemuliaan beliau dan<em> </em>belum membaca kitab-kitab dan metode penelitian beliau serta belum mengambil hukum-hukum yang dipilih beliau.Meskipun mereka pernah melihat Syaikh sebentar, ada banyak keragu-raguan atau sebagiannya yang tampak pengaruhnya pada akhlak mereka.(Namun) hal ini tidak menjadikannya kami tergesa-gesa dalam memperbaiki, mendidik dan menjaga mereka, tidak pula menjadikan kami menghukumi Syaikh bahwa beliau “mengajarkan ilmu namun tidak mendidik”. Dan kami tidak melampaui batas dan mensifati mereka bahwa mereka adalah murid-murid Syaikh Albani.Apalagi (jika) berdasarkan pernyataan Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> dalam “<em>Majmu’ Fatawa</em>” (11/512), beliau berkata : <strong>Setiap orang yang mengambil ilmu agama kepada orang lain, maka dia adalah gurunya</strong><strong>.S</strong><strong>etiap orang yang telah meninggal jika </strong><strong>perkataan, perbuatan dan pengaruh-pengaruh yang dia amalkan dalam agamanya sampai kepada manusia, maka dia adalah gurunya dari sisi ini. Maka <em>salaful ummah</em> (orang-orang yang terdahulu), adalah </strong><strong>guru bagi </strong><strong>orang yang datang belakangan beberapa kurun setelahnya.Namun </strong><strong>tidaklah orang </strong><strong>yang menisbahkan dirinya kepada seorang </strong><strong>Syaikh, meletakkan loyalitas dan antiloyalitasnya kepada gurunya saja, tetapi</strong><strong> kepada siapapun </strong><strong>yang beriman.</strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan yang penting : Seseorang tidak boleh merasa puas dengan apa yang tidak ia dapatkan (ilmu), hendaklah dia memperbaiki niatnya ketika menyandarkan dirinya kepada seorang Syaikh dan mengetahui kadar kedudukannya. Kami telah teruji oleh beberapa orang yang mencintai Syaikh maupun yang mengkritiknya dimana mereka menjadikan hal tersebut sebagai tangga untuk kepentingan tertentu, dan tidak ada daya dan kekuatan melainkan Allah.</p>
<p align="center"><span style="font-size: medium;">وآخر دعوانا أن الحمد لله رب العالمي</span></p>
<p>(Ditulis oleh Abu Ubaidah Masyhur bin Hasan Alu Salman setelah sholat Ashar, pada hari Kamis 11- 06 -1430 H)<br />
Sumber :<a href="http://http://www.mashhoor.net/">Website Fadhilatusy Syaikh Masyhur Hasan Salman</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Sebagai contoh mereka, Syaikh Albani mengatakan “<em>saya tidak mendidik”</em>. Maka kemudian gembiralah dengan hal ini orang-orang yang menanti kesalahan Syaikh Albani, lalu mereka menyebarkannya.</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Penyairnya adalah Muhammad bin Syaraf Al Qirwany (wafat tahun 490 H). Bait syair itu disebutkan oleh Al Khatib At Tibrizy dalam “<em>Al-Idhah</em>” (hal.211) dan Al Baghdady dalam “<em>Khizanatul Adab</em>” (2/411) dengan lafadz “<em>al mu’aqab</em>” sebagai ganti “<em>al mu’adzdzab</em>”. Dan disebutkan oleh Al ‘Amily dalam “<em>Al Kasykul</em>” (2/221) dan Ahmad Al Hasyimy dalam “<em>As Sihrul Halal”</em> (101) dengan lafadsz sebagaimana yang disebutkan Syaikh Al Bani <em>rahimahullah</em> dan itu yang tetap.</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Nabi <em>Shallallahu alaihi wa sallam</em> mengartikan makna sombong dalam sabdanya: “ Menolak kebenaran dan meremehkan manusia”. Barang siapa yang diuji dengan dua penyakit ini, maka Allah akan mencabut janjiNya darinya. Allah berfirman “ <em>(Benar, tetapi) janjiku tidak berlaku bagi orang-orang dzalim</em>”. Maka perhatikanlah rahasia pada nashab kalimat   الظالمين bukan di<em>rafa’</em>kan. Dan tidaklah sebab kegagalan Harakiyyun dan hizbiyyun  kecuali pada perkara ini. Perkembangan dakwah salafiyah di Madinah Nabawiyah yang pertama dan diantara keistimewaannya bahwasanya dakwah ini menafikan keburukan-keburukan mereka, maka keistimewaan kota ini semakin bertambah ketika disertai dengan dakwah ini, yaitu menafikan keburukan-keburukan mereka dan para penyerunya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/07/tarbiyah-menurut-syaikh-albani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
