<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; Manhaj</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/manhaj/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Kedudukan Syaikh Al Abbad</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/04/kedudukan-syaikh-al-abbad/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/04/kedudukan-syaikh-al-abbad/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Apr 2010 01:20:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>LAJNAH DAIMAH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=871</guid>
		<description><![CDATA[Segala puji hanya milik Alloh semata. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terakhir. Wa ba&#8217;du&#8230;
Telah datang pertanyaanmu kepadaku, dan aku memahami bahwa ada sebagian orang yang berkata, “Tidak boleh mengambil pernyataan Syaikh al-Abbad, karena beliau hanyalah seorang muhaddits yang tidak spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta&#8217;dil (ilmu untuk menilai kekuatan atau kelemahan para perawi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Segala puji hanya milik Alloh semata. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi terakhir. <em>Wa ba&#8217;du&#8230;</em></p>
<p>Telah datang pertanyaanmu kepadaku, dan aku memahami bahwa ada sebagian orang yang berkata, “<strong>Tidak boleh mengambil pernyataan Syaikh al-Abbad, karena beliau hanyalah seorang muhaddits yang tidak spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta&#8217;dil </strong>(ilmu untuk menilai kekuatan atau kelemahan para perawi hadits -pent). Maka inilah jawabannya.</p>
<p>Ketika kita menimbang-nimbang dan membanding-bandingkan antara para ulama, maka hal itu wajib dilakukan dengan ilmu dan keadilan. Karena orang yang tidak berilmu terkadang hanya mengenal orang yang keutamaannya lebih rendah dan tidak mengenal orang yang keutamaannya lebih tinggi. Sedangkan orang yang zholim bisa melebihutamakan orang yang lebih rendah keutamaannya padahal dia mengetahui orang itu lebih rendah keutamaannya.</p>
<p>Dan banyak sekali manusia yang mengetahui keutamaan guru mereka dalam suatu ilmu atau suatu peribadahan, akan tetapi mereka tidak mengetahui ilmu dan keutamaan orang lain. Sampai-sampai bisa engkau dapati ada orang yang melebihutamakan seorang Syaikh di atas Syaikhnya, padahal Syaikh tersebut lebih mengutamakan Syaikh orang itu atas dirinya. Orang-orang yang semacam ini berarti tidak memiliki ilmu. Mirip dengan mereka ada orang lebih mengutamakan kotanya karena dia tidak mengenal keutamaan kota-kota lainnya.</p>
<p>Menghukumi antara dua hal bahwa keduanya memiliki kesamaan atau memiliki perbedaan, membutuhkan pengetahuan akan kedua hal tersebut dan pengetahuan tentang permasalahan yang menjadi inti dalam membedakan keduanya. Ini dari sisi ilmu.</p>
<p>Sedangkan dari sisi keadilan, maka membutuhkan <em>muroqobah</em> kepada Alloh (keadaan merasa diawasi oleh Alloh) dalam urusan-urusan semacam ini.</p>
<p>Maka pernyataan bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad bukan orang yang spesialis dalam ilmu Jarh wat Ta&#8217;dil, atau pernyataan bahwa beliau perlu mengkhususkan diri dalam ilmu tersebut untuk bisa mengetahui sunnah dan bid&#8217;ah; <strong>adalah pernyataan yang berada pada puncak kebodohan dan kezholiman</strong>. Ini yang <em>pertama.</em></p>
<p><em>Yang kedua</em>, meskipun saya tidak cakap dalam menyampaikan biografi Syaikh <em>al-Allamah al-Fadhil</em> Abdul Muhsin al-Abbad dengan biografi yang bisa memenuhi haknya sebagaimana layaknya bagi orang yang semisal beliau; hanya saja pembicaraan tentang kedudukan beliau dalam ilmu, dan kebenaran landasan ilmiah beliau adalah suatu perkara yang bisa dirasakan oleh setiap orang yang membaca kitab-kitab dan risalah-risalah beliau yang sangat berharga.</p>
<p>Maka tidak ragu lagi, bahwa sikap tengah yang dimiliki oleh Syaikh dalam medan ilmiah adalah hasil dari pemahaman mendalam beliau terhadap landasan-landasan syariat islam. Bagaimana tidak demikian! Padahal beliau termasuk ulama yang banyak memberikan pelayanan terhadap sunnah nabawiyah, baik dengan pengajaran ataupun dengan penyampaian <em>syarah</em> (penjelasan). Sungguh saya sangat heran terhadap orang yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang ahli hadits, namun pada waktu itu juga dia menyatakan bahwa beliau tidak spesialis dalam ilmu<em> Jarh wat Ta&#8217;dil</em>?!</p>
<p>Seandainya ulama ahli hadits – yang telah menghabiskan umur mereka untuk meneliti kitab-kitab sunnah dan menggeluti para perawi sanad hadits – bukan orang yang paling berhak untuk berbicara dalam ilmu <em>Jarh wat ta&#8217;dil</em>, suatu ilmu yang menjadi kekhususan dalam ilmu sanad?! Maka apakah yang berhak menyandang kedudukan ini adalah orang yang baru memiliki sedikit pembicaraan dalam mushtholah hadits, dalam bentuk pengajaran ataupun tulisan, sedangkan dia belum terbiasa menshohihkan dan mendhoifkan hadits, padahal ini adalah puncak dari ilmu<em> jarh wat ta&#8217;dil</em>?!</p>
<p>Iya, mungkin bisa kita katakan bahwa Syaikh al-Abbad tidak mengkhususkan diri dalam ilmu<em> jarh wat ta&#8217;dil</em> menurut deskripsi orang-orang yang mengkritik beliau. Karena yang biasa dilakukan oleh para pengkritik beliau tidak lain hanyalah ilmu untuk membicarakan manusia dengan hawa nafsu.</p>
<p>Adapun ilmu <em>jarh wat ta&#8217;dil </em>yang <em>syar&#8217;i</em>, maka beliau adalah orang yang paling berhak untuk berbicara tentangnya. Karena pembicaraan dalam ilmu ini tidak hanya bersandar pada telaah terhadap kitab-kitab rijal (kitab yang menjelaskan tentang keadaan para perawi hadits -pent) saja. Akan tetapi juga butuh kepada pengetahuan yang mendalam terhadap perbuatan para imam hadits dalam kitab-kitab sunnah, dan keikutsertaan yang kuat dalam ilmu-ilmu syar&#8217;i. Dan ini adalah perkara yang tidak didapati pada kebanyakan orang yang membicarakan manusia dengan celaan.</p>
<p>Oleh karena itu, sikap tengah yang dimiliki oleh Syaikh al-Abbad adalah hasil dari pengalaman panjang dalam ilmu dan pemahaman terhadap manhaj ahlussunnah dalam masalah kritikan terhadap ulama dan tulisan.</p>
<p>Barangsiapa melihat kepada risalah tulisan Syaikh yang terkenal dengan judul “<em>Rifqon Ahlassunnah&#8230;</em>” (bersikap lembutlah wahai ahlussunnah..) dia akan mendapati pemahaman luas terhadap ilmu yang mulia ini. Dimana Syaikh telah mengisyaratkan adanya beberapa penggunaan dan pemfungsian yang buruk terhadap ilmu ini atau pemahaman yang buruk terhadapnya. Terlebih lagi bahwa nama-nama yang beliau bela melalui risalah tersebut adalah orang-orang yang telah beliau kenal dengan baik. Dan beliau memperkirakan sejauh mana bahaya yang akan timbul dari menghinakan dan mencela mereka, terhadap keberlangsungan dakwah di negri-negri mereka. Oleh karenanya, beliau tegas dan jelas dalam menolak celaan terhadap mereka.</p>
<p>Maka ilmu<em> jarh wat ta&#8217;dil</em> sebagaimana yang telah biasa dikerjakan oleh para imam, adalah mustahil, tertutup dan tidak akan mungkin dilakukan oleh orang yang tidak mengurusi permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan hadits, serta tidak mampu mengkritisi dan menghukumi sanad-sanad. Demikian juga bahwa ilmu <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> bukanlah hanya untuk mencela saja. Bahkan juga untuk memuji dan membatah tuduhan terhadap orang yang tidak berhak. Sedangkan saudara-saudara kita telah menggunakannya untuk mencela dan untuk membela orang-orang yang mencela, dengan cara yang tidak benar.</p>
<p>Maka jelas berbeda antara orang yang menukil perkataan para imam <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> tanpa pengetahuan terhadap perkataan mereka, tanpa pemahaman sempurna terhadap makna dan kandungan perkataan mereka dan juga ketentuan-ketentuan dalam kaidah ini, dengan orang yang memiliki kesamaan dengan mereka dalam istilah saja.</p>
<p> Disamping itu, kita perlu mengetahui bahwa apa yang terjadi sekarang ini tidak ada hubungannya dengan ilmu <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> sama sekali. Karena kita tidak sedang membahas tentang kekuatan dan ketelitian hafalan serta kejujuran para perawi dalam menukil berita. Akan tetapi perkaranya berkisar antara<em> tabdi&#8217;</em> dan <em>tadhlil</em> (menyatakan seseorang sebagai ahli bid&#8217;ah dan orang yang sesat -pent). Dan hal ini tidak perlu kepada ilmu jarh wat ta&#8217;dil, karena kaitannya dengan akidah dan prinsip dasar orang-orang yang dicela.</p>
<p> Sedangkan urusan <em>tabdi&#8217; </em>dan <em>tadhlil</em> tidaklah terbatas pada para ulama jarh wat ta&#8217;dil. Bahkan para <em>fuqoha</em> (ahli fiqih) dan para ulama <em>ushuluddin </em>(akidah), merekalah yang lebih berhak dalam hal ini. Maka barangsiapa yang tidak menjadi imam dalam ilmu tauhid dan tidak pula dalam ilmu ushul fiqih, bagaimana mungkin dia bisa membid&#8217;ahkan dan menyesatkan, padahal hal ini sangat erat kaitannya dengan kedua ilmu ini?!</p>
<p>Inilah sisi kesamaran tempat terperosoknya para pengusung celaan di masa-masa sekarang ini. Pencelaan terhadap madzhab dalam akidah atau terhadap prinsip-prinsip ilmiah, bukanlah merupakan kekhususan para imam <em>jarh wat ta&#8217;dil</em>. Mereka hanyalah orang-orang yang menukilkan saja. Tidak ada seorang pun yang berkata bahwa para imam <em>jarh wat ta&#8217;dil </em>adalah para imam islam yang membuat kaidah dalam permasalahan <em>takfir </em>(pengkafiran),<em> tafsiq</em> (pemfasikan) dan <em>tadhlil</em> (penyesatan). Bahkan permasalahan ini adalah perannya para imam agama dari kalangan <em>fuqoha`ul hadits</em> dan ulama tauhid, yang telah ditetapkan oleh para imam <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> dalam biografi-biografi mereka. Maka pembicaraan tentang kekafiran, kefasikan dan kesesatan bukanlah tugasnya para imam jarh wat ta&#8217;dil, kecuali jika mereka adalah imam dalam akidah, fiqih dan ushul.</p>
<p><strong>Maka Ibnu Taimiyah, Ibnul Qoyyim dan yang seperti mereka di zaman ini semisal al-Utsaimin, bukanlah imam dalam <em>jarh wat ta&#8217;dil </em>yang spesialis dalam ilmu tersebut. </strong>Meskipun demikian, engkau dapati mereka membid&#8217;ahkan dalam kitab-kitab mereka. Dan hukum yang mereka berikan itu lebih utama dan lebih teliti dibandingkan hukum yang diberikan oleh adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar jika perkaranya berkaitan dengan pencelaan dalam masalah akidah, pernyataan-pernyataan dan prinsip-prinsip ilmiah. Meskipun secara umum, adz-Dzahabi dan Ibnu Hajar lebih utama dalam memberikan biografi para perawi hadits.</p>
<p>Dengan ini engkau tahu bahwa pensyaratan spesialisasi dalam ilmu <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> – sebagaimana ada pada ulama ahli hadits – untuk membid&#8217;ahkan atau menyesatkan ulama dan dai adalah pernyataan baru dari para pengusung pernyataan ini. Sesungguhnya ilmu <em>jarh wat ta&#8217;dil</em> adalah sarana untuk mencapai dua hal atau dua tujuan. Dan orang-orang yang suka mencela itu telah membikin rancu antara keduanya dengan kerancuan yang sangat buruk.</p>
<p><strong>Pertama</strong>, menyaring sanad-sanad untuk menentukan keabsahan berita-berita. Perkara ini berkisar pada masalah kejujuran dan ketelitian. Dan inilah yang dipakai untuk menerima atau menolak para perawi hadits.</p>
<p><strong>Kedua,</strong> membicarakan berbagai madzhab para ulama, meskipun para ulama yang dibicarakan itu bukan para perawi hadits. Yakni, berbicara tentang sunnah dan bid&#8217;ah. Maka (pembicaraan tentang) hal ini, prioritas yang pertama adalah dikembalikan kepada para imam sunnah, bukan para imam hadits. <strong>Karena terkadang didapati di kalangan para imam hadits ada orang yang termasuk ahlu bid&#8217;ah atau menyimpang dari sebagian prinsip ahlusunnah. Dan terkadang didapati pula di kalangan para imam sunnah, ada orang yang bukan termasuk ahli hadits. Minimalnya, dia tidak mengkhususkan diri dengan ilmu-ilmu hadits meskipun dia memiliki bagian keikutsertaan dalam ilmu hadits.</strong></p>
<p><strong><em>Dan poin yang kedua inilah yang menjadi poros perselisihan yang terjadi sekarang ini.</em></strong> Dan saya telah menjelaskan kepada bahwa tidak ada kaitan antaranya dengan ilmu jarh wat ta&#8217;dil dengan makna yang pertama.</p>
<p>Dengan ini engkau tahu bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad lebih utama – jika ditinjau dari kemampuan ilmiah, kekokohan manhaj dan kebenaran prinsip-prinsip ilmiahnya – untuk mengkritisi permasalahan akidah dan prinsip-prinsip ilmiah serta berbagai hal yang mengikutinya seperti pencelaan dan pujian; dibandingkan dengan kebanyakan orang yang terkenal suka membicarakan secara mendalam dalam perkara ini dan secara serampangan, padahal mereka tidak memiliki andil sedikit pun dalam ilmu-ilmu ini.</p>
<p>Hal ini bukan berarti bahwa Syaikh Abdul Muhsin al-Abbad memiliki hukum-hukum yang <em>ma&#8217;shum</em> (terjaga dari kesalahan -pent). Akan tetapi, kritikan terhadap beliau dengan khurofat-khurofat ini hanyalah gurauan belaka. Barangsiapa menyelisihi beliau, hendaknya menyebutkan dalil-dalilnya dan menjauhi perbandingan-perbandingan semacam ini.</p>
<p>Maka perhatikan hal ini baik-baik, dan jadikan ia selalu di hadapanmu. Jika perkaranya tidak berkaitan dengan kebenaran suatu berita, maka orang yang paling berhak membicarakan para ulama dan dai dengan celaan karena sebab madzhab atau prinsip ilmiah yang dianut adalah para imam sunnah, bukan para imam hadits.</p>
<p>Dan ketika kita mengatakan “<em>al-Kitab dan sunnah</em>”, maka yang kami maksud dengan sunnah di sini adalah al-hadits yang pantas dijadikan dalil.</p>
<p>Sedangkan ketika kita membedakan antara sunnah dan hadits, maka yang kami maksud dengan sunnah adalah, segala sesuatu yang menjadi sandaran akidah, hukum syar&#8217;i dan prinsip-prinsip ilmiah yang membedakan antara sunni (pengikut sunnah) dan ahli bid&#8217;ah.</p>
<p>Abdurrohman bin Mahdi berkata – sedangkan beliau adalah imam <em>jarh wat ta&#8217;dil </em>– “<em>Sufyan ats-Tsauri adalah imam dalam masalah hadits, tapi bukan imam dalam sunnah. Sedangkan al-Auza&#8217;i adalah imam dalam sunnah tapi bukan imam dalam masalah hadits. Dan Malik bin Anas adalah imam dalam kedua hal itu.</em>”</p>
<p>Sufyan bin Uyainah berkata, “Jangan kalian dengarkan Baqiyyah (jika berbicara) tentang sunnah. Namun dengarkanlah ia (jika berbicara) tentang pahala dan yang lain.” (<em>Muqoddimah al-Jarh wat Ta&#8217;dil</em> 40-41)</p>
<p>Maka di sini mereka membedakan antara ilmu tentang keabsahan hadits dengan istinbath (pengambilan kesimpulan) hukum-hukum syar&#8217;i.</p>
<p>Maka sebagian pernyataan yang dipandang oleh ahlussunnah sebagai pernyataan bid&#8217;ah, terkadang diucapkan oleh sebagian imam hadits. Oleh karena itulah mereka tidak dicela karenanya, berbeda dengan para imam sunnah yang dicela karenanya. Dan dengan sebab perbedaan antara sunnah dengan makna akidah dan dengan makna hadits inilah, Syaikhul Islam ad-Darimi lebih utama dibandingkan dengan imam Muslim.</p>
<p>Oleh karena ini pula, engkau dapati para imam dalam masalah ini tidak menyebutkan lafaz “<em>imam hadits”</em> saja, akan tetapi mereka juga menggandengkannya selalu dengan sunnah. Sehingga mereka mengatakan “para imam hadits dan sunnah.”</p>
<p>Dan segala puji hanyalah milik Alloh, Robb semesta alam. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada rosul yang paling mulia. <em>Wassalamu&#8217;alaikum warohmatulloh</em>.</p>
<p>Arzio, Al-Jazair 21 Maret 2010</p>
<p>Mukhtar al-Akhdhor Thibawi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/04/kedudukan-syaikh-al-abbad/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengambil Ilmu dari Orang yang Di &#8220;Jarh&#8221;</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/02/mengambil-ilmu-dari-orang-yang-di-jarh/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/02/mengambil-ilmu-dari-orang-yang-di-jarh/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 12 Feb 2010 23:29:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=855</guid>
		<description><![CDATA[Penanya : Ya Syaikh! Apakah kita mengambil ilmu dari seseorang yang di jarh (cela) wahai Syaikh? Apakah bisa diambil ilmu darinya?
Pembawa acara : Orang yang bagaimana?
Penanya : Mujarrah (orang yang di cela untuk dijauhi)
Pembawa Acara : Mujarrad ?
Penanya : Mujarrah (orang yang di cela)
Pembawa Acara : Baik, apa pertanyaan anda?
Penanya : Apakah boleh mengambil ilmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penanya : </strong>Ya Syaikh! Apakah kita mengambil ilmu dari seseorang yang di <em>jarh</em> (cela) wahai Syaikh? Apakah bisa diambil ilmu darinya?</p>
<p><strong>Pembawa acara </strong>: Orang yang bagaimana?</p>
<p><strong>Penanya</strong> : <em>Mujarrah</em> (orang yang di cela untuk dijauhi)</p>
<p><strong>Pembawa Acara</strong> : <em>Mujarrad </em>?</p>
<p><strong>Penanya</strong> : <em>Mujarrah</em> (orang yang di cela)</p>
<p><strong>Pembawa Acara</strong> : Baik, apa pertanyaan anda?</p>
<p><strong>Penanya </strong>: Apakah boleh mengambil ilmu dari nya Wahai Syaikh?</p>
<p><strong>Pembawa acara</strong> :  Baik, siapa yang menjarh orang tersebut</p>
<p><strong>Penanya </strong>: Syaikh Rabi</p>
<p><strong>Pembawa acara</strong> : Terimakasih.Salam.<em>Hayyakallah.</em><br />
Penuntut ilmu wahai <em>Samahatusy Syaikh</em>! Tatkala diberitakan kepadanya baik dari yang orang yang dapat dipercaya atau tidak ,bahwa fulan telah di cela (di <em>jarh</em>) atau dilarang untuk diambil ilmu darinya,bagaimana wahai Syaikh?</p>
<p><strong>Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh</strong> <em>hafidzahullah</em>: Akhi! Perkara seperti ini terkadang adalah hawa nafsu, men<em>jarh </em>manusia,mencelanya terkadang penyebabnya adalah hawa nafsu dan kemaslahatan personal.Dan saya tidak suka memasuki perkara seperti ini.Saya katakan : <em>Thulabul Ilmi</em> diharapkan darinya kebaikan-kebaikan,apabila kita merasakan sesuatu dari kesalahan seseorang, maka berdialoglah jika mungkin,atau kita tanyakan kepada orang yang kita percayai dari kesalahan ini.Adapun men<em>jarh</em> manusia,mencela dan mendeskreditkan dan memilah manusia dengan (mengatakan) orang ini tidak pantas dan ini baik,maka kebanyakan dari perkara seperti ini adalah hawa nafsu , mencela seorang muslim adalah kefasikan ,dan menghormati martabat seorang muslim adalah wajib.</p>
<p>Pembawa acara : <em>Jazaakumullah khair Samahatus Syaikh</em></p>
<p>Sumber video suara dan gambar selengkapnya : <a href="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2010/02/moftie.wmv">moftie</a> (size 1,5 mB) , acara tanggal 1 januari 2010</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/02/mengambil-ilmu-dari-orang-yang-di-jarh/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
<enclosure url="http://www.direktori-islam.com/wp-content/uploads/2010/02/moftie.wmv" length="1546108" type="video/x-ms-wmv" />
		</item>
		<item>
		<title>Renungan Mendalam Terhadap Dakwah Salafiyah</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 28 Jan 2010 21:34:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=847</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh al-Albani rahimahullah berkata dalam kaset al-Ajwibah al-Albani &#8216;alal As`ilah al-Kuwaitiyah, side-A ketika menjawab pertanyaan sebagai berikut:
Bagaimana pendapat Anda tentang posisi dakwah Salafiyah secara umum, dan secara khusus di Kuwait, Mesir dan Saudi?
Beliau menjawab:
Aku katakan, sesungguhnya dakwah salafiyah saat ini – sangat disayangkan – berada dalam kegoncangan. Dan menurutku sebabnya adalah ketergesa-gesaan banyak pemuda muslim [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Syaikh al-Albani<em> rahimahullah </em>berkata dalam kaset <em>al-Ajwibah al-Albani &#8216;alal As`ilah al-Kuwaitiyah</em>, side-A ketika menjawab pertanyaan sebagai berikut:</p>
<p><strong>Bagaimana pendapat Anda tentang posisi dakwah Salafiyah secara umum, dan secara khusus di Kuwait, Mesir dan Saudi?</strong></p>
<p>Beliau menjawab:</p>
<p>Aku katakan, sesungguhnya dakwah salafiyah saat ini – sangat disayangkan – berada dalam kegoncangan. Dan menurutku sebabnya adalah ketergesa-gesaan banyak pemuda muslim yang mengaku berilmu. Sehingga dia pun lancang berani berfatwa, mengharamkan dan menghalalkan sesuatu, sebelum dia dikenal. Sebagian mereka – sebagaimana yang sering kami dengar – tidak bisa membaca ayat al-Qur`an dengan baik, meskipun ayat itu ada dihadapannya dalam <em>mushaf </em>yang mulia.</p>
<p>Lebih dari itu, dia sering salah dalam membaca hadits Rosul – <em>&#8216;alaihis sholatu was salam</em> -. Maka dia sebagaimana permumpaan yang ma&#8217;ruf, “<em>Menjadi zabib (kismis, anggur kering) sebelum masa mudanya</em>.” Yakni, buah anggur, pada permulaannya adalah buah yang berwarna hijau, inilah masa mudanya (sebelum matang -pent) yang rasanya masih sangat asam. Buah ini, sebelum sampai pada masa mudanya ini, telah menjadikan dirinya bagaikan zabib; yakni anggur yang telah masak dan menjadi kismis.</p>
<p>Oleh karena itu, maka naiknya kebanyakan orang-orang ini di atas kepala-kepala mereka, dan ketergesa-gesaan mereka dalam pengakuan ilmu dan dalam menulis – padahal mereka belum menempuh sampai pertengahan perjalanan ilmu – inilah yang membuat orang-orang yang berafiliasi kepada dakwah salafiyah sekarang menjadi berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan, sangat disayangkan.</p>
<p>Oleh karena itu, satu-satunya solusi adalah hendaknya kaum muslimin ini bertakwa kepada Robb mereka <em>&#8216;Azza wa Jalla</em>, dan hendaknya mereka mengetahui bahwa tidak semua orang yang telah memulai menuntut ilmu berhak menonjolkan diri untuk berfatwa dalam masalah haram dan halal, juga dalam masalah pen<em>shohih</em>an dan pelemahan hadits, kecuali setalah melalui umur yang panjang. Yang mana dalam umur yang panjang ini dia melatih diri untuk mengetahui bagaimana cara berfatwa, dan bagaimana cara beristinbath (mengambil kesimpulan hukum -pent) dari al-Kitab dan as-Sunnah.</p>
<p>Di sini, para dai salafi ini harus mengikatkan diri dengan kait yang ketiga, yang telah aku sebutkan sebelumnya ketika berbicara tentang ilmu yang bermanfaat. Telah kita katakan, bahwa ilmu yang bermanfaat itu wajib di atas manhaj as-salaf ash-sholih (generasi awal umat islam yang sholih -pent). Maka ketika banyak di antara dai islam yang menghindar dari pengikatan diri dengan kait yang telah tetap ini, yaitu kait yang telah diisyaratkan oleh al-Imam Ibnul Qoyyim – <em>rohimahulloh – </em>dalam syairnya yang telah lalu, ketika beliau berkata,</p>
<p class="arabic">العلم قال الله قال رسوله قال الصحابة ليس بالتمويه</p>
<p>Ilmu adalah firman Alloh, sabda Rosulnya (<em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>) dan perkataan para sahabat, bukan kepalsuan.</p>
<p>Maka ketiadaan perhatian terhadap apa yang ditempuh oleh Salaf, akan membawa umat manusia – setelah mereka bersepakat (bersatu) – kepada perpecahan yang akan menjauhkan di antara mereka, sebagaimana hal itu telah menjauhkan antara banyak kaum muslimin, sehingga menjadikan mereka berkelompok-kelompok dan bergolong-golongan.</p>
<p class="arabic">كُلُّ حِزْبٍ بِمَا لَدَيْهِمْ فَرِحُونَ</p>
<p>“<em>Tiap-tiap golongan merasa bangga dengan apa yang ada pada sisi mereka (masing-masing)</em>.” (al-Mukminun: 53)</p>
<p>Inilah pandanganku terhadap kenyataan ini. Maka kewajiban mereka – jika mereka adalah orang yang ikhlas, sebagaimana yang kita harapkan – adalah berpegang teguh dengan prinsip-prinsip ilmu yang shohih, dan janganlah berbuat lancang, orang yang belum benar-benar sampai pada tingkatan ilmu hendaknya menjauhi ha itu dan menyerahkan ilmu itu kepada orang-orang yang mengetahuinya.</p>
<p>Di sini, ada sebagian riwayat dalam kitab-kitab hadits yang membuatku takjub. Dan seingatku riwayat itu dari Abdurrohmanbin Abi Laila – <em>rohimahulloh – </em>dan beliau adalah salah seorang ulama besar di kalangan <em>as-Salaf ash-Sholih</em>. Beliau berkata, “Aku telah menemui enam puluh orang sahabat di masjid ini – mungkin beliau mengisyaratkan kepada Masjid di Madinah al-Munawwaroh – dan salah seorang dari mereka jika ditanya tentang suatu masalah atau dimintai fatwa, dia berangan-angan agar hal itu diurusi (dijawab) oleh yang lain di antara ulama Sahabat yang hadir&#8221;.</p>
<p>Yang menyebabkan hal itu adalah karena mereka takut terjerumus dalam kesalahan sehingga menjerumuskan yang lain dalam kesalahan. Sehingga salah seorang dari mereka berangan-angan agar dia tidak menanggung beban tanggung jawab ini, namun ditanggung oleh yang lain.</p>
<p>Adapun sekarang, yang nampak adalah kebalikannya, sangat disayangkan. Dan itu kembali kepada sebab yang sangat jelas dan selalu aku sebutkan. Yaitu bahwa keterbukaan yang saat ini kita rasakan terhadap al-Kitab dan as-Sunnah dan dakwah salafiyah adalah suatu hal yang baru terjadi. Keterbukaan yang mereka namakan dengan kebangkitan ini belum melewati waktu yang cukup lama sehingga orang-orang bisa memetik buah dari dakwah, kebangkitan dan keterbukaan ini pada diri-diri mereka. Yakni, mereka terdidik di atas pondasi al-Kitab dan as-Sunnah, kemudian mereka menyebar dengan pendidikan yang shohih dan berdiri di atas al-Kitab dan as-Sunnah ini kepada orang lain di sekitar mereka, (dengan memprioritaskan) yang terdekat kemudian yang dekat.</p>
<p>Maka sebabnya adalah, bahwa dakwah ini belum nampak<em> atsar </em>(pengaruh)nya dikarenakan dakwah ini masih baru pada masa hidup kita sekarang ini. Oleh karena itu kita temui fenomena yang terbalik dengan apa yang telah kita sebutkan tadi, dari apa yang diriwayatkan oleh Abdurrohman bin Abi Laila dari para sahabat yang mereka sangat berhati-hati dari pertanyaan, dan mereka menginginkan agar orang lain yang ditanya. Dan tidaklah mereka menjawab suatu pertanyaan kecuali karena mereka mengetahui bahwa mereka tidak boleh menyembunyikan ilmu. Akan tetapi dalam lubuk hati mereka, mereka menginginkan agar orang lain yang mengurusi hal itu.</p>
<p>Adapun sekarang, engkau bisa temui pada banyak masyarakat salafi – terlebih lagi pada orang selain mereka – jika ditanyakan kepada salah seorang yang dianggap paling berilmu di antara yang hadir, tiba-tiba engkau dapati si fulan mulai berkata padahal dia tidak ditanya, si fulan (yang lain) juga mulai berkata padahal dia tidak ditanya. Apa yang mendorong mereka? Yang mendorong adalah kecintaan terhadap popularitas dan sikap ke-aku-an. Sikapnya mengatakan, &#8220;Aku di sini, aku memiliki ilmu&#8221;.</p>
<p><em>Maa Syaa Alloh &#8216;alaih!</em> Ini menunjukkan apa? Ini menunjukkan bahwa kita belum terdidik dengan pendidikan (tarbiyah) salafiyah. Kita telah tumbuh di atas ilmu salafi (ilmu yang diambil dari generasi terdahulu yang sholih -pent), dan setiap orang sesuai dengan kesungguhan dan usahanya terhadap ilmu ini. Adapun tarbiyah, maka kita belum mendapatkannya sebagai masyarakat islam salafi. Oleh karena itu pada berbagai jamaah, kelompok, dan golongan ini, kita dapati perpecahan semacam ini pada setiap kelompok yang ada. Dan sebabnya tidak lain adalah ketiadaan tarbiyah islamiyah yang shohihah (yang benar).</p>
<p>Aku katakan, solusi untuk umat ini agar bisa kembali kemuliaannya, dan agar terwujud daulah untuknya, tidak ada jalan lain kecuali memulai dengan apa yang aku ringkaskan dengan dua kalimat yaitu <em>tashfiyah</em> dan <em>tarbiyah</em>. Berbeda dengan berbagai jamaah yang banyak yang berusaha menegakkan daulah islam – menurut anggapan mereka – dengan meletakkan tangan-tangan mereka di atas hukum. Baik hal itu dengan jalan damai sebagaimana yang mereka katakan; dengan pemilu, atau dengan jalan berdarah; seperti dengan pemberontakan pasukan, revolusi berdarah dan yang semacamnya.</p>
<p>Kita katakan, ini bukanlah jalan untuk menegakkan daulah islam di atas bumi Islam. Akan tetapi jalannya hanyalah jalan (yang ditempuh) Rosululloh – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>yang telah berdakwah di Mekah selama tiga belas tahun – sebagaimana yang kalian ketahui – kemudian menyempurnakan dakwahnya di Madinah. Dan di sana (di Madinah) setelah terpilih untuknya orang-orang yang di jalan Alloh tidak terpengaruh oleh celaan orang yang mencela, yakni di antara orang-orang yang mengikuti dan mengimani beliau, maka mulailah beliau meletakkan pondasi untuk daulah Islam.</p>
<p>Dan sejarah – sebagaimana dikatakan – akan berulang. Maka tidak ada jalan lain selamanya. Dan aku sangat yakin terhadap apa yang aku katakan, sedangkan pengalaman nyata semenjak sekitar satu kurun waktu menunjukkan bahwa tidak ada ruang untuk mewujudkan kebangkitan Islam yang benar yang akan menghasilkan penegakkan daulah Islam, kecuali dengan mewujudkan dua tujuan ini. (Pertama) <em>tashfiyah</em>, sebuah ungkapan untuk ilmu yang benar. Dan (kedua) <em>tarbiyah</em>, yaitu dididiknya seorang manusia di atas ilmu yang benar berlandaskan al-Kitab dan as-Sunnah.</p>
<p>Dan kita sekarang, berada pada kebangkitan ilmiyah bukan pada kebangkitan tarbawiyah (pendidikan). Oleh karenanya, kita dapati banyak individu dari kalangan dai yang bisa diambil faidah ilmu darinya, akan tetapi tidak bisa diambil faidah akhlak darinya. Kenapa? Karena dia menumbuhkan dirinya di atas ilmu, akan tetapi dia tidak berada pada lingkungan yang baik yang dia dididik padanya semenjak kecilnya. Oleh karena itu dia hidup dengan membawa akhlak yang telah dia warisi dari masyarakat tempat hidupnya dan tempat kelahirannya. Yaitu masyarakat yang – tidak ragu lagi – bukan masyarakat islami (masyarakat yang tercermin padanya nilai-nilai islam yang shohih -pent). Akan tetapi dengan dirinya atau dengan petunjuk sebagian ahli ilmu, dia mampu mengarah kepada ilmu yang shohih. Akan tetapi ilmu ini tidak nampak pengaruhnya pada akhlak dan tingkah laku serta amalnya.</p>
<p>Maka fenomena yang sedang kita bicarakan ini, sebabnya adalah:</p>
<p><em>Pertama</em>: bahwa kita belum matang secara ilmu, kecuali beberapa individu yang sedikit.</p>
<p><em>Kedua</em>: individu-individu itu, kebanyakan darinya tidaklah terdidik dengan pendidikan islam yang shohih. Oleh karenanya engkau bisa temui banyak di antara orang-orang yang baru mulai menuntut ilmu menjadikan dirinya sebagai ketua suatu jamaah atau kelompok. Di sini ada suatu (kata-kata) hikmah terdahulu yang mengungkapkan pengaruh popularitas ini. Kata-kata hikmah itu adalah, cinta popularitas, meruntuhkan popularitas.</p>
<p>Maka ini sebabnya kembali kepada ketiadaan tarbiyah (pendidikan) yang shohih di atas ilmu yang shohih.</p>
<p>Sumber :  <a href="http://islamancient.com/articles,item,350.html">http://islamancient.com/articles,item,350.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/renungan-mendalam-terhadap-dakwah-salafiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Perbaiki Hatimu Wahai Saudaraku Salafi&#8230;</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Jan 2010 23:33:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=843</guid>
		<description><![CDATA[Perbaiki hatimu wahai saudaraku salafi&#8230; karena baiknya hati adalah modalmu
(Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam – hafizhohulloh – )
Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji hanya milik Alloh, dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak diibadahi melainkan Alloh semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-nya, semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salam kepadanya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong>Perbaiki hatimu wahai saudaraku salafi&#8230; karena baiknya hati adalah modalmu</strong></p>
<p align="center"><strong>(Syaikh Muhammad bin Abdillah al-Imam – <em>hafizhohulloh </em>– )</strong></p>
<p><em>Bismillahirrahmanirrahim.</em>Segala puji hanya milik Alloh, dan aku bersaksi bahwa tidak ada sesembahan yang hak diibadahi melainkan Alloh semata, tiada sekutu baginya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-nya, semoga Alloh senantiasa mencurahkan sholawat dan salam kepadanya beserta keluarga dan para sahabat beliau.</p>
<p>Semoga Alloh mensyukuri (yakni, menerima amal meskipun sedikit dan melipatgandakan balasannya -pent) orang tua kita al-Allamah Syaikh Robi&#8217; al-Madkholi atas berbagai nasihat yang telah beliau sampaikan. Hal itu menunjukkan keinginan beliau yang sangat besar akan kebaikan kaum muslimin secara umum dan saudara-saudaranya, ahlussunnah secara khusus. Dalam nasihat-nasihatnya ini, beliau telah mengingatkan kita akan nasihat-nasihat orang tua dan Syaikh kita al-Allamah al-Wadi&#8217;i – semoga Alloh merahmati beliau.</p>
<p>Sungguh beliau dahulu sangat sering memberi wasiat untuk ikhlas kepada Alloh.</p>
<p>Dahulu beliau berkata, “Sungguh kami lebih mengkhawatirkan dakwah ini mendapatkan bahaya dari diri-diri kami, dari pada kekhawatiran kami akan bahaya yang ditimbulkan orang lain terhadap dakwah ini.”</p>
<p>Maka berbagai wasiat dan nasihat para ulama hendaknya mendapatkan perhatian, penerimaan, semangat dan perealisasian.</p>
<p>Perkataan Syaikh kami al-Wadi&#8217;i – <em>rohimahulloh &#8211; </em>, “Sungguh kami mengkhawatirkan dakwah ini mendapatkan bahaya dari diri-diri kami” adalah perkara yang sangat penting. Yaitu, <strong>hendaknya kita semua mengetahui bahwa kesalahan-kesalahan dan penyimpangan-penyimpangan kita, seringnya bisa lebih membahayakan dakwah kita dari pada bahaya yang ditimbulkan oleh musuh terhadap dakwah ini. Jika penyimpangan-penyimpangan ini merupakan penyimpangan yang terus dilakukan oleh pelakunya, dan dia terus membantah dan membangkang</strong>.</p>
<p>Wahai saudara sekalian, aku mengajak diri ini dan saudara-saudaraku sekalian – semoga Alloh menjaga mereka – untuk mementingkan dan memberi perhatian kepada perbaikan hati-hati kita. Karena modal kita adalah hati-hati kita. Jika hati-hati itu telah baik, maka bergembiralah.</p>
<p>Marilah kita meneladani manusia-manusia terbaik dan paling utama setelah para Nabi dan Rosul. Mereka adalah para sahabat – <em>semoga Alloh meridhoi mereka. </em>Para sahabat, hati-hati mereka dipenuhi dengan kebaikan. Ketika turun firman Alloh <em>ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arabic">لِلَّهِ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ وَإِن تُبْدُوا مَا فِي أَنفُسِكُمْ أَوْ تُخْفُوهُ يُحَاسِبْكُم بِهِ اللَّهُ</p>
<p>“Kepunyaan Alloh-lah segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi. Dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Alloh akan membuat perhitungan dengan kamu tentang perbuatanmu itu.” (al-Baqoroh: 284)</p>
<p>Mereka menemui Rosul – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam – </em>dan mereka duduk di atas lutut-lutut mereka dengan mengatakan, “Wahai Rosululloh, sungguh Alloh telah menurunkan ayat ini kepadamu, sedankan kami tidak mampu terhadapnya!”</p>
<p>Dalam ayat ini tidak ada amalan-amalan lahiriah! Dalam ayat ini tidak ada kewajiban-kewajiban baru berkaitan dengan amalan lahiriah. Yang ada dalam ayat ini adalah penyebutan bahwa Alloh <em>ta&#8217;ala </em>akan memperhitungkan hamba atas apa yang ada dalam hati-hati mereka. Alloh akan membuat perhitungan dengan hamba atas apa yang ada dalam hati-hati mereka.</p>
<p>Mereka (para sahabat) berkata, “Wahai Rosululloh, kami diperintah untuk berjihad lalu kami berjihad, kami diperintah sedekah maka kami pun bersedekah, kami diperintah berhijrah kami pun berhijrah, akan tetapi kami tidak mampu melaksanakan ayat ini.”</p>
<p>Ini termasuk bukti dalamnya pemahaman mereka, bukti kejujuran dan keikhlasan mereka. Mereka menghendaki agar hati-hati mereka mendapatkan keridhoan di sisi Alloh.</p>
<p>Maka Nabi – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam</em> – berkata kepada mereka,</p>
<p class="arabic">أتريدون أن تقولوا كما قال أهل الكتابين ؟! : ( سمعنا وعصينا ) قولوا : ( سمعنا وأطعنا )</p>
<p>“Apakah kalian ingin berkata seperti ucapan orang-orang ahli kitab, &#8216;kami dengar dan kami bermaksiat&#8217;. Ucapkanlah &#8216;kami dengar dan kami taat&#8217;.”</p>
<p>Maka mereka pun mengatakan, kami dengar dan kami taat. Lalu Alloh menurunkan, ayat</p>
<p class="arabic">آمَنَ الرَّسُولُ &#8230;</p>
<p>“<em>Rosul telah beriman&#8230;</em>” (al-Baqoroh: 285) dan seterusnya ayat sampai akhir.</p>
<p>Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim.</p>
<p>Yang menjadi dalil adalah bahwa para sahabat dahulu merasa takut terhadap keburukan, kerusakan dan penyakit-penyakit hati. Adakah orang yang selamat hatinya?!</p>
<p>Tatkala turun firman Alloh ta&#8217;ala,</p>
<p class="arabic">وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُم بِإِذْنِهِ حَتَّىٰ إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُم مِّن بَعْدِ مَا أَرَاكُم مَّا تُحِبُّونَ مِنكُم مَّن يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنكُم مَّن يُرِيدُ الْآخِرَةَ</p>
<p>“Dan sesungguhnya Alloh telah memenuhi janji-Nya kepada kamu, ketika kamu membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kamu lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rosul) sesudah Alloh memperlihatkan kepadamu apa yang kamu sukai. Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat.” (Ali &#8216;Imron: 152)</p>
<p>Ibnu Mas&#8217;ud berkata, “Demi Alloh, dahulu aku tidak mengetahui bahwa ada seseorang yang menghendaki dunia, sampai turunnya ayat ini.”</p>
<p>Hal itu karena mereka semua berjihad di jalan Alloh; kaum Muhajirun dan kaum Anshor – <em>rodhiyallohu &#8216;anhum &#8211; .</em></p>
<p>Kaum Muhajirun, mereka telah meninggalkan tanah kelahiran, orang-orang yang dicintai, anak-anak dan harta benda. Mereka berhijrah karena Alloh dan Rosul-Nya – <em>&#8216;alaihish sholaatu was salaam.</em></p>
<p>Kaum Anshor, mereka telah menolong Alloh, menolong Rosul-Nya, mengeluarkan hartamereka, mempersiapkan diri mereka dan mereka maju untuk berjihad, berdakwah, mengajarkan ilmu dan seterusnya.</p>
<p>Maka turunlah ayat ini, “<em>Di antaramu ada orang yang menghendaki dunia dan diantara kamu ada orang yang menghendaki akhirat</em>.” (Ali &#8216;Imron: 152)</p>
<p>Yakni, pokok kesalahan yang terjadi itu adalah keinginan terhadap dunia. Dan yang dimaksud dengan keinginan terhadap dunia di sini adalah ghonimah (harta rampasan perang). Yang dimaksud di sini bukanlah keinginan yang terus menerus terhadap dunia, seperti yang terjadi saat ini!</p>
<p>Jika kita periksa apa yang ada dalam hati-hati kita, apa yang akan kita dapatkan?!! Apa yang akan kita dapatkan dalam hati-hati kita?!!</p>
<p>Yang seandainya kami turunkan dalil-dalil atas hal itu, sungguh kita akan tahu bahwa hati-hati kita sangat membutuhkan pertolongan! Sangat membutuhkan perbaikan! Sangat membutuhkan pemeriksaan terhadap apa yang ada padanya!</p>
<p>Al-&#8217;Allamah Ibnul Jauzi – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “<strong>Sesungguhnya yang tergelincir di jalan ini hanyalah orang yang tidak mengikhlaskan amalnya untuk Alloh</strong>.”</p>
<p>Engkau bisa melihat salah seorang dari kita, ada yang menempuh perjalanan dalam kebaikan dengan bergegas, bersegera dan mendekatinya. Dari sana, engkau melihat setelah itu adanya sesuatu yang mengherankan, berupa kemunduran dan ketertinggalan!</p>
<p>Padahal kita mengetahui bahwa setiap kali seseorang melaksanakan suatu ketaatan, maka Alloh akan membalasnya dengan menambah kecintaan dan pengagungan terhadap ketaatan, menambah kekokohan dan kekonsitensian di atasnya. Kita membaca firman-Nya <em>ta&#8217;ala,</em></p>
<p class="arabic">وَالَّذِينَ اهْتَدَوْا زَادَهُمْ هُدًى</p>
<p>“<em>Dan orang-orang yang mau menerima petunjuk, Alloh menambah petunjuk kepada mereka</em>.” (Muhammad: 17)</p>
<p>Maka pelaksanaan suatu ibadah dan ketaatan adalah merupakan petunjuk yang Alloh tambahkan kepada petunjuk yang telah ada pada orang yang taat.</p>
<p>Akan tetapi, sebagaimana telah kalian dengar, perhatian terhadap perbaikan hati adalah perkara yang sangat penting sekali. Jangan kau tanyakan tentang hatimu kecuali kepada dirimu. Perhatikan, dimanakah posisimu? Perhatikan, dimanakah posisimu?</p>
<p>Oleh karenanya, telah datang suatu hadits riwayat al-Bukhori dan Muslim dari Abu Huroiroh bahwa Rosul – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>bersabda,</p>
<p class="arabic">غَزَا نَبِيٌّ مِنْ الْأَنْبِيَاءِ فَقَالَ لِقَوْمِهِ لَا يَتْبَعْنِي رَجُلٌ مَلَكَ بُضْعَ امْرَأَةٍ وَهُوَ يُرِيدُ أَنْ يَبْنِيَ بِهَا وَلَمَّا يَبْنِ بِهَا وَلَا أَحَدٌ بَنَى بُيُوتًا وَلَمْ يَرْفَعْ سُقُوفَهَا وَلَا أَحَدٌ اشْتَرَى غَنَمًا أَوْ خَلِفَاتٍ وَهُوَ يَنْتَظِرُ وِلَادَهَا</p>
<p>“Ada salah seorang Nabi yang hendak berperang, lalu dia berkata kepada kaumnya, tidak boleh mengikutiku orang yang telah menikahi seorang wanita sedangkan dia ingin menggaulinya namun belum menggaulinya. Juga orang yang membangun suatu rumah namun belum menaikkan atapnya. Juga orang yang telah membeli kambing atau onta yang sedang mengandung sedangkan dia menunggu-nunggu kelahirannya&#8230;” (al-hadits)</p>
<p>Nabi ini, beliau tidak menerima orang yang memiliki ketergantungan dengan suatu urusan dunia. Karena dikhawatirkan dengan sebab kesibukan dan ketergantungannya terhadap urusan-urusan ini, dia tidak akan ikhlas kepada Alloh, dia tidak akan sungguh-sungguh, dan dia tidak akan sabar dalam berjihad di jalan Alloh. Dia akan terus menunggu kapan bisa kembali kepada urusan-urusannya ini!</p>
<p>Maka termasuk sebab terbesar dari penyakit hati adalah cinta dunia. Wahai saudaraku, (cinta dunia) adalah kerusakan dan penyakit yang sangat berbahaya.</p>
<p>Setiap kita memiliki naluri yang telah diciptakan sebagai fitroh kita, untuk mencintai dunia. Tidak ada seorang pun yang mampu menghindar dan lepas dari hal ini, kecuali sesuai dengan kadar perbaikan hatinya, perjuangan melawan jiwanya, dan dia memperhatikan sejauh mana posisi dia dalam memperbaiki hatinya?</p>
<p>Maka hati ini, jika tidak dipenuhi dengan kebaikan, dengan rasa takut kepada Alloh, dengan muroqobah (merasa diawasi) Alloh, dengan ikhlas kepada Alloh dan dengan kejujuran terhadap Alloh, niscaya hati ini akan dikepung oleh berbagai fitnah dan penyakit.</p>
<p>Ibnul Jauzi – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “Kezholiman disebut kezholiman karena ia dari<em> zhulmah</em> (gelapnya) hati. Jika hati itu bercahaya, niscaya kezholiman tidak akan datang. Namun jika hati itu tidak bercahaya, niscaya hati itu menjadi gelap dan datanglah kezholiman darinya.”</p>
<p>Maka hati-hati manusia itu sangat butuh kepada cahaya, butuh kepada makanan, butuh kepada obat. Yaitu makanannya yang telah Alloh pilihkan dan Alloh turunkan sebagai rahmat dari-Nya untuk kita, dan juga sebagai perhatian dalam rangka memberikan hidayah dan taufik kepada kita.</p>
<p>Cahaya hati, makanan, obat dan penyembuhnya, ada pada al-Qur`an al-Karim dan <em>as-Sunnah al-Muthohharoh</em>.</p>
<p>Apakah kita telah menghadapkan diri kita untuk menuntut ilmu?!! Yakni ilmu syar&#8217;i?!!</p>
<p>Ilmu adalah cahaya. Cahayanya lebih hebat dari cahaya matahari dan bulan. Maka hendaknya kita tidak menyia-nyiakan diri, hidup tanpa ada pelajaran, tanpa halaqoh ilmu, tanpa ada hubungan dengan al-Qur`an.</p>
<p>Memberikan pelajaran, belajar mengajar, memberi nasihat kepada manusia serta berdakwah kepada Alloh &#8216;Azza wa Jalla, jika tidak menjadi tugas kita yang dibarengi dengan kesungguhan, tekad yang kuat, kesabaran, usaha dan kerelaan, maka akan sia-sialah diri kita, dakwah kita dan ukhuwah (persaudaraan) kita.</p>
<p>Syaikh kami al-Wadi&#8217;i – <em>rohimahulloh – </em>berkata, “<strong>Ahlussunnah itu banyak, akan tetapi mereka terpencar-pencar, tidak saling mencari dan tidak saling mengenal</strong>”!</p>
<p><strong>Ini termasuk salah satu kesalahan dan kekurangan yang terjadi pada kita</strong>.</p>
<p>Wahai saudara sekalian, memang pembicaraan terkadang melebar, namun secara ringkas, nasihat orang tua kita asy-Syaikh Robi&#8217; – <em>hafizhohulloh – </em>adalah ikhlas hanya kepada Alloh.</p>
<p>Dan itu adalah sebaik-baik yang beliau ucapkan. Semoga Alloh membalas kebaikan kepada beliau dari kita dan islam. Dan seperti itulah hendaknya orang-orang memberi nasihat.</p>
<p>Berpegang teguh dengan Kitabulloh dan Sunnah Rosul-Nya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>adalah landasan agung yang hanya ditegakkan oleh Ahlussunnah, sebagaimana kalian ketahui. Adapun selain Ahlussunnah, maka mereka berusaha menghancurkan landasan ini, sebagaimana dikatakan oleh al-Imam Ahmad – <em>rohimahulloh &#8211; </em>“Ahlul bid&#8217;ah berbeda-beda, mereka menyelisihi al-Kitab, namun mereka bersepakat dalam menyelisihi al-Kitab.”</p>
<p>Maka berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah hanya akan direalisasikan oleh orang yang meridhoi Alloh sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – </em>sebagai rosul dan nabinya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam -. </em>Yaitu orang yang menghendaki Alloh dan tidak menghendaki dunia, orang yang menyayangi hamba-hamba Alloh, sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah – <em>rohimahulloh &#8211; </em>“Ahlussunnah adalah orang yang paling mengetahi kebenaran dan paling sayang terhadap makhluk.”</p>
<p>Maka sifat rahmat (kasih sayang) akan datang ketika kita mempelajari dan membekali diri dengan ilmu serta mencurahkan usaha untuk memberikan nasihat dan bimbingan kepada manusia. Umat ini dan seluruh manusia sangat butuh kepada nasihat dan pengajaran ilmu.</p>
<p>Dan sebagaimana kalian ketahui – semoga Alloh memberkahi kalian – bahwa dakwah Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah, dakwah salafiyah, telah Alloh jadikan bermanfaat pada belahan timur dan barat bumi ini. Pada masa ini, dakwah ini mulai muncul di negri ini “Saudi”, dan Alloh telah menjadikannya sangat bermanfaat bagi belahan timur dan barat bumi ini. Maka aku ingin memberikan nasihat kepada para ulama dan para dai – meskipun aku termasuk orang yang paling butuh terhadap nasihat, akan tetapi tidak mengapa kita memberikan peringatan –, aku ingin memberi nasihat kepada para ulama ahlussunnah di negri ini, para dai dan para penuntut ilmu, hendaknya mereka terus menyebarkan dakwah ini. Dakwah yang dengannya Alloh telah menjadikan mereka mulia. Yaitu dakwah yang murni, bersih tidak ada hizbiyah (fanatik golongan), tidak ketimuran, tidak kebaratan, tidak ada kebid&#8217;ahan, yang ada hanya <em>tamassuk </em>(berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah secara benar -pent). Dakwah yang tidak akan koyak, tidak akan berubah, tidak akan berganti, akan tetapi (dakwah yang dilandasi dengan -pent) ittiba&#8217;, peneladanan dan keteguhan dalam berpegang dengan manhaj nubuwah.</p>
<p>Kita memohon kepada Alloh dengan anugrah dan kedermawanan-Nya, agar Dia menambahkan petunjuk dan ketakwaan kepada kita, memperbaiki hati-hati kita, melanggengkan persaudaraan kita dalam agama. Tidak ada daya upaya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh, Robb alam semesta.</p>
<p>Sambutan Syaikh Muhammad al-Imam – <em>hafizhohulloh ta&#8217;ala – </em>dalam Liqo`usy Syaro`i&#8217; di Mekah malam 8 Dzulhijjah 1430 H (Setelah sambutan dari Syaikh al-Allamah Robi&#8217; – <em>hafizhohullohu ta&#8217;ala</em>)</p>
<p>Selesai.</p>
<p>Ditranskrip dan dibandingkan dengan sumber audio oleh : Abu Ishaq as-Sathoifi – <em>ghofarollohu lahu wa ashlaha qolbahu (semoga Alloh mengampuninya dan memperbaiki hatinya).</em>Diijinkan untuk disebarkan oleh yang mulia Syaikh – <em>hafzhohulloh.</em></p>
<p>Sumber :  <a href="http://www.olamayemen.com/show_art40.html">http://www.olamayemen.com/show_art40.html</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/perbaiki-hatimu-wahai-saudaraku-salafi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam!</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 04 Jan 2010 23:04:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kajian Tematis]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=832</guid>
		<description><![CDATA[Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam 
لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا
(Syaikh Salim Ath Thawil hafidzahullah)

Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba&#8217;du,
&#8230; وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Karena Mereka Menambah, maka Kami Tambah. Seandainya Mereka Diam, tentu Kami pun Diam </strong></p>
<p align="center"><strong>لما زادوا زدنا ولو سكتوا لسكتنا</strong></p>
<p style="text-align: center;"><strong>(Syaikh Salim Ath Thawil <em>hafidzahullah)</em><br />
</strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Alloh semata, sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Amma ba&#8217;du,</p>
<p class="arabic">&#8230; وإن العلماء ورثة الأنبياء، وإن الأنبياء لم يوّرثوا ديناراً ولا درهماً وإنما ورثوا العلم، فمن أخذه أخذ بحظ وافر</p>
<p>Sesungguhnya Alloh telah menyempurnakan agama ini dan mencukupkan nikmat kepada hamba-hamba-Nya, dan Dia telah meridhoi Islam sebagai agama bagi mereka. Tatkala Rosululloh –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – meninggal dunia, beliau telah meninggalkan warisan dan ahli waris. Adapun warisan beliau adalah ilmu, sedangkan ahli warisnya adalah para ulama. Sebagaimana hal itu disebutkan dalam hadits Abu Darda – <em>rodhiyallohu &#8216;anhu</em> – dari Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bahwa beliau bersabda,</p>
<p>“&#8230; dan sesungguhnya para ulama adalah ahli waris para Nabi. Sedangkan para Nabi tidak meninggalkan warisan berupa dinar dan dirham, akan tetapi mereka hanyalah meninggalkan warisan berupa ilmu. Maka barangsiapa mengambilnya, dia telah mengambil bagian yang melimpah.” [Riwayat Abu Daud (<strong>3641</strong>), at-Tirmidzi (<strong>2682</strong>), dan Ibnu Majah (<strong>223</strong>). Dishohihkan oleh al-Albani dalam Shohihul Jami' (<strong>2697</strong>)]</p>
<p>Dan sungguh para ulama telah mengeluarkan usaha yang sangat besar. Mereka senantiasa menuliskan ilmu dan menyusunnya dengan teratur. Ada yang menafsirkan al-Qur`an, ada yang menuliskan hadits, ada yang mensyarah (memberikan penjelasan) ada juga yang membuatkan judul-judul bab pembahasan. Di antara mereka ada yang menyusun ilmu dalam bentuk syair, ada yang meringkas, ada yang memberi komentar, ada yang men<em>tahqiq</em>, ada yang memilah antara<em> shohih</em> dan <em>dhoif,</em> ada yang membuat daftar isi, dan sebagainya, dan sebagainya. Dan semuanya adalah orang yang sangat bersungguh-sungguh pada usahanya masing-masing. Semoga Alloh membalas mereka dengan sebaik-baik pembalasan.</p>
<p>Kemudian ketahuilah wahai pembaca, bahwa ulama yang paling besar perjuangan dan keutamaannya adalah para ulama yang membantah ahli bid&#8217;ah, pengikut hawa nafsu dan orang-orang yang sesat lagi menyimpang. Yaitu ulama yang mempertahankan islam, membela sunnah, menolong akidah dan menolak kesesatan. Maka engkau melihat mereka di segala medan selalu mengawasi setiap orang yang sesat dan suka mempermainkan.</p>
<p>Demikianlah mereka menolong kebenaran dan petunjuk. Dan inilah sebagian contoh yang akan menampakkan bagimu dengan gamblang bagaimana mereka menghadapi setiap orang yang digoda oleh hawa nafsunya untuk mempermainkan agama.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh pertama:</strong></span></p>
<p>Orang-orang pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud</em> dan <em>hululiyah</em> – yang mana mereka adalah orang-orang yang paling sesat – menyangka bahwa Alloh ta&#8217;ala berada di setiap tempat. Adapun pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud </em>mengatakan bahwa segala sesuatu yang ada itu hakikatnya adalah Alloh <em>&#8216;azza wa jalla</em>, apa yang kita lihat di antara berbagai makhluk tidak lain adalah bentuk yang bermacam-macam terhadap hakikat yang satu, yaitu Dzat Alloh<em> ta&#8217;ala</em>. Sampai-sampai mereka berkata, “Tuhan adalah hamba, dan hamba adalah tuhan.”</p>
<p>Dan sebagian thoghut-thoghut itu berkata, “Maha suci engkau maha suci aku, alangkah agungnya perkaraku.” Dan sebagian mereka berkata, “Aku adalah Tuhan, aku adalah Tuhan.” Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang dikatakan oleh orang-orang zholim itu. Dan mereka berkata tentang Alloh dengan perkataan batil yang sangat banyak.</p>
<p>Adapun orang-orang <em>hululiyah</em>, tidak jauh berbeda dari pengikut keyakinan <em>wihdatul wujud</em>. Mereka menyangka bahwa Alloh <em>ta&#8217;ala</em> dengan dzat-Nya menitis (menempati) pada dzat-dzat sebagian makhluk, dari kalangan para wali dan orang-orang sholih. Mereka menyangka bahwa beribadah kepada wali adalah beribadah kepada Alloh ta&#8217;ala, karena Alloh telah menitis (menempati) wali tersebut. Ini adalah keyakinan <em>hulul khosh</em> (yaitu, keyakinan bahwa Alloh menitis hanya pada sebagian makhluk tertentu -pent). Dan di antara mereka ada yang menyangka bahwa Alloh menitis pada dzat seluruh makhluk, sampai pun pada hewan-hewan. Maha tinggi Alloh dengan ketinggian yang besar, dari apa yang mereka katakan.</p>
<p>Saya katakan, maka para ulama pun menghadapi orang-orang zindiq lagi menyimpang itu. Para ulama berkata, bahkan Alloh ta&#8217;ala tinggi berada di atas &#8216;arsy-Nya, terpisah dari makhluk-Nya. Lalu para ahli bid&#8217;ah memprotes dan berkata, dari mana kalian mengatakan, “Terpisah dari makhluk-Nya” padahal Alloh ta&#8217;ala hanya berfirman,</p>
<p class="arabic">عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَى</p>
<p>“Dia berada tinggi di atas &#8216;Arsy.” [Thoha: 5] dan Dia tidak berfirman, “Terpisah dari makhluk-Nya”?</p>
<p>Maka tatkala ahli bid&#8217;ah berkata, bahwa Alloh ta&#8217;ala menitis pada makhluk-Nya dan bercampur pada mereka, para ulama sunnah pun berkata, bahkan Alloh “terpisah dari makhluk-Nya.” Maka para ulama menghadapi kebatilan mereka dengan kebenaran.</p>
<p>Dan demikianlah; karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh kedua:</strong></span></p>
<p>Alloh ta&#8217;ala memiliki wajah yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arabic">(كُلُّ مَنْ عَلَيْهَا فَانٍ (26) وَيَبْقَى وَجْهُ رَبِّكَ ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ (27</p>
<p>“Semua yang ada di bumi itu akan binasa. Dan tetap kekal wajah Robbmu yang mempunyai kebesaran dan kemuliaan.” [ar-Rohman: 26-27]</p>
<p>Dan Alloh juga memiliki dua tangan yang hakiki, sebagaimana firman-Nya,</p>
<p class="arabic">بَلْ يَدَاهُ مَبْسُوطَتَانِ</p>
<p>“(Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka.” [al-Maidah: 64]</p>
<p>Inilah keyakinan Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah. Lalu ahli bid&#8217;ah berkata, kenapa kalian berkata, “wajah yang hakiki” dan “dua tangan yang hakiki” padahal Alloh tidak mengatakan seperti itu, tidak pula Rosul-Nya dan bahkan tidak pula para sahabat?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, tatkala muncul orang yang beranggapan bahwa Alloh tidak memiliki wajah dan dua tangan, dan menganggap bahwa hal itu hanya sebagai majaz bukan sesuatu yang hakiki, maka ahlussunnah pun perlu untuk membantah mereka. Sehingga mereka (ahlussunnah) berkata, bahkan Alloh memiliki wajah yang hakiki bukan sebagai majaz, Dia juga memiliki dua tangan yang hakiki, bukan sebagai majaz. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh ketiga:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, sesungguhnya Alloh ta&#8217;ala turun ke langit dunia “dengan dzat-Nya.” Lalu ahli bid&#8217;ah berkata kepada ahlussunnah, dari mana kalian mendapatkan bahwa Alloh ta&#8217;ala turun “dengan dzat-Nya” bukankah dalam hadits tidak ada keterangan turun dengan dzat-Nya, akan tetapi yang ada dalam hadits hanyalah “Alloh turun” dan “Robb kita turun” tidak ada penyebutan dengan dzat-Nya?</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, tatkala ahli bid&#8217;ah memalingkan perkataan Rosul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – sehingga mereka berkata, “Alloh turun” maksudnya adalah perintah-Nya yang turun, atau salah satu malaikat-Nya yang turun, atau rohmat-Nya yang turun; maka ahlussunnah berkata, bahkan yang turun adalah Alloh ta&#8217;ala “dengan dzat-Nya”. Mereka (ahlussunnah) menambah penjelasan “dengan dzat-Nya” untuk membantah orang-orang yang berkata, yang turun itu selain Alloh. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh keempat:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, Alloh ta&#8217;ala memiliki sifat-sifat yang Dia bersifat dengan sifat-sifat tersebut “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya.” Ahli bid&#8217;ah berkata, dari mana kalian mendapatkan kalimat “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya”, padahal tidak ada kalimat ini dalam al-Kitab maupun as-sunnah?</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, tatkala muncul orang-orang yang menolak sifat-sifat Alloh ta&#8217;ala dengan dalih bahwa penetapan sifat itu akan berkonsekuensi pada <em>tamtsil</em> (penyerupaan sifat Alloh dengan makhluk-Nya), maka ahlussunnah membantah mereka dengan berkata, bahkan Alloh ta&#8217;ala bersifat dengan sifat-sifat yang Dia sifatkan untuk diri-Nya atau disifatkan oleh Rosul-Nya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– untuk-Nya “sesuai dengan bentuk yang layak bagi-Nya” tanpa ada penyerupaan. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><strong><span style="text-decoration: underline;">Contoh kelima:</span></strong></p>
<p>Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah berkata, sesungguhnya Alloh<em> ta&#8217;ala</em> datang pada hari kiamat dengan kedatangan yang hakiki dengan dzat-Nya. Mereka mengatakan demikian sebagai bantahan atas orang yang berkata, Dia datang secara majaz yakni yang datang adalah perintah-Nya. Demikianlah, karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh keenam:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah berkata, al-Qur`an adalah perkataan Alloh ta&#8217;ala bukan makhluk, sebagaimana Alloh ta&#8217;ala telah berfirman,</p>
<p class="arabic">وَإِنْ أَحَدٌ مِنَ الْمُشْرِكِينَ اسْتَجَارَكَ فَأَجِرْهُ حَتَّى يَسْمَعَ كَلَامَ اللَّهِ ثُمَّ أَبْلِغْهُ مَأْمَنَهُ</p>
<p>“<em>Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman (perkataan) Allah, kemudian antarkanlah ia ke tempat yang aman baginya.</em>” [at-Taubah: 6]</p>
<p>Ahli bid&#8217;ah berkata, Alloh ta&#8217;ala tidak berfirman tentang perkataan-Nya “bukan makhluk” lalu dari mana kalian mendapatkan hal itu?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, dahulu kami tidak mengatakan “al-Qur`an adalah perkataan Alloh bukan makhluk” dan inilah yang dahulu dipegangi kaum salaf pada masa-masa pertama Islam. Dan tatkala muncul orang yang mengatakan bahwa al-Qur`an perkataan Alloh itu adalah makhluk, ahlussunnah pun tidak tinggal diam dengan tangan terbelenggu, bahkan mereka (ahlussunnah) berkata “al-Qur`an adalah kalam (perkataan) Alloh bukan makhluk.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh ketujuh:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah mengatakan, bahwa kekafiran ada dua macam; yang besar dan yang kecil. Maka tidak semua yang disebut oleh Pembuat syariat sebagai kekafiran akan mengeluarkan (pelakunya) dari agama. Bahkan di sana ada kekafiran yang tidak akan mengeluarkan pelakunya dari Islam, meskipun hal itu terjadi atau muncul darinya. Inilah yang dimaksud kufur ashghor (kekafiran yang kecil). Dan mereka juga menyebutnya dengan istilah “Kufrun duna kufrin”, dan yang semisalnya juga adalah istilah “<em>Fisqun duna fisqin</em>” atau “<em>Zhulmun duna zhulmin</em>.” Maka ahli bid&#8217;ah pun berkata, dalam <em>nash-nash</em> al-Kitab dan as-Sunnah tidak ada apa yang kalian sangka ini, lalu dari mana kalian mendapatkan ini?</p>
<p>Ahlussunnah berkata, bahkan hal itu ada dalam al-Kitab dan as-Sunnah, akan tetapi kalian tidak memperhatikannya. Pembuat syariat telah menyebutkan sebagian amalan dan perkataan dengan sebutan kafir, namun Dia tidak menghendaki dengannya kekafiran yang mengeluarkan dari Islam. Oleh karena itu Ibnu Abbas – <em>rodhiyallohu &#8216;anhuma</em> – berkata, “Ini bukanlah kekafiran yang kalian pahami, akan tetapi ini adalah <em>kufrun duna kufrin</em>.” Inilah yang dipegangi oleh para ahli tafsir dari kalangan salaf dan para ahli tahqiq dari kalangan ulama. Seandainya bukan karena pemahaman ahli bid&#8217;ah terhadap nash-nash al-Kitab dan as-Sunnah yang tidak sesuai dengan kehendak Alloh dan Rosul-Nya –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – tentu kami tidak perlu mengatakan “kufrun duna kufrin.” Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Contoh kedelapan:</strong></span></p>
<p>Ahlussunnah wal Jama&#8217;ah berkata, terkadan Pembuat syariat meniadakan keimanan namun yang Dia kehendaki bukanlah peniadaan hakikat keimanan, atau pokok keimanan, atau peniadaan keimanan secara mutlak (keseluruhannya -pent). Bahkan terkadang Pembuat syariat meniadakan keimanan dan yang Dia maksudkan adalah peniadaan kesempurnaan iman, sebagaimana dalam hadits,</p>
<p class="arabic">لاَ يَزْنِي الزَّانِي حِيْنَ يَزْنِي وَهُوَ مُؤْمِنٌ</p>
<p>“<em>Tidaklah berzina seorang pezina ketika dia berzina dalam keadaan beriman.</em>” [Riwayat Muslim (104) dari Abu Huroirah – rodhiyallohu 'anhu]</p>
<p>Sesungguhnya dengan sabdanya ini beliau menghendaki peniadaan kesempurnaan iman yang wajib. Yakni, ketika dia berzina orang itu tidak memiliki keimanan yang mutlak lagi sempurna yang bisa mencegahnya dari perbuatan zina.</p>
<p>Ahli bid&#8217;ah pun berkata, kenapa kalian menambah “peniadaan kesempurnaan” kepada hadits itu.</p>
<p>Ahlussunnah menjawab, ini adalah salah satu uslub gaya bahasa arab yang mereka gunakan untuk berkata-kata. Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p>Wahai saudaraku pembaca, tidak diragukan lagi di sana banyak contoh lain selain yang saya sebutkan kepadamu. Dan maksud saya hanyalah menjelaskan bantahan kepada orang-orang yang membantah ahlussunnah dengan anggapan bahwa mereka (ahlussunnah) memberikan tambahan kepada al-Kitab dan as-Sunnah sesuatu yang tidak ada padanya. Maka saya katakan, mereka (ahlussunnah) hanyalah menambahkan untuk menjelaskan kebenaran ketika para pengusung kebatilan memiliki berbagai persangkaan-persangkaan (batil). Karena mereka menambah, maka kami pun menambah. Dan seandainya mereka diam, tentu kami pun diam.</p>
<p>Dan segala puji hanya milik Alloh, semenjak awal sampai akhir, secara lahir dan batin. Semoga Alloh mencurahkan sholawat, salam dan berkah kepada Nabi-Nya Muhammad, dan juga kepada keluarga dan para sahabat beliau seluruhnya.</p>
<p>[Makalah Syaikh yang mulia Salim ath-Thowil;Dinukil dari surat kabar al-Wathon Kuwait hari senin tanggal 28 Dzulqo'dah 1430 H yang bertepatan dengan 16 November 2009 M]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2010/01/seandainya-mereka-diam-tentu-kami-pun-diam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peran Hawa Nafsu Dalam Menyulut Api Perselisihan</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/10/peran-hawa-nafsu-dalam-menyulut-api-perselisihan/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/10/peran-hawa-nafsu-dalam-menyulut-api-perselisihan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 16 Oct 2009 23:47:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mukhtar al-Akhdhor Thibawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=725</guid>
		<description><![CDATA[Puji syukur hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang tidak ada nabi setelahnya. Amma badu..
Sebagian orang sering menuduh setiap orang yang menyelisihinya dengan tuduhan bid’ah, pengikut hawa nafsu, musuh sunnah dsb. Padahal sebagaimana diketahui  bahwa ahlul bid’ah adalah mereka pengikut hawa nafsu. Maka orang yang suka menuduh tadi seolah telah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Puji syukur hanya bagi Allah. Sholawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad yang tidak ada nabi setelahnya. Amma badu..</p>
<p>Sebagian orang sering menuduh setiap orang yang menyelisihinya dengan tuduhan bid’ah, pengikut hawa nafsu, musuh sunnah dsb. Padahal sebagaimana diketahui  bahwa ahlul bid’ah adalah mereka pengikut hawa nafsu. Maka orang yang suka menuduh tadi seolah telah bersaksi untuk dirinya bahwa dia adalah orang yang selamat dari hawa nafsu. Atau seolah-olah dia telah mendapat jaminan dari Allah bahwa hatinya tidak akan pernah kemasukan hawa nafsu.</p>
<p>Perselisihan bisa jadi karena terdorong oleh hawa nafsu yang menyesatkan atau bisa jadi karena memang benar-benar ingin ber<em>itiba’</em>.</p>
<p>Apabila hawa nafsu telah masuk kedalam hati seseorang maka akan menyebabkan orang tersebut gemar mengikuti sesuatu yang tidak jelas atau <em>mutasyabih</em> karena keinginannya  untuk mengalahkan orang yang menyelisihinya atau memenangkan perselisihan. Juga akan berakibat pada perpecahan dan permusuhan dikarenakan adanya perbedaan kepentingan dan tidak adanya kecocokan antara keduanya.</p>
<p>Sebagaimana yang telah diketahui bahwa syariat datang untuk memangkas peranan hawa nafsu secara mutlak. Ahlul bidah itu ada dua macam. Salah satunya adalah orang yang senantiasa mengikuti hawa nafsunya secara mutlak dan dia tidak membenarkan hukum-hukum syar’i secara kaseluruhan. Adapun orang yang membenarkan syariat dan berusaha untuk melaksanakannya sehingga sebagian besar perkataannya sesuai dengan kebenaran, maka tidaklah dikatakan bahwa ia pengikut hawa nafsu secara mutlak sehingga disifati sebagai ahlul bidah, sesat, musuh sunnah dsb. Sebagaimana dikatakan oleh sebagian orang yang merasa dirinya <strong><em>“selamat”</em></strong> dari mengikuti hawa nafsu !!</p>
<p>Taruhlah seandainya benar telah masuk hawa nafsu secara tersembunyi dalam perbuatan dan perkataan seseorang  maka apa hujjah mereka bahwa diri mereka sendiri terbebas dari hal tersebut sehingga mereka menuduh orang selain mereka dengan sifat itu. Kecuali apabila mereka punya dalil yang jelas menunjukkan bahwa mereka berada diatas kebenaran sedang yang lainnya menyelisihi kebenaran itu.</p>
<p>Padahal hakekatnya merekapun tidak pernah mendatangkan satu dalilpun dalam tuduhan-tuduhannya itu. Mereka hanyalah mengikuti sebagian persangkaan-persangkaan dusta, menipu diri sendiri dan fitnah sekitar tuduhan <em>taqlid </em>dsb.</p>
<p>Tatkala kita mengedepankan hawa nafsu dalam berdalil-sebagaimana mereka menjadikan<em> taqlid</em> mereka kepada syaikh sebagai hujjah, sedangkan <em>taqlid</em> adalah bagian dari hawa nafsu itu sendiri- maka dalil ini tidak akan menghasilkan sesuatu kecuali hanya sikap mengekor hawa nafsu dan<em> ta’ashub </em>(fanatik buta). Perbuatan seperti ini jelas menyelisihi syariat dari sisi ikhlas dan <em>mutaaba&#8217;ah</em>.</p>
<p>Orang yang menamakan pihak lain sebagai<em> mubtadi’</em>, musuh sunnah atau mengaburkan kebenaran, seharusnya mereka dapat bersatu apabila pihak lain tersebut mengikuti kebenaran. Sebaliknya mereka akan berpisah tatkala pihak lain itu menyelisihi kebenaran versi mereka. Akan tetapi ternyata orang tersebut hanya menyerukan perselisihan kepada pihak tersebut dalam semua keadaanya. Inilah bentuk dari mengikuti hawa nafsu itu sendiri.</p>
<p>Allah telah menjadikan perpecahan sebagai sesuatu yang dibenci dari diri kita. Dan telah memperingatkan dan melarang kita dari perselisihan.  Allah meridhoi ketaatan , kerukunan dan persatuan dalam diri kita. Sebagaimana dikatakan oleh Abdullah bin Mas&#8217;ud <em>radhiallahu &#8216;anhu :</em> “ Sesungguhnya apa yang kalian benci dalam jamaah (persatuan) dan ketaatan adalah lebih baik daripada apa yang kalian sukai akan tetapi dalam perpecahan “ persatuan itu rahmat dan perpecahan itu adzab.</p>
<p>Ibnu abdil barr berkata,” Dahulu dikatakan’tidak ada kebaikan dalam perpecahan dan tidak ada keburukan dalam persatuan.”</p>
<p>Allah tidak menjadikan sia-sia apa yang ada didalam kitabNya. Sehingga Allah menjadikan kitabNya  sebagai penjelasan atas segala sesuatu. Sementara terkadang kita mengatakan,” Perkataan seperti ini bersifat umum tentang persatuan.” Dan ini tidaklah benar.</p>
<p>Apabila Allah telah mengabarkan dalam kitabNya  bahwa Dia tidak menetapkan dan menuliskan perselisihan pada diri hamba-hambaNya dan kitapun telah mengetahui bahwa perselisihan itu telah tertanam pada tabiat dan telah tercetak pada penciptaan kita serta tidak mungkin kita untuk bisa terlepas atau menghilangkan tabiat ini, tidak akan hilang kecuali dengan datangnya kematian, maka sudah barang tentu Allah membimbing kita terkait hal-hal yang dapat menyelamatkan kita dari sejumlah keburukan yang ada pada perselisihan. Dengan bimbingan tersebut kita bisa mengatasi permasalahan kita. Diantara bimbingan Allah dalam hal ini adalah firmanNya :</p>
<p class="arabic">{و تعاونوا على البر و التقوى ولا تتعاونوا على الإثم و العدوان}</p>
<p><em>Dan salinglah tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan dan janganlah bertolong menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan… </em></p>
<p>Nabi s<em>halallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda <em>,” Bacalah al qur’an sehingga dapat menyatukan hati kalian, apabila kalian berselisih tentang maknanya maka hindarilah sehingga perselisihan itu tidak menjerumuskan kalian dalam keburukan.”</em> ( fathul bari 9/101)</p>
<p>Nabi juga bersabda,” <em>dan imam suatu kaum padahal kaum tersebut tidak menyukainya…..” </em>terkadang para makmum itu berasal dari golongan para pengikut hawa nafsu dan sang imam adalah orang yang paling utama diantara mereka, hanya saja persatuan itu lebih utama.</p>
<p>Disebutkan dalam “kasyful qina” (1/484)  : Apabila antara imam dan makmum terjadi perselisihan maka tidak ada manfaat nya sang imam mengimami mereka karena tidak adanya kecocokan hati antara mereka sedangkan salah satu maksud dari sholat berjamaah adalah untuk menjaga persatuan umat.</p>
<p>Orang yang berakal akan selalu menjauhi kondisi-kondisi yang dapat memicu perdebatan seperti ucapan dengan istilah-istilah rumit yang tidak difahami oleh kebanyakan orang. Ucapan yang dapat memicu perdebatan , penolakan dan membuat orang lari dari kebenaran seperti itu tidaklah digunakan kecuali dalam kondisi-kondisi darurat. Dia harus membiasakan diri menggunakan kata-kata yang jelas dengan dasar-dasar umum yang diharapkan akan mendatangkan persatuan.</p>
<p>Agama itu terbentuk dari 2 hal: ikhlas dan <em>mutaba&#8217;ah</em>. Perselisihan yang timbul dalam rangka<em> ittiba</em> ini dapat disebabkan oleh hal-hal yang dapat ditoleransi dan hal-hal yang tidak dapat ditoleransi yang layak diberikan cap dosa dan kesesatan. Adapun sebab-sebab yang bisa ditoleransi maka tidak layak pelakunya disifati dengan sebutan sesat atau fasiq dsb.</p>
<p>Dengan demikian iktilaf dalam rangka<em> mutaba&#8217;ah</em> adalah hal yang mungkin, wajar dan dapat disaksikan. Akan tetapi tidak ada khilaf dalam hal keikhlasan karena hal itu hanya Allah yang mengetahuinya. Ikhlas dalam berdakwah dijalan Allah adalah ikhlas dalam mendakwakan islam dan sunnah. Abu Aliyah berkata dalam mentafsirkan firman Allah,”    ولا تفرقوا (<em>Janganlah kalian saling bermusuhan</em>). Beliau  berkata,” <strong>Dalam rangka keikhlasan kepada Allah, jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara</strong>.” (Qurtubi 4/32)</p>
<p>Wasssalamualaikum</p>
<p>Al Jazair 12-08-2009</p>
<p>Mukhtar Al Akhdhar Thibawy</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/10/peran-hawa-nafsu-dalam-menyulut-api-perselisihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kedustaan Penamaan Daulah Fathimiyah</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/10/kedustaan-penamaan-daulah-fathimiyah/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/10/kedustaan-penamaan-daulah-fathimiyah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Oct 2009 07:43:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>LAJNAH DAIMAH</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Telah keluar dari al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta penjelasan yang sangat penting bahwa persatuan umat akan terwujud dengan berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Berikut ini penjelasan tersebut.
Segala puji hanya milik Allah semata, sholawat dan salam tetap tercurah kepada Rasul yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Wa ba’du:
Sesungguhnya Allah – ‘azza wa jalla [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr">Telah keluar dari <em>al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta</em> penjelasan yang sangat penting bahwa persatuan umat akan terwujud dengan berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Berikut ini penjelasan tersebut.</p>
<p dir="ltr">Segala puji hanya milik Allah semata, sholawat dan salam tetap tercurah kepada Rasul yang tidak ada Nabi lagi setelahnya. Wa ba’du:</p>
<p dir="ltr">Sesungguhnya Allah – ‘<em>azza wa jalla</em> – telah memerintahkan persatuan umat ini dan melarang berbantah-bantahan. Dia berfirman,</p>
<p class="arabic">وَلا تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu.</em>” (al-Anfal: 46)</p>
<p dir="ltr">Dan persatuan umat ini tidak akan terwujud kecuali dengan berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah. Oleh karena itu, Allah memerintah untuk berpegang teguh dengan tali Allah yang kokoh. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p class="arabic">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلا تَفَرَّقُوا</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai.</em>” (Ali ‘Imran: 103)</p>
<p dir="ltr">Umat Islam yang sedang menghadapi kepungan berbagai macam bahaya berada dalam kebutuhan yang mendesak untuk berpegang teguh dengan Kitabullah ‘<em>azza wa jalla</em> dan Sunnah Nabi-Nya – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – dengan meniti jalan para sahabat beliau yang mulia – radhiyallohu ‘anhum –. Dan Allah – subhanahu wa ta’ala – telah mengarahkan kita kepada manhaj yang lurus ini dalam kitab-Nya yang mulia, ketika Dia berfirman,</p>
<p class="arabic">وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan bahwa (yang Kami perintahkan ini) adalah jalanKu yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalanNya.</em>” (al-An’am: 153)</p>
<p dir="ltr">Maka persatuan, kesatuan dan kemuliaan umat, terletak pada keteguhan dalam berpegang dengan jalan lurus yang ditempuh oleh Nabi kita Muhammad bin Abdillah – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– dan para sahabat beliau yang mulia, dengan tidak menyimpang darinya. Dengan itulah akan tergapai keridhaan Robb semesta alam dan keberuntungan dengan mendapatkan surga-Nya. Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – telah bersabda,</p>
<p class="arabic">تَرَكْتُ فِيكُمْ مَا إِنْ تَمَسَّكْتُمْ بِهِ لَنْ تَضِلُّوا بَعْدِى أَبَدًا كِتَابُ اللهِ وَسُنَّتِى</p>
<p dir="ltr">“<em>Telah aku tinggalkan pada kalian sesuatu yang jika kalian berpegang teguh kepadanya niscaya kalian tidak akan tersesat sepeninggalku selamanya. Yaitu, Kitabullah dan sunnahku</em>.”</p>
<p dir="ltr">Tatkala nasihat kepada Allah, kitab-Nya, rasul-Nya, para imam kaum muslimin dan kepada orang awam di antara kaum muslimin merupakan kewajiban<em> syar’i </em>– dan termasuk nasihat tersebut adalah dengan menulis penjelasan tentang perkara yang banyak dinukilkan oleh media massa dari sebagian orang yang ditokohkan oleh umat ini, maka kami akan menjelaskan hakikat pernyataannya yang bisa membuat kerancuan bagi umumnya kaum muslimin, dan menipu orang yang tidak mampu melihat berbagai permasalahan. Orang tersebut telah membuat pernyataan bahwa negara yang dikenal dengan Daulah Fathimiyah adalah daulah Islam yang menyimpan solusi tepat untuk masa sekarang, sebagaimana dia adalah solusi tepat di masa lalu. Ini adalah kerancuan dan pernyataan yang batil, karena beberapa alasan berikut:</p>
<p dir="ltr"><strong>Pertama:</strong></p>
<p dir="ltr">Penamaan negara itu dengan Daulah Fathimiyah adalah penamaan palsu yang dimaksudkan oleh para pendirinya untuk menipu kaum muslimin dengan mengambil nama putri Rasulullah – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> –. Para ulama dan ahli sejarah pada masa itu telah menjelaskan kedustaan pengakuan tersebut, dan bahwa pendirinya pada asalnya adalah seorang majusi yang bernama Sa’id bin al-Husain bin Ahmad bin Abdullah bin Maimun al-Qaddah bin Dishan ats-Tsanawi al-Ahwazi. Dan Sa’id ini menamai dirinya dengan Ubaidullah ketika hendak menampakkan dan menyebarkan dakwahnya. Dia menggelari dirinya dengan gelaran al-Mahdi.</p>
<p dir="ltr">Maka nisbat yang benar untuk negaranya ini adalah Ubaidiyah, sebagaimana hal itu telah disebutkan oleh sejumlah ulama ahli <em>tahqiq</em>. Dan nampak dari silsilah nasab pendirinya ini yang telah disebutkan tadi, bahwa pengakuannya memiliki garis nasab dari Ahlul bait adalah dusta dan palsu. Hanya saja dia menampakkan penyandaran nasab seperti itu karena adanya kecenderungan hati manusia kepada mereka. <em>Al-Allamah</em> Ibnu Khalkan dalam <em>Wufiyyatul A’yan </em>(3/118) berkata, “Jumhur ulama berpendapat tidak benarnya nasab mereka, dan bahwa mereka adalah para pendusta yang mengaku-aku nasab. Mereka sama sekali tidak memiliki bagian dalam nasab Nabi Muhammad.”</p>
<p dir="ltr">Adz-Dzahabi berkata dalam <em>al-Ibar fi Khobari man Ghobar</em> juz 2 hlm. 199, “Al-Mahdi Ubaidullah, moyangnya para khalifah al-Bathiniyah al-Ubaidiyah al-Fathimiyah telah membuat kedustaan bahwa dirinya termasuk anak keturunan Ja’far ash-Shadiq.”</p>
<p dir="ltr">Ahli sejarah yang lain menyebutkan bahwa pada bulan Rabi’ul awwal tahun 402 H, sekumpulan para ulama, para hakim, orang-orang mulia, orang-orang yang adil, dan orang-orang shalih ahli hadits menulis dan mempersaksikan bahwa seorang penguasa di Mesir yaitu Manshur yang nasabnya kembali kepada Sa’id pendiri Daulah Ubaidiyah, tidak memiliki garis keturunan dari anak Ali bin Abi Thalib. Dan klaim yang mereka aku adalah batil dan dusta. (Para ulama itu juga mempersaksikan –pent) bahwa mereka tidak mengetahui ada seorang pun dari ahli bait Ali bin Abi Thalib yang abstain (<em>tawaqquf</em>) dalam menyatakan pendapat bahwa mereka adalah Khawarij para pendusta, dan bahwa pemimpin yang ada di Mesir ini bersama dengan pendahulunya adalah orang-orang kafir, fasiq, fajir, <em>mulhid</em>, zindiq, <em>mu’athil</em>, menentang Islam dan meyakini madzhab majusi dan tsanawiyah (keyakinan adanya dua pencipta –pent). Mereka telah meniadakan berbagai had, menghalalkan kemaluan, menghalalkan khomr, menumpahkan darah, mencela para nabi, melaknat para salaf, dan mengklaim rububiyah. Dan ini ditulis pada tahun empat ratus dua. Ibnu Katsir berkata dalam <em>al-Bidayah wan Nihayah</em> (11/346) setelah menukil hal ini, dan banyak orang yang menulis tulisan ini dalam satu waktu.</p>
<p dir="ltr"><strong>Kedua:</strong></p>
<p dir="ltr">Mereka menampakkan pembelaan terhadap ahlul bait. Pengakuan ini mereka tampakkan sebagai tipu daya yang mereka lakukan untuk mengambil perasaan kaum muslimin, karena mereka tahu bahwa kaum muslimin mencintai Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – dan ahlul bait beliau. al-Ghozali dan ulama lain telah menyebutkan bahwa mereka sesungguhnya adalah orang-orang Bathiniyun. (Lihat <em>Mir`atul Janan </em>3/107)</p>
<p dir="ltr">An-Nuwairi berkata, “asy-Syarif Abdullah bin Muhammad bin Ali yang dikenal dengan Akhi Muhsin telah menghikayatkan bahwa Abdullah bin Maimun pernah tinggal di sabath (lorong atau terowongan antara dua rumah –pent) rumah Abu Nuh. Dan dia dahulu menyamar dibalik ilmu dan pembelaan terhadap ahlul bait. Tatkala telah nampak darinya apa yang dia sembunyikan dan tutupi, berupa sikap<em> ta’thil</em> (meniadakan berbagai syariat Islam –pent), <em>ibahah</em> (pembolehan perkara yang diharamkan –pent), makar dan tipu daya; orang-orang pun bangkit melawannya. Dan disebutkan termasuk orang-orang yang bangkit melawannya adalah kelompok Syi’ah, Mu’tazilah dan selain mereka. Maka dia pun lari kabur menuju Bashrah.” Selesai perkatan beliau secara ringkas.</p>
<p dir="ltr"><strong>Ketiga:</strong></p>
<p dir="ltr">Keadaan dan jalan yang ditempuh Daulah tersebut. Para ulama telah menyebutkan secara global keadaan mereka dalam satu perkataan masyhur yang dikatakan oleh Abu Bakr al-Baqilani, al-Ghazali dan Ibnu Taimiyah. Perkataan itu adalah, bahwa mereka menampakkan sikap <em>rafidhah</em> dan menyembunyikan kekufuran murni.</p>
<p dir="ltr">Al-Baqilani berkata, dari al-Qaddah kakek Ubaidullah, “Dia adalah seorang <em>bathini</em> yang jelek, sangat berkeinginan untuk menghapus agama Islam. Dia melenyapkan para ulama dan fuqaha agar dia leluasa untuk menyesatkan manusia. Anak keturunannya pun datang dengan metodenya. Mereka membolehkan khamr, kemaluan, dan mereka merusak akidah manusia.” (Lihat <em>Tarikh al-Islam </em>24/23)</p>
<p dir="ltr">Abul Hasan al-Qabisi pemilik kitab al-Mulakhosh berkata, “Yang dibunuh oleh Ubaidullah dan anak keturunannya sepeninggalnya; (sebanyak) empat ribu orang laki-laki yang terdiri dari orang alim dan ahli ibadah di tempat penyembelihan dalam penyiksaan, dalam rangka mencegah mereka dari<em> tarodhi</em> (ucapan doa keridhaan Allah;<em> rodhiyallohu ‘anhum </em>–pent), namun mereka lebih memilih kematian.”</p>
<p dir="ltr">As-Suyuthi dalam Tarikh al-Khulafa juz 1 hlm. 526 berkata, “Dan termasuk dalam hal itu (yakni, fitnah yang terjadi pada abad ke-3 Hijriyah –pent) adalah ditegakkannya Daulah Ubaidiyah, dan alangkah besarnya kerusakan yang mereka timbulkan, kekufuran mereka, dan pembunuhan mereka terhadap para ulama dan orang-orang shalih.”</p>
<p dir="ltr">Asy-Syathibi al-Maliki berkata dalam <em>al-I’tishom</em> juz 2 hlm. 44, “Ubaidiyah yang menguasai Mesir dan Afrika menganggap bahwa hukum-hukum syar’i hanyalah khusus untuk orang-orang umum. Adapun orang-orang khusus dari mereka, telah naik dari tingkatan tersebut. Maka kaum wanita secara umum adalah halal bagi mereka, sebagaimana segala sesuatu yang ada di alam semesta baik yang basah ataupun kering adalah halal bagi mereka. Dan mereka berdalil dengan khurafat-khurafat nenek moyang yang tidak bisa diterima oleh orang yang punya akal.”</p>
<p dir="ltr"><strong>Keempat:</strong></p>
<p dir="ltr">Sikap para ulama terhadap masa-masa tersebut. Para ulama senantiasa menampakkan celaan terhadap Ubaidiyun dan perbuatan mereka yang buruk. Di antara hal yang bisa menjelaskan kepada kita sikap ulama ini, adalah apa yang dilakukan oleh as-Suyuthi dalam kitabnya <em>Tarikh al-Khulafa</em> hlm 4, ketika dia berkata, “Aku tidak menyebutkan seorang pun dari para khalifah Ubaidiyun, karena kekhilafahan mereka tidak sah. Dan telah disebutkan bahwa kakek mereka adalah seorang Majusi. Hanya saja orang-orang awam yang bodoh menamai mereka dengan Fathimiyun.”</p>
<p dir="ltr"><strong>Kelima:</strong></p>
<p dir="ltr">Setelah menelaah perkatan para ulama dan ahli sejarah, menjadi jelas bagi setiap orang bahwa Daulah Fathimiyah memiliki berbagai bahaya bagi kaum muslimin yang cukup untuk menolak setiap orang yang mengangkat panjinya, dan berdakwah dengan dakwahnya. Oleh karena itu kita dapati bahwa kaum muslimin terdahulu merasa gembira dengan hancurnya mereka melalui tangan seorang raja yang shalih, Sholahuddin al-Ayubi <em>– rohimahulloh </em>– pada tahun 567 H. Maka setelah ini semua, tidak boleh bagi kita untuk menyeru manusia agar menisbatkan diri kepada Daulah Ubaidiyah yang sesat tersebut. Seruan semacam ini adalah penipuan dan pengkhianatan terhadap Islam dan kaum muslimin. Nasihat kami kepada para imam kaum muslimin dan umumnya mereka, agar berpegang teguh dengan al-Kitab dan as-Sunnah, serta menyatukan hati-hati di atas keduanya. Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –</em> bersabda,</p>
<p class="arabic">أن الله يرضى لكم ثلاثا أن تعبدوه ولا تشركوا به شيئا وأن تعتصموا بحبل الله جميعا وأن تناصحوا من ولاه الله أمركم</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya Allah meridhai tiga perkara bagi kalian; kalian beribadah kepada-Nya semata tidak menyekutukan sesuatu pun kepada-Nya, kalian berpegang teguh dengan tali Allah semuanya, dan kalian saling menasihati kepada orang yang Allah serahi urusan kalian</em> (yakni, para pemimpin –pent).” Riwayat Muslim.</p>
<p dir="ltr">Semoga Allah memberi taufik kepada seluruhnya menuju perkara yang Dia cintai dan ridhai. Semoga sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi kita Muhammad, keluarga beliau, dan para sahabat beliau semuanya.</p>
<p dir="ltr"><strong>Al-Lajnah ad-Daimah lil Buhuts al-Ilmiyah wal Ifta</strong></p>
<p dir="ltr">Ketua: Abdulaziz bin Abdillah bin Muhammad Alusy Syaikh.</p>
<p dir="ltr">Anggota:</p>
<p dir="ltr">Abdullah bin Abdirrahman al-Ghudayan</p>
<p dir="ltr">Shalih bin Fauzan al-Fauzan</p>
<p dir="ltr">Ahmad bin Ali Sair al-Mubaraki</p>
<p dir="ltr">Abdullah bin Muhammad al-Muthlaq</p>
<p dir="ltr">Abdullah bin Muhammad al-Khanin</p>
<p dir="ltr">Sa’ad bin Nashir asy-Syatsri</p>
<p dir="ltr">Muhammad bin Hasan Alusy Syaikh</p>
<p dir="ltr">Yusuf bin Muhammad al-Ghafish</p>
<p dir="ltr">Sumber :  <a href="http://www.alriyadh.com/2007/04/09/article240297.html">http://www.alriyadh.com/2007/04/09/article240297.html</a></p>
<p dir="ltr">
<p dir="rtl">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/10/kedustaan-penamaan-daulah-fathimiyah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menjadi Da&#8217;i Ilalllah Dengan Izin-Nya</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/10/menjadi-dai-ilalllah-dengan-izin-nya/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/10/menjadi-dai-ilalllah-dengan-izin-nya/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 09 Oct 2009 01:31:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tafsir]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=712</guid>
		<description><![CDATA[METODE DAKWAH DAN PERBAIKAN
Dari Firman Allah – Jalla wa ‘alaa –
“Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya.” (al-Ahzab: 46)
Karya Syaikh al-Fadhil:
Abu Abdillah Hasan Ayat ‘Aljat al-Jaza`iri – hafizhohullohu wa ro’aahu –

Sesungguhnya dakwah (menyeru manusia) kepada Allah ta’ala adalah jalannya para Rasul dan pengikut mereka. Sebagaimana Allah telah berfirman,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p dir="ltr" align="center"><strong>METODE DAKWAH DAN PERBAIKAN</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>Dari Firman Allah –<em> Jalla wa ‘alaa</em> –</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>“<em>Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya</em>.” (al-Ahzab: 46)</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>Karya Syaikh al-Fadhil:</strong></p>
<p dir="ltr" align="center"><strong>Abu Abdillah Hasan Ayat ‘Aljat al-Jaza`iri – <em>hafizhohullohu wa ro’aahu</em> –</strong></p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Sesungguhnya dakwah (menyeru manusia) kepada Allah ta’ala adalah jalannya para Rasul dan pengikut mereka. Sebagaimana Allah telah berfirman,</p>
<p class="arabic">قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ</p>
<p dir="ltr">“Katakanlah: &#8220;<em>Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik</em>&#8220;.” (Yusuf: 108)</p>
<p dir="ltr">Demikian juga, dakwah adalah sebaik-baik ucapan dan keadaan seorang mukmin. Karena Allah – <em>subhanahu</em> – telah berfirman,</p>
<p class="arabic">وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: &#8220;Sesungguhnya aku Termasuk orang-orang yang menyerah diri</em> <em>?</em>&#8221; (Fushshilat: 33)</p>
<p dir="ltr">Dan di antara ayat-ayat yang memuat pembahasan yang sangat penting ini adalah firman Allah – <em>‘azza wa jalla</em> – dalam surat al-Ahzab,</p>
<p class="arabic">(يَا أَيُّهَا النَّبِيُّ إِنَّا أَرْسَلْنَاكَ شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا (٤٥) وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا (٤٦</p>
<p dir="ltr">“<em>Hai Nabi, sesungguhnya Kami mengutusmu untuk jadi saksi, dan pembawa kabar gemgira dan pemberi peringatan, dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya dan untuk jadi cahaya yang menerangi</em>.” (al-Ahzab: 45-46)</p>
<p dir="ltr">Kita akan mencukupkan (pembicaraan) pada bagian kedua dari ayat ini. Yaitu firman Allah ta’ala,</p>
<p class="arabic">وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya.</em>” (al-Ahzab: 46)</p>
<p dir="ltr">Kalimat ini mengandung manhaj (metode) yang hendaknya ditempuh oleh seorang dai dalam berdakwah menyeru manusia kepada Allah ta’ala.</p>
<p dir="ltr">Inilah tafsir dari kalimat ini:</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;"><em><strong>PERTAMA, Firman Allah ta’ala, “Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah.”</strong></em></span></p>
<p dir="ltr">Tentang makna ayat ini, para ahli tafsir memiliki tiga pendapat yang disebutkan oleh al-Mawardi dalam tafsirnya (3/383) akan tetapi inti dari ketiga pendapat ini adalah satu yaitu mengikhlaskan agama hanya untuk Allah ta’ala:</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Pendapat pertama</span>, pendapat Ibnu Abbas – <em>rodhiyallohu ‘anhuma</em> –, “(Menyeru) kepada <em>syahadat laa ilaaha illalloh</em>.” Dan ini adalah kalimat ikhlas. Sebagaimana telah datang dalam hadits Abdurrahman bin Abza – rodhiyallohu ‘anhu – secara <em>marfu</em>’ (sampai kepada Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em>),</p>
<p class="arabic">أَصْبَحْناَ عَلَى فِطْرَةِ الإِسْلاَمِ وَكَلِمَةِ الإِخْلاَصِ وَدِينِ نَبِيِّناَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَمِلَّةِ أَبِينَا إِبْرَاهِيمَ حَنِيفاً مُسْلِماً وَماَ كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ</p>
<p dir="ltr">“Kami masuk waktu pagi di atas fithrah agama Islam, kalimat ikhlas, agama Nabi kita Muhammad – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – dan agama Ibrahim yang lurus, muslim dan tidak termasuk golongan orang musyrik.” [1]</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Pendapat kedua</span>, pendapat Ibnu Isa, “(Menyeru) untuk taat kepada Allah.” Dan pondasi ketaatan ini adalah apa yang Allah perintahkan berupa keikhlasan. Sebagaimana Allah berfirman,</p>
<p class="arabic">وَمَا أُمِرُوا إِلا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus</em>.” (al-Bayyinah: 5)</p>
<p dir="ltr">Dia juga berfirman,</p>
<p class="arabic">قُلْ إِنِّي أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Katakanlah: &#8220;Sesungguhnya aku diperintahkan supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama</em>.” (az-Zumar: 11)</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;">Pendapat ketiga</span>, pendapat an-Naqqasy, “(Menyeru) kepada agama Islam.” Dan padanya ada makna keselamatan yang sama dengan makna ikhlas. Ahli bahasa berkata, [2] “<em>Salima lii asy-syai`ul fullani</em>” yaitu, “<em>Kholasho lii</em>” (Sesuatu itu murni untukku). Di antara yang menunjukkan makna ini adalah firman Allah ta’ala,</p>
<p class="arabic">ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا رَجُلا فِيهِ شُرَكَاءُ مُتَشَاكِسُونَ وَرَجُلا سَلَمًا لِرَجُلٍ هَلْ يَسْتَوِيَانِ مَثَلا الْحَمْدُ لِلَّهِ بَلْ أَكْثَرُهُمْ لا يَعْل ٢٩</p>
<p dir="ltr"><em>“Dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja)</em>.” (az-Zumar: 29)</p>
<p dir="ltr">Yakni seorang budak yang murni milik tuannya. Dan dalam hal ini telah datang firman Allah ta’ala,</p>
<p class="arabic">وَمَنْ أَحْسَنُ دِينًا مِمَّنْ أَسْلَمَ وَجْهَهُ لِلَّهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ وَاتَّبَعَ مِلَّةَ إِبْرَاهِيمَ حَنِيفًا وَاتَّخَذَ اللَّهُ إِبْرَاهِيمَ خَلِيلا</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan siapakah yang lebih baik agamanya dari pada orang yang ikhlas menyerahkan dirinya kepada Allah.</em>” (an-Nisa: 125)</p>
<p dir="ltr">Yakni, mengikhlaskan amal hanya untuk Allah semata, tidak ada sekutu baginya, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (1/385).</p>
<p dir="ltr">Dan keikhlasan ini hendaknya terwujud dari dua sisi: Dari sisi dai itu sendiri, dan dari sisi perkara yang diserukan.</p>
<p dir="ltr"><strong>Adapun dari sisi seorang dai</strong>, adalah dengan meniatkan dengan dakwahnya itu untuk mendekatkan manusia kepada Rabb mereka – ‘<em>azza wa jalla</em> – dan mencari wajah Allah ta’ala. Dengan dakwahnya itu dia tidak menghendaki balasan dan terima kasih.</p>
<p dir="ltr">Dan keikhlasan ini akan dirusak oleh dua perkara; kecintaan terhadap kepemimpinan dan kecintaan terhadap harta. Dan Rasulullah – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– telah menyebutkan bersamaan dua perkara ini dalam hadits Ka’ab bin Malik – rodhiyallohu &#8216;anhu – secara marfu’,</p>
<p class="arabic">مَا ذِئْبَانِ جَائِعَانِ أُرْسِلاَ فِي غَنَمٍ بِأَفْسَدَ لَهَا مِنْ حِرْصِ الْمَرْءِ عَلَى الْمَالِ وَالشَّرَفِ لِدِينِهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Kerusakan seekor kambing karena dua serigala kelaparan yang dibiarkan bersamanya tidaklah lebih besar dibandingkan kerusakan agama karena ketamakan seseorang terhadap harta dan kemuliaan.”</em> [3]</p>
<p dir="ltr">Dalam riwayat Abu Hurairah,</p>
<p class="arabic">ما ذئبان ضاريان جائعان باتا في زريبة غنم أغفلها أهلها يفترسان ويأكلان بأسرع فيها فسادا من حب المال والشرف في دين المرء المسلم</p>
<p dir="ltr">“<em>Dua serigala kelaparan dan berbahaya yang bermalam di kandang domba yang dilalaikan oleh pemiliknya, yang mana serigala itu buas menerkam dan memangsa, tidaklah lebih cepat merusak jika dibandingkan kecintaan harta dan kemuliaan yang merusak agama seorang muslim</em>.” [4]</p>
<p dir="ltr">Dua hal yang merusak ini juga telah Allah sebutkan bersamaan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arabic">(مَا أَغْنَى عَنِّي مَالِيَهْ (٢٨) هَلَكَ عَنِّي سُلْطَانِيَهْ (٢٩)</p>
<p dir="ltr">“<em>Hartaku sekali-kali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku daripadaku</em>.” (al-Haaqqoh: 28-29)</p>
<p dir="ltr">Dan dalam surat al-Qashash, Allah – subhanahu – telah menyebutkan dua contoh bagi orang yang diuji dengan dua fitnah ini:</p>
<p dir="ltr">Contoh pertama, yaitu Fir’aun yang terfitnah dengan kecintaan terhadap kekuasaan. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p class="arabic">إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلا فِي الأرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا شِيَعًا يَسْتَضْعِفُ طَائِفَةً مِنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَاءَهُمْ وَيَسْتَحْيِي نِسَاءَهُمْ إِنَّهُ كَانَ مِنَ الْمُفْسِدِينَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya Fir&#8217;aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir&#8217;aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan</em>.” (al-Qashash: 4)</p>
<p dir="ltr">Adapun contoh kedua adalah Qarun, yang terfitnah dengan kecintaan terhadap harta. Allah ta’ala berfirman,</p>
<p class="arabic">إِنَّ قَارُونَ كَانَ مِنْ قَوْمِ مُوسَى فَبَغَى عَلَيْهِمْ وَآتَيْنَاهُ مِنَ الْكُنُوزِ مَا إِنَّ مَفَاتِحَهُ لَتَنُوءُ بِالْعُصْبَةِ أُولِي الْقُوَّةِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya Qarun adalah tkaum Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat.</em>” (al-Qashash: 76)</p>
<p dir="ltr"><strong>Maka fitnah yang pertama adalah cinta harta dan kepemimpinan (kekuasaan).</strong> Dan ini adalah syahwat yang tersamar, yang telah diperingatkan oleh Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – sebagaimana dalam hadits Abdullah bin Zaid al-Mazini – rodhiyallohu &#8216;anhu – secara marfu’,</p>
<p class="arabic">إن أخوف ما أخاف عليكم الرياء والشهوة الخفية</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya sesuatu yang paling aku khawatirkan menimpa kalian adalah riya` dan syahwat yang tersamar</em>.” [5]</p>
<p dir="ltr">Al-Imam Abu Daud as-Sajistani berkata – sebagaimana diriwayatkan oleh al-Khathib dalam Tarikhnya (4/115), “Syahwat yang tersamar adalah cinta kepemimpinan.”</p>
<p dir="ltr">Dan engkau mendapati orang yang terfitnah dengan perkara ini, niscaya dia akan mengajak (orang lain) kepada dirinya dan untuk mengagungkan dirinya. Sebagaimana hal ini telah diperingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dalam “Kitab at-Tauhid”, ketika beliau menyampaikan permasalahan-permasalahan yang ada pada bab “<em>ad-Da’wah  ila Syahadati an Laa ilaaha illalloh</em>” dia berkata, “Permasalahan kedua: Peringatan untuk berbuat ikhlas. Karena banyak di antara manusia ketika menyeru kepada kebenaran, dia malah menyeru kepada dirinya sendiri.”</p>
<p dir="ltr">Hal ini juga diperingatkan oleh al-‘Allamah Abdurrahman as-Sa’di dalam Tafsirnya (hlm. 667), dia berkata, “Sesungguhnya keberadaannya sebagai penyeru kepada Allah mengharuskan adanya keikhlasan dalam dakwah (menyeru manusia) kepada Allah, bukan (menyeru) kepada dirinya, bukan juga kepada pengagungan dirinya. Sebagaimana hal itu telah banyak menimpa jiwa-jiwa dalam kedudukan ini.”</p>
<p dir="ltr">Dan sebab penyakit ini adalah perkara lain yang membinasakan, yaitu ujub (sikap berbangga dan kagum terhadap diri sendiri –pent). Sebagaimana telah datang dalam hadits yang diriwayatkan dari beberapa orang sahabat dengan berbagai jalan yang saling menguatkan, bahwa Nabi – <em>shollallohu &#8216;alaihi wa sallam </em>– bersabda,</p>
<p class="arabic">ثلاث مهلكات : شح مطاع وهوى متبع وإعجاب المرء بنفسه</p>
<p dir="ltr">“<em>Tiga perkara yang akan membinasakan; kebakhilan yang ditaati, hawa nafsu yang diikuti dan kekaguman seseorang terhadap dirinya.</em>” [6]</p>
<p dir="ltr">Dan tanda yang menunjukkan adanya kerusakan ini pada diri seorang dai adalah beberapa perkara, di antaranya:</p>
<ul>
<li> Banyak membicarakan dirinya dengan berbangga dan merasa besar, tanpa adanya keperluan yang menuntutnya. Sama saja apakah hal itu dengan menyebutkan keutamaan-keutamaannya dalam dakwah, atau dengan menyebut masyaikh yang dia kenal, ulama yang dia pernah duduk bersamanya, rekomendasi dan ijazah yang dia miliki.Benar! Terkadang hal itu boleh dilakukan jika seorang guru atau pengajar membutuhkannya agar muridnya merasa tenang dan agar ilmu yang ada padanya dipercaya dengan menyebutkan sumber dan asal muasalnya. Adapun memperbanyak hal tersebut dan bermegah-megah dengannya, maka ini jelas bertentangan dengan keikhlasan. Milik Allah kemuliaan Imam Syafi’i yang berkata, “Aku ingin semua ilmu yang aku ketahui dipelajari oleh manusia, sehingga aku diberi pahala atasnya dan mereka tidak memujiku.” Dan beliau berkata, “Aku ingin manusia mempelajari kitab-kitab ini tanpa menisbatkan kepadaku sesuatupun darinya.” Kedua pernyataan ini diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dalam Tarikhnya (51/365).</li>
</ul>
<ul>
<li> Dan di antara tandanya, keinginan agar perkataan dia saja yang diterima baik benar ataupun batil. Hal itu sesuai dengan permisalan, “Itu kambing meskipun terbang!!!” Berbeda dengan orang yang menyeru kepada Allah, maka dia tidak menginginkan melainkan agar agama Allah tegak. Sebagaimana faidah yang diberikan oleh Syaikh Ibnu Utsaimin dalam “al-Qoulul Mufid” (1/139)</li>
</ul>
<ul>
<li>Di antaranya, mencari aib teman-teman dan saudara-saudaranya, mencela mereka dengan batil, agar hanya dia sendiri yang memimpin dan menguasai. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Muflih dalam “<em>al-Adab asy-Syar’iyah</em>” (2/341) dari Abu Bakr al-Khollal, bahwa dia berkata, “Telah sampai berita kepadaku bahwa Ahmad (bin Hanbal) berkata kepada Sufyan (Ibnu Uyainah): cinta kekuasaan lebih dikagumi oleh seorang laki-laki dari pada emas dan perak. Dan termasuk cinta kekuasaan adalah mencari aib manusia.</li>
</ul>
<p dir="ltr">Kesimpulannya, seorang yang terfitnah dengan cinta kekuasaaan akan berlebihan dalam perkataan, “Saya, Kami, Pada diriku, Aku memiliki.” Inilah yang diperingatkan oleh al-Imam Ibnul Qayyim, dia berkata dalam “<em>Zaadul Ma’ad</em>” (2/428), “Hendaknya benar-benar waspada dari sikap melampaui batas dalam perkataan “Saya”, “Aku memiliki” dan “padaku.” Karena tiga lafazh ini telah menjadi fitnah bagi Iblis, Fir’aun, dan Qarun. Maka perkataan, “Saya lebih baik darinya” (Shod: 76) adalah perkataan Iblis. Perkataan, “<em>Aku memiliki kerajaan Mesir</em>” (az-Zukhruf: 52) adalah perkataan Fir’aun. Dan, “dia berkata, sesungguhnya aku diberi ini hanyalah karena ilmu yang ada pada diriku” (al-Qashash: 78) adalah perkataan Qarun. Dan sebaik-baik peletakan kata “saya” adalah dalam perkataan seorang hamba, “saya adalah hamba yang berdosa, bersalah, meminta ampunan, yang mengaku,” dan semisalnya. Sedangkan sebaik-baik peletakan kata “Aku memiliki” adalah dalam perkataan, “Aku memiliki dosa, aku memiliki kesalahan, aku memiliki kerendahan, aku memiliki kefakiran (kebutuhan).” Sedangkan sebaik-baik peletakan kata “pada diriku” adalah dalam perkataan, “Ampunilah untukku kesungguhan dan main-mainku, kesalahan dan kesengajaanku, dan semua hal itu ada padaku.” [7] Selesai (perkataan Ibnul Qayyim).</p>
<p dir="ltr">Dan tentang makna ini telah dibuat sebuah syair,</p>
<p dir="ltr"><em>Empat yang merusak hamba…                       Kami, milikku, aku dan pada diriku</em></p>
<p dir="ltr">Dan tidak ada jalan untuk membebaskan diri dari penyakit kronis ini kecuali dengan menempuh jalan para Nabi dan pembesar wali-wali Allah, yaitu para Sahabat dan orang-orang yang berjalan di atas petunjuk mereka. Caranya adalah dengan merendahkan diri dan menahan hawa nafsunya.</p>
<p dir="ltr">Dan di antara kata-kata mutiara Ibnul Qayyim, apa yang dia sebutkan ketika menyampaikan pembicaraan tentang pembersihan Allah ta’ala terhadap Ummul mukminin Aisyah – <em>rodhiyallohu &#8216;anha</em> – dari perkataan para pendusta. Yaitu dalam kitabnya “Jala`ul Afham” (240-239) dia berkata, “Perhatikanlah pemuliaan ini, yang muncul dari sikap tawadhu’nya dan anggapan remeh terhadap dirinya sendiri, ketika dia (Aisyah) berkata, “Sungguh dalam jiwa ini (merasa) bahwa urusanku lebih remeh untuk dibicarakan oleh Allah dengan wahyu yang dibaca. Akan tetapi aku berharap agar Rasulullah melihat mimpi yang dengan mimpi itu Allah membebaskanku (dari tuduhan keji –pent).” [8] Inilah wanita shiddiqoh (yang sangat jujur dan membenarkan –pent) dari umat ini, ibunya orang-orang yang beriman, dan kecintaan Rasulullah. Dia telah mengetahui bahwa dirinya bebas (dari tuduhan keji itu –pent), dizhalimi, dan bahwa orang-orang yang menuduhnya adalah orang-orang yang menzhaliminya, berdusta atasnya. Gangguan mereka telah sampai kepada kedua orang tuanya, dan kepada Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –. Akan tetapi meskipun demikian, inilah peremehannya terhadap dirinya sendiri, perendahan terhadap urusannya sendiri. Lalu bagaimana menurutmu dengan orang yang berpuasa sehari atau dua hari, sebulan atau dua bulan, dan sholat satu malam atau dua malam …” sampai pada perkataannya, “… dan hendaknya seorang hamba meminta perlindungan kepada Allah dari merasa dirinya besar padahal di sisi Allah adalah remeh.” Selesai perkataan beliau.</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;"><strong>Fitnah yang kedua adalah cinta harta.</strong><strong> </strong></span>Yaitu pada diri seorang dai terdapat sikap mencari balasan atas dakwahnya. Maka ini termasuk bentuk mencari makan dunia dengan agama. Bahkan yang wajib adalah, dia meneladani Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – yang tidak meminta balasan sama sekali atas tabligh (penyampaian) risalah dari Rabbnya. Akan tetapi balasannya adalah dari Allah. Sebagaimana Allah ta’ala berfirman,</p>
<p class="arabic">قُلْ مَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُتَكَلِّفِينَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Katakanlah (hai Muhammad): &#8220;Aku tidak meminta upah sedikitpun padamu atas dakwahku dan bukanlah aku termasuk orang-orang yang mengada-adakan.</em>” (Shod: 86)</p>
<p dir="ltr">Dan juga firman-Nya,</p>
<p class="arabic">قُلْ مَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ فَهُوَ لَكُمْ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى اللَّهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Katakanlah: &#8220;Upah apapun yang aku minta kepadamu, maka itu untuk kamu. Upahku hanyalah dari Allah</em>,” (Saba`: 47)</p>
<p dir="ltr">Bahkan ini adalah ucapan yang senantiasa didengungkan oleh seluruh para Rasul. Telah berulang-ulang dalam surat asy-Syu’ara firman Allah ta’ala menghikayatkan beberapa orang Rasul,</p>
<p class="arabic">وَمَا أَسْأَلُكُمْ عَلَيْهِ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلا عَلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; Upahku tidak lain hanyalah dari Rabb semesta alam</em>.” (asy-Syu’ara: 109)</p>
<p dir="ltr">Dan Ibnul Qayyim telah menyebutkan obat yang manjur untuk dua penyakit yang membinasakan ini dalam kitabnya “<em>al-Fawaid</em>” (hlm. 149) dia berkata, “Tidak akan berkumpul dalam hati, keikhlasan dengan cinta pujian dan sanjungan serta ketamakan terhadap apa yang ada pada manusia. Kecuali seperti berkumpulnya air dan api atau <em>dhobb</em> dan ikan paus! Jika jiwamu mendorongmu untuk mencari keikhlasan, maka – pertama – hadapilah ketamakan, lalu sembelihlah ia dengan pisau keputusasaan. Dan hadapilah pujian dan sanjungan, lalu zuhudlah (merasa tidak butuh –pent) terhadap keduanya sebagaimana orang yang menggandrungi dunia zuhud terhadap akhirat. Jika telah benar bagimu penyembelihan ketamakan dan zuhud terhadap pujian dan sanjungan ini, akan mudah bagimu untuk ikhlas. Jika engkau berkata, apa yang bisa memudahkan aku untuk menyembelih ketamakan, dan untuk zuhud terhadap pujian dan sanjungan? Aku katakan, adapun penyembelihan ketamakan, yang akan memudahkanmu adalah pengetahuanmu yang yakin bahwa tidak ada satu pun yang ditamaki, kecuali perbendaharaannya adalah di tangan Allah semata, tidak ada yang memilikinya selain Dia, dan tidak ada yang mampu memberi sesuatupun darinya kepada seorang hamba kecuali Dia. Adapun zuhud terhadap pujian dan sanjungan, maka yang akan memudahkanmu dalam hal ini adalah pengetahuanmu bahwa tidak ada seorang pun yang pujiannya akan bermanfaat dan memperindah, tidak ada seorang pun yang celaannya akan memberi bahaya dan memperjelek, kecuali hanya Allah semata. Sebagaimana pernah dikatakan oleh seorang badui kepada Nabi – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – “Pujianku bisa memperindah, dan celaanku bisa memperjelek.” Maka beliau –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – bersabda, “(Yang demikian) itu adalah Allah ‘<em>azza wa jalla</em>!” Maka zuhudlah terhadap pujian orang yang pujiannya tidak bisa memperindah dan celaan orang yang celaannya tidak bisa memperjelek. Dan carilah pujian dari dzat yang segala keindahan ada pada pujiannya dan segala kejelekan ada pada celaannya. Dan seseorang tidak akan mampu atas hal itu kecuali dengan kesabaran dan keyakinan. Maka setiap kali engkau kehilangan kesabaran dan keyakinan, engkau bagaikan seorang yang ingin bersafar di lautan tanpa perahu. Dia berfirman,</p>
<p class="arabic">(فَاصْبِرْ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَلا يَسْتَخِفَّنَّكَ الَّذِينَ لا يُوقِنُونَ (٦٠)</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah) itu menggelisahkan kamu</em>.” (ar-Ruum: 60)</p>
<p dir="ltr">Dia juga berfirman,</p>
<p class="arabic">وَجَعَلْنَا مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا يُوقِنُونَ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat kami.” (as-Sajdah: 24)</em> .” Selesai perkataan Ibnul Qayyim.</p>
<p dir="ltr"><strong>Adapun (keikhlasan) dari sisi perkara yang didakwahkan</strong><strong>, </strong>maka perkara paling awal dan paling agung yang wajib didakwahkan oleh seorang dai adalah: mengikhlaskan agama hanya kepada Allah semata, dan mengesakannya dalam beribadah. Inilah Tauhidul Qashdi wat Tholab, yang hakikatnya sama dengan Tauhidul Ibadah, atau Tauhidul Uluhiyah. Inilah hak Allah atas hambanya, sebagaimana datang dalam hadits Mu’adz – rodhiyallohu &#8216;anhu – dalam <em>Shahihain </em>secara marfu’</p>
<p class="arabic">حَقُّ اللَّهِ عَلَى الْعِبَادِ أَنْ يَعْبُدُوهُ وَلَا يُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا</p>
<p dir="ltr">“<em>Hak Allah atas hamba-Nya adalah mereka beribadah kepada-Nya tanpa menyekutukan sesuatupun kepada-Nya</em>.” Dan inilah perkara (risalah –pent) yang di bawa oleh seluruh para Nabi dan Rasul-Nya. Sebagaimana Allah telah berfirman,</p>
<p class="arabic">وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَسُولٍ إِلا نُوحِي إِلَيْهِ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدُونِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: &#8220;Bahwasanya tidak ada sesembahan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan aku&#8221;</em>.” (al-Anbiya: 25)</p>
<p dir="ltr">Dengan perkara ini pula para Nabi memulai dakwahnya kepada kaumnya. Sebagaimana Allah menyebutkan perkataan mereka dalam banyak tempat dalam kitab-Nya yang mulia,</p>
<p class="arabic">يَا قَوْمِ اعْبُدُوا اللَّهَ مَا لَكُمْ مِنْ إِلَهٍ غَيْرُهُ</p>
<p dir="ltr">“<em>Hai kaumku, sembahlah oleh kamu Allah, (karena) sekali-kali tidak ada sesembahan bagimu selain Dia.”</em> (al-Mu`minun: 23)</p>
<p dir="ltr">Dan dalam Shahihain dari Ibnu Abbas – rodhiyallohu &#8216;anhuma – bahwa Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – ketika mengutus Mu’adz ke Yaman, beliau bersabda,</p>
<p class="arabic">إنك تأتي قوما من أهل الكتاب ، فليكن أول ما تدعوهم إليه شهادة أن لا إله إلا الله ( وفي رواية : إلى أن يوحدوا الله)</p>
<p dir="ltr">“<em>Sesungguhnya engkau akan mendatangi satu kaum dari ahlul kitab, maka hendaknya pertama kali yang kamu serukan kepada mereka adalah syahadat Laa ilaaha illalloh. (Dalam riwayat lain, agar mereka mentauhidkan Allah)</em>.”</p>
<p dir="ltr"><span style="text-decoration: underline;"><strong>KEDUA,</strong> <strong><em>Firman Allah ta’ala, “dengan izin-Nya.”</em></strong></span></p>
<p dir="ltr">Di antara pekara yang hendaknya diketahui, bahwa izin Allah ada dua macam: Izin <em>kauni</em> dan izin <em>syar’i</em>.</p>
<p dir="ltr"><strong>Izin kauni</strong>, semakna dengan al-masyi`ah (kehendak Allah yang berkaitan dengan takdir –pent) dan al-kholq (penciptaan). Di antara penggunaannya adalah firman Allah ta’ala tentang sihir,</p>
<p class="arabic">وَمَا هُمْ بِضَارِّينَ بِهِ مِنْ أَحَدٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorang pun, kecuali dengan izin Allah.</em>” (al-Baqarah: 102)</p>
<p dir="ltr">Karena hal itu terjadi dengan kehendak dan takdir Allah. (Izin di sini bukan izin bermakna boleh secara syar’i –pent) karena Dia tidak membolehkan sihir.</p>
<p dir="ltr">Juga firman Allah,</p>
<p class="arabic">وَمَا أَصَابَكُمْ يَوْمَ الْتَقَى الْجَمْعَانِ فَبِإِذْنِ اللَّهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan apa yang menimpa kamu pada hari bertemunya dua pasukan, maka (kekalahan) itu adalah dengan izin (takdir) Allah</em>.” (Ali ‘Imran: 166)</p>
<p dir="ltr">Maka yang menimpa mereka berupa pembunuhan, luka, dan kekalahan, adalah dengan kehendak Allah, meskipun Dia tidak mencintai dan meridhainya.</p>
<p dir="ltr">Sedangkan izin syar’i, adalah yang semakna dengan ibahah dan jawaz (keduanya bermakna kebolehan –pent), atau kecintaan dan keridhaan. Di antara penggunaan kata ini dalam makna ini adalah firman Allah ta’ala,</p>
<p class="arabic">مَا قَطَعْتُمْ مِنْ لِينَةٍ أَوْ تَرَكْتُمُوهَا قَائِمَةً عَلَى أُصُولِهَا فَبِإِذْنِ اللَّهِ</p>
<p dir="ltr"><em>“Apa saja yang kamu tebang dari pohon kurma (milik orang-orang kafir) atau yang kamu biarkan (tumbuh) berdiri di atas pokoknya, maka (semua itu) adalah dengan izin Allah</em>.” (al-Hasyr: 5)</p>
<p dir="ltr">Maka ini mengandung pembolehan Allah terhadap hal tersebut.</p>
<p dir="ltr">Juga firman Allah,</p>
<p class="arabic">مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Tiada yang dapat memberi syafa&#8217;at di sisi Allah tanpa izin-Nya?</em>” (al-Baqarah: 255)</p>
<p dir="ltr">Dan ini mengandung keridhaan Allah terhadap orang yang memberi syafaat dan yang diberikan syafaat untuknya.</p>
<p dir="ltr">Juga firman Allah,</p>
<p class="arabic">وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلا لِيُطَاعَ بِإِذْنِ اللَّهِ</p>
<p dir="ltr"><em>“Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah</em>.” (an-Nisa: 64)</p>
<p dir="ltr">Maka Dia – subhanahu – mencintai dan meridhai agar Rasul-Nya ditaati.</p>
<p dir="ltr">Termasuk juga (dalam penggunaan kata izin bermakna izin syar’i –pent) adalah ayat ini, yaitu firman Allah,</p>
<p class="arabic">وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ</p>
<p dir="ltr"><em>“Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya.”</em> (al-Ahzab: 46) [10]</p>
<p dir="ltr">Para ahli tafsir telah menyebutkan tiga pendapat terhadap lafazh ini. Pendapat-pendapat itu disampaikan oleh al-Mawardi dalam tafsirnya (3/373) dan semuanya kembali kepada satu hal juga, yaitu “dengan apa yang Allah syariatkan untuknya” yaitu dengan izin syar’i-Nya, sebagaimana telah lalu.</p>
<p dir="ltr"><strong>Pendapat pertama,</strong> perkataan Ibnu Abbas – <em>rodhiyallohu &#8216;anhuma </em>– “Dengan perintah-Nya” yaitu apa yang Allah perintahkan dan syariatkan untuknya.</p>
<p dir="ltr"><strong>Pendapat kedua,</strong> perkataan al-Hasan al-Bashri, “Dengan ilmu-Nya” yaitu yang diturunkan oleh Allah ta’ala kepada beliau berupa ilmu.</p>
<p dir="ltr"><strong>Pendapat ketiga, </strong>perkataan Yahya bin Salam, “Dengan al-Qur`an” dan ini adalah induk ilmu ketuhanan yang dibawa oleh Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –.</p>
<p dir="ltr">Dari sini menjadi jelas bahwa Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – adalah seorang dai yang menyeru manusia kepada Allah, dengan izin-Nya, bukan dari dirinya sendiri. Akan tetapi dengan apa yang Allah turunkan kepadanya berupa ilmu, petunjuk dan Kitab yang menerangi. Berbeda dengan orang-orang yang Allah cela. Dan mereka ada dua golongan [11]:</p>
<p dir="ltr">Satu golongan yang mengada-adakan bid’ah (hal baru) dalam agama Allah. Merekalah yang disebutkan dalam firman-Nya,</p>
<p class="arabic">أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ</p>
<p dir="ltr"><em>“Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?”</em> (asy-Syura: 21)</p>
<p dir="ltr">Dan golongan kedua adalah orang-orang yang mengharamkan apa yang Allah halalkan. Merekalah yang disebut dalam firman-Nya,</p>
<p class="arabic">قُلْ أَرَأَيْتُمْ مَا أَنْزَلَ اللَّهُ لَكُمْ مِنْ رِزْقٍ فَجَعَلْتُمْ مِنْهُ حَرَامًا وَحَلالا قُلْ آللَّهُ أَذِنَ لَكُمْ أَمْ عَلَى اللَّهِ تَفْتَرُونَ</p>
<p dir="ltr"><em>“Katakanlah: &#8220;Terangkanlah kepadaku tentang rezki yang diturunkan Allah kepadamu, lalu kamu jadikan sebagiannya haram dan (sebagiannya) halal&#8221;. Katakanlah: &#8220;Apakah Allah telah memberikan izin kepadamu (tentang ini) atau kamu mengada-adakan saja terhadap Allah?</em>” (Yunus: 59)</p>
<p dir="ltr">Dari sini para ulama mengambil satu kaidah ushuliyah yang agung, yaitu, “Hukum asal segala peribadatan adalah terlarang, dan hukum asal perkara adat (kebiasaan) adalah dibolehkan.”</p>
<p dir="ltr">Berdasarkan hal ini, maka lafazh, “Dengan izin-Nya” mengandung pengarahan kepada seorang dai dalam dakwahnya untuk mewujudkan tauhidul mutaba’ah kepada Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – (tauhidul mutaba’ah: menjadikan Rasul –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> – sebagai satu-satunya manusia yang diikuti secara mutlak –pent). Dan perwujudan <em>tauhidul mutaba’ah</em> ini dari dua sisi: dari sisi sarana dakwah dan dari sisi tujuan dakwah.</p>
<p dir="ltr">Adapun dari sisi sarana dakwah, maka wajib bagi seorang dai untuk memperhatikan dalam sarana-sarana dakwahnya hendaknya dengan sesuatu yang diizinkan oleh Pembuat syariat. Baik izin itu dengan nash yang tegas atau dengan masuknya sarana itu di bawah kaidah umum seperti mubah (perkara yang dibolehkan).</p>
<p dir="ltr">Adapun dari sisi tujuan dakwah, maka hendaknya seorang dai bersemangat dalam menyeru manusia untuk mengikuti jejak-jejak Rasulullah – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam – secara lahir batin. Caranya dengan menyebarkan sunnah-sunnah beliau yang shahih, menyeru manusia untuk berhukum kepada sunnah itu dan meninggalkan pendapat manusia karena adanya sunnah itu. Juga bersemangat dalam melarang segala sesuatu yang menyelisihi prinsip ini, yang berupa kebid’ahan dan hawa nafsu, dan memberikan peringatan darinya. Dan ini merupakan kesempurnaan mutaba’ah (peneladanan) terhadap Rasul – shollallohu &#8216;alaihi wa sallam –. Karena tidaklah di ada-adakan suatu bid’ah melainkan akan diangkat sunnah yang semisalnya.</p>
<p dir="ltr">Maka jelaslah bahwa firman Allah ta’ala,</p>
<p class="arabic">وَدَاعِيًا إِلَى اللَّهِ بِإِذْنِهِ</p>
<p dir="ltr">“<em>Dan untuk jadi penyeru kepada agama Allah dengan izin-Nya</em>.” (al-Ahzab: 46)</p>
<p dir="ltr">Mengandung pengarahan kepada seorang dai agar dakwahnya berlandaskan atas perintah kepada dua hal, yaitu: Tauhidul ikhlas dan Tauhidul mutaba’ah. Dan memberikan peringatan dari lawan keduanya, yaitu: Syirik dan Bid’ah. Dua hal inilah yang dikatakan oleh al-‘Allamah Ibnu Abil ‘Izz dalam Syarh ath-Thahawiyah (1/447), “Maka keduanya adalah dua tauhid yang tidak mungkin seorang hamba akan selamat dari siksaan Allah kecuali dengan keduanya; Tauhidul Mursil (mengesakan Allah yang mengutus Rasul –pent), dan Tauhid Mutaba’atir Rasul (mengesakan keteladanan kepada Rasul –pent).”</p>
<p dir="ltr">
<p dir="ltr">Wallohu ta’ala a’lam</p>
<p dir="ltr">**********************************</p>
<p dir="ltr">[1] Shahih: Diriwayatkan oleh Ahmad dan yang lain. Ash-Shahihah (2989)</p>
<p dir="ltr">[2] Lihat “Lisanul Arab” karya Ibnul Manzhur, bab ‘sin lam mim’ dan bab ‘syin kaf sin’.</p>
<p dir="ltr">[3] Shahih: Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Hibban. Shahih at-Targhib (1710)</p>
<p dir="ltr">[4] Shahih: Diriwayatkan oleh ath-Thabaroni dan yang lain. Shahih at-Targhib (3251)</p>
<p dir="ltr">[5] Hasan: Diriwayatkan oleh ath-Thabaroni dan Abu Nu’aim. Ash-Shahihah (508)</p>
<p dir="ltr">[6] Hasan: Diriwayatkan oleh al-Bazzar, al-Baihaqi dan yang lain. Ash-Shahihah (1802)</p>
<p dir="ltr">[7] Bagian dari hadit Muttafaq ‘alaih dari Abu Musa al-Asy’ari – rodhiyallohu &#8216;anhu –.</p>
<p dir="ltr">[8] Muttafaq ‘alaih dari hadits Aisyah – rodhiyallohu &#8216;anha –.</p>
<p dir="ltr">[9] Shahih: Lihat Shahih Sunan at-Tirmidzi (3267)</p>
<p dir="ltr">[10] Lihat Fatawa Ibni Taimiyah (11/267) dan (14/383)</p>
<p dir="ltr">[11] Lihat Fatawa Ibni Taimiyah (15/161)</p>
<p dir="ltr">Lihat Majalah al-Ishlah as-Salafiyah (No. 2) Rabi’ul Awal / Rabi’uts Tsani 1428 H, hlm. 34-40</p>
<p dir="ltr">Dinukil oleh Abdullah Baibani al-Ashimi</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/10/menjadi-dai-ilalllah-dengan-izin-nya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Rekomendasi Mufti</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/10/rekomendasi-mufti/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/10/rekomendasi-mufti/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Oct 2009 07:46:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=694</guid>
		<description><![CDATA[Mufti  : Syaikh Abbdullah bin Shalih al-Ubailan
Pertanyaan:
Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh
Ketahuilah wahai Syaikh kami, sesungguhnya kami mencintai Anda karena Allah. Dan aku memohon kepada Allah agar memberikan kekokohan kepada kami dan Anda di atas sunnah dan tauhid&#8230;
Wahai Syaikh, apa pendapat Anda tentang orang yang mengatakan, “Kami tidak menerima rekomendasi dari Mufti Samahatusy Syaikh al-Imam al-&#8217;Allamah Abdul Aziz [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mufti  : Syaikh Abbdullah bin Shalih al-Ubailan</p>
<p><strong>Pertanyaan:</strong></p>
<p>Assalamu&#8217;alaikum warahmatullahi wabarakatuh</p>
<p>Ketahuilah wahai Syaikh kami, sesungguhnya kami mencintai Anda karena Allah. Dan aku memohon kepada Allah agar memberikan kekokohan kepada kami dan Anda di atas sunnah dan tauhid&#8230;</p>
<p>Wahai Syaikh, apa pendapat Anda tentang orang yang mengatakan, “Kami tidak menerima rekomendasi dari Mufti Samahatusy Syaikh al-Imam al-&#8217;Allamah Abdul Aziz Alusy Syaikh – <em>semoga Allah memberi taufik kepada beliau terhadap perkara yang Dia cintai dan ridhai </em>– tentang para dai.” Dengan dalih bahwa beliau memberikan rekomendasi kepada siapa saja, dan beliau tidak men<em>tahdzir</em> (memberi peringatan dari) sebagian ahli bid&#8217;ah. Aku berharap adanya faidah (dari Anda), semoga Alloh membalas kebaikan kepada Anda.</p>
<p><strong>Jawaban:</strong></p>
<p>Ini adalah perkataan yang batil. Jika pengucap perkataan ini memperhatikan akibat ucapannya, niscaya dia akan mengetahui bahwa dengan ini dia berarti menolong bid&#8217;ah dan ahli bid&#8217;ah, karena dia telah menggugurkan persaksian salah seorang dari tokoh-tokoh sunnah. Bagaimanapun juga, timbangan <em>jarh wat ta&#8217;dil </em>(penilaian buruk dan baiknya seseorang) pada sebagian orang yang menisbatkan diri kepada dakwah <em>salafiyah</em> pada waktu ini, membutuhkan pemeriksaan dan penelitian yang lebih dalam. Karena hal ini bisa menimbulkan kekacauan terhadap dakwah salafiyah, bahkan mungkin bisa menghalangi (manusia) dari dakwah salafiyah.</p>
<p>Ibnu Muflih dalam <em>al-Adab </em>menukil dari Imam Ahmad,Dia berkata dalam riwayat al-Atsram, dan dia menyebutkan al-Afthas, yang namanya adalah Abdullah bin Salamah : Dia menjadi gugur (dalam hapalan haditsnya – pent) tidak lain karena sebab lisannya, maka tidaklah kami mendengar seorang pun yang menyebutkannya. Yahya bin Ma&#8217;in membicarakan tentang Abu Badr lalu mendoakan kejelekan kepadanya. Ahmad berkata, aku melihat bahwa doanya itu dikabulkan. Maksudnya adalah – <em>wallohu a&#8217;lam </em>– ketiadaan <em>tatsabbut</em> dan perbuatan ghibah tanpa hak.</p>
<p>Abu Zur&#8217;ah berkata, dahulu Abdullah bin Salamah al-Afthas menurutku adalah seorang yang<em> shoduq</em> (yang haditsnya bisa dinilai hasan – pent), akan tetapi dia membicarakan Abdul Wahid bin Ziyad dan Yahya al-Qatthan. Yunus bin Abi Ishaq pernah disebutkan padanya, lalu dia berkata, Yunus tidak akan berhenti sampai dia mengatakan &#8220;aku mendengar al-Bara`&#8221;. Abu Zur&#8217;ah berkata, maka lihatlah bagaimana ditolak perkaranya. Abu Zur&#8217;ah berkata, <strong>setiap orang yang berbicara dalam urusan ini (jarh wat ta&#8217;dil – pent) tanpa dasar agama, maka dia hanya akan membinasakan dirinya</strong>. Ats-Tsauri dan Malik adalah orang yang membicarakan manusia dengan dasar agama, maka perkataan mereka pun berlaku. Dan setiap orang yang membicarakan manusia tanpa dasar agama, maka perkaranya akan kembali kepadanya.” <em>al-Adab asy-Syar&#8217;iyyah </em>juz 2 hlm 140.</p>
<p>Dan Syaikhul Islam berkata, “Di antara manusia ada yang menggunjing (ghibah) dalam rangka menyepakati teman duduk, para sahabat atau kabilahnya. Padahal dia tahu bahwa orang yang digunjing berlepas diri dari apa yang mereka katakan, atau padanya hanya ada sebagian dari apa yang mereka katakan. Akan tetapi dia memandang jika dia mengingkari mereka (teman duduknya – pent) niscaya orang-orang yang di majelis itu akan menutup majelis, menganggap berat majelis itu, dan mereka akan kabur darinya. Maka dia memandang bahwa menyepakati mereka adalah pergaulan dan persahabatan yang baik. Terkadang mereka marah sehingga dia pun ikut marah karena kemarahan mereka, lalu dia pun tenggelam dalam pembicaraan bersama mereka. Di antara mereka ada yang melakukan ghibah dengan berbagai macam rupa. Terkadang, ghibah (gunjingan) itu nampak dalam rupa agama dan keshalihan. Misalnya dia berkata, aku tidak memiliki kebiasaan menyebut seseorang kecuali dengan kebaikan, dan aku tidak suka menggunjing ataupun berdusta, aku hanya akan memberitahukan kalian tentang keadaannya. Dan dia berkata, demi Allah sungguh kasihan dia, atau (dia berkata) dia adalah seorang yang baik tapi padanya ada ini dan itu. Dan mungkin dia berkata, tinggalkan kami darinya, semoga Allah mengampuni kami dan dia. Akan tetapi, niatnya adalah untuk merendahkannya, dan menghancurkan kedudukannya. Mereka melakukan ghibah dalam rupa keshalihan dan agama, mereka menipu Allah dengan hal itu sebagaimana mereka menipu makhluk. Dan sungguh kami telah melihat dari mereka begitu banyak model yang seperti ini dan semisalnya.</p>
<p>Di antara mereka ada yang mengangkat orang lain dengan tujuan riya, lalu dia mengangkat dirinya dan berkata, “Seandainya tadi malam aku berdoa dalam sholatku untuk kebaikan fulan, niscaya tidak akan sampai kepadaku (berita) tentangnya demikian dan demikian”, dengan tujuan mengangkat dirinya dan menjatuhkan orang lain di sisi orang yang meyakininya. Atau dia berkata, “Fulan pemikirannya kaku, sedikit pemahamannya,” dengan tujuan untuk memuji dirinya, menetapkan pengetahuannya dan (untuk menunjukkan) bahwa dia lebih utama dari orang itu.</p>
<p>Di antara mereka ada yang didorong oleh hasad sehingga dia menggunjing orang lain. Maka terkumpul dua perkara keji, ghibah dan hasad. Jika dia memuji seseorang, maka dia berusaha semampunya untuk menghilangkan hal itu darinya dengan melecehkannya, dengan dalih agama dan keshalihan, atau dengan rupa hasad, kefajiran dan celaan agar pujian itu gugur darinya.</p>
<p>Di antara mereka ada juga yang melakukan ghibah dalam bentuk penghinaan dan canda, agar orang lain tertawa karena penghinaan, cerita dan perendahan orang yang dihinakan itu.</p>
<p>Di antara mereka ada yang melakukan ghibah dalam rupa keheranan. Dia berkata, “Aku heran dengan si fulan, kenapa dia tidak melakukan ini dan itu, dan aku heran dengan si fulan, kenapa bisa terjadi ini dan itu padanya, kenapa dia melakukan demikian dan demikian,” dia menyebutkan nama orang itu ketika menyampaikan keheranannya.</p>
<p>Di antara mereka ada yang menampakkan kesedihan. Dia berkata, “Kasihan si fulan, aku sangat sedih atas apa yang terjadi padanya.” Sehingga orang yang mendengar menyangka bahwa dia bersedih untuknya. Padahal hatinya menyimpan dendam terhadapnya. Seandainya dia mampu, niscaya dia akan menambah musibah yang menimpanya, dan mungkin akan menyebut-nyebutnya di hadapan musuhnya agar mereka membalaskan (dendam) terhadapnya. Hal ini dan yang lainnya, termasuk penyakit hati yang paling berat dan termasuk penipuan terhadap Allah dan makhluk-Nya.</p>
<p>Di antara mereka ada yang menampakkan ghibah dalam rupa kemarahan dan pengingkaran terhadap kemungkaran. Sehingga dia pun menampakkan berbagai perkataan yang indah, sedangkan tujuannya berbeda dengan apa yang dia tampakkan. <em>Wallahul musta&#8217;an</em>.” [Majmu'ul Fatawa juz 28 halaman 237]</p>
<p>Wallahu a&#8217;lam.</p>
<p>Sumber : <a href="www.obailan.net/news.php?action=show&amp;id=211">www.obailan.net/news.php?action=show&amp;id=211</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/10/rekomendasi-mufti/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hubungan Antara Berbaik Sangka dan Persatuan Muslimin</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/hubungan-antara-berbaik-sangka-dan-persatuan-muslimin/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/hubungan-antara-berbaik-sangka-dan-persatuan-muslimin/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Sep 2009 07:22:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mukhtar al-Akhdhor Thibawi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Hikmah]]></category>
		<category><![CDATA[Manhaj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=688</guid>
		<description><![CDATA[Di antara sebab persatuan adalah berbaik sangka dan tidak memberi gelaran buruk
Segala puji hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasul yang tidak ada lagi Nabi setelahnya. Wa ba&#8217;du&#8230;
Sesungguhnya Allah telah melarang sikap buruk sangka (su`uzhon) kepada kaum muslimin. Karena sikap itu akan menyebabkan penghinaan kepada mereka dan menimpakan bahaya kepada mereka.
يَا [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><strong><span style="color: #000000;"><em>Di antara sebab persatuan adalah berbaik sangka dan tidak memberi gelaran buruk</em></span></strong></p>
<p>Segala puji hanya milik Allah semata. Sholawat dan salam senantiasa tercurah kepada Rasul yang tidak ada lagi Nabi setelahnya. <em>Wa ba&#8217;du</em>&#8230;</p>
<p>Sesungguhnya Allah telah melarang sikap buruk sangka (<em>su`uzhon</em>) kepada kaum muslimin. Karena sikap itu akan menyebabkan penghinaan kepada mereka dan menimpakan bahaya kepada mereka.</p>
<p class="arabic">يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِّنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ</p>
<p>“<em>Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa</em>.” [al-Hujurat: 12]</p>
<p>Jika kita mengenal orang yang menjadi obyek persangkaan, bahwa dia adalah orang yang shalih, amanah, istiqamah, memiliki agama dan ilmu, kemudian kita berprasangka bahwa dia menyelisihi apa yang kita yakini dikarenakan niat yang buruk dan hati yang rusak, maka hal ini lebih dekat kepada tuduhan <em>nifaq</em> dari pada tuduhan <em>bid&#8217;ah</em>.Telah maklum bahwa keistiqamahan, ilmu dan keshalihannya, serta upayanya dalam menyebarkan agama dan perjuangannya di jalan Allah adalah indikasi kuat yang menunjukkan bahwa tuduhan itu tidak mungkin benar, jika bukan karena niat yang buruk. Bukankah ini adalah buruk sangka yang haram?</p>
<p>Sesungguhnya sebab perselisihan para ulama sangat banyak sekali. Hanya saja yang paling utama adalah karena adanya kesamaran yang banyak para ulama agama ini tidak selamat darinya, yakni disebabkan karena salah penggambaran (terhadap suatu masalah -pent) atau ketiadaan pengetahuan terhadap sunnah, atau sebab lainnya. Yang mana sebab-sebab ini meniadakan adanya niat buruk pada diri para da&#8217;i dan ulama.</p>
<p>Seperti para da&#8217;i mulia yang tidak memiliki keahlian dalam urusan penukilan (riwayat), sedangkan mereka telah berkecimpung dalam permasalahan berbagai pemikiran. Dan untuk menghadapi perlawanan pemikiran-pemikiran modern, mereka membutuhkan bantuan dari sebagian riwayat yang ada didapati dalam warisan islam. Akhirnya (karena kurang ahli dalam urusan penukilan riwayat -pent) mereka pun mengambil perkataan sebagian imam-imam yang kurang kuat sedangkan mereka tidak sadar. Mereka telah terjatuh dalam sebagian perkara bid&#8217;ah, sedangkan mereka meyakininya sebagai <em>burhan</em> (bukti atau dalil) yang kuat (pasti). Dan tatkala mereka tidak memiliki kekuatan untuk berdiri sendiri dalam permasalahan akal ini, tidak juga dalam kaedah logika ataupun kode etik dalam masalah ini (bahkan sebenarnya mereka adalah orang yang hanya sekadar taklid)  maka mereka pun meyakini konsekuensi dari kaedah itu terhadap al-Qur`an, al-hadits dan perkataan para salaf. Mereka menafsirkan nash-nash yang ada dengan kaedah itu, dengan persangkaan bahwa nash-nash itu mencocoki mereka. Atau mungkin mereka berpaling dari nash-nash itu tanpa mengingkarinya, karena adanya keimanan yang menghalangi mereka dari pengingkaran; sehingga mereka pun dalam batin menyerahkan maknanya (tidak menetapkan satu makna pun -pent).</p>
<p>Di antara mereka, disebabkan karena kedudukan dalam dakwah yang dimilikinya, ada yang berijtihad dalam perkara-perkara yang masih bisa dinalar dan dirasakan. Sehingga dia pun melakukan kesalahan dalam perkara tersebut sebagaimana yang lainnya juga bisa tejatuh dalam kesalahan. Lalu (dalam kesalahan itu -pent) dia mencocoki ahlu bid&#8217;ah dalam sebagian prinsip-prinsip mereka yang rusak, padahal dia mengetahui nash-nash dan mencintainya. Hanya saja dia tidak memiliki pemahaman para imam sunnah (dalam masalah tersebut -pent).</p>
<p>Orang ini, engkau dapati dia mengagungkan al-Qur`an dan sunnah, membenci dan menjauhi ilmu kalam dan filsafat, mencintai perkataan para salaf. Akan tetapi dia tidak sadar bahwa dia mencocoki sebagian prinsip ahlu bid&#8217;ah dari kalangan ahli kalam dan sufi.</p>
<p>Mereka semua adalah para imam yang utama dan para da&#8217;i yang mulia di atas para pemeluk agama Islam, mereka adalah pelayan agama ini, mereka berjuang di jalan-Nya dengan harta, pena dan lisan mereka. Dan sebagian mereka adalah orang-orang yang telah mencapai puncak dalam hal perilaku dan akhlak. Hanya saja telah terjadi pada mereka apa Allah takdirkan untuk umat ini, tanpa ada niatan dari mereka untuk berbuat kesalahan, bahkan niat mereka adalah niat yang lurus dan benar. Semoga Allah mengampuni mereka dan berbuat baik kepada mereka.</p>
<p>Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam “<em>as-Siyasah asy-Syar&#8217;iyah</em>” berkata, “Sesungguhnya orang yang taat kepada Allah akan terbedakan dari orang yang bermaksiat kepada-Nya dengan niat dan amal yang shalih. Sebagaimana dalam Shahihain, dari Nabi –<em> shollallohu &#8216;alaihi wa sallam</em> –</p>
<p class="arabic">إن الله لا ينظر إلى صوركم ولا إلى أموالكم و إنما ينظر إلى قلوبكم و إلى أعمالكم</p>
<p>“<em>Sesungguhnya Allah tidak memandang bentuk rupa dan harta kalian, hanya saja Dia memandang hati dan amalan kalian</em>.”</p>
<p>Sesungguhnya kita, tatkala kita melewati berbagai masa untuk kembali kepada al-Qur`an, akan kita dapati al-Qur`an menegaskan tujuan-tujuan dasar sebagai persatuan kalimat, persatuan dan kesatuan jama&#8217;ah kaum muslimin. Yaitu (kita akan mendapatinya) dari perintah untuk melaksanakan sesuatu yang bisa menghantarkan kepada penghormatan terhadap orang lain, menebarkan kecintaan dan mematikan sebab-sebab perpecahan dan permusuhan. Allah ta&#8217;ala berfirman,</p>
<p class="arabic">وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ وَمَن لَّمْ يَتُبْ فَأُولٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertobat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim</em>.” [al-Hujurat: 11]</p>
<p>Lalu kenapa kita menamai sebagian kita dengan nama-nama yang kita benci, dan kita tidak memanggilnya dengan nama yang dia ridhai. Benar, nama dibuat sebagai pengenal. <strong>Akan tetapi nama adalah yang dipilih oleh pemiliknya bukan yang dipilih oleh lawan atau musuhnya.</strong> Maka orang yang berkehendak untuk menamai dirinya dengan “<em>as-Sunnah wal Jama&#8217;ah</em>” atau dengan “Islam” atau dengan “Iman” <strong>mengapa kita malah menzhaliminya dengan menamainya dengan nama-nama yang dia benci</strong>. Bukankah ini termasuk panggilan dengan gelaran yang mengandung ejekan? Atau, adakah yang memberi hak kepada kita untuk menamai manusia?</p>
<p>Dengan kembali kepada al-Qur`an dan Sunnah, kita wajib meninggalkan segala hal yang bisa menimbulkan kebencian dalam hati dan memutus hubungan kecintaan antara kaum muslimin. Dan kita juga wajib untuk berpegang teguh dengan segala hal yang bisa menyebabkan sikap saling menghormati, menjaga nama baik, kehormatan dan perasaan. Jika ada seorang muslim yang mencela saudaranya, berarti dia telah mencela dirinya sendiri. Inilah makna firman Allah<em> ta&#8217;ala</em>,</p>
<p class="arabic">وَلَا تَلْمِزُوا أَنفُسَكُمْ</p>
<p>“<em>Dan janganlah kamu suka mencela dirimu sendiri.</em>” [al-Hujurat: 11]</p>
<p>Wassalamu&#8217;alaikum warohmatulloh wabarokatuh</p>
<p>Al-Jazair, 13 Ramadhan 1430 H</p>
<p>Mukhtar al-Akhdhor Thibawi</p>
<p>Sumber : <a href="http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=2634">http://www.almenhaj.net/makal.php?linkid=2634</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/hubungan-antara-berbaik-sangka-dan-persatuan-muslimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
