<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; kaidah</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/kaidah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>6 Tips Meraih Ilmu</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 Aug 2009 23:01:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abu Ishaq Al Huwainy</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ringkasan Ceramah]]></category>
		<category><![CDATA[ilmu]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=374</guid>
		<description><![CDATA[Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :
إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم
“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “
Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sesungguhnya sesuatu yang paling besar untuk diwariskan berdasarkan kesepakatan penduduk bumi adalah ilmu. Sesungguhnya Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">إن الأنبياء لم يورثوا ديناراً ولا درهماً إنما ورثوا العلم</span></span></span></p>
<p><em>“ Sesungguhnya para Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mewariskan dinar, tidak pula dirham. Mereka hanyalah mewariskan ilmu “</em></p>
<p>Dan  yang dimaksud dengan ilmu adalah Ilmu syar’I yang dapat mendekatkan seorang hamba kepada Rabbnya <em>Ta’ala</em></p>
<p>Imam Bukhari ketika menyebut kitab Ilmu di <em>shahih</em>nya, memulai dengan menyebut Keutamaan ilmu. Beliau berkata: Bab “Ilmu itu sebelum perkataan dan perbuatan.” Kemudian menyebutkan firman Allah, “<em>Maka ketahuilah (ilmuilah), bahwa Sesungguhnya tidak ada Ilah (Tuhan)  yang berhak disembah selain Allah</em>.“</p>
<p>Maka amal perbuatan itu tidak diterima kecuali apabila berlandaskan atas ilmu.</p>
<p>Seorang hamba tidak mengetahui apa yang dicintai Allah dan diridhoiNya kecuali melalui jalan para Rasul, untuk itu Nabi <em>Shallallahu ‘alaihi wasallam</em> menganjurkan untuk menuntut ilmu. Beliau bersabda :</p>
<p><span style="font-family: Arial;"><span style="font-size: medium;"><span style="color: #000;">من سلك طريقاً يلتمس فيه علما سهل الله له طريقاً إلى الجنة</span></span></span></p>
<p><em>“Barang siapa menití jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah memudahkannya jalan menuju syurga.”</em></p>
<p>Orang yang menuntut ilmu syar’i yang dapat mendekatkannya kepada Allah adalah orang yang mempunyai cita-cita tinggi, tidak peduli dengan hal yang remeh. Akan tetapi, menuntut ilmu tidak akan diperoleh seseorang melainkan apabila telah terkumpul padanya beberapa sifat yang telah disebutkan para ulama :</p>
<p><em> </em></p>
<p><span style="font-size: medium;"><span style="font-family: Arial;"><span style="color: #000;">أخي لن تنال العلم إلا بستةٍ &#8230;&#8230;&#8230;.. سأنييك عن تفاصيلها ببيان</span></span></span></p>
<p>ذكاء وحرص وافتقار وغربة &#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.. وتلقين أستاذٍ وطول زمان</p>
<p><em>Saudaraku, engkau tidak akan mendapatkan ilmu, melainkan dengan enam perkara</em></p>
<p><em>Kuberitahukan kepadamu rinciannya secara jelas</em></p>
<p><em>Kecerdasan, bersungguh-sungguh, merasa butuh, mengasingkan diri,</em></p>
<p><em>bimbingan ustadz dan waktu yang lama</em></p>
<p>Sifat-sifat ini jika dimiliki seorang penuntut ilmu, niscaya akan tercapai tujuannya.</p>
<p>Sifat-sifat  itu diantaranya ialah:</p>
<p><strong>1. Kecerdasan</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Ilmu tidak diberikan kepada orang bodoh.Dan diantara tanda-tanda kecerdasan penuntut ilmu yaitu memulai hal yang kecil sebelum yang besar. Sebagaimana disebutkan Bukhari pada firman Allah :</p>
<p><strong><span style="color: #000000;"><span style="color: #000;">ولكن كونوا ربا نيين</span></span></strong></p>
<p><em>&#8220;akan tetapi (dia berkata): &#8220;Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani.”(Al imran : 79)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Yang dimaksud <em>rabbani</em> adalah orang yang mengajarkan dari hal yang kecil sebelum hal yang besar. Dia mulai dari apa yang bersifat fardlu ‘ain baginya, maka ia mulai dengan tauhid. Wajib bagi penuntut ilmu mempunyai kecerdasan, karena kecerdasan ini akan memberinya manfaat dalam mendapatkan ilmu.</p>
<p><strong>2. Bersungguh-sungguh</strong></p>
<p>Suatu hal yang paling besar yang banyak diperhatikan oleh penuntut ilmu adalah waktu. Waktu merupakan umur. Maka ulama kita –<em>semoga Allah merahmati mereka</em>- adalah orang yang paling perhatian dalam masalah waktu.</p>
<p>Seorang imam terpercaya Abu Muhammad Abdurrahman bin Abi Hatim Ar Rozi berkata : ”Kami memasuki Mesir dan menetap selama tujuh bulan. Kami tidak pernah merasakan kuah. Pada siang hari kami belajar kepada Syeikh, dan pada malam harinya kami menyalin materi”. Kemudian dia berkata, ”Lalu kami pergi untuk mengikuti pelajaran salah satu syeikh., ketika sampai di sana kami mendapati syeikh sedang sakit. Lalu kami hendak makan dan membeli ikan. Setelah itu kami membawanya ke rumah tersebut dan ternyata sudah jadwalnya syeikh yang lain untuk mengajar. Lalu kami tinggalkan ikan tersebut dan kami berangkat.” Setelah selesai pelajaran, dia berkata : ”Kami tidak sempat memanaskannya sehingga kami memakannya dalam keadaan mentah.” Hal ini menunjukkan perhatian mereka yang besar terhadap waktu.</p>
<p><strong>3. Merasa membutuhkan</strong></p>
<p>Meskipun engkau telah memperoleh ilmu, jangan mengira bahwa dirimu berada di atas segalanya. Merasa membutuhkan adalah hal yang penting bagi penuntut ilmu dengan selalu merasa bahwa dia belum mencapai sesuatu. Imam Bukhori, seorang ulama besar menceritakan tentang muridnya Imam Tirmidzi.</p>
<p>Betapa indahnya perkataan Sufyan Ats Tsauri : <em>Seseorang  tidak akan mulia sampai mengambil ilmu dari orang yang lebih pandai darinya dan dari orang yang semisalnya dan yang berada di bawahnya</em>.”</p>
<p>Merasa membutuhkan bagi seorang penuntut ilmu itu sangat penting. Dasarnya adalah tawadlu dan menjaga jiwa.</p>
<p><strong>4. Ghurbah (mengasingkan diri )</strong></p>
<p><em>Ghurbah</em> di sini mempunyai dua makna:</p>
<ul>
<li>Melakukan      perjalanan jauh untuk menuntut ilmu.Yaitu kamu bepergian dan meningggalkan keluarga dan tempat tinggalmu untuk menuntut ilmu. Perjalanan ini merupakan sesuatu kebanggaan para ulama terdahulu terutama ulama hadits. Apakah di antara kita saat ini ada yang memiliki keinginan yang kuat meski berada di kejauhan ketika mendengar hadits, ”Barangsiapa yang mengatakan <em>Lailaha illallah</em> Muhammad Rasulullah, dibukakan baginya kedelapan pintu surga.”</li>
</ul>
<ul>
<li>Tidak      berkumpul dengan manusia.Yaitu sesungguhnya teman-temanmu yang bersamamu dalam menghabiskan waktu adalah para penuntut ilmu. Sehingga engkau merasa asing jika berada di suatu tempat yang penduduknya bukan penuntut ilmu.</li>
</ul>
<p><strong>5. Bimbingan Guru</strong></p>
<p>Mengambil ilmu dari para guru (Syeikh) memberimu 3 faedah :</p>
<ul>
<li>Mempersingkat      waktu.Kitab yang biasa engkau baca dalam waktu satu bulan,maka dengan bimbingan guru dapat diringkas hanya dalam waktu satu pekan saja dengan ringkasan yang baik.</li>
<li>Meluruskan      pemahaman yang keliru</li>
<li>Mengajarkan      adab.</li>
</ul>
<p>Maka merendahlah kamu di hadapan guru meskipun engkau memiliki ilmu yang tidak dimilikinya. Betapa indahnya apa yang dikatakan oleh Mujahid bin Jabr <em>rahimahullah</em>, ”Tidak akan memperoleh ilmu dua golongan, orang yang malu dan orang yang <em>takabbur</em>.”</p>
<p><strong>6. Waktu yang lama</strong></p>
<p>Menuntut ilmu itu dalam waktu yang lama merupakan hal yang sangat penting bagi penuntut ilmu. Penuntut ilmu itu tidak boleh terburu-buru dan merasa cukup dengan sedikit dari apa yang sudah dipelajarinya. Dan tidak boleh merasa cukup dengan membaca buku saja. Maka wajib baginya untuk menuntut ilmu sepanjang umur dan waktu.</p>
<p>Sumber : Ringkasan ceramah <em>Kaifa Athlubul Ilma</em>,oleh Syaikh Abu Ishaq Al Huwainy di <a href="http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696">http://www.alheweny.org/new/play.php?catsmktba=696</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/6-tips-meraih-ilmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>10 Langkah Meningkatkan Kemampuan Membaca</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/07/10-langkah-meningkatkan-kemampuan-membaca/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/07/10-langkah-meningkatkan-kemampuan-membaca/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 28 Jul 2009 07:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Sulthan Dwifan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[langkah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=316</guid>
		<description><![CDATA[Tulisan ini bersumber dari situs yang dibina oleh Asy Syaikh Alawy Abdul Qodir As Saqof hafidzahullah.
Inilah sepuluh langkah untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca, sehingga anda menjadi orang yang kuat dalam membaca dan agar anda berubah menjadi pembaca yang besar. Saya memilihnya untuk anda –pembaca yang mulia- di antara sepuluh makalah dalam bahasa Inggris yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisan ini bersumber dari situs yang dibina oleh Asy Syaikh Alawy Abdul Qodir As Saqof <em>hafidzahullah</em>.</p>
<p>Inilah sepuluh langkah untuk meningkatkan kemampuan anda dalam membaca, sehingga anda menjadi orang yang kuat dalam membaca dan agar anda berubah menjadi pembaca yang besar. Saya memilihnya untuk anda –<em>pembaca yang mulia</em>- di antara sepuluh makalah dalam bahasa Inggris yang tersebar dalam tema ini. Dan saya menerjemahkannya dengan beberapa perubahan. Yaitu dari seorang pelatih, spesialis dalam perkembangan dan peningkatan kemampuan, Jim M. Allen. Berikut ini sepuluh langkah tersebut:</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Bukan suatu hal yang penting anda menjadi pembaca yang cepat untuk mendapatkan manfaat.</strong></p>
<p>Beberapa orang membaca dengan kecepatan yang tinggi, lainnya dengan kecepatan sedang, dan yang lain dengan kecepatan lambat untuk memperoleh setiap keterangan. Kecepatan sebenarnya tidak terlalu penting. Akan tetapi yang penting adalah memperoleh manfaat yang anda inginkan dan kehendaki dari membaca buku, makalah atau majalah.</p>
<p>Biarkanlah saya memberikan sebuah rahasia, yang tidak dikatakan pada pembahasan-pembahasan tentang membaca pada umumnya dan tentang membaca cepat pada khususnya. Yaitu bahwasanya tabiat dan judul buku (bisa saja) mengharuskan anda membaca cepat sehingga anda memperoleh manfaat yang banyak. Buku-buku yang yang berisi kumpulan makalah misalnya, seperti buku “<em>Maqolat li Kibari  Kuttabil  Arabiyah fil ‘Ashril Hadits” </em>oleh Syeikh Muhammad Ibrahim al Hamd. Dan saya sarankan untuk membacanya, karena buku ini mengandung manfaat-manfaat yang bagus dan makalah-makalah luar biasa.</p>
<p>Buku yang berbentuk<em> e-book</em> dibeberapa situs internet memungkinkan untuk dibaca cepat. Adapun ketika kita mengambil salah satu buku fiqih tertentu atau buku yang memerlukan pemikiran yang mendalam, maka tabiat buku memaksa kita untuk membaca dengan lambat, atau kecepatan sedang sehingga anda memahami apa yang terkandung di dalamnya. Untuk itu kecepatan membaca bertingkat-tingkat sesuai dengan tabiat buku dan judulnya. Dan ingatlah selalu bahwa yang penting adalah memperoleh manfaat, bukan selesainya membaca dengan cepat atau kecepatan tinggi.</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Ketahuilah: Mengapa anda membaca?</strong></p>
<p>Anda wajib mengetahui tujuan sebelum membaca. Dan yang menjadi landasannya adalah dengan memilih buku-buku yang anda baca dengan pemahaman dan pengetahuan.Apakah anda membaca untuk   hiburan dan kesenangan? Ataukah anda membaca untuk belajar yang berkelanjutan yang meningkatkan pemahaman, pengetahuan dan kemampuan anda, pandangan hidup, hikmah atas sesuatu, pembangunan dan pembentukan kepribadian anda yang terdidik , kepemimpinan dan pemikiran sehingga anda bisa menjadi orang yang berpengaruh di lingkungan dan masyarakat sekitar anda?</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Anda tidak perlu membaca segala hal.</strong></p>
<p>Setiap buku, majalah, atau email tidaklah perlu dibaca secara lengkap. Umumnya majalah, email sebenarnya tidak mengandung sesuatu yang dapat memberi manfaat. Untuk itu hal yang penting adalah anda putuskan apa yang dibaca, dan waktu yang akan dihabiskan dalam membaca. Pilihlah buku yang sesuai dengan keahlian, kepentingan, dan bidang anda yang ingin anda tonjolkan.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Bukan hal yang penting anda membaca buku atau segala sesuatu yang ada di tangan anda.</strong></p>
<p>Apakah anda membaca setiap tulisan di majalah yang ada di hadapan anda? Dan apakah anda membaca setiap bagian dan bab dalam buku?</p>
<p>Yang penting dalam masalah ini, jika anda mengikuti metode “membaca segala sesuatu”, kadang anda membaca bab-bab atau tulisan yang banyak dimana sebenarnya tidak diperlukan untuk dibaca. Pilihlah bagian yang penting saja dari buku, yang menarik perhatian anda, dan yang sesuai dengan keterangan dan manfaat yang anda cari. Dan jadilah orang yang bisa memilih dalam membaca.</p>
<p>Dan salah seorang pemikir senior menyebutkan bahwasanya akal anda itu menghasilkan sesuai dengan apa yang anda isi di dalamnya. Yaitu seperti penggilingan, jika anda taruh gandum yang baik di dalamnya, maka akan mengeluarkan tepung yang baik pula, dan apabila anda taruh di dalamnya selain itu maka akan mengeluarkan sesuai dengan apa yang anda taruh tadi. Maka perhatikanlah apa yang anda taruh pada akal anda yang merupakan komponen utama yang anda miliki untuk berhukum dan bermuamalah dengan alam, problematika, imajinasi dan pikiran. Akal merupakan sumber pembentuk kepribadian anda. Masalah ini kembali pada anda, tidak ada campur tangan orang lain di dalamnya.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Ujilah kondisi jiwa dan pembawaan anda sebelum memulai membaca. </strong></p>
<p>Kondisi jiwa dan pembawaan sangat penting sebelum memulai membaca di waktu-waktu tertentu. Ketika kondisi jiwa sedang jernih, tidak jenuh,  maka anda dapat membaca buku-buku berbobot yang memerlukan konsentrasi yang tinggi. Jika anda merasa jenuh dan lelah maka pilihlah buku-buku yang mudah dan ringan yang sesuai dimana tidak membutuhkan keseriusan dalam membaca.</p>
<p><strong>6. </strong><strong>Buat skala prioritas dalam membaca.</strong></p>
<p>Jadikan kegiatan membaca anda sesuai dengan skala prioritas. Jika anda berniat mengarang sebuah buku, karya ilmiah, makalah, maka bacaan anda harus sesuai dengan judul yang anda niatkan. Ini adalah nasehat yang sangat penting bagi siapa saja yang ingin meneruskan membaca. Yaitu dengan menjadikan tujuan membaca bisa menghasilkan pemikiran, argumentasi dan imajinasi baru. Kadang anda menenukan sesuatu yang baru dari apa yang dibaca. Hal itu bisa didapat dari penulisan buku, karya ilmiyah dan makalah. Yang demikian ini –dari fakta penelitian dan pengalaman kebanyakan orang- dapat mendorong kita untuk meneruskan membaca dan itu merupakan faktor pendorong yang paling penting dalam membaca.</p>
<p><strong>7. </strong><strong>Perbaiki, atur dan siapkan tempat anda membaca.</strong></p>
<p>Anda akan membaca dan memahami dengan sebaik-baik keadaan, apabila tempat anda membaca teratur dan siap dengan keadaan yang dapat membantuanda membaca. Kenyamanan anda ketika duduk merupakan faktor penting untuk meneruskan membaca. Dahulu Syeikh ‘Ali Thonthowiy –<em>seorang Syeikh, da’i, sastrawan, pendidik dan salah seorang quro’ Arab senior pada zaman ini</em>- mengatur bantal-bantal yang berukuran berbeda-beda, dia letakkan dibelakang punggungnya atau menyadarkan punggungnya sesuai dengan posisi yang membantunya agar dapat senyaman mungkin ketika membaca.</p>
<p><strong>8. </strong><strong>Jika anda telah memulai membaca jangan berhenti.</strong></p>
<p>Bacalah langsung, jangan berhenti kecuali ada sebab darurat dan terpaksa harus berhenti. Jika anda telah selesai membaca dan anda memiliki beberapa pertanyaan, ulangi sekali lagi secara detail untuk mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benakanda atau mencari jawaban di buku-buku lain. Jika anda tidak memiliki pertanyaan, maka sebenarnya anda telah mendapatkan apa yang anda perlukan. Pertanyaan merupakan pintu kebaikan yang besar bagi siapa saja yang menginginkan perkembangan yang terus-menerus pada kepribadian, pembentukan pola pikir dan jiwa kepepimpinannya.</p>
<p>Saya teringat bahwa saya pernah menghadiri pelatihan manajemen keunggulan dan inovasi yang diadakan oleh Arab Saudi Administrasi Umum di kota Riyadh pada tanggal 8-10 Shafar 1428 H, diantara yang narasumber pada acara itu Prof. Michaell Marchurt dari Universitas George Washington di USA. Dia menyampaikan ceramah dengan judul “<em>Kepemimpinan Pada Abad 21: Pertanyaan lebih utama dari jawaban</em>”. Meskipun durasi ceramahnya hanya sekitar seperempat jam, itu merupakan  ceramah yang paling bagus dan menakjubkan pada pertemuan itu dan mendatangkan manfaat yang bagus bagiku. Sebabnya sangat mudah, bahwa ceramah itu memberikan metode bukan informasi.</p>
<p>Barangsiapa yang memiliki informasi maka dia seakan-akan memiliki sepotong emas dan barangsiapa yang memiliki manhaj (metode) seakan-akan dia memiliki tambang emas.</p>
<p>Apa yang saya inginkan untuk dipetik dari kisah tadi yaitu siapa yang menginginkan kesuksesan maka dia harus membayar beban-beban pertanyaan yaitu mulai dengan : mengapa?, apa?, bagaimana?, kapan?, dimana?, apakah? dan lain-lain, dan dia harus mengerahkan tenaga, penat dan keringat di dahinya serta sesuatu dari ketenangan jiwanya untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu.</p>
<p><strong>9. </strong><strong>Konsentrasilah </strong></p>
<p>Ingatlah baik-baik bahwa anda sedang membaca dan anda memiliki tujuan dari membaca. Untuk itu anda harus konsentrasi dalam materi yang dibaca. Jika anda kehilangan konsentrasi dan perhatian setelah membaca maka istirahatlah sejenak atau anda bisa membaca buku lain. Yang penting dapat dijaga jalannya bacaan sesuai dengan materi yang dibaca dan yang diharapkan manfaatnya pada pikiran dan benak anda yang berkembang secara terus-menerus pada saat membaca dan belajar dengan metode yang bermacam-macam. Jangan lupa sesungguhnya membaca itu metode belajar yang paling penting sebagaimana diajarkan dalam pelajaran-pelajaran.</p>
<p><strong>10. </strong><strong>Bertahaplah dan biasakan.</strong></p>
<p>Sesungguhnya seorang pembaca besar tidak dilahirkan di antara siang dan malam dan mereka melihat diri mereka sebagai seorang pembaca yang besar. Tetapi mereka kerja keras dan mencari sebab belajar dari kesalahan mereka baik dalam memilih buku atau metode membaca. Memahami dan mengerti pelajaran dari sela-sela penelitian, pengalaman dan kebiasaan.</p>
<p>Metode-metode yang telah saya sebutkan ini member anda bagian penting dan besar untuk meningkatkan kebiasaan anda membaca. Oleh karenanya tinggal memusatkan pikiran, yang penting hal itu kembali kepada anda wahai pembaca yamg mulia.</p>
<p>Membaca bukanlah hobi sebagaimana anggapan orang. Diantara lemahnya perkataan yaitu seseorang ketika ditanya apa hobinya, dia menjawab bahwa hobinya adalah membaca. Sesungguhnya membaca itu cara hidup, pelengkap, kebutuhan primer dan yang paling penting bagi siapa yang ingin menjadi penerang sinar dan cahaya, serta pemimpin yang berpengaruh di dalam kehidupan. Sebelum berpisah saya ajak untuk membaca kitab <em>“ ’Asyiq”</em> oleh Aidh Al Qorni yang didalamnya membahas kisahnya tentang membaca, manfaat-manfaatnya dan memaparkan beberapa contoh membaca dari salafush sholeh, kitab itu mengumpulkan antara hiburan dan faedah. Syeikh menulisnya dengan <em>uslub</em> yang mengandung nilai sastra yang tinggi.</p>
<p>Sumber:<a href="http://www.dorar.net/art/146">www.dorar.net</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/07/10-langkah-meningkatkan-kemampuan-membaca/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kaidah Penting Mengenal Kerancuan tentang Ahli Bait dan Para Sahabat</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/07/240/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/07/240/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 07:28:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Abdul Karim Al Harbi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Tematis]]></category>
		<category><![CDATA[ahli bait]]></category>
		<category><![CDATA[kaidah]]></category>
		<category><![CDATA[sahabat]]></category>
		<category><![CDATA[Sirah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=240</guid>
		<description><![CDATA[Kita dapat meringkas berbagai tuduhan dan syubuhat (kerancuan) yang diarahkan kepada sejarah ahlul bait dan para sahabat menjadi empat macam :
Pertama : Riwayat-riwayat dan berita yang lemah; yang batil dari segi sanad dan mungkar dari segi matan. Hal ini banyak dijumpai di dalam buku-buku yang harus diwaspadai oleh orang yang akan membacanya, karena di dalamnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kita dapat meringkas berbagai tuduhan dan <em>syubuhat</em> (kerancuan) yang diarahkan kepada sejarah ahlul bait dan para sahabat menjadi empat macam :</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Pertama</span></em></strong> : Riwayat-riwayat dan berita yang lemah; yang batil dari segi sanad dan mungkar dari segi matan. Hal ini banyak dijumpai di dalam buku-buku yang harus diwaspadai oleh orang yang akan membacanya, karena di dalamnya terkandung riwayat-riwayat yang dinisbahkan kepada ahlul bait dan sahabat-sahabat nabi radiyallahu ‘anhum ajma’in yang hakikatnya tidak sesuai dengan kedudukan dan derajat mereka yang tinggi.</p>
<p>Sesungguhnya buku-buku tersebut  di antara dua sampulnya banyak mengandung khabar-khabar dan atsar-atsar yang <em>dhaif</em> (lemah), batil serta <em>maudhu’</em> (palsu) tentang ahlul bait dan para sahabat nabi <em>rodhiyallahu ‘anhum ajma’in</em>. Dan kaidah (yang harus diterapkan) terhadap syubhat jenis ini adalah “Menolak dan membuangnya ke balik dinding”, karena kedustaan-kedustaan ini tidak sah dijadikan  oleh seorang muslim sebagai sandaran bagi aqidah dan agamanya. Karena (permasalahan) ahlul bait dan para sahabat nabi termasuk bagian dari aqidah seorang muslim.</p>
<p>Lalu bagaimana mungkin seorang muslim memperkenankan dirinya  menjadikan sandaran dalam pengajaran agamanya berupa hadits-hadits yang dibuat secara dusta yang tidak ada asal-usulnya, dan meninggalkan nash-nash yang shohih lagi sharih (jelas ) dari kitab Allah dan sunnah Rasul-Nya yang tsabit dan shahih.</p>
<p>Dan inilah al-qur’an, sungguh telah mensucikan ahlul bait dan mentazkiyah (merekomendasikan) para sahabat serta memuji mereka lebih dari satu ayat yang berbarakah.</p>
<p>Allah Ta’ala berfirman tentang ahlul bait :</p>
<p><em>“…sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya”.(</em>QS. Al-Ahzab [33] : 33).</p>
<p>Ayat ini adalah sumber mata air  bagi keutamaan ahlul bait nabi, yang mana dengan ayat tersebut Allah Ta’ala  telah memuliakan dan mensucikan mereka serta menghilangkan kotoran dari mereka berupa perbuatan buruk dan akhlak tercela.</p>
<p>Dia juga memuji dan menyanjung para sahabat di dalam ayat berbarakah yang banyak. Allah <em>Subhanahu wa Ta’ala</em> berfirman mensifati mereka :</p>
<p><em>“…kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya</em>”. (QS. Al-Fath [48]:28).</p>
<p>Allah Ta’ala menjelaskan di dalam ayat ini, ayat yang menghimpun kondisi para sahabat, bahwa mereka termasuk orang-orang yang ahli ruku’, ahli sujud, ahli shalat dan khusu’. Kemudian menerangkan keikhlasan dan kejujuran  yang ada di dalam lubuk hati mereka dalam firman-Nya (artinya: mencari karunia dan keridhaan-Nya). Ini termasuk amalan hati yang tidak dapat diketahui kecuali oleh Allah ‘Azza wa jalla Dzat yang Maha mengetahui yang ghaib maupun yang nampak, dan itulah makna keikhlasan dan kejujuran dalam mencari keridhaan Allah dan karunia-Nya.</p>
<p>Demikian pula Allah Ta’ala menjelaskan keadaan para sahabat terhadap peristiwa yang ada di antara mereka. Dia berfirman berbicara kepada rasul-Nya <em>shallahu ‘alaihi wa alihi wassalam</em> :</p>
<p><em>“…Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mukmin (62) …Allah telah mempersatukan hati mereka</em> (63). (QS. Al-Anfal [8]:62-63).</p>
<p>Maka hati ahlul bait dan hati para sahabat nabi semuanya terkumpul di atas kalimat yang sama, yakni (kalimat) tauhid, islam dan cinta. Maka ayat ini dan yang selainnya adalah asas yang selayaknya merujuk ke sana, dan meninggalkan apa saja yang dinukil dan ditulis berupa hadits-hadits dan khabar-khabar yang batil tentang haknya ahlul bait dan para sahabat rodhiyaallahu ‘anhum ajma’in.</p>
<p><em>Mencintai para sahabat dan kerabat (nabi) itu sunnah</em></p>
<p><em>Rabbku telah menyemaikan cinta (kepada mereka) bila Dia menghidupkanku</em></p>
<p><em>Dua golongan telah diikat oleh syariat Ahmad</em></p>
<p><em>Bapak dan ibuku sebagai tebusan, kedua golongan itu,</em></p>
<p><em>Dua golongan yang meniti jalan petunjuk, keduanya menegakkan agama Allah</em></p>
<p><em>Seolah ahlul bait dan para sahabat itu satu ruh yang menyatu dalam dua badan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan kita wajib mengetahui dengan baik bahwa ahlul bait dan para sahabat nabi ridwanullahi ‘alaihim tidak butuh hadits-hadits palsu dan dusta untuk menjelaskan keutamaan mereka, karena keutamaan mereka tidak ada yang mengingkarinya kecuali orang-orang yang sombong atau orang-orang yang tidak tahu berterimakasih.</p>
<p><em>Perumpamaan orang yang sering jatuh dalam kesalahan seperti kaca</em></p>
<p><em>Anda menyangkanya benar, padahal setiap yang memecahkanya akan hancur</em></p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Kedua </span></em></strong>: Hadits-hadits dan khabar-khabar tentang keutamaan dan kebaikan mereka telah diubah dan diputarbalikkan menjadi aib dan cela oleh tangan-tangan pendusta dan pemalsu.</p>
<p>Dan yang sangat mengherankan, pemilik <em>syubuhat</em> ini lupa kalau disana ada orang-orang yang menentang kebatilan mereka dengan membawakan riwayat-riwayat dan khabar-khabar yang shahih, yang membongkar kebatilan yang mereka serukan. Orang-orang ini beronda dan menyergap kebatilan tadi. Contoh syubuhat dan khabar yang menjadikan mereka di atas angin (mendapatkan kemenangan) :</p>
<ul>
<li>Peperangan Abu Bakar Ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu      melawan <em>ahlur riddah</em> (orang-orang murtad) setelah wafatnya nabi <em>Shallahu ‘alaihi wa alihi wasallam</em> sebagai bentuk ketaatan kepada Rasulullah yang memerintahkan untuk membunuh orang-orang yang mengganti agamanya dari kalangan orang-orang murtad serta untuk mempertahankan pagar islam dan kaum muslimin.</li>
</ul>
<p>Lalu datanglah “Sebagian Orang” , menjadikan keutamaan dan kebajikan ini sebagai aibnya Abu Bakar Ash-Shidiq <em>rodhiyallahu ‘anhu</em> –hanya kepada Allah kita berlindung- dengan cara menyebarkan syubuhat seputar perbuatan yang berbarakah ini yang telah dilakukan oleh khalifahnya Rasulullah Shallallahu <em>‘alaihi wa alihi wa sallam</em>. Mereka berdalih -dengan dusta- bahwa beliau telah memerangi orang-orang islam atau memerangi orang-orang yang enggan membaiat beliau.</p>
<p>Mereka melupakan <em>kibaru shahabah </em>(sahabat-sahabat senior) yang mendukung tindakan (beliau) yang diberkahi ini, bahkan umat telah ijma’ (bersepakat) menganggapnya sebagai amal kebaikan. Demikian pula mereka lupa terhadap dukungan dan barakahnya imam ahlul bait Ali bin Abu Thalib rodhiyallahu ‘anhu kepada Abu Bakar Ash-Shidiq rodhiyallahu ‘anhu di dalam peperangan melawan <em>ahli riddah </em>(orang-orang murtad). Abu Bakar berkata kepada Ali bin Abu Thalib Radhiyallahu ‘anhuma : “Apa pendapatmu wahai Abul Hasan ? Ali menjawab : <em>“Sesungguhnya aku berpendapat jika Engkau meninggalkan sesuatu yang dulu pernah diambil (zakatnya) oleh Rasul Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam dari mereka maka engkau telah menyelisihi sunnah Rasul Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam”.</em> Maka Abu Bakar berkata : <em>“Sungguh jika kamu berkata (demikian) maka aku katakan, sesungguhnya pasti aku akan memerangi mereka jika mereka menolak menyerahkan tali pelana unta”.<a href="#_edn1"><strong>[1]</strong></a></em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan termasuk dalil yang sangat gamblang yang menunjukkan keikhlasan Ali kepada Abu Bakar, nasehat tulusnya untuk kepentingan islam dan kaum muslimin serta semangatnya dalam mempertahankan khilafah dan persatuan kaum muslimin adalah sikapnya kepada Abu Bakar yang bertekad menuju <em>dzil qishah</em>, untuk memimpin langsung pasukan melawan orang-orang murtad.</p>
<p>Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata : “Ketika Abu Bakar keluar menuju <em>Dzil Qishah</em> dan sudah siap di atas untanya, Ali bin Abu Thalib mencegahnya seraya mengatakan : “Aku akan mengatakan seperti yang telah dikatakan oleh Rasulullah <em>Shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam</em> di perang uhud, “Sarungkan pedangmu, janganlah kamu membuat kami sedih karena kehilangan dirimu, sesungguhnya jika kami sedih atas kematianmu maka islam tidak akan eksis selama-lamanya”.<a href="#_edn2">[2]</a></p>
<p>Maka akhirnya Abu Bakar pun pulang mengikuti nasehat orang yang jujur lagi ikhlas, Ali radhiyallahu ‘anhu.</p>
<p>Dan setelah ini semua, kita akan mendatangi orang yang selalu mengulang-ulang ungkapan-ungkapan kedhaliman dan kelaliman “Sesungguhnya mereka menamakan kelompok yang menolak kekhilafahan Abu Bakar dengan sebutan Murtad secara dhalim dan penuh permusuhan”. (‘<em>Kamil An-Najjar wa jarimah al-Irtidad</em>” karya Nabil al-Kurkhi).</p>
<p>Maka diantara mereka ada orang-orang yang memutlakkan sebutan tersebut. Berikanlah kepada kami sifat-sifat mereka ! Kenapa kalian tidak menamai (juga) dengan sebutan tersebut serta dalil apa yang mereka jadikan pegangan, atau mereka tidak memiliki (dali-dalil) kecuali kebohongan, kedhaliman dan kelaliman dalam memutlakkan keputusan sejarah dengan cara yang lemah yang pembahasan ilmiyah tidak bisa menjadi sempurna dengan cara tsb.</p>
<ul>
<li>Demikian pula (Syubuhat) tentang Peperangan Amiril      Mukminin Ali r<em>adhiyallahu ‘anhu</em> melawan khawarij, sebagai bentuk perwujudan nubuwah nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam tentang mereka dan sebagai bentuk kepatuhan kepada beliau yang memerintahkan untuk membunuh mereka. Lalu kebajikan yang agung ini yang dilakukan oleh Ali radhiyallahu ‘anhu dan kepiwaian beliau dalam masalah hukum dan administrasi pemerintahan diubah oleh mereka menjadi keburukan. Dan kisah Abdullah bin Abbas yang telah diutus oleh Imam Ali radiyallahu ‘anhuma untuk membantah kaum khawarij termasuk dalil yang paling jelas bagi apa yang telah kami kemukakan.<a href="#_edn3">[3]</a></li>
</ul>
<ul>
<li>Juga (syubhat) tentang lengsernya Imam Hasan radhiyallahu ‘anhu dari kursi khilafah dan memberikannya kepada Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhu, untuk merealisasikan nubuwah nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam berupa <em>ishlah</em> (perdamaian) dan untuk menjaga darah kaum muslimin serta untuk menghimpun persatuan mereka. Lalu kemuliaan dan keutamaan tersebut dibalik menjadi kejahatan, sampai-sampai “Sebagian mereka” mencela penghulu pemuda surga Al-Hasan radhiyallahu ‘anhu dengan menyematkan gelar “Si Penghina Orang-orang mukmin”,<a href="#_edn4">[4]</a>dengan menghina dan mengejek beliau sebagai penghianat. Orang yang merugi ini pura-pura tidak tahu pujian nabi shallallahu ‘alaihi wa alihi wa sallam terhadap perbuatan Al-Hasan dengan sabdanya :</li>
</ul>
<p><em>“Sesungguhnya cucuku ini adalah sayyid, mudah-mudahan Allah mendamaikan dua kelompok kaum muslimin (yang bertikai) melalui dirinya”</em>.<a href="#_edn5">[5]</a> Dan sungguh itu telah terjadi.</p>
<ul>
<li>Demikian pula kodifikasi mushaf Al-Qur’an yang dilakukan oleh Khalifah ketiga Utsman orang yang syahid dan penyabar semoga Allah meridhainya. Kebajikan yang agung ini pun diubah dan diganti dengan celaan dan fitnah, padahal umat islam sampai hari ini telah menyebut dan menyepakati (perbuatan beliau) sebagai keutamaan besar terhadap islam dan kaum muslimin yang tidak ada yang mengetahui kadar keagungannya kecuali Allah Ta’ala dan orang-orang yang alim.</li>
</ul>
<p>Oleh karena itu Ali bin Abu Thalib melarang orang yang menghina Ustman rodhiyallahu ‘anhu, sambil mengatakan :</p>
<p>“Wahai manusia, janganlah kalian melampaui batas terhadap diri Ustman dan janganlah mengatakan tentangnya kecuali kebaikan. Demi Allah apa yang telah dilakukannya –mengumpulkan mushaf Al-Qur’an- melaluiu permusyawaratan dengan kami -para sahabat-, Demi Allah seandainya aku berkuasa niscaya aku juga akan melakukan seperti yang telah dia lakukan”.<a href="#_edn6">[6]</a></p>
<p>Dan (syubhat) yang selain tersebut berupa tuduhan dusta serta pemalsuan hakikat yang sebenarnya tentang haknya ahlul bait dan para sahabat masih banyak, yang akan panjang bila disebutkan. Dan contoh-contoh yang kami berikan hanya sekedar untuk menjelaskan (kebenaran), juga agar para pembaca sejarah (yang ditulis) melalui metode mereka menjadi berhati-hati dan waspada. Semoga Allah menunjuki mereka ke jalan kebenaran.</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Ketiga :</span></em></strong><span style="text-decoration: underline;"> </span> Asal kisah dan haditsnya shahih, tetapi “sebagian orang” telah menambahinya dengan sesuatu yang banyak, hingga yang tadinya hanya berupa kalimat yang tidak sampai satu halaman kini berubah menjadi kitab yang lengkap yang di dalamnya penuh dengan kebatilan dan kedustaan, misalnya :</p>
<ol>
<li>Peristiwa Saqifah, ia hanya sebuah hadits yang tidak sampai satu halaman. “Sebagian mereka” meriwayatkanya dan menambahinya dengan karangan-karangan palsu yang menyelisihi riwayat yang shahih, kemudian sebagian yang lain menerimanya dan menyusunnya menjadi sebuah buku yang lengkap dengan tujuan untuk mencela para sahabat radhiyaallahu ‘anhum, seperti yang dilakukan Al-Jauhari di dalam kitabnya “As-Saqifah” dan kitab-kitab lainnya yang telah dikarang oleh orang-orang yang memiliki tujuan yang sama dengan memasukkan kebohongan-kebohongan di kitab tersebut.</li>
</ol>
<ol>
<li>Demikian pula hadits “rizyatul khamis. Penjelasan makna hadits ini dan kumpulan thuruq (jalan riwayatnya) serta bantahan syubhatnya dapat dilihat di kitab “Al-‘Aqd an-Nafis bi Dirasat Hadits al-Khamis” serta kitab lainnya yang banyak.</li>
</ol>
<p>Maka para pembaca harus waspada dengan kisah ini dan hendaknya bisa membedakan antara kisah asli dengan kisah yang telah disusupi tambahan.</p>
<p>Dan biasanya Anda akan menjumpai kisah yang asalnya terdapat di dalam sumber-sumber yang terpercaya dan dengan sanad-sanad yang shahih, sedangkan tambahan-tambahannya diambil dari sumber-sumber dan sanad-sanad yang meragukan.</p>
<p>Tidak ragu lagi bahwa tambahan-tambahan yang meragukan dan batil ini telah bermain dan terus akan bermain dalam peran yang penting untuk mengacaukan hakikat yang sebenarnya dan membuat bingung orang banyak, hingga menjadikan sebagian orang menggambar sejarah ini dengan gambaran yang buruk dan mengeluarkan hukum-hukum yang dhalim kepada simbol umat islam ini disebabkan tuduhan dusta tersebut.</p>
<p><strong><em><span style="text-decoration: underline;">Keempat : </span></em></strong>Khabar dan hadits sanadnya shahih dan tidak ada tambahan dan pengurangan, sedangkan di dalamnya terdapat sesuatu berupa kesalahan yang menimpa sahabat yang  tidak ma’shum sebagaimana layaknya manusia lainnya disetiap waktu dan tempat. Maka kita katakan : Siapakah orang yang tidak memiliki kesalahan? Dan sipakah orang yang hanya memiliki kebaikan saja?</p>
<p>Sesungguhnya keyakinan yang benar terhadap para sahabat radhiyaallahu ‘anhum adalah meyakini bahwa mereka manusia biasa yang bisa benar dan bisa salah, ditimpa lupa dan kelalaian seperti halnya manusia yang lainnya.</p>
<p>Kita tidak meyakini kalau mereka memiliki ‘ishmah’ (terjaga dari kesalahan).<a href="#_edn7">[7]</a> Maka wajib menyebutkan kebaikan-kebaikan mereka serta memaafkan kesalahan-kesalahan mereka. Karena demi Allah, seandainya kita bandingkan kesalahan mereka dengan kebaikan dan amal-amal shalih mereka berupa pengorbanan, berjihad fi sabilillah dan membela agama mereka, niscaya bagaikan sebutir pasir di dalam gunung pasir atau setetes air di dalam lautan.</p>
<p>Maka jika riwayat telah shahih sesuai dengan standar ilmu <em>jarh wat ta’dil </em>sedangkan secara dhahir riwayat tersebut terdapat kekeliruan dan ketergelinciran, maka seorang muslim hendaknya mencari solusi yang paling baik terhadap riwayat tersebut dan memberikan udzur.</p>
<p>Ibnu Abi Zaid berkata : “Dan menahan diri dari perkara yang diperselisihkan di antara mereka (para sahabat), dan sesungguhnya mereka orang yang paling berhak diberikan solusi yang paling baik dan berbaik sangka dengan pendapat mereka”.<a href="#_edn8">[8]</a></p>
<p>Ibnu Daqiq al-Ied berkata : “Dan apa saja yang dinukil dari mereka berupa perselisihan yang terjadi di antara mereka, maka jika batil dan dusta, tidak usah diperhatikan. Dan bila benar, kita takwil dengan takwil yang baik. Karena pujian Allah kepada mereka lebih duluan dan ucapan yang disebutkan belakangan dibawa kepada takwil, karena sesuatu yang meragukan tidak bisa membatalkan sesuatu yang lebih dulu lagi diketahui”. <a href="#_edn9">[9]</a></p>
<p>Dan sangat disayangkan, “Sebagian mereka” membesar-besarkan kesalahan-kesalahan ini, hingga orang yang sibuk, kesibukannya untuk mencari dan menyelidiki masalah ini dengan segala cara untuk meraih tujuan bagi dirinya. Seolah-olah ini adalah masalah yang membedakan antara yang haq dengan batil, sipa saja yang mengetahuinya berarti mukmin dan siapa yang mengingkarinya berarti kafir atau fasiq !!! <em>La Haula wala quwwata illa billah</em>. Tiada daya dan kekuatan kecuali dari Allah.</p>
<p>Sesungguhnya tidak adanya informasi yang detail dan terpercaya tentang peristiwa yang berlangsung di antara para sahabat, mengharuskan kita berinteraksi dengan sejarah mereka dengan interaksi yang telah ditazkiyah (direkomendasikan) oleh Allah di dalam Al-Qur’an. Dan ini termasuk asas yang paling dasar. Karena kelemahan para pembahas dan pembaca di dalam menemukan sanad  yang shahih terhadap riwayat apa saja, maka dia punya prinsip umum yang harus diikuti, yakni pujian Allah ta’ala kepada generasi yang telah mendampingi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wa sallam dan berjihad bersama beliau untuk menegakkan agama ini. Dan Allah tidak akan memuji suatu kaum yang Dia mengetahui bahwa kaum tersebut kelak tidak pantas mendapatkannya. Bagaimana mungkin sedangkan Dia Maha Mengetahui ?!</p>
<p>Bersama keyakinan kami bahwa mereka manusia yang bisa dimasuki kesalahan, dan kelalaian dalam perkara mereka pada waktu itu perkara manusiawi.</p>
<p>Akan tetapi menuduh mereka dengan tuduhan jelek, bebuat lalim kepada mereka serta mengcap mereka sebagai orang munafik dan gila kekuasaan dan yang lainnya berarti tidak mengabaikan dan menentang salah satu sifat Allah tabaraka wa ta’ala, karena memastikan tuduhan ini tergantung kepada ilmu ghaib yang dirahasiakan oleh Allah Dzat Yang Maha Mengetahui, serta tidak ada seorang pun yang bisa mengetahui perkara ghaib.</p>
<p>Maka kita wajib mewaspadai permainan di balik riwayat-riwayat yang telah disebar luaskan oleh sebagian orientalis,<a href="#_edn10">[10]</a>dan para pengekor hawa nafsu yang telah menggambarkan perselisihan yang terjadi antara para sahabat ridwanullahi ‘alaihim ajma’in –dengan bersandar riwayat-riwayat yang lemah di satu waktu dan disertai niat yang buruk diwaktu yang lain- dengan gambar yang disebarkan yang menggambarkan sebagian mereka (para sahabat) saling bertengkar, tidak berselisih untuk menuntut kursi jabatan dan mabuk kepemimpinan.</p>
<p>Maka dengan semangat dan kecemburuan pantas untuk melakukan cek dan ricek terhadap khabar-khabar tersebut. Karena demi Allah kita sudah cukup dengan sejarah yang sanadnya shahih, tidak ada kontradiktif meskipun itu sedikit. Karena  itu lebih baik daripada sejarah yang penuh dengan catatan-catatan kebohongan.</p>
<p>Sebagai peringatkan  bagi setiap orang yang ingin menyebarkan fitnah dibarisan kaum mukminin, serta ingin mendapatkan kedudukan  generasi yang tiada taranya ini, yang telah menyaksikan cahaya kenabian dan bersambungnya bumi dengan langit, serta berjuang dengan seluruh potensi yang dimiliknya untuk meninggikan dan menyebarkan agama ini ke seluruh pelosok negeri.</p>
<p>Maka kita wajib tidak meenerima peninggalan ini kecuali yang shahih penisbatannya kepada para sahabat baik ucapan maupun perbuatan yang jauh dari pengkultusan dan semangat membesarkan serta berlebihan di dalam nilai atau menguranginya.</p>
<p>Selamat datang hakikat yang murni meskipun sedikit dan jauh dari kedustaan , khurafat dan hikayat serta kamus-kamus celaan dan hinaan<a href="#_edn11">[11]</a>bagaimanapun banyaknya sumber rujukannya karena itu tidak akan kuat di atas timbangan yang bersih (adil) yang sangat tajam, dan jalan-jalan kebenaran yang mengalahkan.<a href="#_edn12">[12]</a></p>
<p>Dan yang sangat mengherankan lagi mencengangkan, orang-orang yang mengedepankan metode pembahasan ilmiyah pada perkara yang sesuai dengan jiwa mereka dan merobohkannya pada perkara lainnya, sebagaimana yang telah dilakukan Murtadha Al-Askari di dalam kitabnya ‘Abdullah bin Saba”. Dia mengingkari hakikat Abdullah bin Saba’dan lari dengan membawa hakikat sejarah dan sanad-sanad yang dhaif. Padahal kisahnya telah tsabit, tapi bila datang hadits tentang (masalah) para sahabat, semuanya diterima karena akan mengantarkan ke tujuan yang dia senangi. Maka qiyaskanlah ini, dimanakah ketelitian yang dia serukan dan dimanakah manhaj ilmiyah yang dia kibarkan syiarnya ?! Kenapa dia tidak mencabut saja seluruh khabar-khabar sejarah dan hadits-hadits penting yang ada di awal islam!!</p>
<p><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<hr size="1" /><a href="#_ednref1">[1]</a> “Ar-Riyadh An-Nadhrah” karya Muhib At-Thabari hal. 670, “Asma Al-Mathalib fi Sirati Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib” karya Dr. Ali Ash-Shalabi hafidzahullah hal. 144.</p>
<p><a href="#_ednref2">[2]</a> Lihat “Al-Bidayah wa An-Nihayah” karya Ibnu Katsir 6/314-315</p>
<p><a href="#_ednref3">[3]</a> Lihat “Tarikh Ibnu Khaldun” 2/176</p>
<p><a href="#_ednref4">[4]</a> Rujuklah ke As-Siyar 3/147 dan An-Nash fi Tuhaf Al-‘Uqul ‘An Ali Ar-Rasul hal. 308 karya Ibnu Syu’bah Al-Harani</p>
<p><a href="#_ednref5">[5]</a> Dikeluarkan oleh Al-Imam Al-Bukhari di dalam shahihnya no. 2704</p>
<p><a href="#_ednref6">[6]</a> “Fathul Bari” karya Ibnu Hajar 9/18 dan beliau berkata : Isnadnya Shahih, “Asna al-Mathalib fi Sirah Amiril Mukminin Ali bin Abi Thalib’.</p>
<p><a href="#_ednref7">[7]</a> Hal ini tidak bertentangan dengan sifat <em>‘adalah </em>para sahabat. Maka wajib dibedakan antara <em>‘ishmah</em> dan <em>‘adalah</em>. Karena ‘adalah maksudnya bukan berarti para sahabat tidak pernah tergelincir dalam dosa dan kesalahan. Yang seperti ini tidak pernah diucapkan oleh seorang ulama pun selamanya karena ini hanya terjadi pada orang yang ma’shum. Jadi ‘adalah merupakan sesuatu dan ‘ishmah sesuatu yang lain (tidak sama). ‘Adalah artinya menerima riwayat-riwayat dari para sahabat radhiyaallahu ‘anhum tanpa menuntut tazkiyah (rekomendasi) serta tidak membebani diri dalam mencari sebab-sebab ‘adalah mereka. Karena sesungguhnya Al-Qur’an telah mentazkiyah (memberikan rekomendasi) kepada mereka. Lihat “’Itiqad  Ahlis Sunnah fis Shahabat” karya Al-Wahyi hal. 93, dan “Al-Manhaj fit Ta’amul ma’a Riwayat ma Syajara bainas Shahabat” karya DR. Muhammad Abu Al-Khail hal. 49</p>
<p><a href="#_ednref8">[8]</a> “Muqaddimah Risalah Abi zaid Al-Qirwani”</p>
<p><a href="#_ednref9">[9]</a> “Ashabu Rasulillah wa Madzahib An-Nas fi him” karya Abdul Azizi Al-‘Ajlan, hal. 360</p>
<p><a href="#_ednref10">[10]</a> sebagian orientalis yang telah membidikkan panah beracunnya kepada peninggalan kaum muslimin berupa sejarah dan aqidah adalah : A.J Arbri, DR. Margoliouts, J. Wensink, Mac Donald, Zwimer, Goldizher,Von Gurenebaum, dan yang lainnya. Dan para ulama dan penulis telah mengungkap dengan baik (syubhat) mereka, semisal Ustadz Yusuf Adzham di dalam kitabnya yang bermanfaat “Tarikhuna baina Tazwiril A’da’ wa Ghaflatil Abna “ Darul Qalam, demikian pula Musthafa As-Siba’I di dalam kitabnya “Al-Istisyraq wal mustasyriqun” Darul Bayan, dan yang terakhir DR. Hamid Al-Khalifah dalam kitabnya “Al-Mauqif minat Tarikh Al-islami” Darul Qalam.</p>
<p><a href="#_ednref11">[11]</a> Nasionalisme muncul jauh dari masa penaklukan, seperti menolak perbuatan yang mengandung unsur dendam melawan bangsa arab pembawa islam, maka para ahlul bida’ wal ahwa’ berlomba –lomba menyusun buku yang berisi celaan (bangsa arab) dan telah dibantah dengan karangan (Al-Faras wal ‘Ajm), maka tidak layak bersandar dan memperhatikan peninggalan yang penuh dengki tersebut karena tidak ada pokok bahasan serta semangat pembahasan ilmiyah dan hakikatnya. Lihat kitab “Asy-Syu’ubiyah ‘aduwwul Arab Al-awwal”, karya Khairullah Thalfah, cet. Al-Ma’arif Bagdad.</p>
<p><a href="#_ednref12">[12]</a> Ahdats wa ahadits fitnatil haraj, karya DR. Abdul Aziz Dakhan</p>
<p><strong>Download file pdf </strong>: <a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2009/07/Kaidah-Ahlu-Bait.pdf">Kaidah Ahlu Bait</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/07/240/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
