<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; khutbah</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/khutbah/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Penerjemahan Khutbah Jum&#8217;at Bagi Orang Asing</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/khutbah-jumat-asing/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/khutbah-jumat-asing/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 02 Aug 2009 07:03:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Ali Al Musyaiqih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Tematis]]></category>
		<category><![CDATA[asing]]></category>
		<category><![CDATA[jum'at]]></category>
		<category><![CDATA[khutbah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=345</guid>
		<description><![CDATA[ 
Para ulama-semoga Allah merahmati mereka-berbeda pendapat dalam permasalahan khutbah jumat,apakah disyaratkan dengan bahasa arab atau sah dengan seluruh bahasa.
Ada tiga pendapat ulama :
Pendapat Pertama,
Disyaratkan menggunakan bahasa arab.Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik dan Asy-Syafii.Mereka berdalil dengan Hadist Malik bin Huwairist bahwasannya Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam berkata :
صلوا كما رأيتموني أصلي
Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Para ulama-<em>semoga Allah merahmati mereka</em>-berbeda pendapat dalam permasalahan khutbah jumat,apakah disyaratkan dengan bahasa arab atau sah dengan seluruh bahasa.</p>
<p>Ada tiga pendapat ulama :</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pendapat Pertama</span>,</strong></p>
<p>Disyaratkan menggunakan bahasa arab.Ini adalah pendapat madzhab Imam Malik dan Asy-Syafii.Mereka berdalil dengan Hadist Malik bin Huwairist bahwasannya Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> berkata :</p>
<p><strong>صلوا كما رأيتموني أصلي</strong></p>
<p><em>Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sholat</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p>Dan adalah  Nabi  <em>shalallahu ‘alaihi wasalam</em> berkhutbah dengan bahasa arab.Mereka menyamakan  hukumnya dengan Dzikir-dzikir yang sifatnya<em> tauqifiyah</em> (berdasar nash).Misalnya seperti membaca Al Quran  yang tidak dibaca dan tidak diterjemahkan secara harfiyah ,maka seharusnyapun demikian untuk khutbah.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pendapat Kedua,</span></strong></p>
<p>Bahwasannya khutbah sah dengan seluruh bahasa.Ini pendapat Abu Hanifah <em>rahimahullah</em> dengan dalil sebagai berikut: Allah ta’ala berfirman :</p>
<p><strong>وَمَا أَرْسَلْنَا مِن رَّسُولٍ إِلاَّ بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ</strong></p>
<p><em>Tidaklah aku utus dari segenap Rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dapat menjelaskan kepada mereka </em>(QS.Ibrahim  ayat 4)</p>
<p>Dengan lisan mereka ,maksudnya adalah dengan bahasa mereka.Tidak tercapai penyampaian dan pengajaran kecuali  dengan bahasa orang yang diajak bicara.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Pendapat Ketiga,</span></strong></p>
<p>Masalah ini dirinci.Khutbah disyaratkan dengan bahasa arab kecuali ada sebab tertentu (udzur),dimana apabila pemberi khutbah tidak bisa berbahasa arab,maka dia berkhutbah dengan bahasa kaumnya.Pendapat ini masyhur dikalangan madzhab Imam Ahmad  <em>rahimahullah </em></p>
<p>Yang paling mendekati kebenaran dalam permasalahan ini adalah dengan memperhatikan faktor keadaan pendengar khutbah.Apabila yang mendengar tidak dapat memahami bahasa arab,maka khutbah disampaikan dengan bahasa mereka  sebagaimana pendapat Madzhab Hanafi,karena Allah berfirman “<em>Tidaklah aku utus dari segenap Rasul kecuali dengan lisan kaumnya agar dapat menjelaskan kepada mereka</em> “(QS.Ibrahim  ayat 4)</p>
<p>Apabila sampainya risalah tersebut dengan  lisan kaum para Rasul yang diutus kepada mereka,maka lebih layak lagi untuk permasalah cabang dari risalah tersebut.Dan khutbah adalah jenis cabang dari penyapaian risalah kerasulan.Dan juga Nabi <em>shalallahu ‘alaihi wasalam </em>memerintahkan Zaid bin Tsabit untuk belajar bahasa yahudi agar memungkinkan Nabi shalallahu ‘alaihi wasalam dalam surat menyurat dengan bahasa mereka dan menegakkan hujjah atas mereka.</p>
<p>Apabila bahasa para pendengar  khutbah adalah bahasa arab <strong>dan sebagiannya  ada yang tidak bisa berbahasa arab</strong>,maka khutbah tetap disampaikan dengan bahasa arab.Adapun untuk yang tidak bisa,maka khutbah diterjemahkan untuk mereka.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Cara pertama</span> :Khutbah diterjemahkan seusai sholat,maka ini boleh.Penyampaian isi khutbah terkadang tidak ada jalan lain kecuali dengan jalan ini sebagaimana yang dilakukan oleh sebagian masjid.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Cara kedua </span>:Sebagian ulama mengatakan bahwa mereka yang tidak memahami bahasa arab, diberikan terjemahan dalam bentuk kertas berupa isi khutbah,dibagikan sehingga mereka bisa membacanya.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;">Cara ketiga</span> :Khutbah direkam dan ketika Imam menyampaikan khutbah didengarkan rekaman dalam bahasa mereka,sehingga mampu mendengar tatkala khutbah dari  jalan pendengaran suara.</p>
<p>Cara dengan membaca terjemahan khutbah dalam kertas atau mendengar rekaman terjemahan isi khutbah maka ini boleh tidak apa-apa.Madzhab Hambali dan Syafi’i <em>rahimahumullah</em> ,berkata :Bahwasannya seseorang yang tidak dapat mendengar khutbah dikarenakan tuli atau posisinya jauh dari Imam, maka hendaknya menyibukkan diri dengan berdzikir dan bershalawat kepada Nabi <em>shalallahu ‘alahi wasalam</em> ,atau membaca Al Quran dan membaca buku-buku ulama…dan seterusnya.</p>
<p>Dan contoh semisal lainnya, orang –orang asing yang tidak paham bahasa arab,jika seandainya orang-orang asing (<em>‘ajam)</em> ini sibuk dengan membaca isi khutbah atau dengan mendengar khutbah melalui alat perekam atau bentuk bacaan,maka ini boleh ,yaitu disamakan seperti halnya orang yang tuli atau jauh posisinya dari Imam tadi.</p>
<p>Adapun mereka yang berdalil dengan hadist Abu Darda <em>radhiallahu ‘anhu</em> bahwasannya Nabi<em> shalallahu ‘alaihi wasalam</em> berkata</p>
<p><strong>إذا سمعت إمامك يتكلم فأنصت حتى يفرغ</strong></p>
<p><em>Apabila engkau mendengar Imam berbicara maka diamlah sampai selesai</em><a href="#_ftn2">[2]</a> .Dikeluarkan Imam Ahmad <em>rahimahullah</em>.</p>
<p>Maka hadist diatas ditujukan kepada yang  mampu  mendengar ucapan Imam , adapun yang dibahas ini dalam kondisi tidak mendengar  atau memahami ucapan.Juga bahwa maksud dari mendengar khutbah adalah mendapatkan faidah dan pemahaman.Misal orang-orang asing dan orang yang duduknya jauh yang tidak paham maka baginya untuk menyibukkan dengan ibadah lain.Dan sebagaimana telah disebutkan,bahwa perlu dibedakan hukum melakukan sesuatu (aktivitas) dengan berbicara ditengah-tengah jalannya khutbah.Perbuatan melakukan sesuatu itu lebih ringan dari berbicara.</p>
<p>Adapun ucapan Nabi<em> shalallahu ‘alaihi wasalam</em> :</p>
<p><strong>من مس الحصى فقد لغا</strong></p>
<p><em>Siapa yang memegang-megang biji  kerikil  maka dia  telah berbuat lalai</em></p>
<p>Kami katakana bahwa perbuatan ditengah-tengah khutbah terbagi kedalam dua hal:</p>
<p>Pertama :  Perbuatan untuk kemashlahatan seperti yang telah disampaikan dan contoh-contohnya.Seperti itu boleh tidak mengapa</p>
<p>Kedua :   Perbuatan yang tidak berguna dan tanpa keperluan.Inilah yang dilarang.</p>
<p>Sehingga  perbuatan ini, karena disana ada keperluan, maka kami katakan boleh tidak mengapa.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Dikeluarkan Bukhari dalah shahihnya.Kitab Adzan Bab Adzan bagi musafir (1/162)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Dikeluarkan Imam Muslim <em>rahimahullah</em></p>
<p>Sumber: Tulisan Syaikh Kholid bin Ali Al Musyaiqih  <a href="http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&amp;task=view&amp;id=2078&amp;Itemid=7">http://www.almoshaiqeh.com/index.php?option=content&amp;task=view&amp;id=2078&amp;Itemid=7</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/khutbah-jumat-asing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
