<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>direktori-islam.com &#187; utsaimin</title>
	<atom:link href="http://www.direktori-islam.com/tag/utsaimin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.direktori-islam.com</link>
	<description>portal islam harian anda</description>
	<lastBuildDate>Wed, 14 Apr 2010 01:24:15 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Niat Puasa Syawal Sebelum Fajar</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/niat-puasa-syawal-sebelum-fajar/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/niat-puasa-syawal-sebelum-fajar/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Sep 2009 23:47:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Muhammad Shalih Al Utsaimin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[Fiqih]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=659</guid>
		<description><![CDATA[Pertanyaan : Apakah puasa enam hari di bulan Syawal atau hari arafah berlaku padanya hukum puasa wajib dimana disyaratkan meniatkannya dimalam hari?Ataukah seperti puasa sunnah dimana dibolehkan untuk berniat berpuasa meskipun sudah dipertengahan siang?Apakah meniatkan berpuasa ditengah hari sama pahalanya dengan orang yang berniat sejak waktu sahur (malam) kemudian berpuasa disiang harinya?
Jawaban : Iya,boleh meniatkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Pertanyaan :</strong> Apakah puasa enam hari di bulan Syawal atau hari arafah berlaku padanya hukum puasa wajib dimana disyaratkan meniatkannya dimalam hari?Ataukah seperti puasa sunnah dimana dibolehkan untuk berniat berpuasa meskipun sudah dipertengahan siang?Apakah meniatkan berpuasa ditengah hari sama pahalanya dengan orang yang berniat sejak waktu sahur (malam) kemudian berpuasa disiang harinya?</p>
<p><strong>Jawaban : </strong>Iya,boleh meniatkan puasa sunnah ketika sudah siang dengan syarat tidak melakukan hal-hal yang membatalkan puasa sebelumnya.Misalkan seseorang yang makan setelah terbit fajar dan dipertengahan siang dia berniat puasa sunnah, maka kita katakan disini :Tidak mungkin sah puasanya,karena dia telah makan.</p>
<p>Akan tetapi seandainya dia belum makan apa-apa sejak terbit fajar serta tidak melakukan hal yang membatalkan puasa,kemudian pertengahan siang dia berniat puasa sunnah,maka kami katakan : Ini boleh,karena telah ada keterangan dalam As sunnah dari Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em>,yakni tatkala beliau memasuki rumah kemudian meminta makan,istrinya berkata : Kami tidak punya sesuatu untuk dimakan&#8221;,maka Nabi berkata : &#8220;Kalau begitu saya berpuasa&#8221;</p>
<p>Akan tetapi <strong>waktu (yang teranggap sebagai puasa) adalah waktu sejak berniat</strong>, dengan dasar ucapan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> :</p>
<p class="arabic">إنما الأعمال بالنيات</p>
<p><em>Sesungguhnya amal-amal itu berdasar niat</em></p>
<p><strong>Waktu sebelum niat tidak lah ditulis sebagai pahala puasa,dan waktu setelah berniat baru ditulis baginya sebagai pahala puasa.</strong>Jika pahala puasa itu diumpamakan berjenjang dalam sehari penuh,maka orang yang meniatkan puasa dipertengahan hari tidak mendapat pahala sehari sempurna bahkan  sebagian hari tergantung niatnya.</p>
<p>Berdasar hal tersebut,jika seseorang sejak terbit fajar belum makan apa-apa kemudian ditengah harinya dia berniat puasa  syawal.Kemudian besoknya dia berpuasa lima hari sisanya (dengan niat sebelum fajar,pent)  maka secara keseluruhan dia baru berpuasa lima setengah hari (5,5 hari).Jika dia berniat (dihari pertama tersebut ) setelah lewat seperempat siang maka puasanya terhitung lima tiga perempat (5 3/4) hari.Karena amal itu dicatat dengan niatnya dan hadist mengatakan : &#8220;Siapa yang berpuasa Ramadhan kemudian menyambungnya dengan enam hari di bulan Syawal&#8230;&#8221;</p>
<p>Olehkarenya kami katakan kepada Saudara penanya ini : Anda tidak mendapatkan ganjaran pahala enam hari bulan Syawal karena anda belum memenuhi enam hari.Ini juga sama kasusnya untuk puasa sunnah hari arafah.Adapun kalau puasa sunnah secara mutlak maka puasanya tetap sah dan diberi pahala sejak dia berniat saja.</p>
<p><em>Majmu&#8217; Fatawa wa Rasail</em> Syaikh Muhammad Shalih Al Utsaimin Jilid 19.Kitab Puasa.</p>
<p>Sumber :  <a href="http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&amp;iw_a=view&amp;fatwa_id=15800">http://www.islamway.com/?iw_s=Fatawa&amp;iw_a=view&amp;fatwa_id=15800</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/niat-puasa-syawal-sebelum-fajar/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (6)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-6/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-6/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Sep 2009 21:04:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=647</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Utsaimin rahimahullah dan Hajat Manusia.
 
Ayyuhal ikhwah..
Syaikh senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk  bisa bermanfaat bagi manusia dan ternyata hajat manusia terhadap beliau begitu besar. Meski demikian, beliau selalu bersegera untuk dapat memenuhinya dalam rangka mengamalkan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar[1]
من كان في حاجة أخيه كان [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah </em>dan Hajat Manusia.</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh senantiasa berusaha sekuat tenaga untuk  bisa bermanfaat bagi manusia dan ternyata hajat manusia terhadap beliau begitu besar. Meski demikian, beliau selalu bersegera untuk dapat memenuhinya dalam rangka mengamalkan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin Umar<a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p class="arabic">من كان في حاجة أخيه كان الله في حاجته</p>
<p><em>“ </em><em>Barangsiapa yang memenuhi kebutuhan saudaranya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya.”</em></p>
<p>Apabila engkau mendatangi Syaikh untuk memenuhi kebutuhanmu dan beliau melihat adanya kebaikan untuk memenuhinya baik secara khusus maupun umum, tentu anda akan mendapati beliau sebagaimana yang dikatakan sebuah syair :</p>
<table border="0" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="215" valign="top">
<p class="arabic">ولا شاكٍ إليك من الكلال</p>
</td>
<td width="24" valign="top">
<p dir="rtl">
</td>
<td width="229" valign="top">
<p class="arabic">مطيع في الحوائج غير عاصٍ</p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p><em>“ Dia selalu memenuhi kebutuhan tanpa menolak, ragu-ragu atau merasa lelah darinya.”</em></p>
<p>Syaikh senantiasa memenuhi segala permintaan tanpa ada yang ditolak meskipun banyak. Oleh karenanya beliau diberi gelar oleh sebagian orang dengan <em>“ Bapaknya orang-orang miskin”. </em> Beliau senantiasa mengamati keadaan mereka dan mencari apa kebutuhan mereka. Syaikh  menjadikan mereka tamu dirumah beliau, tidak merasa sungkan dengan mereka untuk duduk bersama. Diantara mereka ada yang buruk adab makannya, ada yang  bersikap kurang sopan,  bahkan ada yang sama sekali tidak beretika. Meskipun demikian beliau tetap berbaur dan duduk bersama mereka, beliau penuhi kebutuhan mereka dan berusaha untuk dapat membahagiakan mereka. Beliaupun menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dan membantu apa yang mampu beliau berikan kepada mereka.</p>
<p>Diantara bentuk lapang dada  beliau dalam memenuhi kebutuhan manusia adalah membantu orang-orang yang kehabisan bekal perjalanan. Apabila beliau mengetahui ada orang –orang seperti itu, beliau akan bersegera untuk membantu.</p>
<p>Salah seorang Ustadz dari fakultas Aqidah bercerita kepadaku bahwa pada suatu malam mereka pulang dari salah satu pertemuan. Dalam perjalanan itu mereka mendapati seseorang yang mobilnya rusak. Maka Syaikhpun berkata kepada sang sopir,” <em>Berhenti, mari kita lihat barangkali ia membutuhkan bantuan </em>!” maka berhentilah rombongan itu. Setelah dihampiri, benarlah bahwa orang itu butuh orang yang dapat memperbaiki mobilnya. Merekapun akhirnya semua turun untuk membantu menghidupkan mesin mobil orang tersebut.</p>
<p>Diantara bukti kelapangan beliau bahwa Syaikh juga berusaha untuk  membantu orang yang belum mampu melaksanakan  kewajiban haji dengan memberikan harta secukupnya dan mengusahakan supaya mereka pergi bersama para penuntut ilmu. Dengan demikian, mereka dapat melaksanakan kewajiban itu dengan sempurna diatas petunjuk ilmu.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Diantara sisi yang nampak dari Syaikh adalah bahwa beliau adalah panutan dalam kezuhudan. Bahkan kita dapat memastikan bahwa jarang sekali orang yang memiliki sifat seperti itu. Kita dapati sifat zuhud ini dalam pakaiannya, kendaraan, majelis,makanan dan seluruh keadaan beliau. Selama lebih dari 60 tahun beliau tinggal di rumah yang dibangun dengan tanah karena sifat <em>tawadhu’</em>, zuhud dan <em>qonaah</em> beliau. Banyak sekali tawaran supaya beliau mau tinggal dirumah  yang modern. Akan tetapi beliau tetap memilih tinggal dirumah yang sederhana sebagaimana kebanyakan orang atau dibawahnya.</p>
<p>Syaikh tidak sungkan-sungkan memakai kendaraan yang mudah didapat meskipun mengendarai mobil yang banyak kerusakannya. Apabila ternyata kendaraan itu mogok tatkala perjalanan ke masjid beliaupun ikut memperbaikinya baik dengan upah atau tidak.</p>
<p>Diantara contoh kezuhudan beliau adalah zuhud dalam hal pujian. Ini adalah perkara agung yang hampir tidak kita dapati pada kebanyakan ulama dan para penuntut ilmu zaman sekarang. Sungguh Syaikh dengan jelas membenci pujian. Sering wajah beliau memerah tatkala mendengar orang memuji atau menyanjung beliau. Syaikh telah memberikan contoh nyata yang tidak hanya terbatas pada ceramah-ceramah tentang dibencinya sanjungan setelah tidak ada orang yang menyanjung dia sebagaimana kebanyakan orang. Akan tetapi beliau sering memotong pembicaraan orang yang sedang menyanjung beliau sambil berkata,” <em>Ini tidak benar, ini tidak benar</em>” ,yaitu tidak dibenarkan berbicara seperti itu.</p>
<p>Sebagai contoh  adalah apa  yang terjadi pada suatu pertemuan, ada orang yang memberikan <em>muqodimah</em> dengan memperkenalkan beliau. Iapun berkata,” <em>Syaikh adalah orang yang tidak butuh untuk diperkenalkan</em>.”  Syaikh pun berkata,”<em> Ini tidak layak kecuali hanya bagi Allah. Sesungguhnya Allah yang tidak membutuhkan untuk dikenal.  Adapun manusia, bagaimanapun keadaanya dia butuh untuk dikenalkan</em>.”</p>
<p>Contoh lain adalah tatkala beliau pergi berobat ke Amerika dan terbatas  hanya beberapa hari saja. Akan tetapi, beliau turut serta menghadiri berbagai acara kaum muslimin  dinegeri itu. Diantaranya adalah <em>muhadharah</em> yang beliau sampaikan di sebagian masjid dan perkumpulan.</p>
<p>Di suatu  masjid ada salah satu peserta yang berbicara banyak dengan syaikh. Diantara perkataannya adalah,”<em>Kami sangat berterima kasih kepada Syaikh yang telah menghadiri undangan kami meskipun beliau sedang sakit keras.</em>” Maka Syaikhpun berkata kepadanya,” <em>Duduklah.</em>” Beliaupun segera melanjutkan <em>muhadharah</em>nya. Ini beliau lakukan karena ke<em>tawadhuan</em> beliau supaya dia tidak meneruskan sanjungan-sanjungannya kepada Syaikh.</p>
<p>Tatkala beliau tengah terbaring di rumah sakit ada seorang ikhwah yang mendatangi beliau dan berkata memuji-muji beliau. Ia bekata,” <em>Sesungguhnya manusia  berharap dan berdoa untuk kesembuhan anda. Mereka telah banyak mengambil manfaat dari anda dan mendoakan balasan kebaikan bagi anda</em>.” Syaikh lantas berkata kepadanya,” <em>diamlah..diamlah</em>.”  Syaikh menyuruhnya diam padahal dia adalah orang terdekat beliau.</p>
<p>Diantara bukti yang menunjukkan kezuhudan Syaikh adalah beliau berkata kepada salah seorang  yang datang berkunjung kepada beliau di Unaizah untuk yang terakhir kalinya. Dia berbincang-bincang dengan Syaikh berbagai hal–<em>dia telah menceritakan ini pada saya dan dia terpercaya</em>- dia berkata,”Tatkala Syaikh Utsaimin sakit yang menyebabkan wafatnya, beliau berkata,” <em>Demi Allah tidaklah dadaku terasa sempit atas hilangnya dunia- </em>yaitu tidaklah aku merasa sedih apabila kehilangan sesuatu di dunia ini- <em>akan tetapi yang aku khawatirkan adalah apabila aku bertemu dengan Allah ta&#8217;ala sedang aku tidak punya amalan kebaikan sama sekali.”</em></p>
<p>Syaikh telah menghabiskan umurnya, bekerja keras dengan jasmaninya dan mendermakan waktunya hanya untuk melayani umat. Sementara itu, beliau mengatakan,”<em>Akan tetapi yang aku khawatirkan adalah apabila aku bertemu dengan Allah ta&#8217;ala sedang aku tidak punya amalan kebaikan sama sekali</em>.” Lantas apa yang dapat kita katakan tentang diri kita? Kita berdoa kepada Allah semoga senantiasa memberi kita ampunanNya. Semoga Allah mengampuni dan merahmati Syaikh, menempatkan amalan beliau ditimbangan kebaikan, mengangkat derajat beliau keatas golongan orang-orang yang mendapat petunjuk dan orang-orang shalih, mempertemukan beliau dengan para Nabi, <em>shiddiqin</em> dan<em> syuhada’</em> serta orang-orang shalih. Sesunggunya Allahlah penolong itu semua dan Dia Maha Kuasa untuk melakukannya.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Sisi kehidupan Syaikh sangatlah banyak. Aku menceritakannya secara ringkas pada 2 hal yang paling penting. Syaikh adalah imam yang selalu bersikap tengah-tengah (adil).  Diantara keistimewaan Syaikh adalah apa yang Allah persaksikan tentang umat ini terkait sikapnya yang tengah-tengah dalam setiap urusannya. Allah berfirman<a href="#_ftn2">[2]</a>,</p>
<p class="arabic">وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ</p>
<p><em>“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia&#8230;”</em></p>
<p>Syaikh adalah pribadi yang memiliki fitrah yang adil. Tidak hanya dari salah satu sisi pergaulannya saja, akan tetapi beliau pertengahan pada semua sisi kehidupan. Dalam perkataan, perbuatan, fatwa-fatwa, pendapat dan nasehat beliau. Semuanya kita dapatkan beliau menyukai dan selalu bersikap pertengahan. Beliau bukanlah orang yang suka melampau batas, melebihkan atau mengurangi. Adil menurut beliau adalah apa yang sesuai dengan Al qur’an dan sunnah.</p>
<p>Siapa saja yang mengaku telah berperilaku tengah-tengah atau adil akan tetapi diluar koridor Al Qur’an dan Assunah maka seolah ia tengah bertepuk dengan awan –tertipu-, hanya kerusakan yang akan dia dapatkan. Keadilan hanya terdapat pada petunjuk nabi. Apa yang Allah sebutkan dalam persaksiannya atas umat ini, sebaik-baik generasi,</p>
<p class="arabic">وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِّتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ</p>
<p><em>“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Islam), ummat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia</em><em>&#8230;”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh adalah orang yang memimpin manusia dalam menyerukan persatuan umat dan mencegah perpecahan. Beliau sering mewasiatkan hal itu. Ini adalah kebiasaan beliau disetiap nasehat dan tindakan beliau dalam rangka mengamalkan firman Allah,</p>
<p class="arabic">وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللّهِ جَمِيعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا</p>
<p><em>Dan berpeganglah kalian semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kalian bercerai b</em><em>erai</em><em>&#8230; <a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></em><em> </em></p>
<p><em> </em></p>
<p class="arabic">شَرَعَ لَكُم مِّنَ الدِّينِ مَا وَصَّى بِهِ نُوحًا وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهِ إِبْرَاهِيمَ وَمُوسَى وَعِيسَى أَنْ أَقِيمُوا الدِّينَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ</p>
<p><em>“Dia telah mensyari&#8217;atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” <a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em><em> </em></p>
<p>Syaikh selalu mewasiatkan murid-murid dan orang-orang yang mencintainya untuk selalu bersikap adil atau tengah-tengah.</p>
<p>Ada sekumpulan ikhwah yang agak tergesa-gesa dalam mensikapi sebagian perkara. Mereka mendatangi Syaikh pada waktu beliau sakit yang menyebabkan kematian beliau. Mereka meminta wasiat kepada Syaikh sambil berkata,” <em>Wahai syaikh berilah kami wasiat</em>.” Syaikhpun mengingatkan mereka tentang perkara ini dan menekankan pentingnya sikap tengah-tengah, pentingnya bersatu dibawah naungan waliyul amri, bersatu bersama ulama dan menjauhi perpecahan dan perselisihan. Sampai-sampai salah seorang dari mereka mengatakan,”Aku menyangka Syaikh mengatakan itu karena dipengaruhi oleh pihak-pihak tertentu. Akan tetapi tatkala aku mendengar wasiat itu padahal  beliau sedang dalam kondisi terbaring sakit diatas ranjang dan hampir menghembuskan nafas terakhirnya, maka akupun mengetahui bahwa beliau ikhlas mewasiatkan hal itu. Wasiat itu begitu menghujam pada jiwaku melebihi wasiat-wasiat lain.</p>
<p>Syaikh mewasiatkan murid-muridnya untuk selalu bersatu, perhatian terhadap ilmu, berkumpul bersama para ulama dan mengikis perpecahan.</p>
<p>Aku ingat wasiat terakhir Syaikh setelah beliau masuk rumah sakit. Yaitu untuk selalu memperhatikan para murid. Beliau telah mewasiatkan kebaikan pada mereka, berwasiat supaya bersatu dibawah bimbingan para <em>masyayikh</em> yang beliau angkat untuk menggantikan Syaikh dalam mengajar. Keduanya adalah Syaikh Abdurrahman Ad Dahsi dan Syaikh Sami as Suqair. Semoga Allah menguatkan hati mereka.</p>
<p>Syaikh selalu berusaha untuk menjauhkan segala sebab perselisihan baik dari kalangan murid beliau atau antar ulama atau antar manusia dengan ulama’ dan umara’nya. Beliau membenci pertengkaran. Apabila beliau ditanya seseorang dalam majelisnya, lalu orang tersebut menyebutkan nama pribadi dari kalangan ulama’, beliaupun menolak pertanyaannya. Karena hal ini dapat menyebabkan perpecahan dan dapat menimbulkan keburukan dikarenakan jawaban yang diberikan.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh adalah pemimpin secara umum. Ini semua adalah sisi kehidupan yang dapat aku ceritakan meskipun masih banyak sisi lain yang aku tinggalkan karena terbatasnya waktu. Hanya saja, sisi yang terpenting itu adalah bahwa Syaikh adalah pemimpin secara umum. Orang bisa menemui beliau kapan saja ia mau. Bisa sholat bersama beliau di masjidnya, bisa berbincang-bincang dengannya dan bisa memenuhi hajatnya. Beliau bisa dihubungi lewat telepon apabila orang tidak dapat sholat bersama beliau, dapat ditemui dihari Jum’at pada khutbah sholatnya.</p>
<p>Sebagai pemimpin, tidak ada jarak antara beliau dengan umat. Beliau selalu menghadiri acara bimbingan masyarakat dalam pertemuan bulanan, tengah bulan atau mingguan sesuai kemampuan. Sebagai contoh adalah :</p>
<ul>
<li>Beliau memiliki agenda pertemuan mingguan bersama para hakim.</li>
<li>Beliau memiliki agenda pertemuan dengan para penuntut ilmu selain murid-murid beliau.</li>
<li>Beliau memiliki agenda pertemuan bulanan dengan para petugas penegak disiplin.</li>
<li>Beliau memiliki agenda pertemuan bulanan dengan para khotib</li>
<li>Bahkan beliau punya agenda pertemuan rutin dengan tukang sayur. Beliau duduk bersama para pedagang di pasar sayur. Beliau memenuhi kebutuhan mereka, menjawab bertanyaan mereka dan mengarahkan mereka sesuai dengan kebutuhan.</li>
</ul>
<p>Agenda-agenda diatas belum termasuk kegiatan beliau bersama para ulama dan kalangan pemerintah dari berbagai tingkatan. Belum juga termasuk terlibatnya beliau dalam acara-acara bimbingan masyarakat dalam bentuk ceramah, pengajaran, musyawarah, pertemuan <em>mu’tamar</em>, siaran radio dan hubungan lewat telepon.</p>
<p>Syaikh telah berbaur dengan masyarakat secara penuh. Sampai-sampai kita bertanya bagaimana Syaikh memiliki waktu untuk keluarganya, bagaimana beliau masih memiliki waktu untuk meneliti dan mempelajari suatu masalah kemudian membedahnya, bagaimana pula beliau masih punya waktu untuk duduk memberikan pelajaran ? Itu semua adalah barakah yang Allah berikan kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hambaNya.  Barokahlah waktu dan tenaga Syaikh sehingga Allah berikan sisi-sisi ini kepada beliau seluruhnya.</p>
<p>Kita berdoa kepada Allah dengan nama-Nya yang agung dan sifat-sifatNya yang mulia, Dialah dzat yang maha memberi dan pemurah, semoga Allah mengangkat derajat Syaikh menjadi golongan orang-orang yang diberi petunjuk.</p>
<p>Ya Allah ampuni dan berilah rahmat-Mu kepada Syaikh.</p>
<p>Ya Allah tempatkanlah ia di surga FirdausMu  yang paling tinggi.</p>
<p>Ya Allah jadikanlah apa yang telah syaikh berikan untuk islam sebagai amalan yang dapat memberatkan timbangan kebaikannya. Sesungguhnya Engkau maha kuasa atas segala sesuatu.</p>
<p>Ya Allah kami berdoa kepada-Mu semoga Engkau kumpulkan kami bersama Nabi kami <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>di surga Adn pada majelis yang benar disisi Raja  yang maha kuasa. Sesungguhnya Engkaulah penolong dan kuasa atasnya. Sholawat dan salam semoga tercurah untuk nabi Muhammad, keluarganya dan para sahabatnya.</p>
<p><strong>Selesai.<br />
</strong><br />
Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Bukhari : Kitab <em>al Madholimi wal Ghosbi</em>, bab <em>La yadhlimul muslimul muslim wala yusallimuhu</em> hadits No 2442.Muslim : kitab <em>al birri was shilah wal adab</em> bab <em>tahriimidh dzulmi</em> hadits no 258</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> QS Al Baqoroh 143</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> QS Al Baqoroh 143</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> QS Asy Syura 103</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-6/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (5)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-5/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-5/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 13 Sep 2009 01:31:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=641</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan Rumah Syaikh Ibn Utsaimin

 
Ayyuhal ikhwah..
Banyak sekali ketelandan yang beliau berikan dari sisi ini. Semua itu muncul dari semangat beliau dalam mengamalkan sabda Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari hadits Aisyah radhiallahu &#8216;anha [1]
خيركم خيركم لأهله
“ Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.”
Aku akan berusaha mengungkap sisi ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Kehidupan Rumah Syaikh Ibn Utsaimin<br />
</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Banyak sekali ketelandan yang beliau berikan dari sisi ini. Semua itu muncul dari semangat beliau dalam mengamalkan sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>yang diriwayatkan oleh at Tirmidzi dari hadits Aisyah <em>radhiallahu &#8216;anha</em> <a href="#_ftn1">[1]</a></p>
<p class="arabic">خيركم خيركم لأهله</p>
<p><em>“ Sebaik-baik kalian adalah orang yang paling baik terhadap keluarganya.”</em></p>
<p>Aku akan berusaha mengungkap sisi ini sehingga dapat berfaidah bagi kita.</p>
<p><strong>Pertama :</strong> Hubungan syaikh dengan keluarga, istri dan anak-anaknya yang penuh dengan rasa kasih sayang dan saling menjaga perasaan, kepercayaan dan penghargaan.</p>
<p><strong>Kedua:</strong> Keadilan yang sempurna dalam pergaulan antar mereka.</p>
<p>Hal ini beliau lakukan dalam rangka mengamalkan hadits yang diriwayatkan Bukhari dari Nu’man bin Basyiir bahwa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>bersabda kepada bapaknya Nu’man,<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p class="arabic">اتقوا الله واعدلوا بين أولادكم</p>
<p><em>Bertakwalah kepada Alllah dan berbuat adillah kepada anak-anakmu..</em></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Sikap adil disini tidak hanya sebatas materi atau pemberian uang atau yang lainnya, akan tetapi adil secara umum dalam harta, pengarahan, perasaan dan perhatian terhadap urusan mereka.</p>
<p><strong>Ketiga :</strong> Kedekatan beliau terhadap mereka. Syaikh memiliki keistimewaan dalam bergaul dengan keluarga dalam kehidupan sehari-harinya. Beliau senantiasa dekat dengan anak dan istrinya serta bersemangat untuk mengumpulkan mereka dan menanyakan keadaan mereka. Beliau tidak menganggap keluar bersama dengan keluarga disetiap akhir pekan itu sesuatu yang terlalu keseringan<strong>. </strong>Bahkan setelah padatnya kesibukan, tidak menghalangi beliau untuk keluar bersama keluarga pada waktu-waktu tertentu. Seperti pada waktu musim semi dan malam hari di musim panas. Beliau bersantai dan ikut bergembira bersama mereka.</p>
<p>Syaikh bersemangat dalam mengunjungi anak-anak beliau dirumah-rumah mereka untuk memberikan petuah-petuah. Selain itu, juga untuk mengetahui  siapa sahabat anak-anak beliau.. Dengan siapakah anak-anak itu berjalan, bergaul dan berinteraksi. Ini adalah bentuk pengarahan tidak langsung dari beliau yang kebanyakan orang telah melupakannya.</p>
<p>Kebanyakan manusia hanya sekedar menanyakan kepada anaknya dengan siapa mereka datang dan pergi tanpa mau untuk mengawasinya secara langsung.  Syaikh mengawasi anak-anaknya secara langsung tanpa menghilangkan kepercayaan antara bapak dan anak. Ini adalah pondasi dari baiknya pergaulan dan perbaikan kepada anak.</p>
<p><strong>Keempat :</strong> Syaikh tidak lupa untuk mengajari putra-putri beliau tentang pelajaran-pelajaran mereka. Sebelum padatnya kesibukan, beliau sering menghadiri pertemuan-pertemuan disekolah anak-anak beliau. Bahkan beliau juga mau mengajari siapa saja yang menginginkannya baik dalam pelajaran syar’i, bahasa arab bahkan pelajaran berhitung.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh biasa membantu pekerjaan keluarga sebagaimana Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> juga melakukannya. Al Aswad bertanya kepada Aisyah <em>radhiallah &#8216;anha</em>,” Apa yang Nabi lakukan tatkala dirumah.?” Aisyah menjawab,” beliau biasa membantu pekerjaan rumah tangga. Apabila datang waktu sholat, beliaupun keluar untuk mengerjakannya.” <a href="#_ftn3">[3]</a></p>
<p>Demi Allah. Ini adalah bentuk keteladanan yang nyata. Apabila ada anggota keluarga yang membutuhkan sesuatu atau membutuhkan perbaikan sesuatu yang perlu diperbaiki maka Syaikh segera mengerjakannya sendiri tanpa menyuruh orang lain.</p>
<p>Berikut ini adalah contoh keteladanan kehidupan sehari-hari Syaikh dalam bermusyawarah. Syaikh memiliki keistimewaan dalam bermuamalah dengan keluarganya yakni berupa kebiasaan beliau untuk bermusyawarah. Beliau mau bermusyawarah baik dengan yang kecil maupun yang besar. Bukanlah musyawarah yang dimaksud disini adalah hanya sekedar mengutarakan pandangan tanpa dilaksanakan, akan tetapi musyawarah yang akan ditindak lanjuti dengan tindakan nyata apabila pandangan yang disampaikan itu benar dan dapat dilaksanakan serta akan membawa kemashlahatan bagi semua pihak. Kebiasaan syaikh untuk bermusyawarah ini tidak hanya beliau lakukan dirumahnya saja akan tetapi siapa saja yang mengikuti pelajaran beliau atau mendengarkan kaset rekaman pelajaran beliau akan mengetahui kebiasaan itu baik dalam perkara kecil maupun besar terkait pelajaran. Syaikh sering mengajak diskusi murid-muridnya tentang isi pelajaran  yang akan dibaca, diskusi apabila ada perubahan-perubahan dan hal lain yang terkait pelajaran.</p>
<p>Syaikh berusaha untuk menggauli keluarganya dengan lemah lembut penuh kasih sayang. Beliau membantu yang lemah, mencari yang sakit, mengunjungi dan membantunya.</p>
<p>Syaikh sering mengetuk pintu rumah kami karena beliau mengetahui bahwa fulan atau fulanah sedang sakit. Tidak hanya padaku, hal ini beliau lakukan kepada seluruh putra putrinya. Beliau selalu tanggap untuk berbuat baik. Bahkan terhadap anak-anak yang tidak mengetahui maksud kedatangan beliau. Akan tetapi, Syaikh bergaul sebagai orang <em>alim rabbani</em> mengamalkan apa yang beliau ketahui dari petunjuk nabi.</p>
<p>Perhatian beliau ini tidak hanya terbatas pada manusia. Bahkan perhatian Syaikh juga tercurah untuk hewan-hewan. Aku akan ceritakan kisah beliau dalam hal ini. Syaikh senantiasa mengumpulkan semua sisa-sisa makanannya baik sarapan, makan siang atau selainnya. Tatkala beliau hendak keluar untuk melaksanakan sholat shubuh, beliau membawa sisa-sisa makanan itu. Beliau memberikannya kepada kucing-kucing yang telah biasa berkumpul di depan pintu rumah beliau pada jam-jam itu. Apabila  beliau lupa ataupun tidak mendapatkan sisa makanan seperti biasanya, maka beliau akan keluar dari pintu yang lain sehingga tidak membuat kucing-kucing itu merasa kehilangan makanan yang biasa mereka dapatkan. Hal ini diceritakan kepada kami oleh putra beliau, Abdurrahman.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Kisah Syaikh dari sisi ini sangatlah harum. Akan tetapi aku tidak memperpanjang pembicaraan sisi ini yang tidak banyak diketahui oleh kebanyakan manusia. Hanya keluarga dan orang-orang terdekat saja yang mengetahuinya.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh senang dan memiliki banyak andil dalam hal silaturahmi. Beliau bersegera untuk bersilaturahmi dalam rangka mengamalkan hadits nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Abu Hurairah dan diriwayatkan Muslim dari hadits Anas<a href="#_ftn4">[4]</a>,</p>
<p class="arabic">من سره أن يبسط له في رزقه وأن ينسأ له في أثره فليصل رحمه</p>
<p><em>Barangsiapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaklah ia menyambung silaturahminya.</em></p>
<p>Syaikh senantiasa menjalin tali silaturahminya dengan berusaha untuk menghubungi kerabat-kerabatnya. Bukan saja kepada mereka yang dekat dengan beliau atau yang lebih tua dengan beliau akan tetapi kepada seluruh kerabat beliau baik yang besar maupun kecil, jauh atau dekat. Beliau mengunjungi paman dan bibi beliau sekali dalam sepekan semasa keduanya masih hidup. Beliau tetap melakukannya meskipun rasa sakit tengah menimpa dan melemahkan fisik beliau.- <em>semoga Allah merahmati dan mengampuni dosa-dosa beliau</em>-</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Sikap beliau yang nampak pada kami adalah beliau orang yang senantiasa memuliakan karib kerabatnya. Beliau tidak berlaku keras dan kasar.  Akan tetapi beliau selau memuliakan mereka, berbuat baik, mendoakan, memenuhi undangan, menjenguk yang sakit,  memenuhi kebutuhan dan menghubungi mereka setiap pekan. Tidak hanya terbatas pada kerabat dekat yang bisa berhubungan langsung akan tetapi juga pada kerabat yang berada diluar kota Unaizah.</p>
<p>Beliau selalu menghubungi mereka, menanyakan kabar dan kondisi mereka. Sekali lagi, ini beliau lakukan bukan hanya kepada kerabat dekat atau kepada yang lebih tua sebagaimana yang telah kami sampaikan diatas, akan tetapi kepada semua kerabat baik yang kecil maupun yang besar dan juga kepada putra-putrinya. Hal ini dalam rangka melaksanakan perintah Allah dan rosulNya untuk bersilaturahmi  dan berlomba-lomba untuk mendapatkan keutamaan ini. Semoga Allah merahmatiNya dengan rahmat yang luas.</p>
<p>Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
<p><strong>Bersambung&#8230;.</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Tirmidzi : Kitab Al Manaqib, bab : Keutamaan Istri-Istri Nabi<em> shollahu alaihi wasallam</em> hadits no 3895.Ibnu majah : kitab <em>An Nikah</em> bab <em>Husnu Muasyiratin Nisa</em>’ hadits no : 1977.Syaikh Al bani berkata : SHOHIH</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Bukhari : Kitab <em>al Hibbah, </em>bab <em>Isyahad fil Hibbah hadits no 2587.Muslim : Kitab </em><em>al hibbah bab karohiyatu tafdhiili bainal auladi fil hibbah</em>. Hadits no 1623</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> Bukhari : Kitabul Adzan. Bab &#8220;<em>man kana  fii hajati ahlihi fa uqimatish sholat fa khoroja&#8221;</em>. Hadits no 679</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> Bukhari : Kitabul Buyu’, bab <em>man ahabbal basto fir rizqi</em>. Hadits no 2067 dari Anas dan no 5985 dari Abi Hurairah. Muslim :  Kitabul <em>birr was shilah wal adab bab shilaturrahiim wa tahriimu qothiatih</em>a hadits no 2557.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-5/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (4)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-4/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-4/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 10 Sep 2009 22:48:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=633</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Utsaimin rahimahullah dan Urusan Umat 
 
Syaikh ibarat mercusuar yang selalu memperingatkan umat dari adanya fitnah, musibah dan kekacauan besar.
Syaikh selalu mengikuti perkembangan kondisi kaum muslimin. Tidak banyak orang yang mengetahui sisi kehidupan beliau ini. Kebanyakan orang hanya mengetahui sisi kehidupan Syaikh terkait pengajaran ilmu, perhatian beliau terhadap para pencari ilmu, perhatian terhadap fatwa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah</em> dan Urusan Umat</strong><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh ibarat mercusuar yang selalu memperingatkan umat dari adanya fitnah, musibah dan kekacauan besar.</p>
<p>Syaikh selalu mengikuti perkembangan kondisi kaum muslimin. Tidak banyak orang yang mengetahui sisi kehidupan beliau ini. Kebanyakan orang hanya mengetahui sisi kehidupan Syaikh terkait pengajaran ilmu, perhatian beliau terhadap para pencari ilmu, perhatian terhadap fatwa dsb. Hanya sedikit yang mengetahui sisi kehidupan Syaikh terkait perhatian beliau terhadap perkembangan islam dan kaum muslimin.</p>
<p>Syaikh selalu mengikuti perkembangan kaum muslimin di segala penjuru. Tidak hanya terbatas pada kaum muslimin yang ada dinegerinya saja akan tetapi beliau perhatian terhadap perkembangan kaum muslimin dimanapun mereka berada.</p>
<p>Beliau bahagia dengan apa-apa yang membuat umat berbahagia dan merasa gelisah dengan kegelisahan yang menimpa mereka. Harapan umat adalah harapan beliau. Bahagia umat adalah bahagia beliau dan derita umat adalah derita beliau. Syaikh selalu berdoa untuk kebaikan mereka, memenuhi kebutuhan mereka dan mencari solusi dari problematika yang tengah melanda umat sekuat tenaga beliau. Bukti yang menunjukkan hal ini sangatlah banyak. Akan tetapi aku hanya akan menceritakan dua kisah yang sangat berpengaruh bagi orang yang melihat dan memikirkannya.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Kisah pertama yang akan kuceritakan adalah tatkala beliau sedang menasehati para pemuda di Al Jazair yang keluar untuk membunuhi manusia dan melakukan hal-hal lainnya.</p>
<p>Syaikh sering menasehati, menaruh rasa belas kasihan,dan  sering menghubungi mereka. Beliau melarang mereka dari keinginan untuk menyakiti kaum muslimin lainnya.</p>
<p>Syaikh merekam nasehatnya dari rumah. Beliau menyampaikan nasehatnya bagi mereka yang mengangkat senjata di Aljazair supaya meninggalkannya. Beliau mengingatkan supaya mereka kembali bersatu dengan jamaah kaum muslimin dan tidak mempersulit diri dengan menumpahkan darah tanpa alasan yang benar.</p>
<p>Nasehat itu sering beliau ulang-ulangi tanpa menunjukkan sosok beliau. Hal ini beliau lakukan supaya tidak menjadi sebab penolakan mereka. Ada salah seorang dari kalangan mereka yang memberi masukan kepada Syaikh supaya beliau tidak menampakkan diri dan hanya untaian nasehatnya saja yang ditampakkan.  Apabila mereka melihat diri Syaikh dikhawatirkan akan menyebabkan mereka langsung menolak nasehat syaikh. Maka beliaupun  melakukannya.</p>
<p>Nasehat-nasehat Syaikh kemudian dikirim lewat berbagai media massa di Aljazair. Berkali-kali khutbah syaikh disebarkan lewat radio dan televisi. Hasilnya, banyak para pemuda yang meninggalkan senjata mereka dan kembali bergabung dengan jamaah kaum muslimin. Merekapun meninggalkan cara-cara mereka yang salah.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Selain memperhatikan kondisi umat, Syaikh juga tidak melupakan negeri-negeri islam yang tengah bersengketa dan terampas seperti Bosnia dan Chechnya. Juga negeri Afganistan yang berperang melawan Rusia.  Syaikh senantiasa menghubungi dan membantu mereka. Supaya lebih jelas,  akan kubacakan sebagian tulisan saudara kita di kedutaan besar Chechnya. Mereka menulis untaian kalimat sebagai bentuk ta’ziah atas wafatnya syaikh. Mari kita simak sisi perhatian syaikh terhadap kepentingan ummat.  Sisi  ini  tidak banyak menusia yang mengetahuinya.</p>
<p>Setelah memberi <em>muqoddimah</em>, mereka menyampaikan bahwa hilangnya seorang ulama merupakan musibah besar. Karena hilangnya ulama berarti bencana dan keburukan bagi umat ini. Mereka mengatakan:</p>
<p><em>“Ini merupakan musibah bagi umat ini dengan diwafatkannya para ulama’. Adapun musibah kami dengan wafatnya Syaikh Muhammad bin Sholih al Utsaimin itu lebih besar. Kami telah kehilangan seorang yang sangat antusias untuk selalu menghubungi dan membantu kami.  Kami senantiasa mendengarkan nasihat, petuah, petunjuk dan fatwa dari beliau. Sungguh beliau ibarat bapak kami yang santun.</em></p>
<p><em>Jika manusia melupakan keutamaan Syaikh, maka kami tidak akan melupakan kebersamaan beliau dengan kami pada perang yang pertama- di Chechnya-, bantuan dengan apa-apa yang beliau mampu lakukan untuk kami ditengah-tengah peperangan. Setelah perang usai, beliaupun begitu semangat membantu kami dengan mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan mahkamah syar’iyyah.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan bimbingan dan arahan beliau tentang mahkamah dan pengamalan hukum-hukum syariat.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan kebersamaan beliau dengan kami dalam peperangan yang masih berkobar hingga sekarang.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan dukungan beliau dalam peperangan ini, baik dalam bentuk bantuan harta berupa zakat yang beliau kirimkan kepada kami sambil berpesan,” ini hanya untuk kepentingan jihad saja.” Ataupun dukungan berupa himbauan dan ajakan beliau kepada manusia untuk membantu kami.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan beliau yang hampir setiap hari menghubungi kami untuk mendengarkan kabar kami, untuk melihat kebutuhan dan permasalahan kami secara syar’i.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan doa beliau untuk kami baik doa yang tersembunyi maupun yang terang-terangan dari atas mimbarnya, pelajaran-pelajarannya dan muhadharahnya, dalam sholat dan sujudnya.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan apa yang telah disampaikan murid beliau kepada kami,- karena besarnya perhatian beliau kepada kami- bahwa Syaikh sering membacakan berita-berita dari kami kepada murid-murid beliau di masjid kemudian mengakhirinya dengan mendoakan kami.</em></p>
<p><em>Kami tidak akan melupakan bahwa beliau adalah orang yang pertama kali memberikan fatwa wajibnya menolong kami. Beliau pula yang pertama kali menerangkan manusia sejauh mana syariat jihad kami. Fatwa beliau itu membawa pengaruh yang besar terhadap kemenangan kami yang terus menerus.</em></p>
<p><em>Jikapun manusia melupakan semua itu atau mereka tidak mengetahuinya, maka kami tidak akan melupakan semangat Syaikh dalam mengurusi kepentingan-kepentingan kaum muslimin secara umum. Beliau meluangkan waktunya satu jam dalam sepekan untuk mengarahkan mujahidin-mujahidin di Bosnia. Beliau memberikan fatwa-fatwa, memenuhi kebutuhan-kebutuhan mereka, mendengarkan khabar mereka dan menyebarkannya.  Ada satu kejadian yang selalu kami ingat. Salah satu pemimpin mujahidin di Bosnia bertanya kepada beliau tentang hukum salah bunuh orang. Apa yang harus dilakukan setelahnya ?.  Setelah menjawab pertanyaannya beliau kemudian berkata,” Tentang diyat orang yang terbunuh, biar saya yang menanggung. Saya akan mengirimkannya untuk kalian insyaallah.”</em></p>
<p>Sebelumnya Syaikh juga memiliki peran yang sungguh mulia dalam pergerakan jihad saudara-saudara kita di Afganistan. Dari  fatwa yang beliau sampaikan supaya membantu dan mendukung mereka, nasehat yang beliau berikan untuk para pemimpin-pemimpinnya, besarnya perhatian beliau terhadap urusan-urusan mereka dan ini beliau lakukan secara terus menerus, cukuplah untuk menjelaskan perhatian Syaikh terhadap kebutuhan-kebutuan kaum muslimin. Tidaklah Syaikh jauh dari kaum muslimin di Filiphina dan Negara lainnya. Begitu pula harta beliau, fatwa dan kesungguhan beliau.</p>
<p>Ini adalah kesaksian dari orang-orang yang bergaul dengan Syaikh dalam suka dan duka mereka. Sisi kehidupan yang tidak banyak orang tahu. Karena memang para ahli ilmu sering menyebutkan bahwa semestinya seseorang berusaha untuk menyembunyikan amalannya dari penglihatan manusia dalam rangka mengharapkan balasan dari Allah semata. Kemungkinan syaikh sengaja tidak menampakkan dan menyebarluaskannya agar amalan tersebut menjadi simpanannya dan mengharapkan balasannya dari Allah semata.</p>
<p><strong>Bersambung insyaAllah&#8230;.</strong></p>
<p>Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (3)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-3/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-3/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Sep 2009 23:02:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=625</guid>
		<description><![CDATA[Syaikh Utsaimin rahimahullah Dan Sunnah Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam

Diantara kepribadian Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yang istimewa dan menonjol adalah pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam.
Allah sebagai saksi bahwa aku belum pernah melihat orang yang begitu semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam baik yang umum maupun pribadi melebihi Syaikh. Beliau [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah</em> Dan Sunnah Nabi<em> shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em><br />
</strong></p>
<p>Diantara kepribadian Syaikh Muhammad bin Sholeh Al Utsaimin yang istimewa dan menonjol adalah pengagungan beliau terhadap sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em>.</p>
<p>Allah sebagai saksi bahwa aku belum pernah melihat orang yang begitu semangat dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi<em> shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>baik yang umum maupun pribadi melebihi Syaikh. Beliau telah mengungguli banyak orang –<em>baik dari kalangan ulama apalagi selainnya</em>- dalam kesemangatan terhadap sunnah. Syaikh adalah orang yang bersemangat untuk menjaga sunnah-sunnah nabi baik pada cara makan dan minumnya, berdiri dan duduknya, bangun dan tidurnya, penampilan dan pakaiannya serta segala sisi kehidupan beliau rahimahullah. Aku akan menceritakannya supaya dapat menjelaskan kehidupan beliau dalam mendahulukan dan mengamalkan sunnah.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh selalu berusaha untuk mengenakan pakaian putih bersih dalam rangka mengamalkan hadits ibnu Abbas bahwa Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>bersabda</p>
<p class="arabic">البسوا من ثيابكم البياض فإنها من خير ثيابكم، وكفنوا فيها موتاكم</p>
<p><em>Kenakanlah pakaianmu yang putih karena ia adalah sebaik-baik pakaian kalian. Dan kafanilah orang yang meninggal diantara kalian dengannya (kain putih)</em><a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a></p>
<p>Apabila ada sebagian sunnah yang beliau tinggalkan, hal ini dikarenakan udzur beliau berupa kesibukan dan sebab yang lainnya, seperti sunnah mewarnai rambut yang tidak beliau laksanakan. Apabila beliau ditanya,” Mengapa engkau tidak mewarnai rambutmu padahal  Sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> memerintahkan hal itu dengan jelas.?” Beliau menjawab,” Karena untuk melaksanakannya terdapat beban tenaga dan biaya.” Yaitu akan menyibukkan beliau dari pelaksanaan kewajiban dan sunnah-sunnah yang lebih penting. Beliau juga akan menyambungnya dengan perkataan Imam Ahmad  tatkala ditanya tentang mewarnai rambut,” Apakah itu sunnah?” Imam Ahmad menjawab,” Itu adalah sunnah yang baik, seandainya memungkinkan untukku tentu aku akan melaksanakannya.” Imam Ahmad berudzur dari sunnah itu karena beliau tidak mungkin melaksanakannya. Dalam riwayat lain disebutkan bahwa beliau berkata” seandainya kami mampu-untuk mewarnai rambut- tentu kami akan melakukannya. Akan tetapi hal itu membutuhkan tenaga dan biaya.”</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah</strong></em></p>
<p>Aku belum pernah melihat Syaikh Utsaimin<em> rahimahullah </em>merebahkan badannya di tempat tidur kecuali beliau mengamalkan apa yang diwasiatkan oleh nabi sebagaimana yang diriwayatkan oleh Bukhori Muslim dari hadits Abu Hurairah bahwa beliau bersabda,</p>
<p class="arabic">إذا أوى أحدكم إلىٰ فراشه فلينفض فراشه بداخلة إزاره، فإنه لا يدري ما خلفه عليه</p>
<p>” <em> Apabila salah seorang dari kalian hendak barbaring di tempat tidurnya hendaklah ia kibas-kibas tempat tidurnya itu dengan sarungnya. Karena dia tidak tahu apa yang terjadi pada tempat tidurnya setelah ia tinggalkan sebelumnya</em>.”<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></p>
<p>Syaikh mengkibas-kibaskan ujung baju atau yang lainnya pada tempat tidurnya dalam rangka melaksanakan sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>ini.</p>
<p><strong> <em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Diantara sisi kehidupan Syaikh yang beliau senantiasa berusaha mengikuti nabi adalah sisi ibadah, terutama sholat beliau yang bisa dilihat oleh orang yang pernah sholat bersama beliau. Sholat beliau adalah contoh hidup dari pengamalan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Bukhari dari hadits Malik bin Khuwairits, Nabi bersabda</p>
<p class="arabic">صلوا كما رأيتموني أصلي</p>
<p><em>Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihatku sedang sholat</em>.<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a></p>
<p>Sunnah-sunnah nabi begitu terlihat pada gerakan-gerakan sholat beliau. Pada berdirinya, duduknya, rukuknya, sujudnya, bacaannya dan pada dzikirnya. Bukan saja pada saat beliau menjadi imam akan tetapi juga tatkala beliau sholat dimasjidnya dan sholat sendiri di rumahnya.</p>
<p>Pengagungan Syaikh terhadap sunnah tidak hanya terbatas pada hal-hal diatas. Akan tetapi dalam pendapat-pendapat ilmiyahnya, ijtihad dan tarjihnya beliau selalu memilih pendapat yang sesuai dengan Sunah Nabi. Beliau tidak perduli meskipun hal itu menyelisihi pendapat atau amalan beliau sebelumnya. Beliau selalu <em>ruju’</em> kepada kebenaran tanpa ragu-ragu dan malu-malu.</p>
<p>Syaikh pernah memberitahukan bahwa dahulu beliau berpendapat tentang sunnahnya duduk istirahat dalam sholat. Akan tetapi setelah beliau meneliti dalil-dalil dan keadaan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>maka menjadi jelaslah bagi Syaikh bahwa Nabi melakukannya tatkala sudah lemah dan berusia lanjut. Dari itu Syaikh kemudian berkesimpulan bahwa disunnahkannya duduk istirahat tatkala sholat hanya bagi mereka yang membutuhkannya.</p>
<p>Diantara kejadian yang masih kami ingat adalah tatkala sholat gerhana yang pada waktu itu beliau berkhotbah dalam keadaan duduk. Pada kesempatan lain tatkala terjadi gerhana matahari, Syaikh berkhutbah dalam posisi berdiri. Beliau memulai khutbahnya dan dalam muqodimahnya, beliau mengatakan,” Dahulu aku berpendapat bahwa khutbah pada sholat gerhana itu dilakukan sambil duduk. Akan tetapi kemudian menjadi jelas bagiku bahwa sunnahnya adalah khutbah dilakukan sambil berdiri. Oleh karena itulah aku berdiri saat ini.”</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Demikianlah sikap seorang Alim Rabbani yang telah menyerahkan kendali hidupnya kepada Allah dan rosulNya. Bukan keinginannya untuk mempertahankan pendapat apabila ternyata menyelisihi kebenaran. Keinginannya hanyalah ingin mengamalkan dan menampakkan sunnah Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam </em>dengan sebenarnya.</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Syaikh Utsaimin menjunjung tinggi amalan sunnah, berusaha untuk menampakkannya dan mendakwahkannya meskipun  itu  bertentangan dengan pendapat manusia. Syaikh berusaha seperti itu pada saat manusia mengagung-agungkan pendapat madzhabnya dan tidak berani menyelisihinya sedikitpun. Dalam hal ini, Syaikh meniru jalan yang ditempuh gurunya, Syaikh Abdurrahman Nashir as Sa’di dan jalan Ssyaikh Abdullah bin Bazz <em>rahimahumallah</em> . Dalam menampakkan sunnah, beliau tidak peduli terhadap apapun apabila memang jelas itu adalah sunnah.</p>
<p>Meski demikian, Syaikh selalu menekankan untuk membedakan antara menampakkan sunnah kepada bukan orang alim yang ditokohkan dengan seorang ahli ilmi yang diikuti manusia perkataannya. Syaikh mewasiatkan para penuntut ilmu dan para duat supaya tetap bersikap lemah lembut dalam memasyarakatkan sunnah. Apalagi di negeri-negeri yang belum nampak pengamalan sunnah didalamnya.</p>
<p>Syaikh berkata -kepada ikhwah yang berdiskusi dengan beliau membahas tentang metode memasyarakatkan sunnah yang belum dikenal dinegeri-negeri mereka-,:</p>
<p>” Berlemah lembutlah kalian terhadap manusia. Mulailah dengan menjelaskan sunnah itu sendiri. Kemudian ajaklah mereka untuk mengikutinya. Apabila kalian melihat hati mereka telah lapang dan mau menerima ajakan kalian, maka tidak mengapa kalian mulai mengamalkan dan menampakkan sunah itu. Yang penting jangan sampai hal ini menyebabkan perpecahan atau menimbulkan kegelisahan mereka. Atau malah mengakibatkan ditolaknya kebenaran yang diserukan kepada mereka sementara kebenaran itulah yang lebih penting dan lebih besar&#8221;</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Syaikh merasa bahwa beliau banyak dijadikan panutan oleh manusia . Hal ini sering beliau sampaikan.</p>
<p>Suatu ketika salah seorang yang ingin bertanya mendatangi beliau pada saat sedang sholat. Orang tersebut duduk menunggu selesainya Sholat syaikh. Setelah selesai, iapun bertanya tentang menggerakkan telunjuk pada tasyahud, kapan itu dilakukan? Dan bagaimana cara melakukannya ? maka Syaikhpun menjawabnya. Orang itu lantas berkata,” wahai Syaikh, aku telah menghitung gerakan telunjukmu dalam tasyahud sebanyak 17 kali.”</p>
<p>Syaikh mengomentari kisah ini bahwa ini adalah buah dari orang yang menampakkan sunnah. Manusia akan memperhatikan dan mudah untuk mengikuti hanya dengan melihatnya.</p>
<p>Demikianlah. Syaikh menjadikan sikap beliau dalam menampakkan dan menyebarkan sunnah sebagai bagian dari peribadatan kepada Allah <em>taala</em>.</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Sungguh panjang cerita kehidupan Syaikh dengan sunnah. Aku hanya sedikit meringkas bagian-bagian penting yang berkilau untuk menjelaskan semangat beliau dalam menjalankan sunnah baik secara umum maupun pribadi.</p>
<p>Diantara bukti kesemangatan beliau dalam mengamalkan sunnah adalah keistiqomahan  beliau dalam menjalankan puasa tiga hari setiap bulannya. Beliau tidak pernah terputus dalam mengamalkannya kecuali pada bulan sya’ban karena sakit. Yaitu sebulan lebih beberapa hari dari hari wafat beliau. Semoga Allah merohmati dan meninggikan derajat beliau.</p>
<p>Semangat Syaikh ini dalam rangka mengamalkan hadits dari Abu Hurairah, Abu Dzar dan Abu Darda. Nabi berwasiat kepada mereka bertiga untuk berpuasa 3 hari setiap bulannya.</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Diantara pengamalan sunnah dalam kehidupan pribadi beliau adalah kebiasaan Syaikh dalam menjilati piring dan jemarinya tatkala selesai makan. Jarang sekali beliau beranjak dari tempat makannya kecuali beliau telah melakukan sunnah itu. Diriwayatkan dari Imam Muslim dalam shohihnya dari hadits jabir bin Abdullah bahwa nabi memerintahkan untuk menjilati jemari dan piring lantas beliau bersabda,</p>
<p class="arabic">إنكم لا تدرون في أيه البركة</p>
<p>”<em> Engkau tidak mengetahui dimanakah barakahnya</em>.”<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></p>
<p>Yaitu dibagian makanan manakah barokah itu berada?</p>
<p>Begitu pula kebiasaan yang dapat dilihat oleh orang yang mengenal dan bergaul dengan beliau. Yaitu kesemangatan beliau untuk duduk tatkala sedang minum. Beliau melakukan ini baik tatkala berada ditengah-tengah manusia maupun dalam kesendirian, dipasar maupun dimanapun beliau berada. Apabila hendak minum beliau duduk. Sebagaimana riwayat dari Anas bin Malik dan Abu Said dari nabi bahwa Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> melarang minum sambil berdiri<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a>.Oleh karenanya syaikh begitu semangat untuk melaksanakan sunnah ini kecuali apabila beliau berudzur atau ada sebab yang menghalanginya.</p>
<p><em><strong>Ayyuhal ikhwah..</strong></em></p>
<p>Diantara kebiasaan syaikh untuk mengamalkan sunnah dalam kehidupan pribadi beliau adalah kebiasaan beliau dalam memakan 7 kurma pada pagi hari. Hal ini sesuai dengan hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim dari hadits Saad bin Malik. Nabi<em> shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> bersabda,</p>
<p class="arabic">من تصبح كل يوم بسبع تمرات عجوة لم يضره ذلك اليوم سم ولا سحر</p>
<p>“ <em>Barangsiapa memakan 7 kurma ajwah pada pagi hari setiap harinya, maka tidak ada racun ataupun sihir yang dapat membahayakannya pada hari itu.</em>”<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></p>
<p>Syaikh berpendapat sebagaimana pendapat guru beliau syaikh Abdurrahman bin Nashir as Sa’di bahwa hadits tersebut tidak hanya berlaku pada kurma <em>ajwah</em> saja akan tetapi setiap kurma yang mudah didapatkan oleh setiap orang untuk memakannya.</p>
<p>Ayyuhal ikhwah..</p>
<p>Syaikh mempunyai kebiasaan agung pada setiap malam. Beliau tidak pernah menginggalkan Qiyamul lail baik pada saat mukim maupun safar. Beliau menggunakan sebagian malam untuk mendekatkan diri kepada Allah, bermunajat dan mengadukan segala permasalahan kepadaNya, memohon petunjuk dan pertolonganNya untuk dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhannya. Sesungguhnya Allah maha pemurah dan maha memberi, Dzat yang memberi segala sesuatu dengan sebaik-baik pemberian.</p>
<p>Syaikh bersemangat untuk qiyamul lail sesuai kemampuan. Beliau tidak punya jam-jam khusus atau beribadah selama satu jam lebih atau kurang. Semuanya disesuaikan dengan apa yang Allah mudahkan untuk syaikh. Meski demikan beliau selalu menjaga sholat di akhir malam.</p>
<p>Syaikh biasa menghabisakan sebagian malamnya untuk belajar, mengajar ataupun memenuhi sebagian hajat manusia. Meski demikian, hal ini tidak menghalangi beliau untuk beribadah kepada Allah di sebagian malamnya.</p>
<p>Aku tidak mengetahui syaikh tidur dalam keadaan tidak berwudhu. Beliau selalu berwudhu sebelum tidurnya. Kemudian melakukan sholat ringan baru kemudian menuju tempat tidurnya.</p>
<p>Apabila beliau belum bisa tidur lantaran kesibukan, keinginan, pikiran atau sebab lain yang mengganggu beliau maka beliau menyibukkan diri dengan bacaan al qur’an hingga mata beliau mengantuk. Beliau tidak hanya membolak-balikkan badannya sebagaimana kebanyakan orang akan tetapi beliau mengisinya dengan membaca al qur’an hingga beliau merasa mengantuk dan tertidur. <strong>(  bersambung….)</strong></p>
<p>Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> HR Abu Dawud dan Tirmidzi. Tirmidzi berkata hadits shohih.Abu Daud : Kitabut <em>Tibb Bab fil armi bil kuhl</em> hadits no 3878.Tirmidzi : <em>Kitabuj janaaiz bab maa yustahabu minal akfaan</em> hadits no 994 dan lafadz diatas adalah darinya.Ibnu Majah : <em>Kitabuj Janaaiz Bab Maa Jaa Fiima Yustahabbu Minal Kafan</em>, hadits no 1476.Albani berkata : Shohih</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a>Bukhari : kitabud da’waat hadits 6320.Muslim : Kitab Doa dan Taubat Bab &#8220;<em>Maa Yaquulu &#8216;Indan Naumi Wa Akhdi Madhoji&#8217;i&#8221;</em> Hadits no 2714</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a>Bukhari : Kitab Adzan Bab Adzan Bagi Musafir Apabila Mereka Berjamaah.Hadits no 631</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a>Muslim: <em>Kitabul Usrah</em> Bab  disukainya menjilati jari dan bejana dan memakan makanan yang jatuh setelah membersihkannya dan dibencinya mengusap tangan sebelum dijilati. Hadits no 2033</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a>Muslim : <em>Kitabul Usrah</em> Bab dibencinya minum sambil berdiri hadits no 2024</p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a>Bukhari <em>Kitabut Tibb</em> bab Ajwah sebagai obat sihir hadits no 5769</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (2)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-2/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-2/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Sep 2009 14:34:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=619</guid>
		<description><![CDATA[Ayyuhal ikhwah..
Apabila kita melihat kehidupan Syaikh bersama Al qur’an, sungguh Al qur’an telah mewarnai kehidupan beliau. Perilakunya adalah hasil penjabaran al qur’an, Amal dan akhlaqnya adalah pengamalan dari apa yang telah diwasiatkan dalam al qur’an.
Aku selalu ingat perkataan Aisyah kepada Said bin Hisyam bin Amir tatkala bertanya kepadanya,” Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang akhlaq [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Apabila kita melihat kehidupan Syaikh bersama Al qur’an, sungguh Al qur’an telah mewarnai kehidupan beliau. Perilakunya adalah hasil penjabaran al qur’an, Amal dan akhlaqnya adalah pengamalan dari apa yang telah diwasiatkan dalam al qur’an.</p>
<p>Aku selalu ingat perkataan Aisyah kepada Said bin Hisyam bin Amir tatkala bertanya kepadanya,” Wahai Ummul Mukminin, kabarkan kepadaku tentang akhlaq Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em>.” Aisyah berkata,” Tidakkah engkau membaca Al Qur’an ?” Said menjawab,” Tentu.” Aisyah berkata,” Akhlaq beliau <em>halallahu &#8216;alaihi wasalam </em>adalah Al Qur’an<em>.”<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> </em></p>
<p>Aku melihat Syaikh bersegera untuk menerapkan hadits Aisyah ini pada dirinya. Beliau menerapkan Al Qur’an pada perkataan, perbuatan dan pergaulannya.Bukti sisi ini begitu banyak tak terhitungkan. Aku akan sebutkan beberapa bukti kisah yang masih melekat dihatiku tentang perkara-perkara yang sebagian orang dianggap berat akan tetapi tidak bagi beliau.</p>
<p>Suatu ketika aku pergi bersama Syaikh ke Ma’had Ilmi dalam sebuah <em>muhadharah</em> yang beliau akan sampaikan. Tatkala kami keluar, ada penjaga ma’had yang bersemangat dalam menyambut kedatangan Syaikh ataupun kepulangannya. Tatkala Syaikh pergi, diapun berdiri di pintu dengan muka yang berseri. Ia melepas perginya Syaikh dengan lisan dan tangannya sehingga ia mengucapkan salam perpisahannya sambil melambaikan tangannya. Waktu itu Syaikh yang berada di sisiku menoleh kepadanya. Syaikh membalas orang tadi dengan isyarat yang serupa. Beliau kembali menoleh kepadaku dan berkata,</p>
<p class="arabic">وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p><em>Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)<a href="#_ftn2"><strong>[2]</strong></a></em></p>
<p>Sungguh makna seperti ini tercermin dari kehidupan seorang alim, perkara yang kebanyakan manusia tidak mengetahuinya.</p>
<p>Suatu ketika kami memasuki suatu majlis yang telah ada beberapa ikhwah didalamnya. Syaikh mengucapkan salam kepada salah seorang ikhwah dengan suara yang jelas sebagaimana kebiasaan beliau dalam menyebarkan salam.  Ikhwah tersebut lantas membalasnya, akan tetapi dengan suara yang sangat pelan. Hal ini lantaran tabiat ikhwah tersebut yang malu-malu untuk mengeraskan suaranya. Syaikhpun berkata kepadanya,”Keraskan suaramu ! Allah berfirman:</p>
<p class="arabic">وَإِذَا حُيِّيْتُم بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا</p>
<p><em>Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan, Maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik dari padanya, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa)</em></p>
<p><strong><em>Saudara-saudaraku yang terhormat</em></strong></p>
<p>Masih dalam kisah Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin dan Al qur’an, suatu ketika beliau mendatangi suatu daerah yang  aku tinggal disana.  Sudah menjadi kebiasaan apabila beliau pergi ke suatu daerah yang didalamnya terdapat kerabat atau orang yang beliau kenal, pasti beliau akan menghubungi mereka sebelumnya dan memberitahukan kepentingannya. Hal ini beliau lakukan sebagai bentuk perhatian beliau kepada mereka.</p>
<p>Pada satu saat beliau datang dan tidak memberitahuku. Setelah sampai, beliau baru menghubungiku dan memberitahukan kedatangannya. Akupun berkata kepadanya,” Semoga keselamatan senantiasa Allah berikan kepadamu, mengapa engkau tidak memberitahuku sebelumnya?” Dari konteks bahasaku, beliau dapat merasakan kekecewaanku. Beliaupun lantas berkata,”</p>
<p class="arabic">خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ</p>
<p><em>Jadilah Engkau Pema&#8217;af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma&#8217;ruf<a href="#_ftn3"><strong>[3]</strong></a> </em></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Hal ini menunjukkan perhatian dan tingginya adab beliau sehingga membahagiakan orang yang bergaul dengannya. Inilah prinsip yang selalu beliau jaga dan terapkan dalam kehidupan nyata. Yaitu tidak membebani manusia melebihi kebiasaannya.</p>
<p>Barangsiapa yang mau bersikap seperti itu, menerima manusia apa adanya tanpa menuntut apa yang diluar kemampuannya, tentu ini akan membuat dia dan orang yang bergaul dengannya merasa bahagia.</p>
<p><strong><em>Saudara-saudaraku yang terhormat</em></strong></p>
<p>Pada suatu hari kami bersama Syaikh kembali dari berkunjung ke tempat ikhwah. Kamipun berbincang-bincang ringan kesana kemari. Aku berkata kepada Syaikh sebelum beliau turun dari mobil tentang firman Allah</p>
<p class="arabic">وَكَلِمَةُ اللّهِ هِيَ الْعُلْيَا وَاللّهُ عَزِيزٌ حَكِيمٌ</p>
<p><em>…. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana<a href="#_ftn4"><strong>[4]</strong></a></em></p>
<p>Beliaupun langsung menoleh kepadaku sebelum membuka pintu mobil sambil berkata,” Perhatikanlah ! firman Allah  <em>…. dan kalimat Allah Itulah yang tinggi…</em>disebutkan Al Qur’an dalam bentuk <em>jumlah ismiyah </em>untuk menjelaskan bahwa selamanya kalimat Allah itu lebih tinggi dibandingkan kalimat selainnya.”</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Apakah kita termasuk orang yang menghayati makna itu ditengah-tengah bacaan kita, tatkala kita mendengar kalamNya ? sungguh hal ini jarang terjadi dikalangan <em>tholibul ilmi </em>apalagi selain mereka.</p>
<p>Salah satu sisi yang patut dicermati dari kehidupan beliau bersama al Qur’an adalah bahwa beliau senantiasa mengamalkan sabda Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam<br />
</em></p>
<p class="arabic">خيركم من تعلم القرآن وعلمه</p>
<p style="text-align: left;"><em>Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar al Qur’an dan mengajarkannya.<a href="#_ftn5"><strong>[5]</strong></a></em></p>
<p>Dalam hadits ini Nabi menjelaskan keutamaannya dan Nabi adalah orang yang paling dahulu mengamalkannya dalam belajar dan mengajarkan Al Qur’an.</p>
<p>Syaikh adalah orang yang memasukkan pengajaran al Qur’an pada pelajaran-pelajaran di <em>jami&#8217;ah</em>nya. Bahkan beliau sangat bersemangat untuk mencantumkan ayat-ayat al Qur’an dalam pelajarannya di Haramain. Beliau sering mengingatkan para penuntut ilmu akan kewajiban dalam merujuk pada tafsir ayat karena sangat bermanfaat. Inilah yang sering dilupakan para penuntut ilmu. Mereka lebih perhatian terhadap cabang-cabang ilmu lainnya. Padahal yang demikian itu pada hakekatnya mereka telah melupakan pokok dan sumber ilmu itu sendiri. Sebagaimana firman Allah:</p>
<p class="arabic">بَلْ هُوَ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ فِي صُدُورِ الَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ</p>
<p><em>. Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu<a href="#_ftn6"><strong>[6]</strong></a></em></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Syaikh adalah orang yang menerapkan hal tersebut pada dirinya. Beliau adalah orang yang sangat perhatian terhadap <em>halaqoh</em>-<em>halaqoh</em> al Qur’an. Bukan saja <em>halaqoh</em> yang ada didalam negerinya akan tetapi setiap <em>halaqoh</em> yang beliau ketahui keberadaanya. Perhatian ini beliau wujudkan dalam bentuk dukungan, keterlibatan langsung ataupun dengan bantuan materi.</p>
<p>Jamiah <em>Tahfidzul Qur’an</em> yang ada dikota Unaizah adalah salah satu bentuk perhatian dan peran beliau yang besar. Beliaulah yang mendirikan dan mengelolanya secara materi maupun non materi. Beliau berusaha untuk mewujudkan tujuan yang telah dicanangkan oleh Ma’had. Perhatian beliau tidak saja terbatas pada kepengurusan lembaga akan tetapi beliau ikut terlibat langsung dalam kegiatan majlis dengan para siswanya, baik  dalam pertemuan-pertemuan kecil apalagi pertemuan tahunan dalam rangka wisuda kelulusan siswa.</p>
<p>Kami sering mendengar suara beliau dari menara-menara masjid saat menyertai siswa dan anak-anak beliau yang sedang menyelesaikan juz atau sebagian dari kitabullah.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Sungguh kisah tentang syaikh dan kehidupannya bersama al Qur’an sangatlah panjang. Cerita diatas hanyalah ringkasan saya dari kisah-kisah itu.</p>
<p>Sekarang marilah kita beralih pada point ke-2 yaitu &#8220;<strong>Kisah Kehidupan Syaikh Utsaimin Dengan Sunnah Nabi&#8221;</strong>.</p>
<p>Bersambung&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;&#8230;.</p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Muslim : kitab sholatnya musafir dan sholat qosor, bab barangsiapa yang tidur atau sakit hadits ke 746</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> QS.An Nisa ayat 86</p>
<p><a href="#_ftnref3">[3]</a> QS.Al A’raf ayat 199</p>
<p><a href="#_ftnref4">[4]</a> <em> </em>QS.At Taubah ayat 40</p>
<p><a href="#_ftnref5">[5]</a> Bukhari : Kitab Fadhoilul Qur’an bab <em>Khoirukum man taalamal qur’an wa &#8216;allamahu</em>. Hadits no 5027<em> </em></p>
<p><a href="#_ftnref6">[6]</a> <em>QS Al Ankabut : 49 </em></p>
<p>Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Syaikh Utsaimin Yang Kukenal (1)</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-1/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 06 Sep 2009 00:59:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Kholid bin Abdillah Al Mushlih</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sirah]]></category>
		<category><![CDATA[kisah]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=608</guid>
		<description><![CDATA[Bismillahirrahmanirrahim.Segala puji hanya milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami serta amalan kami.Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tiada yang dapat menyesatkannya.Aku bersaksi bahwasannya tiada Ilah yang berhaq diibadahi kecuali Allah saja,tiada sekutu bagi Nya.Dan aku bersaksi bahwasannnya Muhammad adalah utusan Allah,kekasih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em>Bismillahirrahmanirrahim</em>.Segala puji hanya milik Allah, kami memuji, meminta pertolongan, memohon ampun dan bertaubat kepada-Nya. Kami memohon perlindungan kepada Allah dari kejelekan jiwa-jiwa kami serta amalan kami.Siapa yang Allah beri petunjuk, maka tiada yang dapat menyesatkannya.Aku bersaksi bahwasannya tiada <em>Ilah </em>yang berhaq diibadahi kecuali Allah saja,tiada sekutu bagi Nya.Dan aku bersaksi bahwasannnya Muhammad adalah utusan Allah,kekasih serta makhluk terbaikNya.Semogat<em> shalawat</em> atas beliau,keluarga dan sahabat serta orang-orang yang mengikutinya dengan ihsan hingga hari akhir.<em>Amma ba&#8217;du </em>:</p>
<p>Kisah para ulama dan orang-orang<em> sholih</em> terdahulu sangat berpengaruh dalam menghidupkan hati dan ruhani. Kisah mereka ini termasuk dari apa yang Allah sebutkan dalam firmanNya :</p>
<p class="arabic">لَقَدْ كَانَ فِي قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّأُولِي الأَلْبَابِ</p>
<p><em>Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal</em>. ( QS Yusuf 111 )</p>
<p>Oleh karena itu, mempelajari kisah-kisah para <em>salaful ummah</em> adalah obat terbaik  bagi hati.</p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Kisah para salaf banyak memberi faedah bagi siapa saja yang mau mempelajarinya. Telaah kisah-kisah mereka sangat berpengaruh bagi jiwa dalam meneladani dan mengambil petunjuk dari kehidupan mereka. Karena dalam kisah mereka terdapat pengejawantahan langsung dari apa yang mereka bawa berupa petunjuk dan kebenaran.</p>
<p>Abu Hanifah <em>rahimahullah </em>berkata,” <em>Kisah para ulama lebih aku sukai daripada banyak pelajaran fiqih</em>&#8220;. Hal ini lantaran dalam kisah itu terdapat gambaran akhlaq dan adab mereka. Oleh karena itu setelah Allah menceritakan kisah para nabi kepada Nabi Muhammad, Allah kemudian berfirman,</p>
<p class="arabic">أُولَـئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ</p>
<p><em>Mereka Itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka ( Al An’am:90)</em></p>
<p>Dalam syair disebutkan :</p>
<p><em>Tirulah mereka seandainya engkau tidak bisa menyamainya.</em></p>
<p><em>Karena meniru orang-orang mulia adalah sebuah keberuntungan</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Hal terbesar yang akan dirasakan oleh seseorang setelah membaca kisah para ulama adalah ia akan membandingkan kesholehan dan keilmuannya dengan mereka.  Sejarah para ulama merupakan alat ukur untuk menimbang kebaikan seseorang, untuk membandingkan keistiqomahan pengamalan seseorang terhadap al qur’an dan sunnah.</p>
<p>Khamdun an Nasaiburi berkata,” <em> Barangsiapa yang menengok kisah para salaf ia akan mengetahui kekurangan dan ketertinggalan derajatnya dari mereka</em>.”</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Sejarah para imam tidak hanya terbatas pada kelahiran dan kematian mereka, atau kejadian-kejadian penting dalam hidupnya, karena hal ini biasa dialami oleh kebanyakan menusia. Bukan ini yang akan mendatangkan hikmah dan faedah. Karena hal-hal itu akan dialami oleh setiap dari kita. Akan tetapi yang terpenting adalah sisi keteladanan yang dapat kita lihat dari pribadi dan sejarah mereka. Hanya saja,  sudah  merupakan kebiasaan yang dilakukan untuk mengawali sebuah kisah adalah dengan sedikit menerangkan keadaan mereka  terkait dengan kelahiran, kematian dst.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Sekarang saya akan bercerita tentang syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin-<em>rahimahulla</em>h-. Beliau lahir pada malam 27 Ramadhan 1347 H dan meninggal pada hari Rabu 15 Syawal 1421 H dikota Jeddah. Beliau disholatkan pada hari Kamis setelahnya dan dimakamkan di pemakaman <em>Adl</em>. Semoga Allah merahmatinya dengan rahmat yang luas. Kita berdoa kepada Allah semoga menjadikan kuburnya sebagai taman dari taman-taman surga. Dan semoga Allah memberikan ganti yang lebih baik bagi umat ini yang telah kehilangan imam besarnya.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Suri tauladan yang terdapat pada diri para imam dan ulama tidak terbatas pada salah satu sisi kehidupannya saja. Akan tetapi mereka tak ubahnya sebagaimana perkataan seorang syair</p>
<p><em>Dia ibarat lautan darimanapun engkau mendatanginya. </em></p>
<p><em>Engkau lihat kebaikan sebagai lautnya dan kebajikan sebagai pantainya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh Muhammad bin Sholeh al Utsaimin-<em>rahimahullah</em>- adalah salah satu dari para imam dan para ulama. Beliau ibarat hujan yang membawa kebahagiaan bagi manusia. Tatkala bersama, mereka mengambil manfaat darinya. Ketika pergi, bekasnya masih tetap bersama mereka.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Teladan yang diberikan oleh Syaikh begitu banyak dan bermacam-macam. Beliau adalah contoh bagi dunia sebagai orang yang mengamalkan ilmunya dalam perkara-perkara kecil ataupun besar. Iapun sebagaimana perkataan imam Syafii&#8217;<em> rahimahullah</em> :</p>
<p><em>Orang Faqih adalah dia yang faqih dalam pengamalannya. </em></p>
<p><em>Bukanlah faqih orang yang hanya bisa berkata-kata.</em></p>
<p>Demikianlah keadaan Syaikh. Keteladanannya terpancar dari segala sisi kehidupannya. Aku mengambil sisi-sisi yang kulihat sangat penting untuk diperhatikan  dan diambil manfaatnya bagi para penuntut ilmu pada khususnya dan bagi kaum muslimin pada umumnya.</p>
<p><strong>Syaikh Utsaimin dan Kitabullah </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh Utsaimin sangat rajin dalam membaca al Qur’an. Beliau sangat bersemangat dalam <em>memurajaah</em> al qur’an dalam rangka mengamalkan sabda nabi yang diriwayatkan oleh Al Bukhari dan Muslim dari hadits Abu Musa al Atsary,</p>
<p class="arabic">تعاهدوا القرآن، فوالذي نفسي بيده لهو أشد تفلتاً من الإبل في عقلها</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><em>Jagalah Al qur’an. Demi Dzat yang jiwaku berada ditanganNya, sesungguhnya ia lebih mudah lepasnya daripada onta yang ditambatkan</em>.  <em>(HR BUKHARI, kitab Fadhoilul Qur’an bab Istidzkarul Qur’an wa taahaduhu nomor 5033 )</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Beliau mengkhatamkan al Qur’an dua kali dalam sebulan selain bulan Romadhon. Pada bulan Romadhon beliau mengkhatamkannya setiap tiga hari. Jika padat kesibukannya, beliau menyelesaikannya dalam 10 hari.</p>
<p>Diantara wasiat beliau yang kuhafal adalah barangsiapa yang memiliki hafalan al qur’an hendaklah memurajaahnya dipagi hari. Ini adalah wasiat berharga yang telah teruji dari seorang alim bagi siapa saja yang mau mencobanya. Barangsiapa yang memiliki hafalan al qur’an dan membacanya setiap hari, cobalah dilakukan pada awal hari. Ini akan sangat membantunya dalam mendapatkan kembali hafalannya. Beliau biasa me<em>murojaah</em> al Qur’an dalam perjalanannya ke masjid, pagi dan sore harinya. Beliau selesaikan sisanya diawal waktu dhuha’.</p>
<p><strong><em>Ayyuhal ikhwah..</em></strong></p>
<p>Bacaan al qur’an seorang ulama tidaklah sama dengan bacaan orang selainnya. Tidaklah bacaan mereka sebagaimana yang disampaikan Ibnu Mas’ud,</p>
<p class="arabic">لا تنثروه نثر الدقل، ولا تهذوه هذ الشعر، قفوا عند عجائبه وحركوا به القلوب</p>
<p><em>“ Janganlah kalian membacanya dengan cepat-cepat seperti membuang-buang kurma yang jelek, dan jangalah kalian baca seperti syair. Berhentilah pada tempat-tampat yang menakjubkan dan gerakkan hati kalian padanya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Syaikh termasuk orang yang membaca al qur’an dengan <em>tadabbur</em> dan memahami tafsir-tafsirnya. Bacaan beliau adalah bacaan yang disertai dengan penghayatan. Beliau berhenti pada tempat-tempat yang selayaknya seorang pembaca al qur’an berhenti. Hal ini dikuatkan dengan penyampaian beliau pada tausiah dan wasiat-wasiat beliau.</p>
<p>Wasiat lain yang kuhafal dari beliau adalah terkait surat al An’am. Beliau berkata,” Kebanyakan menusia membaca al Qur’an dengan terburu-buru dan tidak memperhatikan  tempat-tempat berhenti. Kami mempelajari ini (tempat-tempat berhenti dan bacaan<em> tadabbur</em>) dari Syaikh Abdurrahman As Sa’di <em>rahimahullah</em>. Beliau berhenti pada tempat-tempat tertentu. kami keheranan karena pada saat itu kami biasa membaca dengan terus.”</p>
<p>Orang yang mengetahui Syaikh Utsaimin dan mengetahui bagaimana bacaan sholatnya termasuk bacaan tarawihnya, tentu akan mengetahui ini dengan sebenarnya. Semangat beliau dalam mengkhatamkan al Qur’an tidak menyebabkan beliau membaca sambil lalu tanpa <em>tadabbur</em>.</p>
<p>Syaikh selalu membaca al qur’an dengan men<em>tadabburi</em>nya. Beliau selalu senang kepada para qori yang membaca al qur’an dengan tadabur.  Sebagai contoh adalah bacaan syaikh Abdurrahman sudais. Beliau mengagumi bacaan Syaikh Abdurrahman Sudais karena bacaannya yang penuh penghayatan dan berhenti pada tempat-tempat yang selayaknya seorang pembaca al qur’an berhenti padanya.</p>
<p>Bersambung&#8230;.</p>
<p>Sumber : Transkrip Ceramah Syaikh Kholid bin Ali Al Mushlih <em>hafidzahullah</em> di <a href="http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf">http://www.almosleh.com/files/sound/mhdrat/othaimin/othaimin.pdf</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/09/syaikh-utsaimin-yang-kukenal-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Catatan Pribadi Murid Syaikh Utsaimin : Bab Puasa</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/catatan-pribadi-murid-syaikh-utsaimin-bab-puasa/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/catatan-pribadi-murid-syaikh-utsaimin-bab-puasa/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 14:37:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>DR.Ahmad bin Abdurrahman Al Qodhi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=561</guid>
		<description><![CDATA[ 
 
 
 
Syaikh DR.Ahmad bin Abdurrahman bin Utsman Al Qodhi  hafidzahullah tinggal dikota yang sama dengan Al Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah di kota Unaizah KSA.Beliau bermulazamah dan berhubungan dengan Syaikh Utsaimin sekitar 21 tahun,yakni sejak tahun 1400 H  hingga wafatnya Syaikh Utsaimin rahimahullah di tahun 1421H.
Catatan pribadi beliau  ini [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Syaikh DR.Ahmad bin Abdurrahman bin Utsman Al Qodhi <em> hafidzahullah</em> tinggal dikota yang sama dengan Al<em> Allamah</em> Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> di kota Unaizah KSA.Beliau bermulazamah dan berhubungan dengan Syaikh Utsaimin sekitar 21 tahun,yakni sejak tahun 1400 H  hingga wafatnya Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah </em>di tahun 1421H.</p>
<p>Catatan pribadi beliau  ini adalah kumpulan  permasalahan yang pernah ditanyakan kepada gurunya,berupa permasalahan yang terasa rumit bagi beliau atau berupa pertanyaan titipan atau pertanyaan ikhwah tholabul ilmi.Catatan pribadi beliau ini atas dorongan beberapa muridnya dibuat menjadi sebuah buku diberi nama <em>&#8220;Tsamarat At tadwin min Masail Ibn Utsaimin&#8221;</em>. Keseluruhan catatan ini dapat diunduh di situs <a href="www.al-aqidah.com">www.al-aqidah.com</a></p>
<p>Redaksi <em>Direktori Islam</em> saat ini sedang menerjemahkan keseluruhan catatan ini (semoga Allah mudahkan usaha ini),namun berkaitan dengan bulan suci ramadhan, maka kami dahulukan beberapa pembahasan dalam masalah puasa .Silahkan menyimak :</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>MASUKNYA WAKTU RAMADHAN</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.251 (18/08/1417H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibn Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apakah kita boleh menggunakan hisab observasi ahli falak dalam penetapan hilal?</p>
<p>Jawaban Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Menurut pendapat saya,kita bisa memakai hisab dalam menolak ketetapan <em>ru&#8217;yat</em>, tapi tidak untuk penetapan.Maknanya : Jika seandainya ada seseorang mengatakan telah melihat (<em>ru&#8217;yat</em>) hilal,sedangkan menurut ahli hisab hilal tidak mungkin terlihat atau belum akan tampak pada malam ini ditempat tersebut,maka kita mengambil apa yang dinyatakan hisab dalam penafian hail rukyat.Apabila menurut hisab dinyatakan bulan sudah lahir pada malam ini, namun melalu metode rukyat tidak dapat dilihat oleh seorangpun,maka kita tidak mengambil keputusan hisab,karena hukum yang teranggap adalah berdasarkan rukyat secara normal.</p>
<p><strong>Masalah No.252 (16/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibn Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Anda menyebutkan sebelumnya mengenai batasan dalam masalah hilal,bahwasannya ucapan ahli falak dapat digunakan dalam penafian namun tidak untuk penetapan (<em>itsbat</em>).Apakah yang dimaksud adalah Hisab ahli falak atau hisab melalui observasi terhadap pergerakan bulan?</p>
<p>Syaikh menjawab : Yang saya maksud adalah hisab  pengamatan atau observasi terhadap benda-benda langit.Yakni mereka mengamati perjalanan bulan dalam sebulan.Apabila mereka menetapkan bahwa hilal belum akan terlihat (muncul) di malam tertentu maka pendapat mereka diambil.Akan tetapi jika para ahli hisab menyatakan bahwa hilal dapat dilihat,tapi kemudian terhalang sebelum tenggelamnya matahari,kita tidak mengambil pendapat ahli hisab,karena Allah hanya menyatakan dimulainya ibadah dengan rukyat mata telanjang</p>
<p><strong>Masalah No.253 (16/08/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apakah Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah <em>rahimahullah</em> berpendapat bahwa rukyat seorang dari kaum muslimin yang melihat hilal,berlaku hukumnya bagi seluruh umat islam dimanapun?</p>
<p>Syaikh Utsaimin menjawab :&#8221;Tidak&#8221;</p>
<p>Kemudian saya meminta izin kepada beliau untuk membacakan sebagian ucapan Syaikhul Islam dari Al Fatawa Juz 25 hal.103 s/d 113.</p>
<p>Syaikh Utsaimin mengatakan :Jika itu dianggap dari fatawa Syaikhul Islam,maka tidak.Yang dianggap adalah yang tertera dalam <em>Al Ikhtiyarat Al Fiqhiyyah wal Furu&#8217;</em>.Mungkin yang tadi itu dikatakan Syaikhul Islam diawal kehidupannya kemudian beliau rujuk sebagaimana yang beliau jelaskan hal itu yang ditulisnya dalam <em>Al Manasik</em> di awal kehidupannya.</p>
<p><strong>Masalah No.254 (9/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Jika wanita yang sedang haidh berkata,&#8221;Jika nanti pagi saya suci, maka saya akan berpuasa&#8221;. Rupanya wanita ini melihat dirinya sudah suci pada saat bangun tidur,namun setelah masuk waktu shubuh.Bagaimana hukum puasanya? Apakah ucapan ini sama dengan ucapan &#8220;(Besok saya berpuasa),jika besok ternyata masuk awal puasa, maka itu sebagai puasaku yang wajib, (tapi kalau ternyata belum ramadhan maka aku jadikan sebagai puasa sunnah)&#8221;</p>
<p>Syaikh menjawab :  Puasa wanita ini tidak sah, dan tidak ada kaitan dengan peryataan yang disebutkan tadi, karena pada asalnya masih ada larangan terhadap wanita tadi (masih teranggap haidh ketika masuk shubuh,pent)</p>
<p><strong>Masalah No.255 (13/10/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum mengucapkan selamat atas masuknya bulan ramadhan dengan berdiri, berkunjung dan sebagainya?</p>
<p>Syaikh menjawab : Saya tidak menganggapnya terlarang mengucapkan selamat terhadap yang membuatnya bahagia,karena ini ada asalnya dalam sunnah seperti sahata yang ber<em>tahniah</em> (mengucapkan selamat) terhadap taubat Ka&#8217;ab bin Malik yang diterima oleh Allah.Juga Nabi yang memberi kabar gembira atas kelahiran anaknya Ibrahim,juga para malaikat yang memberi kabar gembira kepada Nabi Ibrahim mengenai anaknya.Asal dari <em>tahniah</em> pada sesuatu yang membuat bahagia adalah tidak mengapa (<em>la ba&#8217;sa biha</em>) dan ada dasarnya dalam As Sunnah.Adapun mengenai berdiri dan berkunjung maka ini dikemabalikan kepada adat setempat.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>PEMBATAL PUASA</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.256 (15/01/1417H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum <em>istinsyaq </em>(menghisap) <em>inhaller</em> seperti di rumahsakit untuk penderita asma disiang hari ramadhan. Seperti diketahui bahwa obat isap itu tersebut melepaskan suara yang menyemprot?</p>
<p>Syaikh menjawab : Tidak membatalkan puasa, karena yang dikeluarkan sama seperti udara (yang biasa kita hirup,pent.).Dan hanya masuk sampai paru-paru,tidak sampai masuk lambung.</p>
<p><strong>Masalah No.257 (26/08/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya,Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum perawatan bagi penderita gagal ginjal dengan melakukan <em>peritoneal dialysis<a href="#_ftn1"><strong>[1]</strong></a> </em>membatalkan puasanya?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Jika tidak mengandung makanan, dan tidak sampai ke perut besar ,maka tidak membatalkan.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>KAFARAH</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.258 (26/08/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum mendahulukan dalam pemberian makanan  untuk sebulan ramadhan bagi orang sakit yang kecil kemungkinan sembuh?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Jangan dilakukan karena belum terealisasi kepada jatuhnya kewajiban.Bisa saja dia meninggal ditengah bulan ramadhan.Kalau dia berkata, “Saya akan lakukan,adapun adanya kemungkinan lebih dari yang wajib,maka menjadi shadaqoh” Maka pemberian makanan ini menjadi tidak jelas antara shadaqoh dengan kewajiban.Maka ini tidak sah.Oleh karena itu, Anas <em>radhiallahu ‘anhu</em> mengumpulkan tiga puluh orang miskin bersama-sama di akhir bulan ramadhan untuk diberi makan.</p>
<p><strong>Masalah No.259 (17/10/1417H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang pingsan dan koma sebelum Ramadhan, kemudian lewat ramadhan dia meninggal.Bagaimana dengan orang ini?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Berikan makanan (kepada orang miskin) bagi orang ini,karena semisal penyakit ini kecil kemungkinan pulih yang kemudian menyebabkan kematian.</p>
<p><strong>Masalah No.260 (13/01/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang mengalami <em>stroke</em> (pendarahan otak) dibulan ramadhan kemudian meninggal.Adakah kewajiban atas orang ini?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Tidak ada <em>qodho</em> dan <em>kafarah</em> atasnya.</p>
<p><strong>Masalah No.261 (09/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang yang wajib memberikan makanan sebagai pengganti puasa yang ditinggalkannya,apakah terpenuhi dengan mengadakan “Buka Puasa Bersama” di masjid bagi para pekerja dan orang miskin?</p>
<p>Jawaban Syaikh :Iya, asalkan yakin bahwa jumlah mereka sesuai dengan hari puasa yang ditinggalkan dan makanannya tidak tercampur dengan makanan yang dimaksudkan selainnya.Juga makanan terebut mengenyangkan mereka.</p>
<p><strong>Masalah No.262 (20/01/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang yang membatalkan puasanya di siang bulan ramadhan tanpa alasan yang dibenarkan (<em>syar’iy</em>) kemudian bercampur dengan istrinya.Dia berbuka puasa tersebut tidak diniatkan untuk bisa bercampur dengan istrinya.Apakah wajib <em>kafarah</em>?</p>
<p>Jawaban Syaikh :Iya, dia terkena<em> kafarah </em>dari melakukan <em>jima’ </em>disiang bulan ramadhan.Karena dia (pada asalnya) terkena kewajiban berpuasa.</p>
<p><strong>Masalah No.263 (13/10/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang yang melakukan <em>jima</em>’ dua hari berturut-turut, apakah  dia mendapatkan satu <em>kafarah</em> atau dua <em>kafarah</em>?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Dua<em> kafarah</em></p>
<p>Kemudian saya bertanya : Anda menyebutkan dalam <em>Asy Syarh Al Mumti’</em> bahwa pendapat yang mengatakan satu <em>kafarah</em> bisa dipertimbangkan….</p>
<p>Jawaban Syaikh : Iya,betul.Tapi kami tidak berfatwa demikian.Karena kalau demikian,maka orang akan menggampangkan urusan ini<a href="#_ftn2">[2]</a></p>
<p><strong>Masalah No.264 (11/11/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apakah batasan “mampu” dalam menunaikan puasa bagi yang terkena <em>kafarah </em>jima’ di siang bulan ramadhan</p>
<p>Jawaban Syaikh : Perkara “kemampuan” adalah antara dia dengan Allah.Siapa yang tahu dirinya mampu,namun mengalihkannya dari yang seharusnya puasa kepada memberikan makanan,maka seharusnya dikatakan pada yang bertanya: ”Apakah anda mampu berpuasa dibulan ramadhan?, maka begitulah, berpuasalah anda dua bulan berturut-turut atas <em>kafarah</em> dari apa yang telah anda perbuat kecuali ada udzur.</p>
<p><strong>Masalah No.265 (11/11/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apakah ada udzur lain selain sakit dan safar bagi yang mampu berpuasa di bulan ramadhan?</p>
<p>Jawaban Syaikh : Bisa jadi dia badannya memang lemah tidak mampu berpuasa dua bulan berturut-turut.Atau dia punya syahwat yang kuat sehingga tidak bisa bersabar menahan untuk tidak berbuat  jima’ diselang waktu tersebut.Atau dia memiliki pekerjaan yang menghalanginya untuk berpuasa berturut-turut.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>QODHO</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.266 (07/02/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang meninggal dan dia memiliki kewajiban berpuasa,apakah mungkin bagi wali-walinya untuk berserikat melakukan puasa untuknya?</p>
<p>Syaikh menjawab : Iya, kecuali dengan salah satu  syaratnya adalah berturutan.Namun meskipun ada 30 orang mempuasakannya dalam satu hari untuk puasa ramadhan maka hal itu mencukupi.</p>
<p><strong>Masalah No.267 (07/02/1420H)</strong></p>
<p>Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> ditanya: Mengapa jika sejumlah orang melakukan puasa untuknya, tidakkah diharuska berurutan satu demi satu?</p>
<p>Syaikh Menjawab: Tidak perlu , karena &#8220;berurutan&#8221; adalah sifat yang terjadi jika satu orang yang melakukannya.</p>
<p><strong>Masalah No.268 (16/02/1421H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang meninggal dan dia punya kewajiban puasa dua bulan berturut-turut.Maka salah seorang walinya berpuasa untuknya pada sebagian hari dan dilanjutkan olah yang lain sebagian sisanya,tanpa terputus satu haripun.Apakah ini telah memenuhi?</p>
<p>Syaikh menjawab : Tidak terpenuhi,karena puasa yang diganti terebut disyaratkan &#8220;berurutan&#8221; yang tidak terlaksana kecuali oleh satu orang.Jadi, wajib bagi walinya tadi untuk mengulang karena sempat terputus,dan puasa yang sudah dikerjakan tadi<em> insyaAllah</em> menjadi amalan <em>nafilah </em>(sunnah) bagi si mayit.Ini berbeda dengan mempuasakan seseorang untuk bulan ramadhan,seperti jika seorang meninggal dan punya <em>qodho</em> puasa<em> </em>ramadhan,maka mungkin saja berserikat sejumlah orang untuk melakukan <em>qodho</em> si mayit tersebut,bahkan bisa saja melakukan puasa bersama-sama dalam satu hari.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>PUASA SUNNAH</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.269 (13/06/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Seseorang bermaksud berpuasa sunnah 3 hari dalam sebulan,apakah yang <em>afdhal</em> melakukannya di hari-hari putih (<em>ayyamul bidh</em>,tanggal 13,14 dan 15,pent) ataukah berpuasa pada senin kamis?</p>
<p>Syaikh menjawab : Berpuasa di hari-hari putih (<em>ayyamul bidh</em>)</p>
<p><strong>Masalah No.270 (18/11/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum seseorang berpuasa sunnah dihari jumat bukan bermaksud puasa jumat secara khusus,akan tetapi karena dia tidak punya kesempatan melakukannya kecuali dihari jumat tersebut?</p>
<p>Syaikh menjawab : Tidak mengapa melakukannya,karena yang terlarang adalah mengkhususkan berpuasa dihari jumat.Olehkarenanya boleh berpuasa arafah bagi yang tidak berhaji jika bertepatan jatuhnya dihari jumat,dan tidak perlu puasa sehari sebelumnya.</p>
<p>Kemudian saya bertanya : Jika saya hendak berpuasa dihari jumat tanpa maksud mengkhususkan,namun sebenarnya saya bisa saja berpuasa dihari selain jum&#8217;at?</p>
<p>Syaikh menjawab : Tidak boleh,harus dengan adanya sebab yang nampak</p>
<p><strong>Masalah No.271 (6/1/1419H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum mengkhususkan berpuasa dihari asyura?</p>
<p>Syaikh menjawab : Imam Abu Hanifah <em>rahimahullah </em>memakruhkannya dan ucapan Imam Ahmad pun menunjukkan atas kemakruhannya</p>
<p><strong>Masalah No.272 (10/1/1421H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum mengkhususkan berpuasa dihari asyura?</p>
<p>Syaikh menjawab : Boleh,paling tinggi hukumnya makruh,namun meninggalkannya lebih utama. Kemudian saya bertanya : Akan tetapi apa jawaban terhadap yang mengatakan bahwa sebab larangannya adalah tasyabuh dengan yahudi? Maka Syaikh menjawab : Mungkin saat ini keadaan tasyabbuh tersebut sudah tidak ada lagi.</p>
<p><strong>Masalah No.273 (10/01/1418H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah</em> : Apa hukum melakukan puasa di hari asyura dengan tidak berpuasa satu hari sebelum maupun sesudahnya dengan ada udzur atau tidak ada udzur?</p>
<p>Syaikh menjawab : Adapun apabila memang ada udzur,maka tidak apa-apa.Adapun jika tida ada udzur maka terjadi kontradiksi antara asal puasa yang disyariatkan dengan asal keharusan menyelisihi ahli kitab.Maka saya berpendapat : Bisa dia berpuasa dengan diiringi puasa dihari sebelumnya atau sesudahnya.Kalau tidak,maka tinggalkan puasa ini.Dan jika dikatakan demikian maka pada umumnya akan melakukan.</p>
<p>Kemudian Syaikh mengomentari betapa perhatiannya manusia dengan puasa asyura ini,banyak sekali pertanyaan melalui telepon  ataupun langsung ditanyakan mengenainya,padahal bersamaan dengan itu pada sebagian amalan wajib kurang diperhatikan.Sebagian salaf tidak setuju dengan puasa ini karena berpendapat terhapus (<em>mansukh</em>) dengan diganti puasa ramadhan.Jika benar bahwa terjadi penghapusan hukum,maka  yang di<em>mansukh</em> adalah hukum wajibnya saja,adapun pensyariatannya tidak berubah dan tidak diragukan.</p>
<p><strong>Masalah No.274 (10/1/1417H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Apakah boleh melunasi puasa nadzar di hari asyura, dan mendapatkan dua pahala sekaligus?</p>
<p>Syaikh menjawab : Iya, tidak terlarang.Demikian pula seandainya dia menqodho puasa ramadhan dihari arafah.</p>
<p><strong>Masalah No.275 (22/10/1418H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Seseorang tidak memungkinkan baginya untuk berpuasa 6 hari bulan syawal karena udzur syar&#8217;i apakah dia berpuasa di bulan dzulhijjah?</p>
<p>Syaikh menjawab : Iya,betul.</p>
<p><strong>Masalah No.276 (26/12/1417H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Apa hukum seseorang yang berpuasa sebulan penuh di bulan Dzulhijjah,apakah salah?</p>
<p>Syaikh menjawab : Tidak apa-apa.Itu secara umum termasuk amal shalih yang diperintahkan dalam 10 hari bulan dzulhijjah.Tidak ada keterangan dari Nabi s<em>halallahu &#8216;alaihi wasalam</em> akan larangan dari melakukan berturut-turut sebulan penuh.Tida ada larangan.Siapa yang menganggap hal ini sebagai kesalahan,maka dia telah salah.Sebagaimana juga salahnya orang yang menyebutkan bahwa jika bertepatan dengan hari senin atau kamis, maka tidak berkumpul padanya dua pahala.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>SHOLAT MALAM</strong></span></p>
<p><strong>Masalah No.277 (09/10/1420H)</strong></p>
<p>Fadhilatus Syaikh Utsaimin menceritakan bahwa sebagian penuntut ilmu kebanyakannya di masjidil haram tahun ini mengingkari &#8220;do&#8217;a khataman&#8221;.Dimana sebagian mereka segera berbalik keluar jika Imam hendak membaca doa khataman.Dan meninggalkan Imam serta membuat kegaduhan dengan suara dentingan cangkir kopi atau teh untuk menunjukkan pengingkaran mereka atas hal ini,dimana mereka menganggapnya sebagai perbuatan bid&#8217;ah.Dan Syaikh Utsaimin <em>rahimahullah</em> memerintahkan mereka agar tetap sholat bersama Imam hingga Imam berpaling,dan jika imam berdoa maka diaminkan doanya,dan ikut mengangkat tangan,dan agar mereka tidak menampakkan khilaf ,dan agar mereka datang menemui Syaikh Muhammad Sabil kepala rumah tangga <em>Al Haramain</em> untuk mengungkapkan pendapat mereka.Dan Syaikh Utsaimin juga menyebutkan bahwa Syaikh Abdurrahman As Sa&#8217;di (guru Syaikh Utsaimin,pent) <em>rahimahullah</em> melakukan khataman ini.</p>
<p>Lantas saya bertanya kepada Syaikh, apa yang mengeluarkannya dari batasan bid&#8217;ah?</p>
<p>Syaikh Utsaimin menjawab : Mereka (yang melakukan) memandang amalan tersebut dengan sebuah hadist lemah &#8221; Bersama setiap &#8220;khataman&#8221; ada doa yang dikabulkan&#8221;.Seandainya kita menghukumi segala permasalahan yang diperselisihkan ulama dengan bid&#8217;ah maka banyak dari permasalahan fiqih menjadi bid&#8217;ah.</p>
<p><strong>Masalah No.278 (09/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Apakah disyaratkan niat khusus untuk sholat witir bagi makmum dalam sholat taraweh? Dimana sebagian Imam menyambung bacaannya dan tidak membaca &#8220;<em>Sabbihisma</em>&#8221; dan Surat Al Kafirun, dan &#8220;<em>Qulhuwallahu ahad</em>&#8220;, tidak menyadarinya kecuali setelah selesai imam melakukan witir ini.</p>
<p>Syaikh menjawab : Yang perlu diperhatikan bagi seorang Imam adalah untuk membedakan witirnya dari tahajjudnya.Dan kami membedakan keduanya dengan duduk atau meringankan bacaan, ruku&#8217; ,dan sujud pada sholat witir.Dan untuk sholat witir harus dengan niat khusus sebelumnya.Kecuali jika dikatakan bahwa hal ini seperti kalau makmum berkata :&#8221;Jika Imamku qoshor maka aku qoshor&#8221; dan semisalnya.</p>
<p>Kemudian saya tanyakan : Apabila bisa kalau dikatakan :&#8221;Jika terjadi hal itu maka menggenapkannya  dengan menambah satu rokaat&#8221;?</p>
<p>Syaikh menjawab : Iya bisa.</p>
<p>Kemudian Syaikh mengkritik sebagian Imam yang melakukan witir dengan 9 rakaat atau tujuh rakaat atau lima rakaat dengan disambung,karena orang yang terlambat masuk sholat (masbuk) tidak tahu dengan sifat sholat yang dimasukinya.Dan beliau juga memperingatkan hal ini dicetakah terakhir  dari <em>Majalis Syahru Ramadhan</em>.Dan Syaikh menyebutkan bahwa beliau terkadang sholat dengan 11 rakaat , terkadang juga dengan 13 rakaat ,tapi kemudian meninggalkaan sholat dengan 13 rokaat ,dan menguranginya dengan melakukan 11 rakaat untuk meringankan manusia.</p>
<p><strong>Masalah No.279 (09/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Apa hukum doa minta hujan pada saat berdoa qunut?</p>
<p>Syaikh menjawab : Boleh</p>
<p><strong>Masalah No.280 (09/10/1420H)</strong></p>
<p>Saya bertanya kepada guru saya, Syaikh Ibnu Utsaimin <em>rahimahullah : </em>Sebagian wanita dalam sholat taraweh menutup wajahnya padahal ada tirai dari kaum lelaki, apa hukumnya?<br />
Syaikh menjawab : Selayaknya dia membukanya agar jidatnya bisa menyentuh langsung tempat sujud ketika sujud?<br />
Saya bertanya : Apakah wajib bagi wanita membuka wajahnya dalam sholat?<br />
Syaikh menjawab : Tidak<br />
Saya bertanya lagi : Sebagian mereka menutup wajahnya agar tidak dikenal sebagian wanita lain,apakah baik jika Imam memperingatkan mereka bahwa yang utama adalah membuka wajah tatkala tidak ada lelaki?<br />
Syaikh menjawab : Tidak perlu, biarkan mereka dengan keadaannya seperti itu</p>
<p>Sumber :  <a href="http://www.al-aqidah.com/?aid=show&amp;uid=q8re0y20">http://www.al-aqidah.com/?aid=show&amp;uid=q8re0y20</a></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">[1]</a> Metode penanganan penderita gagal ginjal dengan memanfaatkan membran perut sebagai penganti ginjal.Perut diisi dengan cairan <em>dialysis</em> (dianel) dan dibiarkan selama biasanya 4 jam (tergantung jenis dan konsentrasi cairan dianel).Setelah dikeluarkan dan diganti cairan baru.Dalam sehari dibutuhkan sekian kali penggantian cairan,sehingga  sebelumnya dibutuhkan operasi pemasangan selang didalam perut (Pent.)</p>
<p><a href="#_ftnref2">[2]</a> Salah seorang ikhwan mengkhabarkan kepada Syaikh Utsaimin bahwa Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh ditanya dalam program “<em>Sual ‘alal Hatif</em>” (Pertanyaan Telepon),yakni apakah seseorang yang bercampur setiap hari selama ramadhan terakhir maka beliau mewajibkan atas orang ini 30 kafarah.Maka Syaikh kami (Syaikh Utsaimin) membenarkannya<em> jazaahullah khoiron</em>.Dan mengatakan bahwa Inilah yang seharusnya difatwakan mengenai hal ini untuk menghalangi manusia meremehkan dalam melanggar ketentuan Allah.Dan juga beliau menyebutkan bahwa ada pendapat yang mengatakan cukup satu<em> kafarah</em>,namun menurutnya tidak pantas menfatwakannya (11/11/1419H)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/catatan-pribadi-murid-syaikh-utsaimin-bab-puasa/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tidak mengucapkan &#8220;Dzahabadz Dzama&#8217;u&#8221; di Musim Dingin</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/08/tidak-mengucapkan-dzahabadz-dzamau-di-musim-dingin/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/08/tidak-mengucapkan-dzahabadz-dzamau-di-musim-dingin/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 27 Aug 2009 14:56:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fatwa]]></category>
		<category><![CDATA[puasa]]></category>
		<category><![CDATA[ramadhan]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=570</guid>
		<description><![CDATA[Terdapat di dalam &#8220;Liqoat Al Bab Al Maftuh&#8221; Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah (Juz 13 hal 221): Kapan diucapkan doa berbuka puasa &#8220;Dzahabadz Dzama&#8217;u Wabtalatil &#8216;Uruqu&#8230;)
Pertanyaan : Perkataan Nabi shalallahu &#8216;alaihi wasalam ,anda pernah menyebutkan-Wahai Syaikh-bahwa doa tersebut dibaca apabila di musim Ash Shoif (musim panas) dan merasa kehausan disunnahkan baginya mengucapkan :
ذهب [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Terdapat di dalam &#8220;<em>Liqoat Al Bab Al Maftuh</em>&#8221; Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin <em>rahimahullah</em> (Juz 13 hal 221): <strong>Kapan diucapkan doa berbuka puasa &#8220;<em>Dzahabadz Dzama&#8217;u Wabtalatil &#8216;Uruqu</em>&#8230;)</strong></p>
<p>Pertanyaan : Perkataan Nabi <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> ,anda pernah menyebutkan-Wahai Syaikh-bahwa doa tersebut dibaca apabila di musim <em>Ash Shoif </em>(musim panas) dan merasa kehausan disunnahkan baginya mengucapkan :</p>
<p><span style="font-size: 18pt; line-height: 100%;">ذهب الظمأ وابتلت العروق وثبت الأجر إن شاء الله</span></p>
<p><span id="main" style="visibility: visible;"><span id="search" style="visibility: visible;"><em>Telah hilang dahaga</em> dan <em>telah</em> basah urat-urat, dan <em>telah</em> ditetapkan pahala Insya Allah</span></span></p>
<p>Dan itu tidak diucapkan kecuali dimusim panas atau ketika haus?</p>
<p>Jawaban  : Ya,betul.</p>
<p>Pertanyaan : Adapun di musim dingin (hujan) ?</p>
<p>Jawaban : Tidak diucapkan, karena kalau dia mengatakan &#8220;Telah hilang dahaga&#8221; .Maka kita katakan padanya :&#8221;Anda berdusta,karena tidak ada rasa haus&#8221;.Dan kalau mengatakan &#8220;Telah basah urat-urat&#8221;, kita katakan padanya :Engkau dusta,urat-urat kerongkongan  tidak kering tapi dikatakan menjadi basah.Dan Rasulullah <em>shalallahu &#8216;alaihi wasalam</em> tidak berucap kecuali yang benar.Beliau mengatakan &#8220;<em>Dzahabadz Dzama&#8217;&#8221; </em>artinya  bahwa beliau betul dahaga dan &#8220;<em>Wabatalatil uruq</em>&#8221; ,maknnya bahwa urat-urat kerongkongan nya kering.</p>
<p>Sumber :  Situs Syaikh Ghalib Abu Muawiyah (<a href="http://salafien.com/opinions/fatwas-worship/388-shhsh-shhshhshhshh-shshhshshshshh-shshhshjo.html">www.salafien.com</a>)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/08/tidak-mengucapkan-dzahabadz-dzamau-di-musim-dingin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>DVD Lengkap Durus Syaikh Ibn Utsaimin</title>
		<link>http://www.direktori-islam.com/2009/06/audio-lengkap-imam-ibnu-utsaimin/</link>
		<comments>http://www.direktori-islam.com/2009/06/audio-lengkap-imam-ibnu-utsaimin/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jun 2009 23:18:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Audio & Buku Pindai]]></category>
		<category><![CDATA[utsaimin]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.direktori-islam.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Audio Lengkap Imam Ibnu Utsaimin
Total Size  dalam format Real Media, ukurannya 40 giga (10 keping DVD )
Durasi Total diperkirakan sekitar= 480000 menit = 8000 Jam (Biasanya 5 MB real media sekitar 60 menit)
Komparasi Metafora :
*Jika anda sekarang ini rutin kajian sebuah kitab 2 jam perpekan, maka jika anda rutin mendengarkan semua file ini, setara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Audio Lengkap Imam Ibnu Utsaimin</strong></p>
<p>Total Size  dalam format Real Media, ukurannya 40 giga (10 keping DVD )<br />
Durasi Total diperkirakan sekitar= 480000 menit = 8000 Jam (Biasanya 5 MB real media sekitar 60 menit)</p>
<p><strong>Komparasi Metafora :</strong></p>
<p><code>*</code>Jika anda sekarang ini rutin kajian sebuah kitab 2 jam perpekan, maka jika anda rutin mendengarkan semua file ini, setara anda rutin belajar dengan Syaikh selama <strong>77</strong> tahun,<em>Wow !</em> (8000 /2 jam/(52 pekan setahun)</p>
<p><code>*</code>Jika anda pernah atau sedang kuliah S1 yang ditamatkan dengan 144 SKS (18 SKS persemester = 18 jam x 26 pekan persemester x 8 semester selama 4 tahun),maka jika menyimaknya dengan baik setara anda kuliah dengan Syaikh Utsaimin selama 307 SKS = 8,5 tahun  = S1 + S2 + S3..setara Gelar PHd alias Doktor !</p>
<p><strong>Jangan Ragu  :</strong></p>
<p>1.Walaupun isi seluruh file adalah gratis, produk ini bebas di copy dan digandakan serta bisa download sendiri namun perlu diingat :</p>
<ul>
<li>Kapasitas Hardisk komputer atau laptop anda mungkin terbatas</li>
</ul>
<ul>
<li> File-file apapun yang penting bagi anda wajib anda back-up.Hardisk/CD/DVD tidak akan terjamin tidak rusak.Anda tetap membutuhkan dalam format seperti ini ini sebagai back-up.</li>
</ul>
<ul>
<li> Dengan kemasan (label CD dan box) anda tidak akan malu untuk menghadiahkan kekalangan ustadz atau pesantren, niscaya pahala menanti anda</li>
</ul>
<p>2.Anda belum bisa berbahasa arab dan sedang belajar, maka 1,2 atau 3 tahun lagi pasti anda membutuhkannya.Jika tidak sekarang,kemana lagi anda mencari-cari.</p>
<p>3.Anda tidak punya waktu dan kemampuan menguasai bahasa arab.Ingat bahwa anak anda,adik dan keluarga anda punya banyak waktu untuk tidak seperti anda untuk  mampu berbahasa arab</p>
<p>4.Anda punya perpustakaan pribadi dirumah, koleksi DVD dengan kemasan yang rapih dan menarik, membuat anda bergairah membuka dan mendengarnya</p>
<p>5.Dengan MP3 player, membuat perjalanan anda, baik tugas atau apapun bisa menemani anda untuk mendengarkannya.</p>
<p><strong>Besar Biaya :</strong><br />
Biaya yang dibutuhkan adalah biaya keping DVD , label,box dan jasa penggandaan untuk 10 keping DVD :<strong> Rp.150.000 (Termasuk ongkos kirim)<br />
</strong></p>
<p>Kontak :<br />
Email : direktori.islam(@)gmail.com<br />
SMS : 0815-628-1802</p>
<p>Kurikulum Pelajaran Syaikh Utsaimin dalam produk ini :</p>
<p>01.Pelajaran Ushul Tafsir<br />
01-1 Ahkam Al-Quranul Karim (8 set)<br />
01-2 Ushul fit Tafsir Juz 1 (7 set)<br />
01-3 Ushul fit Tafsir Juz 2 (8 set)<br />
01-4 Min Ahkam AlQuran Al karim (342 set)<br />
01-5 Muqoddimah At-Tafsir (6 set)<br />
01-6 Al-qowaidul Hisan fi Tafsiril Qur&#8217;an (6 set)</p>
<p>02.Pelajaran Tafsir<br />
02-01 Al-Fatihah sampai Juz Amma (474 set) *Sesuai website beliau ada beberapa surat yang tidak ada</p>
<p>03.Pelajaran Syarah Aqidah<br />
03-01 Al-Mimiyah (4 set)<br />
03-02 At-Tadamuriyah (20 set)<br />
03-03 Al-Hamawiyah (14 set)<br />
03-04 As-Safariyah (31 set)<br />
03-05 Al Washitiyah (51 set)<br />
03-06 An-Nuniyah (60 set)<br />
03-07 Qowaid Mustla (22 set)<br />
03-08 Iqtidho Shirotil Mustaqim limukholifah Ashhabil Jahim (33 set)<br />
03-09 Aqidah Ahlus Sunnah (16 set)<br />
03-10 Kitabut Tauhid (54 set)</p>
<p>04.Pelajaran Mushtalah Hadist<br />
04-01 Al-Bayquniyah (7 set)<br />
04-02 Nukhbtul Fikr (22 set)</p>
<p>05.Pelajaran Shahih Imam Bukhori<br />
05-01 Dari Bab Bad&#8217;ul Wahyu sampai Bab Janaiz (268 set)</p>
<p>06.Pelajaran Shahih Muslim<br />
06-01 Total 173 set</p>
<p>07.Pelajaran Kitab Nailul Author<br />
07-01 Total 53 set</p>
<p>08.Pelajaran Kitab Bulughul Marom<br />
08-01 Total 316 set</p>
<p>09.Pelajaran Kitab Riyadhus Shalihin<br />
09-01 Total 96 set</p>
<p>10.Pelajaran Kitab Umdatul Ahkam<br />
09-01 Total 47 set</p>
<p>11.Pelajaran Kitab Arbaun Nawawi<br />
11-01 Total 19 set</p>
<p>12.Pelajaran Ushul Fiqh<br />
12-01 Al Mandzumah Fi Ushul Fiqh (14 set)<br />
12-02 Nidzom Al Waroqot (8 set)<br />
12-03 Mukhtashor At Tahrir (17 set)<br />
12-04 Al Ushul min &#8216;Ilmil Ushul (22 set)<br />
12-05 Al Qowaid wal Ushul (13 set)<br />
12-06 Qowaidul Ushul wa Ma&#8217;aqidul Fushul (14 set)<br />
12-07 Qowaid Ibn Rajab (18 set)<br />
12-08 Mukhtashor Fiqhil Ibadat ( 12 set)</p>
<p>13 Pelajaran Syarah Zaadul Mustaqni&#8217; (Syarhul Mumti&#8217;)<br />
13-01 Total 373 set</p>
<p>14 Pelajaran Fiqh Imam Ahmad (Al Kafi fi Fiqh Al Imam Ahmad bin Hambal)<br />
14-01 Total 147 set</p>
<p>15.Pelajaran Bahasa Arab<br />
15-01 Matan Al Jurumiyah (27 set)<br />
15-02 Al Balaghoh (15 set)<br />
15-03 Ad Duroh Yatimiyah (6 set)<br />
15-04 Alfiyah Ibnu Malik (70 set)</p>
<p>16.Pelajaran Adab<br />
16-01 Muqoddimah Al Majmu&#8217; (12 set)<br />
16-02 Siyasah Syariyyah ( 17 set)<br />
16-03 Hilyah Tholib Ilm (12 set)<br />
16-04 Risalah Imam Syaukani (2 set)</p>
<p>17.Durus di Masjidil Harom<br />
17-01 Selama 14 tahun dari Tahun 1986-2000 M (457 set)</p>
<p>18.Durus di Masjid Nabawi (68 set)</p>
<p>19.Kajian Khusus Bulan Ramadhan<br />
19-01 Dari tahun 1989-1995 M (35 set)</p>
<p>20.Liqo&#8217; Babul Maftuh (236 set)<br />
21.Silsilah Pertemuan Bulanan (82 set)<br />
22.Kajian Fatawa Masjidil Harom Mekah dari tahun 1986-2000M ( 210 set)<br />
23.Program Fatawa Nur &#8216;Alad Darb (377 set)<br />
24.Kuliah Umum ( 31 set)</p>
<p>* 1 Set = Side A dan Side B pada kaset biasa<br />
Sumber Download :<span style="font-size: 12pt; font-family: &quot;&quot;;">http://www.ibnothaimeen.com/</span><br />
**Sebagian keuntungan yang didapat digunakan operasional website dalam ongkos penerjemahan<a href="http://www.ibnothaimeen.com/">Website Syaikh Ibn Utsaimin</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.direktori-islam.com/2009/06/audio-lengkap-imam-ibnu-utsaimin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
