<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; ilmu</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/ilmu/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>6 Tips Meraih Ilmu</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 23:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ishaq Al Huwainy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringkasan Ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم
“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “
Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم</span></span></span></p>
<p><em>“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “</em></p>
<p>Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya <em>Ta’ala</em></p>
<p>Imam Bukhari ketika menyebut kitab Ilmu di <em>shahih</em>nya, memulai dengan menyebut Keutamaan ilmu. Beliau berkata: Bab “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan.” Kemudian menyebutkan firman Allah, “<em>Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (Tuhan)  yang berhak disembah selain Allah</em>.“</p>
<p>Maka amal perbuatan itu tidak diterima kecuali apabila berlandaskan atas ilmu.</p>
<p>Seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya kecuali melalui jalan para Rasul, untuk itu Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menganjurkan untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">من سلك طريقاً يلتمس فيه علما سهل الله له طريقاً إلى الجنة</span></span></span></p>
<p><em>“Barang siapa menití jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkannya jalan menuju syurga.”</em></p>
<p>Orang yang menuntut ilmu syar’i yang dapat mendekatkannya kepada Allah adalah orang yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak peduli dengan hal yang remeh. Akan tetapi, menuntut ilmu tidak akan diperoleh seseorang melainkan apabila telah terkumpul padanya beberapa sifat yang telah disebutkan para ulama :</p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Arial;"><span style="color: #000;">أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ &#8230;&#8230;&#8230;.. سأنييك عن تفاصيلها ببيان</span></span></span></p>
<p>ذكاء وحرص وافتقار وغربة &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. وتلقين أستاذٍ وطول زمان</p>
<p><em>Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu, melainkan dengan enam perkara</em></p>
<p><em>Kuberitahukan kepadamu rinciannya secara jelas</em></p>
<p><em>Kecerdasan, bersungguh-sungguh, merasa butuh, mengasingkan diri,</em></p>
<p><em>bimbingan ustadz dan waktu yang lama</em></p>
<p>Sifat-sifat ini jika dimiliki seorang penuntut ilmu, niscaya akan tercapai tujuannya.</p>
<p>Sifat-sifat  itu diantaranya ialah:</p>
<p><strong>1. Kecerdasan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ilmu tidak diberikan kepada orang bodoh.Dan diantara tanda-tanda kecerdasan penuntut ilmu yaitu memulai hal yang kecil sebelum yang besar. Sebagaimana disebutkan Bukhari pada firman Allah :</p>
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #000;">ولكن كونوا ربا نيين</span></span></strong></p>
<p><em>&#8220;akan tetapi (dia berkata): &#8220;Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani.”(Al imran : 79)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yang dimaksud <em>rabbani</em> adalah orang yang mengajarkan dari hal yang kecil sebelum hal yang besar. Dia mulai dari apa yang bersifat fardlu ‘ain baginya, maka ia mulai dengan tauhid. Wajib bagi penuntut ilmu mempunyai kecerdasan, karena kecerdasan ini akan memberinya manfaat dalam mendapatkan ilmu.</p>
<p><strong>2. Bersungguh-sungguh</strong></p>
<p>Suatu hal yang paling besar yang banyak diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah waktu. Waktu merupakan umur. Maka ulama kita –<em>semoga Allah merahmati mereka</em>- adalah orang yang paling perhatian dalam masalah waktu.</p>
<p>Seorang imam terpercaya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Rozi berkata : ”Kami memasuki Mesir dan menetap selama tujuh bulan. Kami tidak pernah merasakan kuah. Pada siang hari kami belajar kepada Syeikh, dan pada malam harinya kami menyalin materi”. Kemudian dia berkata, ”Lalu kami pergi untuk mengikuti pelajaran salah satu syeikh., ketika sampai di sana kami mendapati syeikh sedang sakit. Lalu kami hendak makan dan membeli ikan. Setelah itu kami membawanya ke rumah tersebut dan ternyata sudah jadwalnya syeikh yang lain untuk mengajar. Lalu kami tinggalkan ikan tersebut dan kami berangkat.” Setelah selesai pelajaran, dia berkata : ”Kami tidak sempat memanaskannya sehingga kami memakannya dalam keadaan mentah.” Hal ini menunjukkan perhatian mereka yang besar terhadap waktu.</p>
<p><strong>3. Merasa membutuhkan</strong></p>
<p>Meskipun engkau telah memperoleh ilmu, jangan mengira bahwa dirimu berada di atas segalanya. Merasa membutuhkan adalah hal yang penting bagi penuntut ilmu dengan selalu merasa bahwa dia belum mencapai sesuatu. Imam Bukhori, seorang ulama besar menceritakan tentang muridnya Imam Tirmidzi.</p>
<p>Betapa indahnya perkataan Sufyan Ats Tsauri : <em>Seseorang  tidak akan mulia sampai mengambil ilmu dari orang yang lebih pandai darinya dan dari orang yang semisalnya dan yang berada di bawahnya</em>.”</p>
<p>Merasa membutuhkan bagi seorang penuntut ilmu itu sangat penting. Dasarnya adalah tawadlu dan menjaga jiwa.</p>
<p><strong>4. Ghurbah (mengasingkan diri )</strong></p>
<p><em>Ghurbah</em> di sini mempunyai dua makna:</p>
<ul>
<li>Melakukan      perjalanan jauh untuk menuntut ilmu.Yaitu kamu bepergian dan meningggalkan keluarga dan tempat tinggalmu untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini merupakan sesuatu kebanggaan para ulama terdahulu terutama ulama hadits. Apakah di antara kita saat ini ada yang memiliki keinginan yang kuat meski berada di kejauhan ketika mendengar hadits, ”Barangsiapa yang mengatakan <em>Lailaha illallah</em> Muhammad Rasulullah, dibukakan baginya kedelapan pintu surga.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Tidak      berkumpul dengan manusia.Yaitu sesungguhnya teman-temanmu yang bersamamu dalam menghabiskan waktu adalah para penuntut ilmu. Sehingga engkau merasa asing jika berada di suatu tempat yang penduduknya bukan penuntut ilmu.</li>
</ul>
<p><strong>5. Bimbingan Guru</strong></p>
<p>Mengambil ilmu dari para guru (Syeikh) memberimu 3 faedah :</p>
<ul>
<li>Mempersingkat      waktu.Kitab yang biasa engkau baca dalam waktu satu bulan,maka dengan bimbingan guru dapat diringkas hanya dalam waktu satu pekan saja dengan ringkasan yang baik.</li>
<li>Meluruskan      pemahaman yang keliru</li>
<li>Mengajarkan      adab.</li>
</ul>
<p>Maka merendahlah kamu di hadapan guru meskipun engkau memiliki ilmu yang tidak dimilikinya. Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bin Jabr <em>rahimahullah</em>, ”Tidak akan memperoleh ilmu dua golongan, orang yang malu dan orang yang <em>takabbur</em>.”</p>
<p><strong>6. Waktu yang lama</strong></p>
<p>Menuntut ilmu itu dalam waktu yang lama merupakan hal yang sangat penting bagi penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu tidak boleh terburu-buru dan merasa cukup dengan sedikit dari apa yang sudah dipelajarinya. Dan tidak boleh merasa cukup dengan membaca buku saja. Maka wajib baginya untuk menuntut ilmu sepanjang umur dan waktu.</p>
<p>Sumber : Ringkasan ceramah <em>Kaifa Athlubul Ilma</em>,oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy di <a href="http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696">http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Belajar Ilmu atau Pelembutan Hati?</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/belajar-ilmu-atau-pelembutan-hati/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/belajar-ilmu-atau-pelembutan-hati/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 31 Jul 2009 22:50:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Masyhur Hasan Salman</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[tazkiyah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=336</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan    : Manakah yang lebih utama, menyibukkan diri dengan urusan penyucian jiwa ataukah menyibukkan diri dengan ilmu dan belajar ?
Jawab : Barangsiapa yang mempelajari agama Allah dan mengetahui maksud serta hukum-hukumnya maka dia akan tetap tegar diatas ilmu hingga kematian.Ilmu akan melapangkan dadanya untuk menerima agama Allah dan menenangkan hatinya. Tak seorangpun yang lebih tenang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan    :</strong> Manakah yang lebih utama, menyibukkan diri dengan urusan penyucian jiwa ataukah menyibukkan diri dengan ilmu dan belajar ?</p>
<p><strong>Jawab</strong> : Barangsiapa yang mempelajari agama Allah dan mengetahui maksud serta hukum-hukumnya maka dia akan tetap tegar diatas ilmu hingga kematian.Ilmu akan melapangkan dadanya untuk menerima agama Allah dan menenangkan hatinya. Tak seorangpun yang lebih tenang hatinya dibandingkan para ulama sebagai buah dari agamanya.Hal ini karena mereka memberikan setiap sesuatu sesuai dengan yang semestinya</p>
<p>Pembahasan tentang penghalusan hati (<em>raqaiq</em>) dan kezuhudan memang dapat mendatangkan ketenangan dalam hati. Akan tetapi, sedikit sekali pembahasannya yang terlepas dari berbagai kekurangan seperti berbaurnya riwayat-riwayat <em>dhoif</em> dengan <em>shahih</em> dan sikap berlebih-lebihan. Terkadang Syaikhnya benar dalam penyampaiannya, akan tetapi para pendengarnya yang kurang tepat dalam penerapannya dikerenakan rancunya mereka dalam memahami beberapa perkara. Maka segala sesuatunyapun tidak berdasar atas ilmu.</p>
<p>Saat ini, kewajiban yang utama adalah ilmu. Penyimpangan dan kebodohan adalah penyebab dari musibah yang menimpa umat ini. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin bertakwa kepada Allah dengan melakukan perbaikan hendaklah memulainya dengan memerangi berbagai penyimpangan dan kebodohan.</p>
<p>Apabila ilmu telah menyebar dikalangan manusia dan keyakinan yang benar telah masuk kedalam hati mereka, maka keadaan kita akan membaik dan akhirnya kebahagiaan akan berhasil kita raih. Yaitu keyakinan bahwa agama Allah itu haq dan kemashlahatan dunia sebelum akherat mereka hanya dapat diraih dengan mengikuti Al Qur’an dan Sunnah nabawiyah yang <em>shohih</em>. Itulah kewajiban kita saat ini. Wajib bagi setiap insan untuk menyibukkan diri dan orang sekitarnya dengan menuntut ilmu.</p>
<p>Semoga Allah memberikan kunci-kunci kebaikan kepada kita dan menutup pintu-pintu keburukan dari kita serta menjadikan kita termasuk orang-orang yang selalu mendapat petunjuk. Semoga Allah menjadikan kita para penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dengan ikhlas dan tidak hanya mencari keuntungan pribadinya saja serta mengetahui kewajiban yang harus dikerjakan pada waktunya.</p>
<p>Sumber:Fatawa Syaikh Masyhur Hasan Salman di  <a href="http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=309">http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=309</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/belajar-ilmu-atau-pelembutan-hati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
